PENGERTIAN BAYI BARU LAHIR, ADAPTASI FISIOLOGI BAYI BARU LAHIR DAN KELAINAN PADA BAYI BARU LAHIR

download PENGERTIAN BAYI BARU LAHIR, ADAPTASI FISIOLOGI BAYI BARU LAHIR DAN KELAINAN PADA BAYI BARU LAHIR

of 61

  • date post

    03-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    185
  • download

    49

Embed Size (px)

description

2.1 Adaptasi Fisiologis BBL Terhadap Kehidupan Diluar UterusSaat lahir, bayi baru lahir harus beradaptasi dari keadaan yang sangat tergantung menjadi mandiri. Banyak perubahan yang akan dialami oleh bayi yang semula berada dalam lingkungan interna ke lingkungan eksterna . Saat ini bayi tersebut harus dapat oksigen melalui sistem sirkulasi pernapasannya sendiri, mendapatkan nutrisi oral untuk mempertahankan kadar gula yang cukup, mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit.Periode adaptasi terdahadap kehidupan diluar rahim disebut periode transisi. Periode ini berlangsung hingga 1 bulan atau lebih setelah kelahiran untuk beberapa sistem tubuh.Transisi yang paling nyata dan cepat terjadi adalah pada sistem pernafasan dan sirkulasi,sistem termoregulasi dan dalam kemampuan mengambil serta menggunakan glukosa. Transisi dari kehidupan di dalam kandungan ke kehidupan luar kandungan merupakan perubahan drastis, dan menuntut perubahan fisiologis yang bermakna dan efektif oleh bayi, guna memastikan kemampuan bertahan hidup. Adaptasi bayi terhadap kehidupan diluar kandungan meliputi :2.2.1 Adaptasi Fisiologi Fetus2.2.2 Perubahan Pernafasan1. Perubahan Pernafasan Intrauterin2. Perubahan Pernafasan Ekstrauterin Selama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru – paru.a. Perkembangan paru-paru2.2.3 Perubahan Sirkulasia. Perubahan Sirkulasi Intrauterin Mula-mula darah yang kaya oksigen dan nutrisi yang berasal dari plasenta, melalui vena umbilicalis, masuk kedalam tubuh janin. Sebagian besar darah melalui ductus venosus 2.2 Kelainan pada Bayi Baru Lahir2.3.1 Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kelainan pada Bayi Baru Lahir1. Faktor Infeksi Infeksi yang dapat menimbulkan kelainan kongenital ialah infeksi yang terjadi pada periode organogenesis yakni dalam trimester pertama kehamilan. Adanya infeksi tertentu dalam periode organogenesis ini dapat menimbulkan gangguan dalam penumbuhan suatu organ tubuh. Infeksi pada trimester pertama di samping dapat menimbulkan kelainan kongenital dapat pula meningkatkan kemungkinan terjadinya abortus. Sebagai contoh infeksi virus pada trimester pertama ialah infeksi oleh virus

Transcript of PENGERTIAN BAYI BARU LAHIR, ADAPTASI FISIOLOGI BAYI BARU LAHIR DAN KELAINAN PADA BAYI BARU LAHIR

BAB 1PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangBayi baru lahir normal adalah bayi lahir yang melewati masa penyesuaian pada minggu pertama kehidupannya. Sedangkan waktu di dalam uterus ibu bayi aman, hangat dan makan dengan baik. Setelah lahir bayi harus menyesuaikan pada pola untuk makan, bernapas dan tetap hangat (Asuhan Bayi Baru Lahir, 2000). Menurut Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002, angka kematian bayi baru lahir sebesar 45/1000 kelahiran hidup dan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: infeksi, asfiksia neonatorum, trauma kelahiran, cacat bawaan (seperti labio plato skisis), penyakit yang berhubungan dengan prematuritas dan dismaturitas, imaturitas dan lain-lain. Ditinjau dari pertumbuhan dan perkembangan bayi, periode neonatal merupakan periode yang paling kritis. Kasus labio palato skisis merupakan salah satu bentuk kelainan kongenital pada bayi baru lahir. Labio palate skisis sering dijumpai pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan (Randwick, 2002). Kelainan ini merupakan kelainan yang disebabkan faktor herediter, lingkungan, trauma, virus (Sjamsul Hidayat, 1997), tetapi dapat diperbaiki dengan pembedahan. Secara umum, perawatan bayi baru lahir berpusat pada ibu dan keluarga agar pemberian asuhan keperawatan aman dan berkualitas dalam mengenali fokus dan adaptasi yang berorientasi terhadap kebutuhan fisik dan psikososial bayi baru lahir. Riset menunjukkan bahwa kontak dini yang diperpanjang antara orangtua-bayi baru lahir lebih besar secara signifikan dibandingkan dengan risiko infeksi (Stright, 2005)Mengingat masa neonatus/bayi baru lahir adalah masa penentu. Perkembangan dan pertumbuhan bayi/anak selanjutnya serta diperlukan perhatian dan penanganan yang terpadu dan berkesinambungan, maka penyusun tertarik untuk membuat makalah dengan judul Konsep Keperawatan Bayi Baru Lahir1.2 Rumusan Masalah1.2.1 Apakah pengertian bayi baru lahir?1.2.2 Bagaimanakah adaptasi fisiologi bayi baru lahir?1.2.3 Apa sajakah Kelainan pada bayi baru lahir?

1.3 Tujuan Penulisan1. Tujuan UmumUntuk mendapatkan pengetahuan dan memahami konsep keperawatan bayi baru lahir.2. Tujuan Khususa. Untuk mengetahui pengertian bayi baru lahir.b. Untuk megetahui adaptasi fisiologi bayi baru lahir.c. Untuk mengetahui kelainan pada bayi baru lahir

1.4 Metoda PenulisanDalam penyusunan makalah ini penu;lis menggunakan metoda studi kepustakaan dan penelusuran IT.

1.5 Sistematika PenulisanBAB I : PENDAHULUAN1.1 Latar belakang1.2 Tujuan penulisan1.3 Metoda penulisan1.4 Sistematika penulisanBAB II TINJAUAN TEORITIS2.1 Pengertian Bayi Baru Lahir2.2 Adaptasi Fisiologis Bayi Baru Lahir2.3 Kelainan Pada Bayi Baru LahirBAB III KESIMPULAN DAN SARAN3.1 KESIMPULAN3.2 SARANDAFTAR PUSTAKABAB 2PEMBAHASAN2.1 Pengertian Bayi Baru Lahir (Neonatus atau Neonatal)Bayi Baru Lahir (BBL)/ Neonatus/ Neonatal adalah hasil konsepsi yang baru keluar dari rahim seorang ibu melalui jalan kelahiran normal atau dengan bantuan alat tertentu dengan periode sejak bayi lahir sampai 28 hari pertama kehidupan. Bayi baru lahir fisiologis adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37-42 minggu dan berat badan lahir 2500-4000 gram.(Depkes RI,2007). Selama beberapa minggu, neonatus mengalami masa transisi dari kehidupan intrauterin ke extrauterine dan menyesuaikan dengan lingkungan yang baru. Masa bayi baru lahir (Neonatal) dibagi menjadi 2 bagian, yaitu : a. Periode Partunate, dimana masa ini dimulai dari saat kelahiran sampai 15 dan 30 menit setelah kelahiran b. Periode Neonate, dimana masa ini dari pemotongan dan pengikatan tali pusar sampai sekitar akhir minggu kedua dari kehidupan pascamatur.

2.2 Adaptasi Fisiologis BBL Terhadap Kehidupan Diluar Uterus

Saat lahir, bayi baru lahir harus beradaptasi dari keadaan yang sangat tergantung menjadi mandiri. Banyak perubahan yang akan dialami oleh bayi yang semula berada dalam lingkungan interna ke lingkungan eksterna . Saat ini bayi tersebut harus dapat oksigen melalui sistem sirkulasi pernapasannya sendiri, mendapatkan nutrisi oral untuk mempertahankan kadar gula yang cukup, mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit.Periode adaptasi terdahadap kehidupan diluar rahim disebut periode transisi. Periode ini berlangsung hingga 1 bulan atau lebih setelah kelahiran untuk beberapa sistem tubuh.Transisi yang paling nyata dan cepat terjadi adalah pada sistem pernafasan dan sirkulasi,sistem termoregulasi dan dalam kemampuan mengambil serta menggunakan glukosa.Transisi dari kehidupan di dalam kandungan ke kehidupan luar kandungan merupakan perubahan drastis, dan menuntut perubahan fisiologis yang bermakna dan efektif oleh bayi, guna memastikan kemampuan bertahan hidup. Adaptasi bayi terhadap kehidupan diluar kandungan meliputi :

2.2.1 Adaptasi Fisiologi FetusSejak konsepsi perkembangan konseptus terjadi sangat cepat yaitu zigot mengalami pembelahan menjadi morula (terdiri atas 16 sel blastomer), kemudian menjadi blastokis (terdapat cairan di tengah) yang mencapai uterus, dan kemudian sel-sel mengelompok, berkembang menjadi embrio (sampai minggu ke-27). Setelah minggu ke-10 hasil konsepsi disebut janin. Dengan demikian adaptasi fetus sudah terjadi secara fisiologis.Bayi baru lahir normal adalah bayi yang baru lahir dengan kehamilan atau masa gestasinya dinyatakan cukup bulan (aterm) yaitu 36 40 minggu. Bayi baru lahir normal harus menjalani proses adaptasi dari kehidupan di dalam rahim (intrauterine) ke kehidupan di luar rahim (ekstrauterin).

2.2.2 Perubahan Pernafasan1. Perubahan Pernafasan IntrauterinGerakan nafas janin telah dapat dilihat sejak kehamilan 12 minggu dan pada 34 minggu secara reguler gerak nafas ialah 40-60/menit dan di antara jeda adalah periode apnea. Cairan ketuban akan masuk sampai bronkioli, sementara di dalam alveolus terdapat cairan alveoli. Gerakan nafas janin dirangsang oleh kondisi hiperkapnia dan peningkatan kadar glukosa. Sebaliknya, kondisi hipoksia akan menurunkan frekuensi nafas. Pada aterm normal, gerak nafas akan berkurang dan dapat apnea selama 2 jam. Alveoli terdiri atas dua lapis sel epitel yang mengandung sel tipe I dan II. Sel tipe II membuat sekresi fosfolipid suatu surfaktan yang penting untuk fungsi pengembangan nafas. Surfaktan yang utama ialah sfingomielin dan lesitin serta fosfatidil gliserol. Produksi sfingomielin dan fosfatidil gliserol akan memuncak pada 32 minggu, sekalipun sudah dihasilkan sejak 24 minggu. Pada kondisi tertentu, misalnya diabetes, produksi surfaktan ini kurang juga pada pretrem ternyata dapat dirangsang untuk meningkat dengan cara pemberian kortikosteroid pada ibunya. Steroid dan faktor pertumbuhan terbukti merangsang pematangan paru melalui suatu penekanan protein yang sama . Pemeriksaan kadar L/S rasio pada air ketuban merupakan cara untuk mengukur tingkat kematangan paru, di mana rasio L/S > 2 menandakan paru sudah matang.Tidak saja fosfolipid yang berperan pada proses pematangan selular. Ternyata gerakan nafas juga merangsang gen untuk aktif mematangkan sel alveoli. (Sarwono, Prawirohardjo., (2010,) Hal 161 ).Janin dalam kandungan sudah mengadakan gerakan-gerakan pernafasan, namun air ketuban tidak masuk ke dalam alveoli paru-parunya. Pusat pernapasan ini di pengaruhi oleh kadar O2 dan CO2 di dalam tubuh janin. Keadaan ini dipengaruhi oleh sirkulasi plasenter (pengaliran darah antara uterus dan plasenta). Apabila terdapat gangguan pada sirkulasi utero-plasenter sehingga saturasi oksigen lebih menurun, misalnya pada kontraksi uterus yang tidak sempurna, eklampsia dan sebagainya, maka dapatlah gangguan dalam keseimbangan asam dan basa pada janin tersebut, dengan akibat dapat melumpuhkan pusat pernafasan janin. Pada permukaan paru-paru yang telah matur ditemukan lipoprotein yang berfungsi untuk mengurangi tahanan pada permukaan alveoli dan memudahkan paru-paru berkembang pada penarikan nafas pertama pada janin.Ketika partus, uterus berkontraksi dalam keadaan ini darah didalam sirkulasi utero plasenter seolah-olah diperas ke dalam vena umbilicus dan sirkulasi janin sehingga jantung janin terutama serambi kanan berdilatasi. Akibatnya apabila diperhatikan bunyi jantung janin segera setelah kontraksi uterus hilang akan terdengar terlambat. Dalam keadaan ini fisiologi bukan patologi.

2. Perubahan Pernafasan EkstrauterinSelama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru paru.a. Perkembangan paru-paruParu-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx yang bercabang dan kemudian bercabang kembali membentuk struktur percabangan bronkus proses ini terus berlanjut sampai sekitar usia 8 tahun, sampai jumlah bronkus dan alveolus akan sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya gerakan napas sepanjang trimester II dan III. Paru-paru yang tidak matang akan mengurangi kelangsungan hidup BBL sebelum usia 24 minggu. Hal ini disebabkan karena keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan sistem kapiler paru-paru dan tidak tercukupinya jumlah surfaktan.b. Awal adanya napasFaktor-faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi adalah :1) Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang merangsang pusat pernafasan di otak.2) Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru -paru selama persalinan, yang merangsang masuknya udara ke dalam paru-paru secara mekanis. Interaksi antara system pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf pusat menimbulkan pernapasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan.3) Penimbunan karbondioksida (CO2). Setelah bayi lahir, kadar CO2 meningkat dalam darah dan akan merangsang pernafasan. Berkurangnya O2 akan mengurangi gerakan pernafasan janin, tetapi sebaliknya kenaikan CO2 akan menambah frekuensi dan tingkat gerakan pernapasan janin. 4) Perubahan suhu. Keadaan dingin akan merangsang pernapasan.c. Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernapasUpaya pernafasan pertama