5. astri simarmata kepedulian

download 5. astri simarmata kepedulian

of 18

  • date post

    02-Aug-2015
  • Category

    Education

  • view

    68
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of 5. astri simarmata kepedulian

1. Kepedulian Presentation by: stri Simarmata 141020300228 Pajak B 2. Setiap orang pasti mempunyai kepedulian baik itu kepedulian terhadap diri sendiri, teman, orang tua, kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, dsb. Tanpa sadar sebenarnya kita banyak melakukan kegiatan yang berhubungan dengan kepedulian. Contohnya ? 3. Peduli kepada diri sendiri Menjaga kesehatan jasmani dan rohani Mengatur pola makan Mencukupi waktu tidur/istirahat Mandiri Belajar dengan giat untuk mencapai cita- cita/tujuan 4. Peduli kepada teman Membantu sebisa mungkin ketika teman ada masalah Mendengar curhatannya dan memberi saran/solusi Menegurnya ketika dia berbuat salah 5. Peduli kepada orang tua Membantu pekerjaan orang tua Mematuhi orang tua Menghargai dan menghormati orang tua Berusahamelakukan yang terbaik dan memberi kebanggaan bagi orangtua Tidak menuntut berlebihan Jangan membuat orang tua emosi apalagi stress karena memikirkan tindakan dan perkataan anaknya 6. Care to our environment Saya pernah menjadi panitia sekaligus partisipan acara berikut ini : Penanaman seribu pohon Jalan santai sambil mengutip sampah sejauh 10 KM Mendaur ulang sampah Gotong royong di lingkungan sekolah dan membuat biopori. Green Map 7. Korban banjir Pernah terjadi banjir yang sangat parah di Desa Kuala Terusan, Pangkalan Kerinci. Kedalaman air mencapai 1 meter, sepeda motor, mobil, bahkan rumah terendam banjir mengakibatkan aktivitas transportasi darat lumpuh total. Banjir disebabkan oleh hujan deras yang turun selama beberapa hari, sementara sungai kualo sedang pasang, ditambah dengan area hutan di desa tersebut sudah gundul. Saya dan teman-teman lain yang tergabung dalam PMR Wira ikut menjadi relawan bersama PMI Kab. Pelalawan. Kami mendirikan tenda pengungsian di desa lain, mempersiapkan obat-obatan, dan mengungsikan korban banjir menggunakan perahu sambil menunggu bantuan datang, saya sendiri bertugas dibagian obat. Kebanyakan orang yang sakit dari kalangan anak-anak dan balita. Kami hanya berada ditenda selama 3 hari kemudian digantikan oleh relawan lain. 8. Bakti Sosial Saat itu kami mengadakan bakti sosial berupa kunjungan ke panti asuhan dan panti jompo. Awalnya hanya anggota dari organisasi yang ingin memberi donasi dan tanggal kunjungan sudah disepakati, kami juga sudah menghubungi pihak panti. Berdasarkan saran pembina, kami mengumumkan kepada setiap kelas untuk membawa apa yang dapat diberikan kepada pihak panti. Namun, kami tidak berharap banyak karena diumumkan sehari sebelum tanggal kunjungan. 9. Ternyata keesokan harinya saat mengumpulkan donasi, jumlah yang terkumpul sangat banyak dan bentuknya bermacam-macam. Kebanyakan membawa pakaian, tetapi ada juga yang membawa telur, beras, mentega, roti tawar + selai, sepatu, buku gambar A3 dan peralatan melukis, buku mewarnai, 2 lusin kaos kaki, pensil, pena, buku tulis masing-masing 2 pack, anehnya ada yang memberi 2 pcs rubik , ada juga yang hanya memberi amplop kepada pembina untuk diserahkan kepada pihak panti. Karena kebetulan saat itu kepsek sedang tidak ada urusan, akhirnya kepsek dan guru lain juga ikut memberi donasi sekaligus mengantarkannya ke panti. 10. Menolong Nenek Pemulung Sore hari setelah pulang kerja kelompok, saya dan teman-teman berjalan ke sebuah toko buku untuk membeli peralatan lain yang kami butuhkan. Di tengah perjalanan, seorang nenek muncul dengan membawa seorang anak yang terlihat seperti cucunya bersepeda sambil membawa karung berisi botol plastik bekas yang diikatkan di kedua sisi sepeda. Nenek itu berhenti di depan tempat sampah dan mengumpulkan barang bekas. Dia mengayuh sepeda lagi untuk meneruskan perjalanannya namun tidak tau kenapa tiba-tiba nenek tadi jatuh, cucunya juga. Barang-barang yang sudah dikumpulkan berserakan. Kami langsung berlari menolong nenek tersebut. Cucunya terluka di kakinya, sementara neneknya hanya luka gores. 11. Saya mencari kotak P3K di rumah warga sekitar dan mengobati luka anak tersebut. Setelah itu kami ingin mengantar mereka pulang, namun neneknya menolak. Kalau kami pulang sekarang, besok kami hanya memakan nasi putih tanpa lauk kata si nenek. Mendengar itu kami hanya bisa terdiam, seorang teman saya berdiri dan mengajak kami membantu nenek itu mengumpulkan botol atau kemasan gelas plastik agar karung itu penuh. Tetapi tidak ada satupun dari antara kami yang bergerak kecuali dia. Dia langsung mengumpulkan dengan cepat. Orang orang yang lewat juga heran, dia mengenakan kaos berkerah, jeans dan sepatu, terlalu rapi untuk ukuran seorang pemulung. Kami masih diam memperhatikannya. 12. Saya sendiri merasa malu jika disuruh mengambil botol plastik bekas dari tempat sampah. Tetapi ketika melihat nenek itu , saya langsung teringat kepada nenek saya. Tidak pantas rasanya malu untuk menolong seorang nenek yang memang membutuhkan bantuan. Akhirnya teman-teman yang lain mulai bergerak, nenek juga bangkit dan menahan sakit di kakinya demi mengumpulkan botol plastik itu. Kami pun berjalan ke dalam komplek, tetapi semua tempat sampah sudah kosong sampai ke persimpangan pos komplek. Ketika saya berbalik, seorang wanita memanggil saya. Dia tahu kami sedang mencari barang bekas, ia mengeluarkan 3 kantong plastik barang yang sudah dikumpulkannya sejak dua minggu yang lalu. Namun dia salah sangka, dia mengira kami adalah anak sekolah yang dua minggu lalu datang ke komplek tersebut mencari barang bekas untuk di daur ulang. Setelah menjelaskannya, kami pun pamit karena orang yang dituju sebenarnya bukan kami. Tetapi ibu itu malah menyerahkan 2 kantong untuk kami berikan kepada nenek tadi. Setelah itu, kami mengantar nenek dan cucunya ke rumahnya. 13. Rumahnya dari papan , kecil, hanya ada dua kamar dan ruang tamu yang sempit, tidak ada foto atau tempelan apapun, kami membawa karung berisi botol plastik itu ke dapur. Ada 1 karung di dapur yang isinya kemasan gelas plastik yang sudah disusun rapi dan bersih. Lalu kami bertanya mengapa harus dibersihkan , ternyata harganya berbeda jika dibersihkan dan jika tidak bersih. Sambil bercerita kami membantu nenek itu membasuhnya ke dalam air, menyusunnya menjadi rapi. Tidak berapa lama setelah kami menyelesaikannya seorang tengkulak datang untuk membelinya. Nenek mendapat 17 ribu untuk semuanya. Tentu sebenarnya tidak seimbang dengan usaha mendapatkannya. Tetapi ia tetap semangat, tidak sedikitpun kami mendengarnya mengeluh, bahkan ia masih mampu tersenyum ditengah beban berat yang dijalaninya setiap hari. Kemudian ia pergi keluar dan kembali dengan dua butir telur ditangannya. Saya sendiri mengira nenek itu akan menggoreng ikan atau teri, ternyata nenek itu khawatir besok dia tak seberuntung hari ini. Memang tidak ada yang istimewa ketika kami menolong nenek ini, tapi dari kejadian itu saya belajar untuk selalu mensyukuri apa yang saya miliki, untuk tidak mengeluh walaupun mempunyai beban yang berat, dan belajar untuk tetap memelihara semangat. 14. My Classmate Dikelas x8, saya punya teman sekelas bernama Andi. Dia anak yang pendiam, tetapi berbakat dibidang olahraga khususnya badminton dan lompat tinggi. Ayahnya bekerja serabutan, tidak punya penghasilan tetap, ibunya IRT terkadang mendapat penghasilan dari menjahit, sementara kakaknya sudah bekerja dan menjadi tulang punggung keluarganya. Dia tergolong anak yang kurang mampu dan mendapat bantuan dari sekolah berupa free SPP 1 semester. Dia tidak pernah membawa uang jajan ke sekolah, terkadang beberapa guru memangilnya untuk mentraktirnya makan di kantin atau di kantor. Diakhir semester dia juga sering dipanggil oleh guru lainnya dan kami selalu mengira itu panggilan untuk makan. 15. Di semester 2, kami mulai sering study tour mulai dari ke Perusahaan Indosawit, PT. RAPP, BMKG, Candi Muara Takus, Kerajaan Siak Sri Indrapura, dsb. Tentu setiap study tour membutuhkan biaya. Dia sering memilih tidak ikut, tetapi kami selalu menyuruhnya ikut sampai kami sokongan biar semuanya bisa ikut. Ada juga teman kami yang baik, yang mau membayarinya full. Dan yang paling mengejutkan ketika di akhir semester 2 sebelum ujian, dia bukan hanya dipanggil guru, tetapi juga distributor buku. Wali kelas kami mengatakan bahwa Andi belum membayar uang buku semester 1 dan 2, belum membayar uang komputer dan pungutan osis di semester 2 yang jumlahnya 1,7 Jt. Dia tidak berkomentar sedikitpun, hanya diam. Sebenarnya dia mendapat bantuan dari pihak lain, tetapi bantuan itu tidak tau dalam bentuk apa dan baru diperoleh setelah kenaikan kelas. 16. Karena kami juga tau orang tuanya bukanlah orang berada yang dapat dimintai uang setiap saat, kami memutuskan siapa yang ingin membantu dapat memberikannya ke bendahara kelas. Sebagian teman menceritakan keadaan Andi dan meminta sumbangan kepada orang tua mereka, kami bahkan melakukan pungutan liar ke kelas sebelah tanpa sepengetahuan pihak sekolah atau perantaraan osis. Setelah dikumpulkan uang itu ada 1,5 jt. Kami memberikannya kepada Andi, dia hanya menunduk merasa malu dan menitikkan airmata. Airmatanya terus mengalir, dia selalu minta maaf padahal kami tulus membantunya. Dia mengembalikan sumbangan itu 400 ribu karena dia memiliki uang 600 ribu. Uang itu dari orang tua dan kakaknya serta hasil pekerjaannya di bengkel motor. Kami jadi bingung kemana uang tersebut harus dikembalikan . Akhirnya , kami gunakan uang itu melunasi uang kas ekstrakulikuler yg diikutinya, dan uang kas kelas. Uang itu bersisa 280 ribu, kami berikan lagi kepada Andi untuk keperluan daftar ulang di tahun ajaran baru setelah kenaikan kelas.