Dyspepsia Fungsional Disorder

Click here to load reader

  • date post

    15-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    39
  • download

    13

Embed Size (px)

description

ss

Transcript of Dyspepsia Fungsional Disorder

BAGIAN ANAKREFERATFAKULTAS KEDOKTERAN SEPTEMBER 2014UNIVERSITAS HALU OLEO

DYSPEPSIA

Oleh :Andi Mey Pratiwi, S.KedK1A1 10066

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PROVINSI BAHTERAMASFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEOKENDARI2014

BAB IPENDAHULUAN

Dispepsia fungsional merupakan suatu kelainan gastrointestinal dengan prevalensi cukup tinggi, ditandai dengan gejala yang berasal dari daerah perut bagian atas tanpa kelainan organik.Dispepsia fungsional mempunyai gejala kompleks, meliputi rasa nyeri atau tidak nyaman perut bagian atas, perut terasa penuh, cepat kenyang, perut kembung, sendawa dan mual. Dispepsia fungsional ditemukan sekitar 26% sampai 34% dari seluruh populasi. Dispepsia sering terjadi pada anak dengan keluhan nyeri perut yang kronik sebanyak 80% selama pemeriksaan. Penanganan secara farmakologi masih belum memuaskan, karena penyebab dispepsia fungsional tidak jelas. Beberapa penelitian uji klinis terapi farmakologi masih kontroversi, namun pengobatan secara empirik dengan anti sekretori atau prokinetik selama 2 sampai 4 minggu menjadi penanganan awal untuk dispepsia fungsional.

Pemberian famotidin sebagai reseptor antagonis H2 (AH2) memiliki efikasi dalam mengurangi asam lambung dengan cara menghambat sekresi asam yang dihasilkan oleh reseptor histamin.7 Sejauh ini penelitian kasus kontrol mengenai terapi dispepsia fungsional pada anak masih terbatas. Proton Pump Inhibitor (PPI), reseptor AH2 banyak diberikan pada pengobatan dispepsia.

BAB IITINJAUAN PUSTAKAA. DefenisiDispepsia adalah suatu kondisi klinis umum yang terkait dengan kompleks gejala perut bagian atas termasuk ketidaknyamanan atau nyeri, rasa kembung pada perut, cepat kenyang, distensi perut, bersendawa, dan mual. Prevalensi dispepsia pada populasi umum tidak diketahui, namun diperkirakan bahwa sebanyak 25% sampai 40% dari orang dewasa mengalami gejala dispepsia pada tahun tertentu. Pasien dengan pencernaan bagian atas kronis atau berulang (dispepsia) gejala biasanya menjalani berbagai tes investigasi dalam upaya untuk mengidentifikasi kelainan struktural atau biokimia yang dapat menjelaskan gejala mereka. Namun, tidak jarang penyelidikan lengkap gagal untuk mengungkapkan temuan organik yang signifikan dan pasien kemudian dianggap mengalami dispepsia fungsional7.Dispepsia berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys- (buruk) dan peptein (pencernaan). Berdasarkan konsensus International Panel of Clinical Investigators, dispepsia didefinisikan sebagai rasa nyeri atau tidak nyaman yang terutama dirasakan di daerah perut bagian atas, sedangkan menurut Kriteria Roma III terbaru, dispepsia fungsional didefinisikan sebagai sindrom yang mencakup satu atau lebih dari gejala-gejala berikut: perasaan perut penuh setelah makan, cepat kenyang, atau rasa terbakar di ulu hati, yang berlangsung sedikitnya dalam 3 bulan terakhir, dengan awal mula gejala sedikitnya timbul 6 bulan sebelum diagnosis4.B. EpidemologiDispepsia merupakan keluhan klinis yang sering dijumpai dalam praktik klinis sehari hari. Menurut studi berbasiskan populasi pada tahun 2007, ditemukan peningkatan prevalensi dispepsia fungsional dari 1,9% pada tahun 1988 menjadi 3,3% pada tahun 2003. Istilah dispepsia sendiri mulai gencar dikemukakan sejak akhir tahun 1980-an, yang menggambarkan keluhan atau kumpulan gejala (sindrom) yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, rasa penuh, sendawa, regurgitasi, dan rasa panas yang menjalar di dada. Sindrom atau keluhan ini dapat disebabkan atau didasari oleh berbagai penyakit, tentunya termasuk juga di dalamnya penyakit yang mengenai lambung, atau yang lebih dikenal sebagai penyakit maag11.Dispepsia fungsional, pada tahun 2010, dilaporkan memiliki tingkat prevalensi tinggi, yakni 5% dari seluruh kunjungan ke sarana layanan kesehatan primer. Bahkan, sebuah studi tahun 2011 di Denmark mengungkapkan bahwa 1 dari 5 pasien yang datang dengan dispepsia ternyata telah terinfeksi H. pylori yang terdeteksi setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan4.C. KlasifikasiDispepsia terbagi atas dua subklasifikasi, yakni dispepsia organik dan dispepsia fungsional, jika kemungkinan penyakit organik telah berhasil dieksklusi Dispepsia fungsional dibagi menjadi 2 kelompok, yakni postprandial distress syndrome dan epigastric pain syndrome. Postprandial distress syndrome mewakili kelompok dengan perasaan begah setelah makan dan perasaan cepat kenyang, sedangkan epigastric pain syndrome merupakan rasa nyeri yang lebih konstan dirasakan dan tidak begitu terkait dengan makan seperti halnya postprandial distress syndrome4.Dalam praktik klinis, sering dijumpai kesulitan untuk membedakan antara gastroesophageal reflux disease (GERD), irritable bowel syndrome (IBS), dan dispepsia itu sendiri. Hal ini sedikit banyak disebabkan oleh ketidakseragaman berbagai institusi dalam mendefinisikan masing-masing entitas klinis tersebut El-Serag dan Talley (2004) melaporkan bahwa sebagian besar pasien dengan uninvestigated dyspepsia, setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata memiliki diagnosis dispepsia fungsional. Talley secara khusus melaporkan sebuah sistem klasifi kasi dispepsia, yaitu Nepean Dyspepsia Index, yang hingga kini banyak divalidasi dan digunakan dalam penelitian di berbagai negara, termasuk baru-baru ini di China11.

D. Patofisiologi Dari sudut pandang patofisiologis, proses yang paling banyak dibicarakan dan potensial berhubungan dengan dispepsia fungsional adalah hipersekresi asam lambung, infeksi Helicobacter pylori, dismotilitas gastrointestinal, dan hipersensitivitas viseral.Ferri et al. (2012) menegaskan bahwa patofisiologi dispepsia hingga kini masih belum sepenuhnya jelas dan penelitian-penelitian masih terus dilakukan terhadap faktor-faktor yang dicurigai memiliki peranan bermakna4, seperti di bawah ini :1. Sekresi asam lambungKasus dispepsia fungsional umumnya mempunyai tingkat sekresi asam lambung, baik sekresi basal maupun dengan stimulasi pentagastrin, yang rata-rata normal. Diduga terdapat peningkatan sensitivitas mukosa lambung terhadap asam yang menimbulkan rasa tidak enak di perut2. Helicobakter pyloriPeran infeksi Helicobacter pyloripada dispepsia fungsional belum sepenuhnya dimengerti dan diterima. Kekerapan infeksi H. pyloripada dispepsia fungsional sekitar 50% dan tidak berbeda bermakna dengan angka kekerapan infeksi H. pyloripada kelompok orang sehat. Mulai ada kecenderungan untuk melakukan eradikasi H. pyloripada dispepsia fungsional dengan H. pylori positif yang gagal dengan pengobatan konservatif baku7.3. DismotilitasSelama beberapa waktu, dismotilitas telah menjadi fokus perhatian dan beragam abnormalitas motorik telah dilaporkan, di antaranya keterlambatan pengosongan lambung, akomodasi fundus terganggu, distensi antrum, kontraktilitas fundus postprandial, dan dismotilitas duodenal Beragam studi melaporkan bahwa pada dispepsia fungsional, terjadi perlambatan pengosongan lambung dan hipomotilitas antrum (hingga 50% kasus), tetapi harus dimengerti bahwa proses motilitas gastrointestinal merupakan proses yang sangat kompleks, sehingga gangguan pengosongan lambung saja tidak dapat mutlak menjadi penyebab tunggal adanya gangguan motilitas7.4. Ambang rangsang persepsiDinding usus mempunyai berbagai reseptor, termasuk reseptor kimiawi, reseptor mekanik, dan nociceptors. Berdasarkan studi, pasien dispepsia dicurigai mempunyai hipersensitivitas viseral terhadap distensi balon di gaster atau duodenum, meskipun mekanisme pastinya masih belum dipahami.Hipersensitivitas viseral juga disebut-sebut memainkan peranan penting pada semua gangguan fungsional dan dilaporkan terjadi pada 30-40% pasien dengan dispepsia fungsional.Mekanisme hipersensitivitas ini dibuktikan melalui uji klinis pada tahun 2012. Dalam penelitian tersebut, sejumlah asam dimasukkan ke dalam lambung pasien dispepsia fungsional dan orang sehat. Didapatkan hasil tingkat keparahan gejala dispeptik lebih tinggi pada individu dispepsia fungsional. Hal ini membuktikan peranan penting hipersensitivitas dalam patofisiologi dyspepsia 5. Disfungsi autonomDisfungsi persarafan vagal diduga berperan dalam hipersensitivitas gastrointestinal pada kasus dispepsia fungsional. Adanya neuropati vagal juga diduga berperan dalam kegagalan relaksasi bagian proksimal lambung sewaktu menerima makanan, sehingga menimbulkan gangguan akomodasi lambung dan rasa cepat kenyang1.6. Diet dan lingkunganIntoleransi makanan dilaporkan lebih sering terjadi pada kasus dispepsia fungsional dibanding kasus control.7. PsikologisAdanya stres akut dapat memengaruhi fungsi gastrointestinal dan mencetuskan keluhan pada orang sehat. Dilaporkan adanya penurunan kontraktilitas lambung yang mendahului keluhan mual setelah pemberian stimulus berupa stres. Kontroversi masih banyak ditemukan pada upaya menghubungkan faktor psikologis stres kehidupan, fungsi autonom, dan motilitas. Tidak didapatkan kepribadian yang karakteristik untuk kelompok dispepsia fungsional ini, walaupun dalam sebuah studi dipaparkan adanya kecenderungan masa kecil yang tidak bahagia, pelecehan seksual, atau gangguan jiwa pada kasus dispepsia fungsionalE. Gejala klinisKlasifikasi klinis praktis membagi dispepsia berdasarkan atas keluhan/ gejala yang dominan menjadi tiga tipe yakni :a. Dispepsia dengan keluhan seperti ulkus (ulcus-like dyspepsia) Nyeri epigastrium terlokalisasi 1) Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antasida 2) Nyeri saat lapar 3) Nyeri episodik b. Dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas (dysmotility-like dyspepsia) Mudah kenyang 1) Perut cepat terasa penuh saat makan 2) Mual 3) Muntah 4) Upper abdominal bloating (bengkak perut bagian atas) 5) Rasa tak nyaman bertambah saat makan

c. Dispepsia non spesifik (tidak ada gejala seperti kedua tipe di atas) Sindroma dispepsia dapat bersifat ringan, sedang,