PEREK INDO

Click here to load reader

  • date post

    25-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    473
  • download

    7

Embed Size (px)

Transcript of PEREK INDO

BAB I PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG Sejak Juli 2005, Bank Indonesia menerapkan kerangka kerja kebijakan moneter Inflation Targeting Framework (ITF) dengan

menggunakan suku bunga sebagai sasaran operasional kebijakan moneter. Dengan ITF, arah kebijakan moneter secara konsisten ditujukan untuk mencapai sasaran inflasi jangka menegah yang rendah dan stabil. Arah (stance) kebijakan moneter diwakili oleh suatu suku bunga jangka pendek (policy rate) yang ditetapkan berjangka waktu 1 bulan yang kemudian dikenal dengan BI Rate. Dari sisi moneter, sejak pertengahan 2005 telah terjadi perubahan paradigma yaitu dari stabilisasi yang berbasis jumlah uang yang beredar menjadi Inflation Targeting Framework (ITF) dengan menggunakan instrumen suku bunga. Perkembangan perekonomian suatu negara dapat dikatakan sedang meningkat atau menurun berdasarkan beberapa indikator dasar makroekonominya diantaranya suku bunga, jumlah uang beredar, inflasi, nilai tukar dan pengangguran. Bank Indonesia sebagai lembaga otoritas moneter melakukan upaya stabilisasi melalui instrumen suku bunga SBI, penetapan SBI dilakukan untuk mengendalikan jumlah uang beredar. Ketika jumlah uang yang beredar di masyarakat terlalu banyak maka akan menyebabkan terjadinya inflasi. Sejak Juli 2005 BI menerapkan inflation targeting framework (ITF). Kebijakan moneter diarahkan pada pencapaian target inflasi yang diumumkan secara terbuka kepada publik pada waktu tertentu. Integrasi perekonomian domestik ke pasar keuangan global membawa beberapa implikasi pada kebijakan moneter. Kebijakan moneter selalu dihadapkan pada dilema antara

1

menjaga stabilitas nilai tukar dan independensi dalam mencapai tujuan domestik, contohnya target inflasi atau pertumbuhan. Di samping itu, jika sistem nilai tukar yang digunakan adalah fixed exchange rate, kebijakan moneter tidak cukup efektif untuk mengelola perekonomian makro. Sebaliknya, dengan sistem nilai tukar yang fleksibel, kebijakan moneter cukup efektif tetapi dengan risiko nilai tukar fluktuatif. Globalisasi keuangan juga meningkatkan kompleksitas kebijakan moneter. Perekonomian domestik mudah sekali terekspos risiko

perekonomian global sehingga menambah kerumitan dalam menetapkan kebijakan.

2. PERMASALAHAN Kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh bank sentral moneter berperan sangat penting dalam mengarahkan perekonomian dengan sasaran utama kesejahteraan rakyat. Krisis moneter dan ekonomi 1997 telah memberikan pelajaran berharga, khususnya mengenai peran yang semestinya dijalankan oleh Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral. Untuk itu penyusun tertarik untuk membahas masalah-masalah di bawah ini yang meliputi : 1. Apa itu kebijakan moneter? 2. Kerangka kebijakan moneter apa yang diterapkan Bank Indonesia pada tahun 2005 hingga sekarang? 3. Kebijakan moneter apa saja yang dibuat BI dari masa orde lama sampai 2010?

2

BAB II KEBIJAKAN MONETER1. Pengertian Kebijakan Moneter adalah upaya mengendalikan atau mengarahkan perekonomian makro ke kondisi yang lebih baik (diinginkan) dengan mengatur jumlah uang yang beredar. Kondisi yang lebih baik yaitu meningkatnya output keseimbangan atau stabilitas harga (inflasi yang terkontrol). 2. Tujuan kebijakan moneter Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan moneter dapat dipakai untuk memulihkan (tindakan stabilisasi). Pengaruh kebijakan moneter pertama kali akan dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor riil. Kebijakan moneter adalah upaya untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan harga. Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan/distribusi barang. Kebijakan moneter dilakukan antara lain dengan salah satu namun tidak terbatas pada instrumen sebagai berikut yaitu suku bunga, giro wajib minimum, intervensi dipasar

3

valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas. 3. Jenis kebijakan moneter Adapun jenis kebijakan moneter terdiri dari dua jenis, yakni (a) Kebijakan moneter ekspansif (Easy Money Policy/EMP), adalah kebijakan menambah jumlah uang yang beredar; (b) Kebijakan moneter kontraktif (Tight Money Policy/TMP), yaitu kebijakan mengurangi jumlah uang yang beredar. a. Kebijakan moneter ekspansif (Easy Money Policy) Kebijakan ini dilakukan jika bank sentral ingin menambah jumlah uang beredar (likuiditas) untuk mencapai stabilitas dalam perekonomian. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk menggiatkan kembali kondisi perekonomian yang sedang lesu. Ketika MS naik, maka tren suku bunga akan cenderung menurun. Rendahnya suku bunga akan memicu investasi (karena cost of capital yang murah), dan pada akhirnya akan menaikkan permintaan agregat. b. Kebijakan moneter kontraktif (Tight Money Policy) Kebijakan ini dilakukan jika bank sentral ingin mengurangi jumlah uang beredar untuk mencapai stabilitas dalam perekonomian. Tujuan kebijakan ini bisa untuk menurunkan inflasi ataupun

untuk memperbaiki kondisi neraca pembayaran internasional yang defisit.y

Menurunkan inflasi. Ketika MS turun, suku bunga jangka pendek akan cenderung naik. Naiknya suku bunga akan mendorong orang untuk menabung, sehingga MS di perekonomian berkurang dan inflasi dapat turun. Selain itu, ketika banyak yang menabung, maka konsumsi juga turun. Artinya permintaan agregat ikut turun dan ini akan menurunkan inflasi.

4

y

Memperbaiki defisit neraca pembayaran internasional (Bop). TMP membuat inflasi turun, dengan demikian tingkat harga umum juga turun. Turunnya harga akan membuat produk dalam negeri lebih murah bagi konsumen di dalam negeri, sehingga permintaan produk domestik akan bertambah dan permintaan produk impor berkurang. Sementara itu, produk domestik yang murah didalam negeri juga murah bagi konsumen di luar negeri, sehingga akan mendorong permintaan ekspor. Kombinasi dari kedua hal ini akan mengurangi defisit neraca pembayaran.

4. Instrumen kebijakan moneter Ada lima instrumen utama yang digunakan bank sentral untuk melakukan TMP maupun EMP : 1. Open market operation (operasi pasar terbuka). Caranya adalah dengan memperdagangkan surat berharga. Apabila kecenderungan bank sentral ingin melakukan TMP, maka ia akan menjual surat berharga (misalnya SBI) sehingga dana yang ada di tangan masyarakat dapat ditarik (MS di perekonomian berkurang, masuk ke bank sentral). Sebaliknya, apabila yang ingin dilakukan adalah EMP, maka bank sentral akan

membeli surat berharga yang dijual oleh masyarakat sehingga MS akan bertambah. 2. Legal reserve ratio requirement / reserve ratio (rr) / kebijakan nisbah cadangan. Caranya adalah dengan mewajibkan sejumlah tertentu cadangan yang harus ada diwajibkan 10%, maka di bank umum. Misalnya apabila jika rr

seorang nasabah menabung

Rp.1.000.000 di bank, hanya sejumlah Rp.900.000-nya yang boleh dipinjamkan bank ke pihak lain. Rp.900.000 ini nantinya akan menjadi uang beredar baru yang dilakukan oleh bank umum. Sedangkan sisa 10%nya, atau rp.100.000, harus tetap ada di bank sebagai cadangan. Dari sini, kita bisa melihat bahwa rr akan dinaikkan jika bank sentral

5

ingin melakukan TMP. Sebaliknya, rr akan diturunkan jika bank sentral ingin melakukan EMP. 3. Discount rate policy. Caranya adalah dengan menaikkan/menurunkan suku bunga pinjaman dari bank sentral ke bank umum. Fasilitas pinjaman ini disebut dengan fasilitas diskonto. Jika bank sentral ingin melakukan TMP, ia akan menaikkan suku bunga pinjaman ini, sehingga suku bunga dari bank umum ke masyarakat pun akan ikut naik. Akibatnya, kredit akan turun (karena biaya kredit menjadi mahal) dan MS akan turun. Sebaliknya jika bank sentral ingin melakukan EMP. 4. Selective credit control. Caranya adalah melalui pengawasan kredit. Pengawasan kredit yang ketat mengarah ke TMP, dan sebaliknya. 5. Moral suassion (dorongan moral). Caranya adalah melalui imbauan ke bank-bank umum. Misalnya, imbauan agar tidak menaikkan suku bunga. Pada kelima instrumen diatas, instrumen no. 1 sampai 3 adalah bersifat kuantitatif, sedangkan no. 4 dan 5 bersifat kualitatif. 5. Kerangka kebijakan moneter Dalam melaksanakan kebijakan moneter, Bank Indonesia menganut sebuah kerangka kerja yang dinamakan Inflation Targeting Framework (ITF). Kerangka kerja ini diterapkan secara formal sejak Juli 2005, setelah sebelumnya menggunakan kebijakan moneter yang menerapkan uang primer (base money) sebagai sasaran kebijakan moneter. Dengan kerangka ini, Bank Indonesia secara eksplisit mengumumkan sasaran inflasi kepada publik dan kebijakan moneter diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah tersebut. Untuk mencapai sasaran inflasi, kebijakan moneter dilakukan secara forward looking, artinya perubahan stance kebijakan moneter dilakukan melaui evaluasi apakah perkembangan inflasi ke depan masih sesuai dengan sasaran inflasi yang telah dicanangkan. Dalam kerangka kerja ini, kebijakan moneter juga ditandai oleh transparansi dan akuntabilitas kebijakan kepada publik. Secara operasional, stance kebijakan moneter dicerminkan oleh penetapan6

suku bunga kebijakan (BI Rate) yang diharapkan akan memengaruhi suku bunga pasar uang dan suku bunga deposito dan suku bunga kredit perbankan. Perubaha