Kasbes Anes Tirta

download Kasbes Anes Tirta

of 22

  • date post

    07-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    227
  • download

    0

Embed Size (px)

description

contoh kasus anastesi

Transcript of Kasbes Anes Tirta

LAPORAN KASUS BESAR ANESTESI

SEORANG WANITA 31 TAHUN DENGAN CARDIAC ARREST

Diajukan untuk melengkapi syarat kepaniteraan klinik senior di bagian Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Disusun oleh :

Tirta Kusuma 22010114210031Pembimbing :

dr. Maulitia Neny

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR ILMU ANESTESIOLOGIFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2014

LEMBAR PENGESAHAN

Nama Mahasiswa: Tirta KusumaNIM: 22010114210031Bagian: Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Universitas Diponegoro/RSUP Dr. Kariadi Semarang Pembimbing: dr. Maulitia Neny

Semarang, 9 Januari 2014Pembimbing,

dr. Maulitia Neny

BAB IPENDAHULUAN

American Heart Association (AHA), dalam Jurnal Circulation yang diterbitkan November 2010, mempublikasikan Pedoman Cardiopulmonary Resucitation (CPR) dan Perawatan Darurat Kardiovaskular 2010. Resusitasi jantung paru adalah serangkaian penyelamatan hidup pada henti jantung. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh mencakup urutan dan prioritas langkah-langkah CPR dan disesuaikan dengan kemajuan ilmiah saat ini untuk mengidentifikasi faktor yang mempunyai dampak terbesar pada kelangsungan hidup. Atas dasar kekuatan bukti yang tersedia, mereka mengembangkan rekomendasi yang hasilnya menunjukkan paling menjanjikan. Kehadiran rekomendasi baru ini tidak untuk menunjukkan bahwa pedoman sebelumnya tidak aman atau tidak efektif, melainkan untuk menyempurnakan rekomendasi terdahulu.1 Henti jantung menjadi penyebab utama kematian di beberapa negara. Terjadi baik di luar rumah sakit maupun di dalam rumah sakit. Diperkirakan 350.000 orang meninggal per tahunnya akibat henti jantung di Amerika dan Kanada. Perkiraan ini tidak termasuk mereka yang diperkirakan meninggal akibat henti jantung dan tidak sempat di resusitasi. Walaupun usaha untuk melakukan resusitasi tidak selalu berhasil, lebih banyak nyawa yang hilang akibat tidak dilakukannya resusitasi. 1,2 Sebagian besar korban henti jantung adalah orang dewasa, tetapi ribuan bayi dan anak juga mengalaminya setiap tahun. Henti jantung akan tetap menjadi penyebab utama kematian yang premature, dan perbaikan kecil dalam usaha penyelamatannya akan menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahunnya. 1,2 Bantuan hidup dasar boleh dilakukan oleh orang awam dan juga orang yang terlatih dalam bidang kesehatan. Ini bermaksud bahwa CPR boleh dilakukan dan dipelajari dokter, perawat, para medis dan juga orang awam. 1,2 Menurut American Heart Associaton, rantai kehidupan mempunyai hubungan erat dengan tindakan jantung paru, karena penderita yang diberikan CPR, mempunyai kesempatan yang amat besar untuk data hidup kembali . 1

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Resusitasi Jantung ParuResusitasi Jantung Paru yang biasa kita kenal dengan nama RJP atau Cardiopulmonary Resuscitation adalah usaha untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi akibat terhentinya fungsi dan atau denyut jntung. Resusitasi sendiri berarti menghidupkan kembali, dimaksudkan sebagai usaha-usaha untuk mencegah berlanjutnya episode henti jantung menjadi kematian biologis. Dapat diartikan pula sebagai usaha untuk mengembalikan fungsi pernafasn dan atau sirkulasi yang kemudian memungkinkan untuk hidup normal kembali setelah fungsi pernafasan dan atau sirkulasi gagal.3

2. 2 Indikasi 2.2.1. Henti nafasHenti nafas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernafasan dari korban atau pasien. Henti nafas merupakan kasus yang harus dilakukan tindakan Bantuan Hidup dasar. Henti nafas dapat terjadi dalam keadaan seperti: 7 Tenggelam atau lemas Stroke Obstruksi jalan nafas Epiglotitis Overdosis obat-obatan Tesengat listrik Infark Miokard Tersambar petirPada awal henti nafas, oksigen masih dapat masuk ke dalam darah untuk beberapa menit dan jantung masih dapat mensirkulasikan darah ke otak dan organ vital lainnya, jika pada keadaan ini diberikan bantuan resusitasi, ini sangat bermanfaat pada korban.3,5,7

2.2.2. Henti JantungPada saat terjadi henti jantung, secara langsung akan terjadi henti sirkulasi. Henti sirkulasi ini akan cepat menyebabkan otak dan organ vital kekurangan oksigen. Pernafasan yang terganggu merupakan tanda awal akan terjadinya henti jantung. Henti jantung ditandai oleh denyut nadi besar tak teraba (karotis, femoralis, radialis) disertai kebiruan atau pucat sekali, pernafasan berhenti atau satu-satu, dilatasi pupil tak bereaksi terhadap rangsang cahaya dan pasien tidak sadar. Bantuan hidup dasar merupakan bagian dari pengelolaan gawat darurat medik yang bertujuan untuk:5a. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi.b. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi dari korban yang mengalami henti jantung atau henti jantung melalui resusitasi jantung paru (RJP).Resusitasi jantung paru terdiri dari dua tahap yaitu:a. Survei primer: dapat dilakukan oleh setiap orang.b. Survei sekunder: dapat dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis terlatih dan merupakan lanjutan dari survei primer.5

2.3. Sistem Pernafasan dan SirkulasiTubuh manusia terdiri dari beberapa sistem, diantaranya yang utama adalah sistem pernafasn dan sistem sirkulasi. Kedua sistem ini merupakan komponen utama dalam mempertahankan hidup. Terganggunya salah satu fungsi ini dapat mengakibatkan ancaman kehilangan nyawa. Tubuh dapat menyimpan makanan untuk beberapa minggu dan menyimpan air untuk beberapa hari, tetapi hanya dapat menyimpan oksigen (O) untuk beberapa menit saja. Sistem pernafasan mensuplai oksigen kedalam tubuh sesuai dengan kebutuhan dan juga mengeluarkan karbondioksida (CO2). Sistem sirkulasi inilah yang bertanggungjawab memberikan suplai oksigen dan nutrisi keseluruh jaringan tubuh.7,8Komponen-komponen yang berhubungan dengan sirkulasi adalah:1. Jantung2. Pembuluh Darah ( Arteri, Vena, Kapiler)3. Darah dan kompone-komponennya.Jantung berfungsi untuk memompa darah dan kerjanya sangat berhubungan erat dengan sistem pernafasan, pada umumnya semakin cepat kerja jantung semakin cepat pula frekuensi pernafasan dan sebaliknya.7,8Jantung dapat berhenti bekerja karena banyak sebab,diantaranya:1. Penyakit jantung2. Gangguan pernafasan3. Syok4. Komplikasi penyakit lain: Stroke5. Penurunan kesadaran2.4. Resusitasi Jantung ParuResusitasi yang berhasil setelah terjadinya henti jantung membutuhkan gabungan dari tindakan yang terkoordinasi yang ditunjukkan dalam Chain of Survival, yang meliputi : a. Pengenalan segera terhadap henti jantung dan aktivasi dari emergency response systemb. RJP yang awal dengan menekankan pada kompresi dadac. Defibrilasi yang cepatd. Advanced life support yang efektife. Perawatan post-cardiac arrest yang terintegrasiRJP secara tradisional telah menggabungkan kompresi dan nafas buatan dengan tujuan untuk mengoptimalkan sirkulasi dan oksigenasi. Karakteristik penolong dan penderita dapat mempengaruhi aplikasi yang optimal dari komponen RJP.7Semua orang dapat menjadi penolong untuk penderita henti jantung. Kompresi dada merupakan dasar dari RJP. Semua penolong, tanpa melihat telah mendapat pelatihan atau tidak, harus memberikan kompresi dada pada setiap penderita henti jantung. Karena sangat penting, kompresi dada harus menjadi tindakan awal pada RJP untuk setiap penderita pada semua usia. Penolong yang telah terlatih harus berkoordinasi dalam melakukan kompresi dada bersamaan dengan ventilasi, sebagai suatu tim.7Sebagian besar henti jantung pada dewasa terjadi secara tiba-tiba, sebagai akibat dari kelainan jantung, sehingga sirkulasi yang dihasilkan dari kompresi dada menjadi sangat penting. Berlawanan dengan hal itu, henti jantung pada anak-anak seringkali karena asfiksia, dimana membutuhkan baik ventilasi maupun kompresi dada untuk hasil yang optimal. Dengan demikian nafas buatan pada henti jantung menjadi lebih penting untuk anak-anak daripada untuk dewasa.72.5. Bantuan Hidup Dasar Tujuan bantuan hidup dasar ialah untuk oksigenasi darurat secara efektif pada organ vital seperti otak dan jantung melalui ventilasi buatan dan sirkulasi buatan sampai paru dan jantung dapat menyediakan oksigen dengan kekuatan sendiri secara normal. Resusitasi mencegah agar supaya sel-sel tidak rusak akibat kekurangan oksigen. Bantuan hidup dasar (Basic Life Support) atau resusitasi ABC atau resusitasi kardiopulmoner berarti menjaga jalan napas tetap paten (A), membuat napas buatan (B) dan membuat sirkulasi buatan dengan pijatan jantung (C). Tindakan ini dilakukan tanpa alat atau dengan alat yang sederhana dan harus dilakukan dengan cepat dalam waktu kurang dari 4 menit pada suhu normal secara baik dan terarah.3a. Dalam fase I ini terdiri dari langkah yang di A (airway), B (breathing), C (circulation). A (airway ) : menjaga jalan nafas tetap terbuka B (breathing) : ventilasi paru dan oksigenasi yang adekuat C (circulation) : mengadakan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung parub. Fase II : Advance Life Support (ALS), yaitu BLS ditambah dengan D (drug) dan E (EKG) D ( drugs ) : pemberian obat-obatan termasuk cairan. E ( EKG ): diagnosis elektrokardiografis secepat mungkin untuk mengetahuis fibrilasi ventrikel.c. Fase III : Prolonged Life Support (PLS), yaitu penambahan dari BLS dan ALS, G (gauge), H (head), I (Intensive care). G ( gauge ) : Pengukuran dan pemeriksaan untuk monitoring penderita secara terus menerus, dinilai, dicari penyebabnya dan kemudian mengobatinya. H (Head): tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistem saraf dari kerusakan lebih lanjut akibat terjadinya henti jantung, sehingga dapat dicegah terjadinya neurologic yang permanen. I (Intensive Care ) : perawatan intensif di ICU, yaitu : tunjangan ventilasi : trakheostomi, pernafasan dikontrol terus menerus, sonde lambung, pengukuran pH, pCO2 bila diperlukan dan tunjangan sirkulasi mengedalikan jika terjadinya k