skripsi manajemen keperawatan

download skripsi manajemen keperawatan

of 54

  • date post

    25-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    282
  • download

    12

Embed Size (px)

description

deskriptif

Transcript of skripsi manajemen keperawatan

Gambaran Komitmen Organisasi Perawat Pelaksana Berdasarkan Gaya Kepemimpinan Kepala Ruangan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan

Citra Septantris

SKRIPSI

FAKULTAS KEPERAWATANUNIVERSITAS SUMATERA UTARAMEDAN 2012Judul: Gambaran Komitmen Organisasi Perawat Pelaksana Berdasarkan Gaya Kepemimpinan Kepala Ruangan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan.

Nama : Citra Septantris

Nim: 101121045

Fakultas : Keperawatan

Tahun akademik : 2011/2012

Abstrak Komitmen Organisasi didefenisikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut. Sedangkan gaya kepemimpinan adalah pola tingkah laku yamg dirancang untuk mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan individu, untuk mencapai suatu tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis komitmen organisasi perawat pelaksana berdasarkan gaya kepemimpinan kepala ruangan di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan. Sampel diambil dari perawat pelaksana di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan sebanyak 32 orang perawat. Sampel di ambil dengan teknik simple random sampling yaitu pengambilan sampel di lakukan secara acak di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan dengan kriteria bersedia menjadi responden, pengalaman bekerja di rumah sakit minimal 1 tahun. Untuk mengetahui analisis komitmen organisasi perawat pelaksana berdasarkan gaya kepemimpinan di ruang rawat inap rumah sakit umum Imelda pekerja Indonesia medan digunakan metode deskriptif distribusi frekuensi. Hasil analisis menunjukkan bahwa komitmen berkelanjutan (continuance commitment) dan komitmen normatif (normative commitment) memiliki kesinergisan yang erat terhadap gaya kepemimpinan partisipatif yang juga merupakan penggabungan dari gaya kepemimpinan otoriter dan demokratis sedangkan komitmen afektif (affective commitment) bersinergis dengan gaya kepemimpinan demokratis.

Kata kunci : Komitmen organisasi, Gaya kepemimpinan kepala ruangan.

BAB 1PENDAHULUAN

1.1 Latar belakangOrganisasi adalah pembentukan struktur formal yang memberikan pengkoordinasian terbaik atau penggunaan sumber untuk mencapai tujuan unit (Marquis, 2010). Dalam keperawatan sistem lebih terfokus pada pengorganisasian, interaksi, interdependensi, dan integrasi dari bagian-bagian dan elemen yang ada. Organisasi pelayanan kesehatan bisa di pandang sebagai suatu sistem dengan sub sistem individu dan grup atau kelompok profesi yang secara bersama-sama bekerja untuk mencapai tujuan yang telah di sepakati. Pemahaman dan komitmen tentang kekompakan kelompok menjadi penting dan sangat berpengaruh pada proses pencapaian tujuan tersebut, oleh karena itu pola interaksi yang efektif harus di ciptakan di antara individu atau grup baik internal maupun eksternal dari sistem yang telah ada (Sumijatun, 2009). Tenaga kerja perawat adalah salah satu SDM Indonesia yang mulai mampu bersaing di pasar tenaga kerja global. Namun dalam pasar tenaga kerja di dalam negeri, SDM bidang kesehatan masih belum mencukupi dalam upaya pelayanan kesehatan pada seluruh pelosok negeri. SDM bidang kesehatan seperti dokter, bidan dan perawat relatif sudah menyebar, Bila tenaga kesehatan seperti perawat berfungsi dalam pelayanan kesehatan bersifat kuratif, maka SDM tenaga profesi kesehatan masyarakat bersifat promotif preventif. (www.ketenegakerjaan.com)Kepemimpinan seharusnya melekat pada setiap individu di suatu organisasi termasuk juga dalam keperawatan. Peran perawat sebagai pemimpin menjadi penting karena ia harus mampu mengelola sumber daya yang ada serta mampu membuat keputusan yang tepat, guna memberikan pelayanan yang optimal pada pasien, keluarga, maupun masyarakat yang membutuhkannya (Sumijatun, 2009). Kepemimpinan adalah kemampuan memberi inspirasi kepada orang lain untuk bekerja sama sebagai suatu kelompok, agar dapat mencapai suatu tujuan umum (Suarli, 2002).Gaya kepemimpinan adalah pola tingkah laku yang di rancang untuk mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan individu, untuk mencapai suatu tujuan. Dasar yang sering di gunakan untuk mengelompokkan gaya kepemimpinan adalah tugas yang harus di lakukan oleh pemimpin, kewajiban pemimpin, dan falsafah yang di anut oleh pemimpin (Suarli, 2002).Gillies (1970) dalam Nursalam (2008) ,menyatakan bahwa gaya kepemimpinana dapat di identifikasikan berdasarkan perilaku pemimpin itu sendiri. Perilaku seseorang di pengaruhi oleh adanya pengalaman bertahun-tahun dalam kehidupannya. Oleh karena itu kepribadian seseorang akan mempengaruhi gaya kepemimpinan yang di gunakan. Gaya kepemimpinan seseorang cenderung sangat bervariasi dan berbeda-beda (Nursalam, 2008).Komitmen adalah suatu keadaan dimana seorang individu memihak organisasi serta tujuan-tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keangotaannya dalam organisasi (Robbins dan Judge, 2007).Komitmen organisasi adalah rasa identifikasi (kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi), keterlibatan (kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan organisasi) dan loyalitas (keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi yang bersangkutan) yang dinyatakan oleh seorang pegawai terhadap organisasinya (Kuntjoro, 2002).Dalam memelihara komitmen organisasi, peran seorang pemimpin sangat dibutuhkan dan kepemimpinan yang efektif menjadi syarat utama. Kepemimpinan yang efektif bisa membantu organisasi untuk bisa bertahan dalam situasi ketidak pastian di masa datang (Katz and Khan 1978; Koh et al. 1995; Mowday et al. 1982). Gary Yukl (1994) mengungkapkan bahwa pemimpin yang efektif mempengaruhi para pengikutnya untuk mempunyai optimisme yang lebih besar, rasa percaya diri, serta komitmen kepada tujuan dan misi organisasi.Berdasarkan data yang di peroleh pada tahun 2010 turn over perawat sebanyak 27,7 % di RSU. Imelda Pekerja Indonesia Medan , atau sebanyak 36 orang perawat dari 130 orang perawat yang bekerja di RSU Imelda Pekerja Indonesia Medan. Menurut Koch (1978, Angle 1981 dalam Morin 2008) nilai normal pada komitmen organisasi perawat pelaksana untuk tetap bertahan adalah sebanyak 75% dari total populasi. Hal ini menunjukkan angka yang cukup signifikan mengingat komitmen sebagai perawat pelaksana dengan kepala ruangan sangat perlu di kondisikan dengan baik berhubungan dengan gaya kepemimpinan kepala ruangan.Kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting untuk kelancaran dalam pelayanan keperawatan dan pentingnya perawat untuk berkomitmen.berdasarkan hal tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimanakah hubungan gaya kepemimpinan kepala ruangan terhadap komitmen organisasi perawat pelaksana di ruang rawat inap Rumah Sakit umum Imelda Pekerja Indonesia Medan.Hasil penelitian terdahulu yaitu tentang hubungan gaya kepemimpinan situasional kepala ruang rawat dengan pelaksanaan tugas perawat di ruang rawat nginap RSUP dr. Sardjito Yogyakarta pada tahun 1990, menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan situasional kepala ruang rawat inap pada tingkat kesesuaian sedang, yaitu hubungan antara gaya kepemimpinan yang banyak dukungan dan sedikit pengarahan, dengan tingkat kematangan perawat yang tinggi (nunuk 2003). Hasil penelitian gaya kepemimpinan atau perilaku kepala ruang rawat inap di RS Telogorejo Semarang pada Tahun 2001, dengan 65 sampel, menunjukkan bahwa pada umumnya menggunakan gaya kepemimpinan (G2) yaitu gaya kepemimpinan yang di tandai dengan banyak dukungan dan banyak pengarahan (39 orang/60%). Tingkat kematangan /kesiapan perawat dalam melaksanakan tugas, sebagian besar pada tingkat kematangan madya ke tinggi (M3) artinya perawat selalu mampu tetapi tidak mau melaksanakan tugas yang di berikannya karena merasa kurang yakin.Hasil penelitian terdahulu apabila dihubungkan dengan penelitian ini, mempunyai persamaan dalam hal sistem manajemen yang di terapkan pada masing-masing rumah sakit, terutama dalam kepemimpinan kepala ruang rawat. Hal ini di sebabkan bahwa kepemimpinan merupakan penggabungan dari faktor-faktor, komunikasi, kepedulian terhadp lingkungan, kemampuan-kemampuan dalam memberikan pemahaman terhadap orang lain, kapasitas yang prima, kemampuan unggulan, merupakan agen perubahan, pemberi jalan dan kesempatan, manusia yang kreatif, sensitif terhadap lingkungan, ada kemauan untuk berbagi, memiliki komitmen tinggi terhadap organisasi, memiliki kecepatan ideal dan pengambilan keputusan, pintar, memiliki integritas tinggi, memiliki intuisi yang memadai, inspiratif, mampu memanfaatkan jabatannya denga benar (Permana, 2005)Jika yang di gambarkan diatas dimiliki oleh seorang pemimpin, maka sudah dapat di pastikan bahwa fungsi kepemimpinannya akan berjalan dengan baik dan akan mampu mempengaruhi para pengikutnya untuk meraih kepentingan bersama. Menurut Paul Harsey dan Blanchard, Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas seseorang atau kelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Jadi proses kepemimpinan adalah hubungan antara pemimpin dan situasi yang terdapat dalam tiga variabel situasional yang dapat membantu gaya kepemimpinan yang efektif, yaitu hubungan atasan dengan bawahan, struktur tugas yang harus dikerjakan, dan posisi kewenangan seseorang, dan dalam hal ini diterapkan dalam pelaksanaan pendokumentasian tahap pengkajian keperawatan oleh perawat pelaksana (Suyanto 2009).1.2 Tujuan Penelitian1.2.1 Tujuan umum:Untuk mengetahui gambaran komitmen organisasi perawat pelaksana berdasarkan gaya kepemimpinan kepala ruangan di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan.1.2.2 Tujuan khusus:1.2.2.1 Mengidentifikasi gaya kepemimpinan otoriter kepala ruangan di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan.1.2.2.2 Mengidentifikasi gaya kepemimpinan partisiptif kepala ruangan di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Imel