Ikk Presus

Click here to load reader

  • date post

    01-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    233
  • download

    1

Embed Size (px)

description

ikk

Transcript of Ikk Presus

PRESENTASI KASUSOsteoatritis pada wanita separuh baya dengan kekhawatiran dan kurangnya pengetahuan terhadap penyakitnya pada rumah tangga tidak ber-PHBS.

Diajukan untuk memenuhi sebagian syaratmengikuti ujian kepanitraan klinik bagian ilmu kesehatan keluargaPUSKESMAS GEDONGTENGEN YOGYAKARTA

Pembimbing :dr. Suharno

Disusun oleh:Siti karlina S,kedNim 20090310207FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA2014

HALAMAN PENGESAHANPRESENTASI KASUSOSTEOATRITIS PADA WANITA SEPARUH BAYA DENGAN KEKHAWATIRAN DAN KURANGNYA PENGETAHUAN TERHADAP PENYAKITNYA PADA RUMAH TANGGA TIDAK BER-PHBS.

Disusun oleh:SITI KARLINA 20090310207Mengetahui,Dosen Pembimbing & Penguji KlinikDosen Pembimbing Fakultas

Dr. kusbaryanto M, KesDosen Pembimbing Puskesmas

dr. suharno

BAB ILAPORAN KASUSNama Lengkap: Ny.SUmur: 59 tahunJenis kelamin: perempuanAlamat : kemetrian gedongtengen IIAgama : islamPekerjaan: ibu rumah tanggaPendidikan terakhir : SMPTanggal kunjungan puskesmas: 10 Desember 2014Tanggal home Visite I: 11 Desember 2014Tanggal home Visite II: 13 Desember 2014

RPS:Pasien mengeluh nyeri pada kaki kiri, keluahan dirasakan sejak 1 tahun,nyeri dirasakan saat berjalan dan saat jongkok dan duduk ketika solat. Sehingga membuat aktifitas pasien menjadi terhambat, pasien juga mengeluh kadang kadang pusing, keluhan mual, muntah serta sesak disangkal oleh pasien.RPD:Pasien tidak mempunyai keluhan lain selain sakit lutut yang dirasakan hingga sekarang.

RPK:Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit yang sama dengan pasien. Hipertensi, diabetes, asma, jantung, dan kanker dalam keluarga disangkal oleh pasien. Riwayat Personal Sosial

Pasien tidak merokok, tetapi suami pasien merupakan perokok aktif Pasien tidak mengkonsumsi alkohol maupun obat terlarang. Diet: Pola makan pasien 2 kali perhari dengan konsumsi nasi, sayur, dan lauk rutin. Pasien rutin minum kopi 2 kali sehari dengan gula 1 sendok teh perminum. Aktifitas fisik: Pasien melakukan aktifitas seperti biasa sebagai ibu rumah tangga dengan mengasih cucu, yang ditinggalkan oleh anaknya. Pola istirahat: pasien tidur malam 6 jam dan mengaku tidak pernah tidur siang. Manajemen stress: pasien mengaku jarang merasa tertekan dan tidak pernah terlalu memikirkan masalah menjadi berat. Pasien biasa bercerita dengan suami dan anak pertamanya. Riwayat perkawinan: Pasien menikah satu kali dan memiliki 4 anak. Riwayat pekerjaan: Pasien tidak bekerja sejak setelah pindah rumah 5 tahun yang lalu, sebelumnya menjadi penjual lotek Riwayat pendidikan: pasien berpendidikan terakhir SD Riwayat sosialisasi: pasien tidak pernah menutup diri dengan tetangga sekitar.Anamnesis Illness Perasaan pasien: Pasien khawatir terhadap penyakitnya dan aktifitasnya merasa terhambat Ide-ide pemikiran pasien: Pasien sangat membatasi aktivitas dan konsumsi makanan sehari-hari. Harapan pasien: pasien ingin kondisi penyakitnya tidak semakin parah dan tidak kambuh lagi. Efek terhadap fungsi sosial dan ekonomi: pasien mengaku penyakitnya mengganggu keadaan aktifitas nya sebagai ibu rumah tanggaAnamnesis Sistem1. Sistem saraf pusatDemam (-),penurunan kesadaran (-), menggigil (-), pusing (-).2. Sistem kardiovaskularNyeri dada (-).3. Sistem respirasiSesak napas (-), batuk (-), pilek (-), mengi (-).4. Sistem gastrointestinalNyeri telan (-), nyeri perut (-), mencret (-), mual(-), muntah(-).5. Sistem urogenitalBAK lancar, nyeri (-), anyang-anyangan (-).6. Sistem muskuloskeletalKaku (-), nyeri otot (-).7. Sistem integumentumGatal (-), nyeri (-), bengkak (-), kulit kering (-).

A. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum:Baik, tidak tampak kesakitan.Kesadaran: Compos Mentis.BB: 62 kgTB: 155 cmIMT: 22,30Status Gizi: baikTanda VitalTD: 120/70mmHgSuhu: afebrisNadi: 78 x/menitRR: 24 x/menitKulit:Turgor kulit baik,atrofi (-), ikterik (-),sianosis (-), pucat (-).KepalaBentuk: Normocephal.Rambut: Distribusi merata.Mata: Pupil bulat isokor (+/+), Conjunctiva Anemis (-/-), Sclera Icterik (-/-).Hidung: Deviasi septum (-), hiperemis mukosa (-), hipertrofi concha (-), sekret(-), pernapasan cuping hidung (-).Telinga: Normotia, nyeri tekan tragus (-), nyeri tekan mastoid (-).Mulut dan Bibir : Pucat (-), kering (-), sianosis (-); gusi merah muda (+), perdarahan (-); caries dentis (+); lidah bersih (+), papil atrofi(-), deviasi(-); mukosa bucal merah muda dan perdarahan (-).Tenggorokan : Uvula di tengah, faring tidak hiperemis.Leher: Pembesaran limfonodi (-), perbesaran thyroid (-).ThoraxParu-Paru:Inspeksi: Bentuk normal, simetris kedua thorax pada keadaan statis dan dinamis, spider nevi (-), retraksi sela iga (-).Palpasi: Vocal Fremitus kanan dan kiri simetris, tidak ada nyeri tekan.Perkusi: Sonor pada kedua hemithoraksAuskultasi: Suara nafas vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/-Jantung:Inspeksi:Ictus cordis tidak terlihat.Palpasi:Ictus cordis tidak teraba.Auskultasi:BJ I-IIregular, murmur (-), gallop (-).AbdomenInspeksi: Datar, simetris, pelebaran vena (-), distensi abdomen (-), tidak terlihat benjolan, warna kulit sama dengan warna kulit sekitar.Auskultasi: Bising usus (+).Palpasi: Hepatosplenomegali (-), turgor kulit baik (+), nyeri tekan (-).Perkusi: Timpani, nyeri ketok (-), shifting dullness (-).

Ekstremitas Tabel 6. Pemeriksaan EkstremitasTungkaiLengan

KananKiriKananKiri

GerakanTonusTrofiEdemaAkralNyeriPembengkakan sendiKekuatanTremor Luka ClavusPalePulsatilNadiBebasNormalEutrofi-Hangat--

+5----NormalRegulerBebasNormalEutrofi+Hangat+-

+5----NormalRegulerBebasNormalEutrofi-Hangat--

+5----NormalReguler BebasNormalEutrofi-Hangat--

+5----NormalReguler

B. Pemeriksaan Penunjang-C. Diagnosis KlinisOsteoatritis .D. Penatalaksanaan1. FarmakologisR/ meloxicam tab 7,5 mg No XVS/ 2 dd tab 1 R/ kalsium laktat tab 500mg No. XVS/ 2 dd 1 2. Non farmakologisEdukasi, meliputi :a. Penyakit dan komplikasi penyakit yang diderita pasien.b. Modifikasi gaya hidup sehatc. Ketaatan pengobatan dan minum obat.d. Kontrol rutin asam urat.e. Pencegahan terhadap komplikasi jangka panjangf. Pentingnya peran keluarga dalam mencapai tujuan penyembuhan pasien.g. Mengontrol emosi dan memanage stress dengan baik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKAOSTEOARTHRITISA. DefinisiOsteoartitis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif, dimana keseluruhan struktur dari sendi mengalami perubahan patologis. Ditandai dengan kerusakan tulang rawan (kartilago) hyalin sendi, meningkatnya ketebalan serta sklerosis dari lempeng tulang, pertumbuhan osteofit pada tepian sendi, meregangnya kapsula sendi, timbulnya peradangan, dan melemahnya otototot yang menghubungkan sendi. (Felson, 2008).

B. EtiologiBerdasarkan penyebabnya, OA dibedakan menjadi dua yaitu OA primer dan OA sekunder. OA primer, atau dapat disebut OA idiopatik, tidak memiliki penyebab yang pasti ( tidak diketahui ) dan tidak disebabkan oleh penyakit sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi. OA sekunder, berbeda dengan OA primer, merupakan OA yang disebabkan oleh inflamasi, kelainan sistem endokrin, metabolik, pertumbuhan, faktor keturunan (herediter), dan immobilisasi yang terlalu lama. Kasus OA primer lebih sering dijumpai pada praktik sehari-hari dibandingkan dengan OA sekunder ( Soeroso, 2006 ). Selama ini OA sering dipandang sebagai akibat dari proses penuaan dan tidak dapat dihindari. Namun telah diketahui bahwa OA merupakan gangguan keseimbangan dari metabolisme kartilago dengan kerusakan struktur yang penyebabnya masih belum jelas diketahui ( Soeroso, 2006 ). Kerusakan tersebut diawali oleh kegagalan mekanisme perlindungan sendi serta diikuti oleh beberapa mekanisme lain sehingga pada akhirnya menimbulkan cedera ( Felson, 2008 ). Mekanisme pertahanan sendi diperankan oleh pelindung sendi yaitu : Kapsula dan ligamen sendi, otot-otot, saraf sensori aferen dan tulang di dasarnya . Kapsula dan ligamen-ligamen sendi memberikan batasan pada rentang gerak (Range of motion) sendi (Felson, 2008). Cairan sendi (sinovial) mengurangi gesekan antar kartilago pada permukaan sendi sehingga mencegah terjadinya keletihan kartilago akibat gesekan. Protein yang disebut dengan lubricin merupakan protein pada cairan sendi yang berfungsi sebagai pelumas. Protein ini akan berhenti disekresikan apabila terjadi cedera dan peradangan pada sendi (Felson, 2008). Ligamen, bersama dengan kulit dan tendon, mengandung suatu mekanoreseptor yang tersebar di sepanjang rentang gerak sendi. Umpan balik yang dikirimkannya memungkinkan otot dan tendon mampu untuk memberikan tegangan yang cukup pada titik-titik tertentu ketika sendi bergerak (Felson, 2008). Otot-otot dan tendon yang menghubungkan sendi adalah inti dari pelindung sendi. Kontraksi otot yang terjadi ketika pergerakan sendi memberikan tenaga dan akselerasi yang cukup pada anggota gerak untuk menyelesaikan tugasnya. Kontraksi otot tersebut turut meringankan stres yang terjadi pada sendi dengan cara melakukan deselerasi sebelum terjadi tumbukan (impact). Tumbukan yang diterima akan didistribusikan ke seluruh permukaan sendi sehingga meringankan dampak yang diterima. Tulang di balik kartilago memiliki fungsi untuk menyerap goncangan yang diterima (Felson, 2008). Kartilago berfungsi sebagai pelindung sendi. Kartilago dilumasi oleh cairan sendi sehingga mampu menghilangkan gesekan antar tulang yang terjadi ketika bergerak. Kekakuan kartilago yang dapat dimampatkan berfungsi sebagai penyerap tumbukan yang diterima sendi. Perubahan pada sendi sebelum timbulnya OA dapat terlihat pada kartilago sehingga penting untuk mengetahui lebih lanjut tentang kartilago (Felson, 2008). Terdapat dua jenis makromolekul utama pada kartilago, yaitu Kolagen tipe dua dan Aggrekan. Kolagen tipe dua terjalin dengan ketat, membatasi molekul molekul aggrekan di antara jalinan-jalinan kolagen. Aggrekan adalah molekul proteoglikan yang berikatan dengan asam hialurona