Suara Angkasa

of 85

  • date post

    06-Jul-2018
  • Category

    Documents

  • view

    365
  • download

    17

Embed Size (px)

Transcript of Suara Angkasa

  • 8/17/2019 Suara Angkasa

    1/85

    1

    Edisi Oktober 2010

  • 8/17/2019 Suara Angkasa

    2/85

    3

    Majalah SUARA ANGKASA

    Masalah-masalah internasional, lingkungan strategis, wilayah perbatasan dan masalah maritim yang terus berkembang menuntut TNI untuk terus mengembangkan kemampuan darat, laut, dan udara yang

    proporsional agar mampu menghasi lkan efek tangkal yang kuat . Tantangan, ancaman, dan gangguan TNI pada awal dekade kelahirannya, memang tidak sama dengan ketika berumur enampuluh lima tahun seperti sekarang ini. TNI yang profesional tidak cukup hanya digaji yang memadai, tetapi harus juga dipersenjatai dengan Alutsista yang canggih dan alat kerja lainnya yang memadai pula.

    Sebagai penegak kedaulatan Negara di Udara, TNI Angkatan Udara secara bertahap dan pasti terus berusaha memperkuat pertahanan udara Indonesia sebagai tanggung jawabnya kepada bangsa dan negara.

    Kedatangan tiga pesawat tempur Sukhoi pada bulan September lalu, sebagai wujud nyata hal itu. Dengan bertambahnya tiga pesawat tempur Sukhoi ini melengkapi kekuatan pesawat tempur Sukhoi yang bermarkas di Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin menjadi sepuluh unit.

    Namun, menurut Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat, jumlah ini masih belum bisa dikatakan memadai untuk memberikan daya tangkal pertahanan udara wilayah Indonesia yang demikian luas. Apalagi jika dibandingkan dengan Negara Malaysia dan Singapura yang mempunyai luas wilayah lebih kecil dari Indonesia. Malaysia memiliki 18 pesawat Sukhoi, dan Singapura memiliki 24 pesawat F-15. Untuk itu, Angkatan Udara sudah mengajukan penambahan enam Sukhoi lagi dan konon telah mendapat

    persetujuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pascareformasi TNI terus berbenah diri menuju perannya sebagai

    alat Negara yang menjalankan keputusan politik negara. TNI yang profesional adalah muaranya. Namun demikian, mewujudkan TNI profesional tidak bisa dilakukan hanya oleh TNI sendiri. Negara dan seluruh komponen bangsa berperan untuk itu. Dirgahayu TNI!

    Penanggung Jawab Marsma TNI Bambang Samoedro, S.Sos

    Wakil Kolonel Sus Drs. Mulyono

    Dewan Redaksi Kol Sus Basuki Mindarwono

    Kol Adm Prabowo, S.AP Letkol Sus Drs. Bintang Yudianta

    Letkol Sus Drs. Dwi Budi Haryanto Letkol Sus Lisa M. Tarigan, MSi

    Pemimpin Redaksi Kol Sus Titiek Purbaningsih

    Wakil Pemred Mayor Sus Heri Susanto, SS

    Redaktur Pelaksana PNS III/D Dra. Sri Hatmini

    Staf Redaksi Mayor Adm Sumadji

    Kapten Sus A. Muhsin Serma Roslina Tambunan

    Serda Rineu Octaviani PNS III/A Yulia Himawati, A. Md

    Desain Grafis Mayor Sus Arsyad Kapitan, A. Md

    Fotografer Serka Wahyu Hadi Pamungkas

    Serka Sahrul Kristiawan Serda W. Nugroho

    Dist ribusi Letkol Sus Drs. Taibur Rahman

    Kapten Adm Sri Suminingtri

    Alamat Redaksi Dinas Penerangan TNI AU Cilangkap, Jakarta 13870

    Telp. (021) 8709156 (021) 8709259

    Fax. (021) 8714181 E-mail : suara.angkasa@gmail.com

    Redaksi menerima kiriman naskah, foto, gambar, dan karikatur dari

    pembaca sesuai misi majalah ini; naskah diketik 2 (dua) spasi, maksimum 6 halaman quarto

  • 8/17/2019 Suara Angkasa

    3/85

    4

    Iptek Tiga Lagi Pesawat Tempur Sukhoi Perkuat Angkatan Udara

    Hukum Dasar Hukum Pengambilalihan Aktivitas Bisnis TNI

    Sejarah Mengenang Marsdya TNI (Purn) HM. Soedjono Pelopor Terjun Payung

    Buku DAUM Sarana Perekat Bangsa

    Kesehatan Hati-hati ……Bahaya Mengancam di Sekitar Kita

    Lambangjaau Pengelolaan Risiko Kelelahan (Fatique Risk Management) Pada Pemeliharaan Pesawat Udara

    Cerpen Aku Kan Setia Menunggu

    Bintal Memenuhi Panggilan Illahi

    Antariksa Waspadai Bahaya Sampah Antariksa Tahun 2012

    Berita Sertijab Sertijab Kadislog Lanud Abd Saleh

    Berita Daerah Alih Tugas Pejabat TNI AU

    Ordirga Kejuaraan Nasional Gantolle

    Tamu Kasau Kasau Terima Athan Perancis

    Kulit Muka: Menhan RI Purnomo Yusgiantoro Mencoba Pesawat Sukhoi

    62 Berita Daerah Alih Kodal Pesawat F-27 A-2701

    22 Opsdiklat Latma “Teak Iron” Mempererat Tali Persaudaraan TNI Angkatan Udara & USAF

    Refleksi 65 Tahun & Profesionalisme TNI

    5 Laporan Utama

    18

    30

    32

    35

    36

    38

    41

    44

    46

    51

    55

    80

    82

    Memperkokoh Hubungan Kerja SamaTNI AU-USAFLaporan Khusus12

  • 8/17/2019 Suara Angkasa

    4/85

    55

  • 8/17/2019 Suara Angkasa

    5/85

    6

    Indonesia adalah sebuah negara besar dan luas yang terdiri dariribuan pulau baik kecil maupun besar yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dan dipersatukan oleh lautan. Sekitar 500 etnis menghuni bentangan pulau-pulau ini dengan beragam ras, budaya,

    bahasa, dan agama. Letak wilayah Indonesia tepat pada persimpangan dua benua besar yaitu Asia dan Australia serta dua samudera, Hindia

    dan Pasifik. Hal inilah yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang sangat strategis, kaya akan sumber daya alam dan berpotensi menghasilkan sumber daya manusia yang mumpuni. Nilai kekayaan dan keberagaman Indonesia semakin

    bermakna dengan adanya satu bahasa pemersatu, bahasa Indonesia. Berbagai suku yang ada di Indonesia dari Sabang sampai Merauke bisa

    berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa Indonesia.

    Negara Kesatuan Republik Indone-

    sia; di balik keberagaman itu tersimpan tantangan sekaligus ancaman yang setiap saat bisa mengemuka. Persatuan dan kesatuan

    bangsa harus tetap dijaga supaya pembangunan dapat berlangsung dengan aman dan damai dalam

    bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal tersebut menjadi tugas dan tanggung jawab Tentara

    Nasional Indonesia (TNI) sebagai komponen utama sistem pertahanan negara yang menjaga, memelihara dan mengamankan wilayah NKRI dari berbagai ancaman dan gangguan dari dalam maupun dari luar. Sebagai

    6

  • 8/17/2019 Suara Angkasa

    6/85

    7

    Suara Angkasa Edisi Oktober 2010

    7

  • 8/17/2019 Suara Angkasa

    7/85

    8

    ribuan jiwa-harta benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia siapa pun.”

    Sebagai Tentara Nasional, TNI adalah milik nasional yang berjuang untuk kepentingan seluruh bangsa dan tanah air Indonesia, bukan daerah, suku, ras, dan golongan agama. Pada bulan Oktober 1949, ketika akan meninggalkan Yogyakarta menuju Magelang untuk beristirahat

    karena sakit, Jenderal Soedirman berpesan: “Pelihara TNI, pelihara Angkatan Perang kita, jangan sampai TNI dikuasai oleh partai politik manapun juga.” Hal ini ditekankan kembali pada para pemimpin tentara dalam konferensi TKR di Yogyakarta,

    November 1945, “Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapapun juga.” Tentara yang

    komponen utama pertahanan negara, TNI memiliki peran yang sangat

    penting dalam sistem pemerintahan negara untuk mengamankan kepentingan nasional guna mencapai tujuan nasional. Oleh karena itu

    peningkatan kemampuan TNI harus menjadi perhatian bersama seluruh komponen bangsa, terutama dalam membangun, mempersiapkan, serta mengoperasikan Alutsista dan sumber

    daya manusia yang dihadapkan dengan luasnya wilayah, spektrum ancaman serta kemampuan anggaran negara.

    Jati Diri TNI Kalau kita tengok ke belakang

    pada awal terbentuknya TNI, tidak bisa dipisahkan dari rakyat. TNI lahir di medan perjuangan kemerdekaan

    nasional sebagai pejuang. Pejuang yang tidak kenal menyerah, men- dahulukan tugas dan kewajiban daripada hak, ikhlas berkorban,

    berbakti dan berjuang sesuai fungsi dan profesinya, tahan dalam

    penderitaan, serta mengutamakan kepentingan negara dan bangsa.

    Nilai-nilai itu tetap ada hingga kapanpun sebagai jati diri tentara

    pejuang. Panglima Besar Jenderal

    Sudirman pada satu kesempatan perjuangannya berpesan, “anak- anakku, Tentara Indonesia, kamu

    bukanlah serdadu sewaan, tetapi tentara yang berideologi, yang sanggup berjuang dan menempuh maut untuk keluhuran tanah airmu. Percaya dan yakinlah, bahwa kemerdekaan satu negara yang didirikan di atas timbunan reruntuhan

    8

  • 8/17/2019 Suara Angkasa

    8/85

    9

    1.

    2.

    3.

    4.

    5.

    6.

    7.

    TNI telah meninggalkan politik praktis dan berkonsen- trasi kepada tugas pokok.

    Penugasan prajurit TNI di

    luar institusi didahului dengan pensiun atau alih status.

    Likuidasi Sospol ABRI dan Babinkar ABRI, penghapus- an Sospoldam, Babinkardam, Sospolrem, dan Sospoldim.

    Penghapusan materi Sospol ABRI dari kurikulum

    pendidikan TNI.

    Likuidasi Fraksi TNI-Polri di DPR dan DPRD tahun 2004, dan keberadaannya di MPR yang seharusnya sampai dengan tahun 2009 telah ditinggalkan tahun 2004.

    Pemisahan TNI dengan Polri.

    Penyelesaian peraturan perundang-undangan tentang TNI.

    digunakan sebagai alat politik suatu golongan tidak akan menjadi

    profesional sebagai alat pertahanan negara.

    Pada masa Orde Baru, TNI

    (pada saat itu ABRI) telah menyim- pang dari amanat tersebut karena digunakan untuk alat kekuasaan dan demi kepentingan politik tertentu. Secara jujur, jernih dan obyektif, sebagaimana komponen bangsa lainya, TNI mengakui hal itu sebagai konsekuensi logis dari format politik

    penguasa saat itu. ABRI segera merumuskan paradigma baru dan melaksanakan reformasi internal tepatnya setelah jatuhnya O