Wakaf Uang: Tingkat Pemahaman Masyarakat & Faktor ... ... dari kata kerja bahasa Arab waqafa...

Click here to load reader

  • date post

    20-Nov-2020
  • Category

    Documents

  • view

    3
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Wakaf Uang: Tingkat Pemahaman Masyarakat & Faktor ... ... dari kata kerja bahasa Arab waqafa...

  • 1

    Wakaf Uang: Tingkat Pemahaman Masyarakat & Faktor Penentunya (Studi Masyarakat Muslim Kota Surabaya, Indonesia)

    Marlina Ekawaty Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

    Telp. +62 856-4662-5700 E-mail: [email protected]

    Anggi Wahyu Muda Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

    Telp. +62 857-4933-0733, E-mail: [email protected]

    ABSTRAK

    Besarnya peran wakaf sebagai sumber dana umat Islam dan rendahnya realisasi wakaf uang yang berhasil dihimpun dibandingkan potensi wakaf uang di Indonesia mendorong dilakukannya penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman masyarakat Muslim Kota Surabaya terhadap wakaf uang dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Statistik deskriptif,uji Z, dan analisis regresi berganda digunakan terhadap data primer yang dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner kepada masyarakat Muslim di Kota Surabaya. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Muslim Kota Surabaya tidak paham wakaf uang. Tingkat Pemahaman masyarakat Muslim Kota Surabaya terhadap wakaf uang dipengaruhi baik oleh faktor internal mapun faktor eksternal Faktor internal tersebut adalah pengetahuan agama, sedangkan faktor eksternalnya adalah akses media informasi. Guna meningkatkan pemahaman masyarakat Muslim terhadap wakaf uang diperlukan peningkatan pengetahuan agama dan akses media informasi baik cetak maupun elektronik.

    Kata kunci: wakaf uang, persepsi, faktor internal, faktor eksternal

    A. Pendahuluan

    Wakaf merupakan salah satu amalan untuk mewujudkan keshalihan sosial, disamping zakat,

    infak, atau sedekah. Diantara wujud keshalihan sosial tersebut adalah menciptakan keadilan dan

    kesejahteraan sosial. Walaupun demikian tidak berarti bahwa wakaf, zakat, infak, dan sedekah hanya

    mempunyai dimuensi hablum min al naas, tetapi juga memiliki dimensi hablun min Allah.

    Dibandingkan zakat,infak, dan sedekah, wakaf memiliki beberapa kelebihan, antara lain

    adalah: (1) memberikan pahala yang berkesinambungan kepada pembayarnya secara berterusan

  • 2

    walaupun kepemilikannya sudah berpindah dan pembayarnya sudah meninggal dunia, (2)

    merupakan wujud konkrit kemandirian masyarakat Islam dalam menciptakan kesejahteraan dan

    solidaritas sosial diantara mereka, (3) salah satu cara melestarikan pokok harta dari kemusnahan,

    (4) menjadikan manfaat harta wakaf dapat dirasakan oleh generasi mendatang, dan (5)

    bermanfaat bagi orang-orang yang berhak untuk memenuhi kebutuhan mereka. Jika zakat

    ditujukan untuk menjamin keberlangsungan pemenuhan kebutuhan pokok kepada ‘delapan

    golongan’, maka wakaf lebih dari itu. Hasil pengelolaan wakaf dapat dimanfaatkan oleh ‘semua

    lapisan masyarakat’, tanpa batasan golongan untuk kesejahteraan umat.

    Secara ekonomi, kegiatan wakaf merupakan kegiatan transformasi fungsi suatu harta dari

    konsumtif menjadi investasi, yaitu mengalokasikan harta wakaf itu sebagai modal produksi yang

    menghasilkan keuntungan-keuntungan, manfaat-manfaat untuk dikonsumsi di masa yang akan

    datang, baik konsumsi kolektif seperti masjid, pondok pesantren, atau konsumsi individu seperti

    untuk keperluan fakir miskin dan keluarganya.

    Berdasarkan definisi wakaf yang dikemukakan mazhab Hanafi, mazhab Hambali,

    mazhab Maliki dan mazhab Syafi’I, Hasan Mansur Nasution (2010,6) menyatakan bahwa wakaf

    bereti menahan harta yang dimiliki untuk diambil manfaatnya bagi kemaslahatan umat dan

    agama. Harta wakaf tidak hanya bisa berwujud benda tidak bergerak seperti tanah atau

    bangunan, tetapi bisa juga berwujud benda bergerak seperti kendaraan, uang, logam mulia, atau

    surat berharga. Sebagai harta yang diwakafkan, benda bergerak tersebut lebih cair untuk

    dikembangkan dalam berbagai cara berlandaskan syariat sehingga dapat mendatangkan manfaat

    yang optimal terutama dalam memenuhi semua keperluan umat Islam dan fasilitas-fasilitas

    umum, seperti membiayai pernikahan pasangan miskin, memelihara trotoar pelajan kaki,

  • 3

    membantu pekerja bidang-bidang yang beresiko, dan sebagainya (Muhammad Syukri Salleh,

    2010: 130)

    Wakaf dalam bentuk uang (wakaf uang) dipandang sebagai salah satu cara membuat

    wakaf bisa memberikan hasil yang lebih banyak. Setidaknya ada empat alasan tentang hal

    tersebut. Pertama, uang bukan hanya sebagai alat tukar menukar saja, tetapi juga merupakan

    komoditas yang siap menghasilkan dan berguna untuk pengembangan aktivitas perekonomian

    yang lain. Kedua, wakaf uang mempunyai daya jangkau dan mobilisasi yang jauh lebih merata di

    tengah masyarakat dibandingkan wakaf benda tidak bergerak. Ketiga, wakaf uang dapat

    dilakukan dimana saja tanpa batas Negara dan manfaatnya dapat dinikmati oleh masyarakat

    dimana saja. Keempat, wakaf uang merupakan model mobilisasi dana abadi ummat jika dikelola

    secara professional dan amanah.

    Wakaf uang dipopulerkan oleh Prof. Dr. M.A. Mannan dengan mendirikan suatu badan

    yang bernama SIBL (Social Investment Bank Limited) di Bangladesh. Menurut Magda Ismail

    Abdel Mohsin (2008) dalam (Muhammad Syukri Salleh, 2010: 130) wakaf tunai telah diterapkan

    oleh 15 negara dan 3 organisasi internasional di seluruh dunia. Diantara Negara tersebut adalah

    Syiria, Turki, Afrika Selatan, Pakistan, Mesir, Singapura, dan Malaysia.

    Di Indonesia penarapan wakaf uang telah disahkan oleh Komisi Fatwa Majelis Ulama

    Indonesia (MUI) pada 11 Mei 2002 dan pada tahun 2004 telah menjadi Undang-Undang nomor

    41 tentang Wakaf. Dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia, potensi wakaf uang di

    Indonesia sepatutnya sangat besar. Hal ini didukung perhitungan Mustafa Edwin Nasution

    (2006), dengan jumlah umat Islam dermawan 10 juta dan rata-rata penghasilan Rp500.000 –

    Rp10.000.000 dapat dihimpun dana sekitar Rp3 Trilyun per tahun. Dalam kenyataan, setelah

    lebih 10 tahun diundangkannya UU 41/2004 Badan Wakaf Indonesia (BWI) mencatat bahwa

  • 4

    asset wakaf uang yang terkumpul di Indonesia per 2013 baru mencapai Rp 145,8 milliar atau

    4,86% dari estimasi Mustafa Edwin Nasution. Dana tersebut dikumpulkan oleh Dompet Dhuafa

    Rp 83,155 M, Lembaga Bangun Nurani Bangsa ESQ Rp 47 M, PKPU Rp 4,559 M, dan BWI

    sekitar Rp 4,093 M (Republika, 2014). Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana sebenarnya

    pemahaman masyarakat Muslim tentang wakaf uang? Faktor-faktor apa yang mempengaruhi

    pemahaman tersebut?

    Untuk menjawab pertanyaan tersebut dilakukan penelitian di Kota Surabaya. Setidaknya

    ada tiga alasan memilih Kota Surabaya. Pertama, Kota Surabaya merupakan kota terbesar kedua

    di Indonesia setelah Jakarta serta telah mengklaim dirinya sebagai Kota Jasa dan Perdagangan.

    Kedua, Kota Surabaya merupakan kota/kabupaten di Jawa Timur dengan jumlah penduduk

    Muslim terbanyak, yaitu 2.393.070 jiwa (Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, 2010).

    Ketiga, potensi wakaf tunai Kota Surabaya relatif besar.

    B. Tinjauan Pustaka

    B.1. Wakaf: Pengertian dan Dasar Hukum

    Kata ‘wakaf’ sudah menjadi bahasa Indonesia. Berdasarkan etimologi, kata ini berasal

    dari kata kerja bahasa Arab waqafa (fi’il madhy), yaqifu (fi’il mudhari), dan waqfan (isim

    mashdar) yang artinya berhenti, berdiri, berdiam di tempat, atau menahan. Dalam bahasa arab

    kata waqafa adalah sinonim dari kata habasa – yahbisu – habsan yang mempunyai arti menahan

    (Departemen Agama RI, 2005).

    Wakaf didefinisikan oleh Monzer Kahf (2014) sebagai istilah yang dipakai dalam hukum

    Islam, yang berarti menahan suatu hak terhadap suatu barang untuk dipelihara kepemilikannya,

    fungsinya, maupun peruntukannya agar dapat diambil manfaatnya bagi masyarakat. Sadeq

    (2002) menyebutkan dalam karyanya bahwa asset yang sudah diwakafkan tidak dapat dijual,

  • 5

    kepemilikannya tidak dapat diwariskan maupun dihibahkan.Untuk wakaf, hanya manfaatnya saja

    yang dapat digunakan oleh pihak-pihak tertentu (biasanya masyarakat umum),untuk hal-hal yang

    sesuai dengan kesepakatan wakaf tersebut dibuat. Pada umumnya wakaf diperuntukkan bagi

    tujuan-tujuan sosial, sesuai dengan pondasi dasar wakaf yaitu amal atau derma yang diberikan

    secara sukarela untuk periode yang tanpa berbatas waktu dan periode.

    Berdasarkan epistimologinya, walaupun berbeda pendapat tentang hak kepemilikan atau

    jangka waktu mengambil manfaat harta, mazhab Hanafi, Hambali, Syafi’i dan Maliki

    mengartikan wakaf sebagai menahan yang dimiliki untuk diambil manfaatnya bagi kemaslahatan

    umat dan agama. Berdasarkan terminologinya, pengertian wakaf menurut Dr Mundzir Qohf

    adalah menahan harta untuk selamanya atau sementara untuk dimanfaatkan baik harta atau

    hasilnya secara berulang-ulang untuk suatu tujuan kemaslahatan umum atau khusus. Sedikit

    berbeda dengan itu adalah definisi wakaf dari Prof Dr MA Mannan, dimana wakaf adalah suatu

    aktiva yang subtansinya dipertahankan, sementara hasil/manfaatnya digunakan sesuai dengan

    keinginan dari orang yang menyerahkan. Sementara itu, UURI nomor 41/2004 tentang wakaf

    menyebutkan bahwa wakaf adalah perbuatan hukum wakaf untuk memisahkan dan/atau

    menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka

    waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan

    umum menurut sya