Perumahan Swadaya

download Perumahan Swadaya

of 44

  • date post

    26-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    127
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of Perumahan Swadaya

BAB IPENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANGMasyarakat Indonesia memiliki tingkat pendapatan yang berbeda, mulai dari tingkat pendapatan tinggi hingga rendah. Tingkat pendapatan ini mempengaruhi kualitas hidup masyarakat tersebut. Hal ini membuat penggolongan dalam masyarakat, yakni pendapatan tinggi disebut masyarakat kaya dan pendapatan rendah disebut masyarakat miskin. Perbedaan kualitas hidup ini, dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, baik ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan gaya hidup. Di kota Makassar sendiri, nampak jelas perbedaan tingkat pendapatan dan kualitas hidup masyarakat kota Makassar. Mengenai kualitas hidup yang rendah, tampak di pinggirian kota, sekitar perumahan mewah, ataupun di tanah-tanah belum terbangun. Bentuk dari kualitas hidup rendah di Indonesia, khususnya kota Makassar adalah hadirnya pemukiman kumuh atau pemukiman dengan lingkungan tidak tertata. Berdasarkan Undang Undang Dasar 1945, pemerintah untuk mensejahterakan penduduknya, tampak hal ini belum terealisali. Karena kenyataan yang ada memberikan fakta yang berbeda dengan UUD 45. Selain itu, undang-undang yang dirancangkan oleh pemerintah melalui DPR mengenai peningkatan taraf hidup tersebut, belum ada yang nyata, ataupun tidak semua merasakan dampak positif dari peraturan itu.Di kota Makassar, khususnya kecamatan Tamalate, lebih khusus lagi kelurahan Balang Baru, belum mendapatkan dampak positif dari program dan peraturan pemerintah yang mementingkan kepentingan masyarakat miskin. Sebagai contoh, program Perumahan Swadaya, yang telah lama dicanangkan pemerintah, sebagian besar dari masyarakat di Balang Baru belum mengetahui program ini. Fakta yang ada di lapangan, pemerintah melalui perangkat desa tidak melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai program ini. Sehingga, taraf hidup dan lingkungan hidup masyarakat di Balang Baru sangat memprihatinkan.Program Perumahan Swadaya yang berupa bantuan stimulan berupa pembangunan rumah baru, perbaikan kualitas rumah, dan perbaikan prasarana, sarana, dan utilitas belum dinikmati oleh masyarakat kelurahan Balang Baru, khususnya kawasan kumuh di Jalan Tanggul Patompo. Karena pendapatan rendah sehingga masyarakat di dareah tersebut hidup dengan prasarana, sarana, dan rumah yang jauh dari kategori layak huni. Akibat perangkat desa yang tidak melakukan sosialisasi juga, masyarakat di daerah tersebut tidak dapat merasakan program pemerintah yang dapat membantu mereka.Keadaan buruk yang mereka hadapi adalah sarana MCK dan prasarana air bersih. MCK dan air bersih yang layak belum dinikmati oleh semua masyarakat di tempat tersebut. Dapat dilihat dari rumah sebagian besar penduduk yang tidak memiliki kamar mandi dan belum ada perbaikan dengan kamar mandi umum di daerah tersebut. Hal lain yang ditemukan bahwa walaupun ada pipa air bersih di dekat tanggul, masyarakat setempat tidak menikmati air bersih untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan masak. Dan karena sebagian besar masyarakat tidak mengetahui mengenai program Perumahan Swadaya, sehingga mereka yang memperbaiki rumah harus berhenti di tengah jalan akibat tidak ada biaya. Inilah masalah lingkungan yang dihadapi masyarakat miskin di Jl. Tanggul Patompo, Balang Baru, Tamalate, Makassar.

B. BATASAN MASALAHUntuk menghindari pelebaran topic yang akan diteliti, maka penulis membatasi permasalahan yang akan diteliti, yaitu mengenai fasilitas MCK dan air bersih di kawasan masyarakat berpenghasilan rendah, kelurahan Balang Baru, kecamatan Tamalate, kota Makassar.

C. RUMUSAN MASALAH Bagimana fasilitas MCK dan air bersih di kelurahan Balang Baru, kecamatan Tamalate, kota Makassar? Bagaimana tindakan perencanaan pemerintah setempat untuk menyelesaikan masalah MCK dan air bersih?

D. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui alasan dan pengaruh bagi kawasan masyarakat berpenghasilan rendah di kelurahan Balang Baru, kecamatan Tamalate, kota Makassar memiliki fasilitas MCK dan air bersih yang buruk. Namun, lebih lanjut dari penelitian ini adalah solusi yang diberikan untuk menyelesaikan masalah ini.

2. Manfaat Penelitian Melalui penelitian ini memberikan sumbangan pemikiran mengenai penyelesaian masalah MCK dan air bersih di daerah tersebut. Hasil penelitan dapat memberi manfaat bagi pemerintah, khususnya perangkat desa, untuk dijadikan bahan evalusi dalam melaksanakan tugasnya menyalurakan program pemerintah untuk meingkatkan taraf hidup masyarakat miskin di daerah tersebut.

E. SISTEMATIKA PENULISANBAB I: PENDAHULUANBerisi latar belakang penelitian, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, lokasi dan waktu penelitian, dan sistematika penulisan.BAB II: TINJAUAN PUSATAKABerisi teori-teori yang berkaitan dengan penelitian.BAB III: TINJAUAN KHUSUSBerisi informasi dan keadaaan nyata lokasi penelitian, yaitu letak lokasi penelitian, jumlah penduduk setempat, dan sanitasi yang akan ditinjau.BAB IV: PEMBAHASANBerisi hasil dari penelitian, yakni fakta yang ditemukan di lokasi penelitian dan pembahasan MCK dan Air bersih di lokasi tersebut.BAB V: PENUTUPBerisi kesimpulan dan saran dari penelitian.

BAB IITINJAUAN PUSTAKAA. SARANA DAN PRASARANASecara umum sarana dan prasarana adalah alat penunjang keberhasilan suatu proses upaya yang dilakukan di dalam pelayanan publik, karena apabila kedua hal ini tidak tersedia maka semua kegiatan yang dilakukan tidak akan dapat mencapai hasil yang diharapkan sesuai dengan rencana. Moenir (1992 : 119) mengemukakan bahwa sarana adalah segala jenis peralatan, perlengkapan kerja dan fasilitas yang berfungsi sebagai alat utama/pembantu dalam pelaksanaan pekerjaan, dan juga dalam rangka kepentingan yang sedang berhubungan dengan organisasi kerja. Pengertian yang dikemukakan oleh Moenir, jelas memberi arah bahwa sarana dan prasarana adalah merupakan seperangkat alat yang digunakan dalam suatu proses kegiatan baik alat tersebut adalah merupakan peralatan pembantu maupun peralatan utama, yang keduanya berfungsi untuk mewujudkan tujuan yang hendak dicapai.Berdasarkan pengertian di atas, maka sarana dan prasarana pada dasarnya memiliki fungsi utama sebagai berikut : Mempercepat proses pelaksanaan pekerjaan sehingga dapat menghemat waktu. Meningkatkan produktivitas, baik barang dan jasa. Hasil kerja lebih berkualitas dan terjamin. Lebih memudahkan/sederhana dalam gerak para pengguna/pelaku. Ketepatan susunan stabilitas pekerja lebih terjamin. Menimbulkan rasa kenyamanan bagi orang-orang yang berkepentingan. Menimbulkan rasa puas pada orang-orang yang berkepentingan yang mempergunakannya.Untuk lebih jelasnya mengenai sarana dan prasarana yang dimaksud di atas berikut ini akan diuraikan istilah sarana kerja/fasilitas kerja yang ditinjau dari segi kegunaan menurut Moenir ( 2000 : 120) membagi sarana dan prasarana sebagai berikut : Peralatan kerja, yaitu semua jenis benda yang berfungsi langsung sebagai alat produksi untuk menghasilkan barang atau berfungsi memproses suatu barang yang berlainan fungsi dan gunanya. Perlengkapan kerja, yaitu semua jenis benda yang berfungsi sebagai alat pembantu tidak langsung dalam produksi, mempercepat proses, membangkit dan menambah kenyamanan dalam pekerjaan. Perlengkapan bantu atau fasilitas, yaitu semua jenis benda yang berfungsi membantu kelancaran gerak dalam pekerjaan, misalnya mesin ketik, mesin pendingin ruangan, mesin absensi, dan mesin pembangkit tenaga.

B. MCK (MANDI, CUCI, DAN KAKUS)1. PENGERTIAN MCKMCK berfungsi untuk melayani masyarakat kurang mampu yang tidak memiliki tempat mandi, cuci dan kakus pribadi, sehingga memiliki kebiasaan yang dianggap kurang sehat dalam melakukan kebutuhan mandi, cuci, dan kakus. Lokasi MCK jenis ini idealnya harus ditengah para penggunannya dengan radius sekitar 50 m. Desain MCK sangat terkait dengan kebiasaan atau budaya masyarakat setempat sehingga desain tersebut perlu dimusyawarahkan dengan masyarakat pengguna dengan tetap menjaga kaidah MCK yang sehat. Komponen MCK terdiri dari: bilik MCK (bilik mandi, cuci dan keperluan buang air besar atau kakus). Pengolahn limbah yang terdiri dari, tangki septic, aneorobik bafel reactor, dan resapan. Pembuatan MCK wajib dilengkapi dengan: Penyediaan air bersih Pembuatan saluran pembuangan Septic tank dan peresapan

2. TUJUAN MCK KOMUNALTujuan dibangun MCK dengan sistem komunal di pemukiman padat adalah, sebagai berikut: (Soenarto, 1992) Mengkomunalkan sarana mandi, cuci, dan kakus agar limbahnya mudah dikendalikan dan pencemaran lingkungan dapat dibatasi Memudahkan pengadaan air bersih. Melestarikan budaya mandi bersama, seperti di daerah asal mereka. Kawasan yang padat penduduknya, umumnya luas rumah di bawah luas hunian baku per jiwa. Hal ini mengakibatkan sulitnya mencari ruang untuk lokasi sumur maupun kakus. Kawasan tersebut terutama dihuni oleh warga masyarakat yang berpenghasilan rendah, yang cenderung tidak dapat menyisihkan sebagian pendapatannya untuk membangun kakus atau kamar mandi sendiri. Apalagi jika mereka belum mendapatkan penyuluhan tentang sanitasi lingkungan, yang mempunyai kaitan erat dengan kualitas air tanah.

3. BILIK/ RUANG MCKDesain bilik/ ruang MCK dilaksanakan dengan mempertimbangkan kebiasaan dan budaya masayarakat pengguna sehingga perlu dimusyawarahkan. Hal tesebut biasanya tekait dengan tata letak, pemisahan pengguna laki-laki dan perempuan, jenis jamban dan lain-lain. Perlu dipertimbangkan desain untuk pengguna yang menggunakan kursi roda (defabel). Untuk kapasitas pelayanan, semua ruangan dalam satu kesatuan dapat menampung pelayanan pada waktu palik sibuk dan banyaknya ruang pada setiap satu kesatuan MCK untuk jumlah pemakai tertentu tercantum pada table 2.1

Tabel 2.1 Jumlah Pengguna MCK dan Banyak Bilik yang DibutuhkanJumlah PemakaiJumlah Bilik/ Ruangan

MandiCuciKakus

10 20212

21 40222

41 80234

81 100244

101 120454

121 - 160456

161 - 200466

Sumber: T