Indikator Target Pembangunan Desa-Desa

Click here to load reader

  • date post

    02-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    511
  • download

    9

Embed Size (px)

Transcript of Indikator Target Pembangunan Desa-Desa

Tersedianya Indikator Pemantauan Target-target Pembangunan Milenium dalam Data Potensi Desa(M. Sairi Hasbullah, MA) I. Pendahuluan Salah satu agenda, dari delapan agenda the millenium summit, September 2000, yang diikuti oleh 189 negara, adalah memastikan keberlanjutan lingkungan hidup. Ada tiga target yang seyogyanya dicapai oleh setiap negara yang telah menandatangani kesepakatan dimaksud yaitu bagaimana memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional (target 9), penurunan sebesar separuh proporsi penduduk yang belum memiliki akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar yang layak pada tahun 2015 (target 10), dan mencapai perbaikan berarti kehidupan penduduk miskin yang tinggal di daerah kumuh pada tahun 2020 (target 11). Terkait dengan upaya pencapaian target-target dimaksud, pada saat ini setidaknya terdapat beberapa tantangan menyangkut lingkungan hidup di Indonesia yang perlu dicermati bersama. Tantangan tersebut antara lain yang berkaitan dengan penyelamatan air dari tindakan eksploitatif yang melewati batas-batas kewajaran dan pencemaran air, baik air tanah maupun air sungai, danau dan rawa bahkan air laut, yang terjadi di mana-mana. Berbagai kegiatan terkait dengan pencemaran air ini misalnya kegiatan industri, pertanian, transportasi, pertambangan, dan beragam kegiatan lainnya yang membuang limbahnya ke sungai, tanah maupun laut. Merosotnya areal hutan akibat eksploitasi besar-besaran untuk keperluan pembangunan maupun oleh peningkatan aktivitas manusia sebagai konsekuensi dari meningkatnya kepadatan penduduk di berbagai wilayah, juga merupakan tantangan lingkungan hidup yang cukup berat. Tantangan lingkungan hidup lainnya yang juga, saat ini, tidak ringan adalah menciutnya keanekaragaman hayati akibat rusaknya habitat lingkungan hidup berbagai tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Perubahan iklim juga merupakan tantangan dan permasalahan lingkungan hidup yang tidak kecil. Dewasa ini tingkat pencemaran udara semakin parah akibat dilepaskannya zat karbon oleh berbagai aktivitas khususnya yang berkaitan dengan transportasi dan kegiatan industri. Tantangan lingkungan hidup lainnya yang juga tidak kalah kompleksnya 183

adalah semakin tingginya kepadatan penduduk di kota-kota besar yang pada akhirnya akan berdampak pada kualitas lingkungan hunian seperti semakin meluasnya daerah pemukiman kumuh dan wilayah-wilayah miskin perkotaan lainnya. Beragam permasalahan dan tantangan yang disebutkan perlu terus dicermati. Sayangnya data yang diperlukan baik untuk perencanaan, pemantauan maupun untuk mengukur hasil-hasil pembangunan di bidang lingkungan hidup dapat dikatakan belum sepenuhnya terpenuhi. Idealnya, data statistik yang cukup untuk memantau setiap permasalahan yang disebutkan telah tersedia dan benar-benar dimanfaatkan. Sebetulnya cukup banyak ragam data yang diperlukan sebagai indikator lingkungan hidup untuk mengukur perkembangan kinerja pembangunan lingkungan. Salah satu sumber data yang cukup kaya untuk keperluan pemantauan tetapi selama ini belum begitu banyak dimanfaatkan, adalah yang berasal dari kegiatan pendataan potensi desa (Podes) yang dilakukan tiga kali setiap 10 tahun oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Apa dan bagaimana ragam data terkait lingkungan hidup yang ada pada Podes akan menjadi inti paparan selanjutnya dari Bab ini. II. Hasil Pendataan Podes sebagai Salah Satu Sumber Data 2.1 Metodologi dan Tujuan Pendataan Podes Podes adalah singkatan dari potensi desa. Pengertian potensi yang selama ini digunakan adalah kemampuan, daya, kekuatan yang memiliki kemungkinan untuk dikembangkan, sedangkan pengertian desa adalah wilayah otonom di bawah kabupaten. Menurut asal-usul pembentukannya, desa dibedakan atas dua jenis, dan keduanya dicakup dalam kegiatan pendataan Podes yang dilakukan oleh BPS. Pertama, desa yang bersifat realita (das sein) di mana satu desa adalah wilayah geografis tunggal. Contohnya, adalah desa-desa yang ada di Jawa. Kedua, desa yang bersifat ideal (das sollen) yang merujuk ke pengertian bahwa satu wilayah desa terdiri dari beberapa desa yang dibentuk berdasarakan asal-usul atau kesepakatan bersama. Sebagai contoh yaitu Nagari di Sumatera Barat dan Marga di Sumatera Bagian Selatan. Pendataan Podes, secara metodologis adalah kegiatan sensus dengan pendekatan wilayah yaitu desa/kelurahan atau dengan nama lain, yang 184

menyangkut potensi, situasi sosial-ekonomi wilayah, ketersediaan modal ekonomi, sosial dan kultural serta ketersediaan sarana dan prasarana. Cakupan wilayah pendataan Podes meliputi seluruh wilayah administratif desa/kelurahan. Data podes dikumpulkan dengan cara pengisian daftar pertanyaan hasil wawancara langsung antara petugas pendata dengan kepala desa dan atau perangkat desa. Kekuatan data Podes terletak pada penggunaan standar prosedur statistik dalam proses pengumpulan data. Artinya baik metodologi (seperti pendekatan pengumpulan data dan penggunaan konsep dan definisi) maupun prosedur lapangan (seperti adanya penjenjangan petugas lapangan yaitu pencacah dan pengawas) menggunakan caracara yang memang selalu digunakan dalam setiap proses pengumpulan data. Contoh penggunaan konsep dan definisi pada Podes ini dapat dilihat pada Lampiran 3. Petugas pendata Podes juga tidak hanya mencatat data yang tersedia pada papan monografi desa atau dari catatan di buku administrasi desa, melainkan petugas diharuskan melakukan wawancara langsung dengan perangkat desa untuk mendapatkan informasi yang paling mendekati kebenaran. Petugas pendata Podes sebelum melaksanakan tugasnya juga terlebih dahulu mengikuti pelatihan petugas secara intensif. Hal ini dimaksudkan agar para petugas memahami dengan baik konsep dan definisi yang digunakan dan untuk menjamin adanya kesamaan pemahaman antar-petugas di seluruh Indonesia. Walaupun demikian, data Podes juga masih mengandung beberapa keterbatasan. Dengan perangkat desa yang menjadi responden, belum semua jenis data yang diinginkan ada dan diketahui oleh para perangkat desa, sehingga menyulitkan petugas BPS untuk mendapatkan informasi yang paling mendekati kebenaran. Pada kegiatan pendataan Podes, ada dua jenis data yang dikumpulkan yaitu data hasil perhitungan dan data mengenai keberadaan. Untuk yang disebut pertama, cenderung memiliki keterbatasan. Hampir di semua desa aparatnya tidak memiliki informasi yang cukup misalnya, mengenai berapa jumlah orang yang menjadi buruh tani di desanya, berapa orang yang menempati kawasan kumuh dan informasi sejenis lainnya. Informasi yang dapat diperoleh oleh petugas pendata lebih mengarah ke perkiraan kasar.

185

Di lain pihak, untuk jenis data yang sifatnya keberadaan sesuatu, datanya cenderung akurat. Misalnya apakah di desa ini ada Puskesmas, ada sekolah, ada dokter, ada kejadian bencana alam dan sejenisnya. Di tengah kelebihan dan keterbatasannya, satu hal yang pasti, sampai saat ini, bahwa data Podes adalah satu-satunya data kewilayahan yang mencakup seluruh desa/kelurahan di seluruh Indonesia. Pendataan Podes mempunyai tujuan untuk dapat menyajikan informasi global/agregat dari kegiatan statistik pada wilayah kecil, dan merupakan informasi awal bagi penelitian lebih lanjut. Secara lebih rinci tujuan pendataan Podes antara lain: 1. Menginformasikan tentang potensi/fasilitas/keadaan pembangunan di desa/kelurahan yang meliputi keadaan sosial-ekonomi, sarana dan prasarana/infrastruktur yang ada di wilayah administrasi terbawah; 2. Menyediakan data untuk dasar perencanaan regional (spasial) dan informasi pencapaian pembangunan di desa/kelurahan; 3. Menyediakan data pokok bagi penyusunan statistik wilayah kecil (small area statistics), dan 4. Sebagai informasi awal bagi keperluan penyusunan ringkasan statistik seperti penyusunan monografi desa, dasar penyusunan beberapa indeks komposit, penyusunan peta geografis (geographic information system), dan sebagainya. 2.2. Sekilas Sejarah Podes Untuk sekadar menambah wawasan pengetahuan tentang pendataan Podes akan sedikit dipaparkan tentang sejarah pendataan yang dilakukan. Cikal bakal dilakukannya pendataan Podes adalah pendataan fasilitas desa (Fasdes) yang diselenggarakan pada tahun 1976. Cakupan dari Fasdes sama dengan Podes yaitu seluruh desa/kelurahan di Indonesia namun variabel yang dikumpulkan datanya masih sangat terbatas. Bersamaan dengan diselenggarakannya Sensus Penduduk 1980, untuk pertama kalinya dilakukan pengumpulan data Podes dengan variabel yang lebih variatif dan relevan bagi berbagai keperluan pembangunan. Sejak itu pelaksanaan pendataan Podes selalu dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan berbagai kegiatan sensus seperti Sensus Pertanian, Sensus Ekonomi dan Sensus Penduduk. Karena selama kurun waktu 10 tahun dilakukan sebanyak 3 kali sensus, maka kegiatan 186

pendataan Podes dalam 10 tahun juga dilaksanakan sebanyak tiga kali. Pendataan Podes terbaru adalah Podes SE 2006 yang dilakukan pada tahun 2005 (menjelang Sensus Ekonomi 2006 dan selanjutnya disebut Podes 2005), dan merupakan pelaksanaan pendataan Podes yang kesembilan kali. Sejak awal dilakukannya pengumpulan data Podes hingga yang kesembilan kalinya, telah banyak terjadi perubahan pada variabel yang dicakup. Perubahan disesuaikan dengan jenis sensus yang menjadi induk kegiatannya. Sekadar contoh, pada saat pendataan Podes ST 2003 (sensus Pertanian 2003) yang dilaksanakan menjelang Sensus Pertanian, ada beberapa tambahan pertanyaan yang berkaitan dengan aktivitas sektor pertanian. Begitu juga dengan pendataan Podes yang lain, pertanyaannya disesuaikan dengan kegiatan sensus yang akan dilakukan. Secara metodologi tidak banyak terjadi perubahan karena cakupan pendataan Podes adalah seluruh desa/kelurahan yang ada di Indonesia. Pada Podes 2005 dicakup hampir 70.000 desa/kelurahan. Pendataan ini cenderung lebih baik dibandingkan kegiatan pendataan Podes sebelumnya karena BPS melakukan pengawasan lapangan yang lebih intensif. Validasi dari data entry dan peme