dhf wonoasih

Click here to load reader

  • date post

    17-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    29
  • download

    0

Embed Size (px)

description

miniproject

Transcript of dhf wonoasih

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia, terutama negara-negara tropis dan subtropis termasuk Indonesia. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit menular yang mempengaruhi angka kematian anak dan dewasa serta dapat menurunkan produktivitas tenaga kerja. Daerah fokus demam berdarah semakin meluas baik di daerah perkotaan maupun pedesaan (Sudoyo, 2010).Penyakit demam berdarah Dengue atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus betina. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat yang ketinggiannya lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut (Isminah, 2004).

Insidensi demam berdarah Dengue meningkat secara dramatis di seluruh dunia dalam beberapa dekade ini. Diperkirakan, saat ini di seluruh dunia sekitar 2,5 milyar orang memiliki risiko terkena demam dengue. Diperkirakan saat ini sekitar 50 juta kasus demam dengue ditemukan setiap tahun, dengan 500.000 kasus memerlukan penanganan di rumah sakit. Dari kasus di atas, sekitar 25.000 jumlah kematian terjadi setiap tahunnya (WHO, 2010).

Penyakit demam berdarah Dengue menjadi momok tiap tahun. Insiden di Indonesia antara 6 hingga 15 per 100.000 penduduk (1989-1995) dan pernah meningkat tajam saat Kejadian Luar Biasa hingga 35 per 100.000 penduduk pada tahun 1998 (Sudoyo, 2010), hingga medio 2005 masih ada daerah berstatus Kejadian Luar Biasa, sampai Mei tahun 2005 di seluruh Indonesia tercatat 28.224 kasus dengan jumlah kematian 348 orang, hingga awal Oktober 2005 kasus demam berdarah Dengue di 33 propinsi tercatat 50.196 kasus dengan 701 diantaranya meninggal. Dari data di atas menunjukkan peningkatan hampir 2 kali lipat dari Mei hingga awal Oktober 2005 (Sisilia, 2005). Berdasarkan data dari Dinkes Jawa Timur hingga 20 Oktober 2005 sebanyak 8.619 kasus, dari jumlah tersebut meninggal 131 orang dan pada tahun 2006 ada 20.420 penderita dan menyebabkan kematian 233 jiwa. Pada tahun 2007 sampai Juli yakni 102.175 penderita dengan kematian 1.098 jiwa (Dinkom, 2007). Tahun 2010 Indonesia menempati urutan tertinggi kasus DBD di Asean dengan jumlah kasus 156.086 dan kematian 1.358 orang. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, melaporkan kasus DBD tahun 2011 di Indonesia menurun dengan jumlah kasus 49.486 dan jumlah kematian 403 orang (Lisdawati, 2012). Pada tahun 2010 angka kematian DBD di Indonesia mencapai 0,87 persen, pada tahun 2011 meningkat menjadi 0,91 persen dan sempat menurun pada tahun 2012 menjadi 0,90 persen dengan total kasus DBD di Indonesia tahun 2012 sebanyak 90245 penderita (Republika, 2013). Penyebaran kasus DBD di Jawa Timur terdapat di 38 kabupaten/kota. Kabupaten probolinggo merupakan salah satu daerah di Jawa Timur dengan kasus DBD yang cukup tinggi dan probolinggo merupakan sebelas daerah yang berstatus Kejadian Luar Biasa DBD di mana kabupaten probolinggo sendiri berada di posisi 8. Pada tahun 2012 ditemukan 5140 kasus DBD di propinsi Jawa Timur. Di Kabupaten Probolinggo sudah terhitung sebanyak 141 orang terkena penyakit demam berdarah. Umumnya yang terserang kebanyakan anak-anak dan balita, yang berusia mulai dari umur 1 hingga 14 tahun. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, dr. Shodiq Tjahyono melalui Wiwik Yuliati, Kasi pengendalian penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten setempat mengatakan, tahun ini memang terjadi peningkatan yang cukup signifikan untuk jumlah penderita demam berdarah. Sementara di 5 kecamatan di Kabupaten Probolinggo yang termasuk endemis DBD, di antaranya Kecamatan Paiton jumlah penderitanya mencapai 60 orang, selain itu Kecamatan Besuk, Kecamatan Banyuanyar, Kecamatan Dringu, dan Kecamatan Leces. (Dinkes Probolinggo). Sampai saat ini belum ditemukan obat untuk membasmi virus atau vaksinasi untuk pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue. Pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD dapat dilakukan melalui pemutusan rantai penularan manusia-nyamuk-manusia, yaitu dengan membasmi nyamuknya, dengan kegiatan "3M" yang dikenal dengan istilah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) ini dilakukan secara teratur oleh keluarga di rumah dan lingkungannya masing-masing maka penyakit ini akan dapat diberantas.Selain itu dapat dilakukan dengan bahan kimia, mekais maupun biologis. Pemberantasan nyamuk dengan bahan kimia misalanya dengan mnggunakan malathion untuk membunuh nyamuk dewasa dan abate untuk membunuh jentiknya. Cara mekanis dengan pembersihan sarang nyamuk, menguras sarang tempat penampungan air untuk jentik dan telur. Cara biologisnya adalah dengan binatang/ikan, jamur, bakteri yang dapat memakan jentik nyamuk.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu:

a. Peningkatan jumlah penderita DBD di wilayah kerja puskesmas Wonoasih kecamatan Wonoasih.b. Kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya Pembrantasan Sarang Nyamuk (PSN) untuk mencegah dan mengatasi penyakit Demam Berdarah Dangue.

1.3 Tujuan a. Menurunkan angka kejadian DBD dengan meningkatkan kegiatan pembrantasan sarang nyamuk (PSN).b. Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penyebab, penyebaran, gejalaa, pencegahan, dan pengobatan DBD.

c. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan Pembantasan Sarang Nyamuk terutama 3M ( menguras, menguur,menutup).1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan laporan ini adalah:

a. Sebagai bahan masukan dalam upaya pemberantasan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). b. Membantu puskesmas dalam upaya menurunkan jumlah kasus Demam Berdarah Dangue .

c. Membantu melaksanakan program promosi kesehatan puskesmas mengenai Pembrantasan Sarang Nyamuk (PSN).

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA2.1 Penyakit Demam Berdarah (BDB)

Dengue Hemorragic Fever di Indonesia dikenal dengan sebutan Demam Berdarah Dengue. DHF (Dengue Hemorragic Fever) merupakan penyakit yang dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang memburuk setelah dua hari pertama. Uji tourniquet akan tetap positif dengan/tanpa ruam yang disertai dengan perdarahan seperti peteki spontan yang timbul serentak, purpura, ekimosis, epistaksis, hematemesis, melena, trombositopenia, masa perdarahan dan masa protombin memanjang, hematokrit meningkat, dan gangguan maturasi megakariosit.2.1.1 DefinisiPenyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini dapat terjadi pada semua kelompok umur terutama pada anak-anak. (Sudoyo, 2010)2.1.2 Etiologi

DHF disebabkan oleh satu dari empat serotipe virus yang memiliki antigen berbeda. Serotipe keempatnya yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Virus Dengue adalah virus yang menyebabkan DHF. Infeksi oleh salah satu dari keempat serotipe tersebut dapat menimbulkan kekebalan pada jenis serotipe itu saja. Jadi, seseorang hanya dapat terserang sebanyak empat kali dalam hidupnya.

Virus Dengue termasuk dalam golongan arbovirus famili togaviridae. Virus Dengue disebarkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti, Aedes Albopictus, dan Aedes Polynesiensis. Tempat yang menjadi sarang nyamuk tersebut adalah genangan air yang terdapat dalam wadah (container) penampungan air seperti lubang pohon, daun pisang, pelepah daun keladi, lubang batu, drum, bak mandi, gentong, ember dan sebagainya.

2.1.3 Agen Infeksius dan Vektor Penularan Penyakita. Agen Infeksius

Agent Infeksius DBD adalah virus Dengue yang merupakan bagian dari famili flaviviridae. Keempat serotipe virus Dengue (DEN-1, DEN-2,DEN-3, DEN-4) dapat dibedakan dengan metode serologi. Infeksi pada manusia oleh salah satu serotipe menghasilkan imunitas sepanjang hidup terhadap infeksi ulang oleh serotipe yang sama, tetapi hanya menjadi perlindungan sementara terhadap serotipe yang lain.3 Seseorang akan kebal seumur hidup terhadap serotip yang menyerang pertama kali, namun hanya akan kebal dalam waktu 6 bulan - 5 tahun terhadap serotipe virus Dengue lain. Virus Dengue tipe 3 merupakan serotipe yang terbanyak berhasil diisolasi, disusul berturut-turut virus dengue tipe 1, virus dengue tipe 2 dan virus dengue tipe 4. Virus dengue tipe 2 dan tipe 3 secara bergantian merupakan serotipe yang dominan, namun virus dengue tipe 3 sangat berkaitan dengan kasus DBD berat (DBD derajat IV, DBD disertai ensefalopati, DBD disertai hematemesis dan melena, dan DBD yang meninggal) (Sudoyo, 2010).b. Vektor penularan

Aedes aegypti maupun Aedes albopictus merupakan vektor penularan virus Dengue dari penderita kepada orang lain melalui gigitan. Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor penting di daerah perkotaan (daerah urban) sedangkan di pedesaan (daerah rural) kedua jenis spesies nyamuk Aedes tersebut berperan dalam penularan. Namun Aedes aegypti berkembang biak di tempat lembab dan genangan air bersih. Sedangkan Aedes albopictus berkembang biak di lubang-lubang pohon, dalam potongan bambu dan genangan air lainnya (Depkes, 2005). Tabel 1. Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti Aktif Pagi jam 07.00 12.00 WIBSore jam 15.00 17.00 WIBHinggap pada benda benda yang menggantung.

LarvaBerkembang biak pada air jernih yang dasarnya bukan tanah.

TelurDiletakkan pada dinding kontainer tepat diatas permukaan air.Jumlah telur selama hidupnya berjumlah 600 800 butir.Lama hidupnya 3-4 Minggu.

PupaDibawah permukaan air.

TerbangKemampuan terbang 50 200 m

Siklus hidupTelur larva pupa dewasa1-2 hr 4-5 hr 1-2 hr.

Sumber : Depkes RI, 2005Pertumbuhan dan perkembangan telur sampai nyamuk dewasa memerlukan waktu kurang lebih 7-14 hari.

Gambar 1. Nyamuk Aedes Aegypti (LIPI, 2006)

2.1.4. Penularan

Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditular