Kasbes Mata Annindita

Click here to load reader

  • date post

    26-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    48
  • download

    13

Embed Size (px)

Transcript of Kasbes Mata Annindita

KATARAK SENILIS MATUR

LAPORAN KASUSSEORANG WANITA 44 TAHUN DENGANOS ULKUS KORNEA SENTRAL CUM HIPOPION ET CAUSA SUSPEK BAKTERIAL

Diajukan untuk melengkapi tugas kepaniteraan seniorIlmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Penguji kasus: dr. Maharani Cahyono, Sp.M.Pembimbing: dr. Leidina RachmadianDibacakan oleh: Annindita Kartika FebriDibacakan tanggal : 1 Juli 2013

BAGIAN ILMU PENYAKIT MATAFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013

HALAMAN PENGESAHANMelaporkan kasus seorang wanita 44 tahun dengan ulkus kornea sentral cum hipopion et causa suspek bakterialPenguji kasus: dr. Maharani Cahyono, Sp.MPembimbing: dr. Leidina RachmadianDibacakan oleh: Annindita Kartika FebriDibacakan tanggal : 1 Juli 2013Diajukan guna memenuhi tugas Kepaniteraan Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Semarang, 1 Juli 2013

Mengetahui

Penguji kasus

dr. Maharani Cahyono, Sp.MPembimbing

dr. Leidina Rachmadian

ULKUS KORNEA SENTRAL CUM HIPOPION ET CAUSA SUSPEK BAKTERIAL

LAPORAN KASUSPenguji kasus: dr. Maharani Cahyono, Sp.M.Pembimbing: dr. Leidina RachmadianDibacakan oleh: Annindita Kartika FebriDibacakan tanggal : 1 Juli 2013

I. PENDAHULUANUlkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, virus atau suatu proses alergi-imunologi. Infeksi kornea pada umumnya didahului oleh trauma, penggunaan lensa kontak, pemakaian kortikosteroid topikal yang tidak terkontrol.1 Ulkus kornea yang luas memerlukan penanganan yang tepat dan cepat untuk mencegah perluasan ulkus dan timbulnya komplikasi berupa descemetocele, perforasi, endoftalmitis, bahkan kebutaan.2 Ulkus kornea merupakan penyebab kebutaan ketiga terbanyak di Indonesia.1 Ulkus kornea yang sembuh akan menimbulkan kekeruhan kornea dan dapat mengakibatkan penurunan ketajaman penglihatan.2Karena pada kasus ulkus kornea mata terancam akan kehilangan fungsi penglihatan atau terjadi kebutaan bila tidak dilakukan tindakan ataupun pengobatan secepatnya, ulkus kornea termasuk kasus kegawatdaruratan pada penyakit mata. Penatalaksanaan yang tepat berupa menetapkan diagnosis penyebabnya secara dini dan mengobatinya secara memadai akan dapat mengurangi komplikasi yang dapat ditimbulkan.3

II. IDENTITAS PASIENNama : Ny. NUmur: 44 tahunAgama : IslamAlamat: Tunggak Kesnekar RT05/RW07 GroboganPekerjaan: PetaniNo. CM: C424307/7319602Tanggal Masuk RS: 17 Juni 2013

III. ANAMNESIS(auto dan alloanamnesis pada 27 Juni 2013)Keluhan Utama : terdapat bintik putih pada mata kiri.Riwayat Penyakit Sekarang 1 bulan sebelum masuk rumah sakit, mata kiri terkena gabah saat sedang bekerja di sawah. Pasien kemudian mengucek mata kirinya, gatal (+), merah (+), nrocos (+), silau (+), pandangan kabur (+), nyeri (+), cekot-cekot (+). Lalu pasien berobat ke mantri dan diberi obat tetes 1x1 namun pasien tidak tahu nama obatnya. 5 hari sebelum masuk rumah sakit, tampak putih-putih pada teleng mata, kotorn mata (+), silau (+), pandangan semakin kabur, nyeri (+), cekot-cekot (+), rasa mengganjal (+), pasien kemudian dibawa ke RSUD Purwodadi, dan mendapat obat tetes setiap jam dan obat minum 2 kali sehari. Karena tidak ada perbaikan kemudian pasien dirujuk ke RSDK.Riwayat Penyakit dahulu Riwayat trauma pada daerah mata (+) terkena gabah Riwayat menggunakan kacamata sebelumnya disangkal Riwayat penyakit mata sebelumnya disangkal Riwayat alergi disangkal Riwayat penyakit mata lainnya disangkal Riwayat hipertensi (+) Riwayat DM (+)

Riwayat Penyakit KeluargaTidak ada anggota keluarga yang sakit seperti iniRiwayat Sosial EkonomiPasien dan suami pasien bekerja sebagai petani. Pasien memiliki satu orang anak yang sudah mandiri. Biaya pengobatan ditanggung Jamkesda.Kesan : Sosial ekonomi kurang.

IV. PEMERIKSAAN FISIKStatus PraesenKeadaan umum: BaikKesadaran: Komposmentis GCS=15Tanda vital: TD : 130/80 mmHgsuhu : 36,50C nadi : 84 x/menitRR : 20 x/menitPemeriksaan fisik: Kepala : mesosefal Thoraks : cor : tidak ada kelainan paru : tidak ada kelainan Abdomen : tidak ada kelainan Ekstremitas : tidak ada kelainanStatus Oftalmologi

mixed conjungtivadefek epitel (+) ukuran 8,8 mm x 8,2 mm, letak sentral, batas tegasInfiltrat (+) ukuran 10 mm x 10 mm, letak sentral, kedalaman 1/3 stromal, batas tegashipopion t 2,5 cmLensa keruh tidak merataLensa keruh tidak merata

Oculus DexterOculus Sinister

6/30VISUS1/300

Tidak dilakukanKOREKSITidak Dilakukan

Tidak dilakukanSENSUS COLORISTidak dilakukan

Gerak bola mata ke segala arah baikPARASE/PARALYSEGerak bola mata ke segala arah baik

Tidak ada kelainanSUPERCILIATidak ada kelainan

Edema (-), spasme (-)PALPEBRA SUPERIOREdema (+) minimal, spasme (+)

Edema (-), spasme (-)PALPEBRA INFERIOREdema (-), spasme (-)

Hiperemis (-), sekret (-), edema (-)CONJUNGTIVA PALPEBRALISHiperemis (-), sekret (-), edema (-)

hiperemis (-), sekret (-), edema(-)CONJUNGTIVA FORNICESHiperemis (+), sekret (-), edema (-)

Injeksi (-), sekret (-), khemosis (-)CONJUNGTIVA BULBIMixed injection (+), sekret (+) mukopurulen, khemosis (+)

Tidak ada kelainanSCLERATidak ada kelainan

JernihCORNEAEdema (+), defek epitel (+) ukuran 8,8 mm x 8,2 mm, letak sentral, batas tegas, Infiltrat (+) ukuran 10 mm x 10 mm, letak sentral, kedalaman 1/3 stromal, batas tegas, jaringan nekrotik (+), neurovaskuler (-), tes fluorensensi (+), tes anel (+), sensibilitas kornea baik.

Kedalaman cukup, Tyndall Effect (-) CAMERA OCULI ANTERIORKedalaman cukup,Tyndall Effect (+), hipopion (+) 2,5 mm

Kripte (+), sinekia (-)IRISSulit dinilai

Bulat, sentral, regular, 3mm, Refleks cahaya (+)PUPILSulit dinilai

Keruh tak rataLENSASulit dinilai

(+) kurang cemerlangFUNDUS REFLEKSSulit dinilai

T (digital) normalTENSIO OCULIT (digital) N+1

Tidak dilakukanSISTEM CANALIS LACRIMALISTidak dilakukan

V. RESUMESeorang wanita 44 tahun datang ke poli mata RSUP Dr. Kariadi dengan keluhan visus menurun dan terdapat bintik putih pada kornea OS sejak 5 hari yang sebelum masuk rumah sakit, mata merah, nyeri, fotofobia, sekret (+), terasa mengganjal (+). Riwayat trauma pada mata kanan (+) terkena gabah.Status praesens dalam batas normal

Status oftalmologiOculus DexterOculus Sinister

6/30VISUS1/300

Edema (-), spasme (-)PALPEBRA SUPERIOREdema (+) minimal, spasme (+)

hiperemis (-), sekret (-), edema(-)CONJUNGTIVA FORNICESHiperemis (+), sekret (-), edema (-)

Injeksi (-), sekret (-), khemosis (-)CONJUNGTIVA BULBIMixed injection (+), sekret (+) khemosis (+)

JernihCORNEAEdema (+), defek epitel (+) ukuran 8,8 mm x 8,2 mm, letak sentral, batas tegas, Infiltrat (+) ukuran 10 mm x 10 mm, letak sentral, kedalaman 1/3 stromal, batas tegas, jaringan nekrotik (+), neurovaskuler (-), tes fluorensensi (+), tes anel (+), sensibilitas kornea baik.

Kedalaman cukup, Tyndall Effect (-) CAMERA OCULI ANTERIORKedalaman cukup,Tyndall Effect (+), hipopion (+) 2,5 mm

Kripte (+), sinekia (-)IRISSulit dinilai

Bulat, sentral, regular, 3mm, Refleks cahaya (+)PUPILSulit dinilai

Keruh tak rataLENSASulit dinilai

(+) kurang cemerlangFUNDUS REFLEKSSulit dinilai

T (digital) normalTENSIO OCULIT (digital) N+1

VI. DIAGNOSIS BANDINGOS Ulkus kornea sentral cum hipopion et causa suspek bakterialOS Ulkus kornea sentral cum hipopion et causa suspek fungal

VII. DIAGNOSIS KERJA OS Ulkus kornea sentral cum hipopion et causa suspek bakterial

VIII. TERAPIVigamox ED/Jam OSSulfas Atropine 1% ED 3 gtt 1 OSLevofloxacin 1 x 500 mgIbuprofen 2 x 400 mgGlaukon 2 x 250 mgAspar K 1 x 1

IX. PROGNOSISODOS

Quo ad visamAd bonamAd malam

Quo ad sanamAd bonam Dubia ad malam

Quo ad vitamAd bonam

Quo ad cosmeticamDubia ad malam

X. SARAN Scrapping kornea: pengecatan gram, KOH, kultur dan tes sensitivitas bakteri dan jamur USG B Scan Laboratorium darah rutin, studi koagulasi, gula darah sewaktu, elektrolit, ureum-creatinin, albumin.

XI. EDUKASI Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien bahwa pasien menderita tukak pada korneanya, kemungkinan karena trauma akibat terkena gabah pada mata kiri pasien. Tukak kornea yang diderita pasien kemungkinan disebabkan oleh infeksi bakteri. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien agar pasien menghindari hal-hal yang mengakibatkan kebocoran bola mata misalnya trauma pada mata. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien bahwa penglihatan pasien sesudah perawatan mungkin tidak kembali semula seperti dahulu. Namun, perawatan di RS bertujuan untuk meredakan infeksi sehingga tidak terjadi komplikasi lebih lanjut. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien agar pasien dirawat di rumah sakit untuk dilakukan perawatan untuk meredakan peradangan mata pasien dan mendapatkan kontrol ketat.

XII. DISKUSIANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEAKornea adalah jaringan transparan, yang ukurannya sebanding dengan kristal sebuah jam tangan kecil. Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus, lengkung melingkar pada persambungan ini disebut sulkus skelaris. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 di tepi, dan diameternya sekitar 11,5 mm dari anterior ke posterior, kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda-beda: lapisan epitel (yang bersambung dengan epitel konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma, membran Descement, dan lapisan endotel. Batas antara sclera dan kornea disebut limbus kornea. Kornea merupakan lensa cembung dengan kekuatan refraksi sebesar + 43 dioptri. Kalau kornea udem karena suatu sebab, maka kornea juga bertindak sebagai prisma yang dapat menguraikan sinar sehingga penderita akan melihat halo.1

Gambar 1. Anatomi Kornea