Terjemahan CPR.doc

download Terjemahan CPR.doc

If you can't read please download the document

  • date post

    08-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    131
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of Terjemahan CPR.doc

RESUSITASI CARDIOPULMONAL David Shimabukuro dan Linda L. Liu Cardiopulmonary Resuscitation adalah istilah yang pertama kali digunakan pada awal tahun 60-an oleh Safar dan Kouwenhoven untuk menjelaskan suatu teknik gabungan dari mulut ke mulut dan penekanan pada rongga dada pada seorang pasien yang sudah tak berdenyut. Selama lebih 40 tahun, telah dibuat perkembangan yang signifikan pada CPR dan Cardiovascular Life Support, khususnya pada penerapannya di luar Rumah Sakit. Saat ini, CPR dianggap sebagai Basic Life Support (BLS), sedangkan Adult Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS) dan Pediatric Advanced Cardiovascular Life (PALS) dianggap sebagai penggunaan Farmokoterapi yang lebih canggih dan teknik yang lebih sulit. Resusitasi di luar Rumah Sakit sudah dijelaskan dengan baik dalam literatur ini, namun di dalam Rumah Sakit, Resusitasi jarang dijelaskan. Pada tahun 1986, the American Heart Association menerbitkan Algoritma ACLS yang pertama. Pada tahun 2000, the International Liaison on Resuscitation mengadakan konferensi international yang pertama untuk menghasilkan Petunjuk Global untuk penanganan Emergensi cardiovascular dan CPR. Para pakar ini bertemu secara berkala dalam beberapa tahun untuk membuat Petunjuk dan Algoritma untuk CPR dan ACLS yang baru yang disesuaikan dengan hasil penelitian mutakhir. Petunjuk yang paling mutakhir diterbitkan pada tahun 2010 ada dalam buku ini. I,2 BASIC LIFE SUPPORT (BLS) Bagi pasien yang mengalami serangan jantung sebaiknya melakukan tahapan-tahapan berikut (1) segera kenali gejalanya (2) periksa sesak nafas dan pernafasan yang tidak normal (3) aktifkan sistem emergensi respons dan ambil Automated External defibrillator (AED) (4) periksa denyut nadi (tidak lebih dari 10 detik) dan (5) mulai siklus kompresi dada 30 kali dalam diikuti 2 kali pernafasan.

Gejala Sebelum jatuh korban, seorang penolong harus yakin kalau lokasi kejadian betul-betul aman; kemudian respon pasien harus diuji dengan menepuk atau menanyakan pertanyaan (apakah anda baik baik saja?). Cepat periksa pernafasan korban apa normal atau tidak. Jika ada keanehan terjadi, Emergency Response System cepat dilakukan dan AED segera diambil. Sirkulasi

Karena denyut nadi sangat sulit dideteksi, ada beberapa petunjuk biasa digunakan, seperti apakah pasien bernafas secara spontan atau naik-turun. Penolong harus juga memeriksa denyut nadi kurang dari 10 detik pada daerah leher atau pergelangan tangan. Jika pasien tidak punya denyut nadi, tidak ada tanda-tanda kehidupan, atau penolong tidak yakin, segera lakukan penekanan pada bagian dada. Bagian bertulang pada telapak tangan diletakkan pada tulang dada pasien di bawah putting secara membujur. Tulang dada ditekan sepanjang 5 cm dengan rata-rata 100 kali tekanan dalam 1 menit. Dada pasien ditekan agar aliran darah kembali ke jantung dan inilah yang disebut CPR. Polanya harus dalam 30 kali tekanan untuk 2 kali pernafasan ( 30 : 2 sama dengan 1 siklus CPR), tidak masalah apakah ada 1 saja atau 2 orang penolong).

Airway Dengan adanya Petunjuk BLS 2010 yang baru, menguasai manajemen jalur pernafasan sudah tidak terlalu penting. Menguasai cara yang lama seperti ABCD (Airway, Breathing, Circulation, Defibrillation) dengan Lihat, Dengar dan Rasakan telah diganti dengan CAB (Compression, Airway dan Breathing). Perubahan ini dikarenakan adanya bukti yang ditemukan kalau pentingnya penekanan pada bagian dada pasien dan perlunya segera menormalkan aliran darah pasien ke jantung (ROSC). Melancarkan saluran pernafasan biasa dilakukan tapi harus sesegera mungkin dan kurangi tekanan dibagian dada. Membuka saluran nafas pasien dapat dilakukan dengan cara yang mudah yaitu dengan menggunakan teknik mengangkat rahang pipi pasien (lihat gbr. 44-3). Teknik ini biasa digunakan pada pasien yang mengalami cedera tulang

belakang. Alat-alat pernafasan seperti rongga hidung dan mulut dapat dimasukkan untuk menggantikan lidah dari orofaring posterior.

Breathing Meskipun studi-studi besar di luar Rumah Sakit menunjukkan bahwa kompresi dada dengan CPR tidak mudah dilakukan dibandingkan dengan kompresi-ventilasi CPR yang lama, penolong kesehatan masih harus menyediakan ventilasi bantuan. Seorang penolong bila sendirian dan bukan seorang yang berpengalaman dalam manajemen jalur pernafasan, tidak diharuskan memakai masker dalam ventilasi, tapi justru harus menggunakan mulut ke mulut atau mulut ke masker. Penanganan harus dilakukan untuk menghindari pernafasan yang dipaksakan. Volume yang naik turun harus diberikan dalam 1 detik dan menimbulkan kenaikan pada dada pasien. Kurang dari 1 menit ventilasi (cardiac output kurang dari normal) adalah tujuannya karena hiperventilasi akan mengakibatkan kerusakan pada sistem saraf. Defibrillation Alat defiblirator sebaiknya segera dipasangkan pada pasien. Alat pendenyut jantung yang ditempelkan di dada pasien sebaiknya diletakkan di sebelah kanan atas batas tulang dada dan di bawah clavicle dan sebelah kiri puting dengan posisi di tengah garis dada (lihat gbr 44-4).

Kebanyakan alat pendenyut jantung sekarang berbentuk diagram yang meperlihatkan posisi yang benar. Posisi-posisi alternatifnya meliputi anterior-posterior, anterior kiri intrascapular, dan anterior kanan inrascapular. Anterior axilla kanan ke anterior axilla kiri tidak dianjurkan. ENERGI YANG DIGUNAKAN UNTUK DEFIBLIRASI Jumlah energi yang dibutuhkan (joules) tergantung dari jenis alat defibrilasi yang digunakan. Dua jenis defibrillator yang umum digunakan (monophasic dan biphasic). Defibrillator dengan gelombang monophasic bermuatan energy yang satu arah, sedangkan defibrillator dengan biphasic bermuatan energy dengan berbagai arah. Berdasarkan fakta di lapangan tentang defiblirator, yang bermuatan energy berbagai arah yang sering berhasil mengatasi ventricular tachycardia (VT) dan ventricular fibrillation (VF). Selain itu defiblirator biphasic lebih sedikit menggunakan tenaga listri dibandingkan dengan yang monophasic dan juga tidak mudah rusak. WAKTU UNTUK MENDEFIBRILASI Defibrilasi dilakukan pada saat pasien dalam keadaan kritis, karena kejadian yang paling sering terjadi pada pasien dewasa adalah VT/VF. Rata-rata kehidupan setelah pasien mengalami VF semakin menurun 7%-10% dengan tiap menit yang berlalu. Jika pasien mendapatkan tekanan di dada yang cukup berkurangnya kehidupan bias meningkat jadi 3% sampai 4% diang tiap menit berlalu sebagai penundaan hingga defiblirasi dilakukan.

ADVANCED CARDIOVASCULAR DEWASA: ALGORITMA

LIFE

SUPPORT

PADA

ORANG

Tiga algoritma ACLS yang relevan bagi pelaku anastesi di dalam ruang operasi adalah (1) pulseless cardiac arrest (2) simptomatik bradikardi (3) sImptomatik takikardi. Pulseless Cardiac Arrest Cardiac disritmia yang menghasilkan pulseless cardiac arrest adalah (1) VF, (2) VT yang cepat, (3) pulseless electrical activity (PEA), dan (4) asystole (lihat gbr. 44-5). Selama terjadi pulseless cardiac arrest, yang perlu dilakukan adalah memberikan kompresi dada yang tepat dan defibrilasi dini jika iramanya VT dan VF. Pemberian obat adalah hal yang kedua karena obat sangat sulit dibuktikan kemanjurannya pada keadaan ini. Setelah pemberian CPR dan defibrilasi, penolong

kemudian dapat memberikan akses jika dalam tubuh pasien, membuka saluran pernafasan dan mempertimbangkan pemberian obat, semuanya dilakukan sambil terus memberikan kompresi dada dan ventilasi. MANAJEMEN AIRWAY Bag-mask ventilasi dan ventilasi melalui saluran pernafasan tambahan (endotracheal tube, supraglottic airway adalah metode ventilasi yang efektif selama CPR. Karena kompresi dada tidak bisa dilakukan selama intubasi endotrakeal, penolong harus mempertimbangkan kebutuhan akan kompresi dada dan kebutuhan akan manajemen saluran pernafasan. Mungkin perlunya memasukkan saluran pernafasan tambahan jika pasien tidak memberikan respon setelah dilakukan beberapa kali CPR dan defibrilasi. Akan tetapi, keputusan ini tidak selalu benar. Misalnya pasien yang mengalami edema pulmonal yang boleh diberikan intubasi endotracheal cepat atau lambat. Dengan adanya saluran pernafasan tambahan ini, pemberian ventilasi perlu dipertimbangkan lagi. Dada pasien seharusnya terangkat dua-duanya dan suara nafas seharusnya auskultasi. Selain itu, posisi yang tepat dari endotracheal tube sebaiknya dites dua kali untuk mengurangi ditemukannya false positive dan false negative. Capnograhy untuk mengukur end-tidal carbon dioxide (PETCO2) adalah tes yang ideal dan sangat direkomendasikan. Tes alternative termasuk pH (perubahan warna) dan esopagheal detector device (EDD). Sebuah EDD menggunakan pengisap balon lampu yang disambungkan di ujung endotracheal tube bila balon tersebut ditekan. Jika endotrakheal tube ada di trakhea, balon segera mengembang dengan udara dalam paru-paru karena cincin-cincin trachea kenyal dan tidak akan memecahkan tabung. Jika endotrakheal tube ada di esophagus, dinding-dinding esophagus yang lunak akan pecah di sekitar endotrakheal tube, dan balon tetap dalam keadaan tertekan. Begitu endotrakhea tube sudah diketahui ada di trakhea, ia akan aman. Satu nafas dapat diberikan dalam 6-8 detik tanpa harus bersamaan dengan kompresi. Gagalnya kesadaran pasien mungkin disebabkan karena buruknya cara kompresi dada dan migrasi endotrachea tube di dalam trachea. Memonitor PETCO2 secara menerus adalah cara yang paling baik untuk mengembalikan kesadaran pasien. Walaupun hasilnya belum dibuktikan dalam ROSC, sehingga dapat menuntun penolong dalam mengembalikan aliran darah pasien. Jika monitor carbon dioxide tidak tersedia, penempatan tabung dapat diperiksa secara berkala, khususnya selama kesadaran pasien berlangsung lama.

PENGOBATAN Mempersiapkan akses penyuntikan sangat penting, tapi sebaiknya dilakukan bersamaan dengan CPR dan Defibrilisasi. kateter yang besar sudah cukup untuk menyadarkan banyak pasien yang sudah tidak berdenyut. Obat sebaiknya diberikan dengan cepat diikuti dengan 20mL cairan pil