DETERMINAN PERILAKU PENCARIAN PENGOBATAN...

of 170/170
DETERMINAN PERILAKU PENCARIAN PENGOBATAN TRADISIONAL (TRADITIONAL MEDICATION) MASYARAKAT URBAN CENGKARENG JAKARTA BARAT TAHUN 2014 SKRIPSI Diajukan Sebagai Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat oleh: Supriadi 1110101000073 PEMINATAN PROMOSI KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1435 H / 2014 M
  • date post

    03-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    227
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of DETERMINAN PERILAKU PENCARIAN PENGOBATAN...

DETERMINAN PERILAKU PENCARIAN PENGOBATAN

TRADISIONAL (TRADITIONAL MEDICATION) MASYARAKAT

URBAN CENGKARENG

JAKARTA BARAT TAHUN 2014

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

oleh:

Supriadi

1110101000073

PEMINATAN PROMOSI KESEHATAN

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1435 H / 2014 M

iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama lengkap : Supriadi

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 22 Agustus 1992

Warganegara : Indonesia

Agama : Islam

Alamat : Jalan Pedongkelan Belakang No. 7, RT 010/13, Kelurahan

Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, 11720

Telepon : +628210579282 / +618561604670

Email : [email protected]

Pendidikan Formal:

1. SDN Cengkareng Timur 17 Pagi (1998-2004)

2. SMP Negeri 248 Jakarta (2004-2007)

3. SMA Negeri 33 Jakarta (2007-2010)

4. Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Peminatan Promosi Kesehatan (2010-2014)

mailto:[email protected]

iv

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT PROMOSI KESEHATAN

Skripsi, 30 November 2014

Supriadi, NIM: 1110101000073

Determinan Perilaku Pencarian Pelayanan Kesehatan Tradisional

(Traditional Medicine) Masyarakat Cengkareng, Jakarta Barat, Tahun 2014

(XX + 140 halaman, 38 tabel, 2 bagan, 20 lampiran)

Abstrak

Pelayanan kesehatan tradisional mengalami peningkatan peminat pada

sebagian besar masyarakat, khususnya masyarakat urban setelah tahun 1999.

Pelayanan kesehatan tradisional yang berbasis kearifan lokal (local wisdom) dapat

meningkatkan taraf kehidupan, baik secara ekonomi maupun kesehatan

masyarakat lokal. Sebagai upaya promotif dan preventif dalam bidang kesehatan,

diperlukan identifikasi terkait dengan faktor faktor yang mendorong masyarakat

dalam memilih pelayanan kesehatan tradisional. Sehingga faktor faktor yang

mendorong ini dapat digunakan sebagai dasar dibuatnya program kesehatan dalam

upaya promotif dan preventif.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah faktor: predisposisi

(usia, jenis kelamin, status pernikahan, pendididikan, pekerjaan, jumlah keluarga,

suku/etnis, agama, jarak rumah dengan pelayanan kesehatan, nilai tentang sehat

dan sakit, sikap terhadap pelayanan kesehatan, dan pengetahuan tentang

pelayanan kesehatan; pendukung (asuransi kesehatan, dan tarif pelayanan

kesehatan); dan kebutuhan (pandangan subjektif terhadap penyakit yang pernah

dialami dan keadaan penyakit yang dialami sesuai dengan diagnosis medis)

memiliki hubungan dengan perilaku pencarian pelayanan kesehatan tradisional

masyarakat. Instrumen penelitian ini terdiri dari 99 pertanyaan untuk menggali

informasi dari responden.

Berdasarkan hasil uji statistik, dari 16 karakteristik masyarakat, 10

memiliki hubungan yang signifikan terhadap perilaku penggunaan pelayanan

kesehatan tradisional pada masyarakat Cengkareng dan 6 karakteristik tidak

memiliki hubungan yang signifikan.

Saran dari hasil penelitian ini, yaitu: untuk program promosi kesehatan,

berdasarkan identifikasi faktor perilaku penggunaan pelayanan kesehatan

tradisional pada penelitian ini diharapkan data yang ada dalam penelitian ini dapat

digunakan sebagai dasar menentukan langkah langkah yang harus dilakukan

untuk melakukan program promosi kesehatan pelayanan kesehatan tradisional.

Pengintegrasian antara pelayanan kesehatan modern dan tradisional, sebaiknya

diperhatikan dengan baik dalam hal sosialisasi dan komunikasi ke pasien.

Kata kunci: pelayanan kesehatan tradisional, perilaku pencarian kesehatan,

Cengkareng

v

FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES

STUDY PROGRAM OF PUBLIC HEALTH

HEALTH PROMOTION

Undergraduate Thesis, 30th

November 2014

Supriadi, NIM: 1110101000073

(XX + 140 pages, 38 tables, 2 charts, 20 attachments)

The Behavior Determinants of Health Seeking for Traditional Medication in

Urban Society at Cengkareng, West Jakarta Year 2014

Abstract

Traditional medicine increased interested people in most of society

especially the urban after 1999.Traditional health service which is based the local

can improve life both economically and community health local. As promotional

efforts and preventive in the field of health required identification associated with

factors that encouraged the community in choosing traditional health service. So that encourage factors this can be used as the basis for the formulation of the

health program in promotional efforts and preventive.

This research aims to know whether: predisposing (age, sex, marital status,

education, occupation, family size, ethnicity, religion, home health services with

distance, values concerning health and illness, attitudes toward health services,

knowledge about disease; enabling (health insurance and cost of health services ;

and the needs (subjective views on the disease ever experienced and the state of

disease experienced in accordance with medical diagnosis) would have a

relationship with the traditional behavior the search of health services. An

instrument consisting of the 99 questions this research to obtain information from

the respondents.

Based on the statistical test, of 16 people characteristics, 10 have a

significant relation to the behavior of the use of traditional medicine at

Cengkareng and 6 characteristics of having no significant relationship.

Advice from the results of this research namely: to promotional programs

health factor based on behavior identification of the use of traditional health

service on research is expected existing data in this research can be used as a basis

determining step which is must be done to do program promotion of health

traditional health service. The integration between health services modern and

traditional should be noted with both in terms of socialization and communication

to patients.

Key word: traditional medicine, health seeking behavior, Cengkareng

vi

1 KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahiim

Alhamdulillah, seluruh puji serta syukur selalu dilantunkan kehadirat

Allah SWT, Sang Pemilik Pengetahuan, yang dengan rahmat dan inayah - Nya

jualah maka penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul Determinan

Perilaku Pencarian Pelayanan Kesehatan Tradisional (Health Seeking

Behavior of Traditional Medicine) Masyarakat Cengkareng, Jakarta Barat,

2014.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad

Rasulullah SAW, yang atas perkenan Allah, telah mengantarkan umat manusia ke

pintu gerbang pengetahuan Allah yang Maha luas.

Dalam proses penyusunan laporan ini, penulis mendapatkan banyak dukungan

dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin

menyampaikan rasa terima kasih kepada:

1. Keluarga tercinta, Sarwin Hadi Mulyono, Warsi, Widiastuti, Ristanto,

Rustiana, Rismawan yang selalu turut memberikan doa dan restu serta

dukungan yang diberikan tanpa mengenal batas waktu hingga akhirnya

penulis mampu mencapai pendidikan di jenjang universitas.

2. Prof.Dr (hc). dr. M. K. Tajudin, Sp.And sebagai Dekan Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatukkah Jakarta.

3. Ibu Fajar Ariyanti, Ph.D sebagai Kepala Program Studi Kesehatan

Masyarakat.

4. Ibu Dewi. A. Utami, Ph.D sebagai Sekretaris Program Studi Kesehatan

Masyarakat.

5. Bapak Dr. M. Farid Hamzens dan Ibu Raihana Nadra Alkaff, M. MA

selaku pembimbing yang telah memberi arahan dan masukan serta

motivasi dan doa kepada penulis agar senantiasa berupaya maksimal

dalam penyelesaian laporan magang maupun kompetensi.

vii

6. Bapak Prof Dr. Rusmin Tumanggor, M. A, Ibu Hoirun Nisa. Ph.D, dan

Bapak dr. Yuli Prapanca Satar, MARS sebagai penguji siding skripsi.

7. Segenap bapak / ibu dosen Jurusan Kesehatan Masyarakat yang telah

memberikan ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi penulis dan

mahasiswa pada umumnya.

8. Teman - teman Peminatan Promosi Kesehatan 2010 yang selalu

mendukung penulis Icha, Prima, Siva, Ayu, Richo, Randika, Sari, Alul,

Ilmi, Dita, Yuli, Nita, Fury, dan Hervina.

9. Sahabat terbaik Agung, Misyka, Angga, Seno, Eliza, Bayti, Iqbal, Anis,

Prima serta teman-teman Kesehatan Masyarakat angkatan 2010 untuk

semangat yang diberikan.

10. Sahabat dan teman - teman penulis yang sudah memotivasi dan

mendukung penyusunan skripsi ini.

11. Tempat pengobatan tradisional dan responden yang terlibat dalam

penelitian ini.

12. Segenap pihak yang belum disebutkan satu persatu atas bantuan, semangat

dan doanya untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi.

Dan akhirnya kepada Allah SWT jualah penulis panjatkan doa dan harap,

semoga kebaikan mereka dicatat sebagai amal shaleh di hadapan Allah SWT dan

menjadi pemberat bagi timbangan kebaikan mereka kelak.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Kritik dan

saran yang membangun senantiasa penulis harapkan agar dapat dijadikan

masukan di waktu mendatang.

Semoga skripsi ini dapat mendatangkan manfaat kepada penulis khususnya,

dan kepada seluruh pembaca secara keseluruhan.

Jakarta, Desember 2014

Penulis

viii

Daftar Isi

Lembar Pernyataan.. i

Lembar Pernyataan Pembimbing. ii

Daftar Riwayat Hidup iii

Abstrak iv

Kata Pengantar. vi

Daftar Isi.. viii

Daftar Tabel xvi

Daftar Bagan.. xx

BAB I. 1

Pendahuluan. 1

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Rumusan Masalah 7

1.3. Pertanyaan Penelitian 7

1.4. Tujuan 9

1.4.1. Tujuan Umum. 9

1.4.2. Tujuan Khusus 9

1.5. Manfaat Penelitian.. 10

ix

1.6. Ruang Lingkup.. 11

BAB II.. 12

Tinjauan Pustaka 12

2.1. Sistem Pengobatan ... 12

2.2. Pengobatan Tradisional. 12

2.2.1. Definisi. 12

2.2.2. Jenis Pengobatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer 15

2.2.2.1. Obat Herbal. 16

2.2.2.2. Pijat Tradisional.. 17

2.2.2.3. Akupunktur. 23

2.2.2.4. Akupressur.. 25

2.3. Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan.. 25

2.4. Perilaku Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan.. 26

2.4.1. Definisi Perilaku... 26

2.4.2. Faktor - Faktor yang Memengaruhi Perilaku Berdasarkan Model

Andersen.. 29

2.5. Kerangka Teori.. 35

BAB III 36

x

Kerangka Konsep, Definisi Operasional dan Hipotesis. 36

3.1. Kerangka Konsep 36

3.2. Definisi Operasional. 39

3.3. Hipotesis. 42

BAB IV.. 43

Metodologi Penelitian 43

4.1. Desain Penelitian 43

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian.. 43

4.3. Populasi dan Sampel 43

4.3.1. Populasi Penelitian 43

4.3.2. Sampel Penelitian 44

4.4. Instrumen Penelitian 46

4.5. Uji Validitas dan Realibitas 47

4.5.1. Uji Validitas. 47

4.5.2. Uji Reliabilitas 49

4.6. Cara Pengambilan Data. 50

4.7. Pengolahan Data.. 51

4.8. Analisis Data 52

xi

BAB V. 54

Hasil Penelitian. 54

5.1. Gambaran Umum Wilayah Penelitian 54

5.2. Analisis Univariat Variabel Dependen.. 54

5.2.1. Gambaran Perilaku Masyarakat dalam Menggunakan Pelayanan Kesehatan

Tradisional 54

5.3. Analisis Univariat Variabel Independen 55

5.3.1. Gambaran Usia Responden di Wilayah Cengkareng 55

5.3.2. Gambaran Jenis Kelamin Responden di Wilayah Cengkareng.. 56

5.3.3. Gambaran Status Pernikahan Responden di Wilayah Cengkareng. 57

5.3.4. Gambaran Tingkat Pendidikan Responden di Wilayah Cengkareng. 59

5.3.5. Gambaran Pengetahuan Tentang Pelayanan Kesehatan/Pengobatan

Tradisional................ 60

5.3.6. Gambaran Pekerjaan Responden di Wilayah Cengkareng.. 62

5.3.7. Gambaran Jumlah Anggota Keluarga Responden di Wilayah Cengkareng.. 65

5.3.8. Gambaran Suku/Etnis Responden di Wilayah Cengkareng.... 66

5.3.9. Gambaran Agama Responden di Wilayah Cengkareng.... 69

5.3.10. Gambaran Jarak Rumah ke Pelayanan Kesehatan Tradisional Responden di

Wilayah Cengkareng............ 71

xii

5.3.11. Gambaran Penilaian Sehat dan Sakit Masyarakat di Wilayah Cengkareng. 73

5.3.12. Gambaran Sikap Masyarakat Terhadap Pelayanan Kesehatan Tradisional di

Wilayah Cengkareng............ 74

5.3.13. Gambaran Kepemilikan Asuransi atau Jaminan Kesehatan Responden di

Wilayah Cengkareng............ 76

5.3.14. Gambaran Tarif Pelayanan Kesehatan Tradisional Bagi Responden Pada

Masyarakat di Wilayah Cengkareng......... 77

5.3.15. Gambaran Pandangan Subjektif Terhadap Pelayanan Kesehatan Tradisional

Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng....... 79

5.3.16. Gambaran Kesesuaian Penyakit dengan Diagnosis Medis Responden Pada

Masyarakat di Wilayah Cengkareng........ 81

5.4. Analisis Bivariat Variabel Independen Terhadap Variabel Dependen.. 83

5.4.1. Hubungan Faktor Predisposisi Terhadap Perilaku Pengobatan

Tradisional..... 83

5.4.2. Hubungan Faktor Pendukung Terhadap Perilaku Pengobatan Tradisional

.............. 84

5.4.3. Hubungan Faktor Predisposisi Terhadap Perilaku Pengobatan Tradisional

........... 85

BAB VI................... 86

Pembahasan.................. 86

xiii

6.1. Keterbatasan Penelitian............. 86

6.2. Faktor Predisposisi Perilaku Pencarian Pelayanan Kesehatan Tradisional.. 86

6.2.1. Usia................ 87

6.2.2. Jenis Kelamin.............. 89

6.2.3. Status Pernikahan............ 91

6.2.4. Tingkat Pendidikan.............. 93

6.2.5. Pengetahuan Tentang Pelayanan Kesehatan...... 95

6.2.6. Pekerjaan............... 96

6.2.7. Jumlah Anggota Keluarga............ 97

6.2.8. Suku/Etnis.............. 99

6.2.9. Agama.................. 101

6.2.10. Jarak Rumah ke Pelayanan Kesehatan Tradisional...... 102

6.2.11. Penilaian Tentang Sehat dan Sakit......... 103

6.2.12. Sikap.................. 104

6.3. Faktor Pendukung Perilaku Pencarian Pelayanan Kesehatan Tradisional.... 105

6.3.1. Asuransi atau Jaminan Kesehatan.......... 105

6.3.2. Tarif Pelayanan Kesehatan Tradisional.......... 107

6.4. Faktor Kebutuhan Perilaku Pencarian Pelayanan Kesehatan Tradisional.... 108

xiv

6.4.1. Pandangan Subjektif Terhadap Pelayanan Kesehatan.... 108

6.4.2. Kesesuaian Penyakit dengan Diagnosis Medis dan Melakukan Pengobatan

dengan Pelayanan Kesehatan Tradisional........ 108

BAB VII..................... 111

Kesimpulan dan Saran................. 111

7.1. Kesimpulan................. 111

7.2. Saran.................... 118

Daftar Pustaka................. 119

xvi

Daftar Tabel

Tabel 3.1. Definisi Operasional . 39

Tabel 4.1. Jumlah Sampel... 45

Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Kecamatan Cengkareng.. 45

Tabel 5.1. Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Masyarakat dalam Penggunaan

Pengobatan Tradisional di Wilayah Cengkareng... 54

Tabel 5.2. Distribusi Responden Berdasarkan Usia Masyarakat di Wilayah

Cengkareng.. 55

Tabel 5.3. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Masyarakat di Wilayah

Cengkareng.... 56

Tabel 5.4. Distribusi Responden Berdasarkan Status Pernikahan Masyarakat di Wilayah

Cengkareng... 57

Tabel 5.5. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Masyarakat di Wilayah

Cengkareng... 59

Tabel 5.6. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang Pelayanan Kesehatan

Tradisional Masyarakat di Wilayah Cengkareng... 60

Tabel 5.7. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Masyarakat di Wilayah

Cengkareng.... 62

Tabel 5.8. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga Masyarakat di

Wilayah Cengkareng.. 65

Tabel 5.9. Distribusi Responden Berdasarkan Suku/Etnis Asal Keluarga Masyarakat di

Wilayah Cengkareng.. 66

Tabel 5.10. Distribusi Responden Berdasarkan Agama yang Dianut Masyarakat di Wilayah

Cengkareng... 69

Tabel 5.11. Distribusi Responden Berdasarkan Jarak Rumah ke Pelayanan Kesehatan

Tradisional Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng. 71

xvii

Tabel 5.12. Distribusi Responden Berdasarkan Penilaian Sehat dan Sakit Pada

Masyarakat di Wilayah Cengkareng. 73

Tabel 5.13. Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Terhadap Pelayanan Kesehatan

Tradisional Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng... 74

Tabel 5.14. Distribusi Responden Berdasarkan Kepemilikan Asuransi atau Jaminan

Kesehatan Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng... 76

Tabel 5.15. Distribusi Responden Berdasarkan Tarif Pelayanan Kesehatan Tradisional

Bagi Responden Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng. 77

Tabel 5.16. Distribusi Responden Berdasarkan Pandangan Subjektif Responden

Terhadap Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Tradisional Pada Masyarakat

di Wilayah Cengkareng... 79

Tabel 5.17. Distribusi Responden Berdasarkan Kesesuaian Penyakit dengan Diagnosis Medis

Responden Terhadap Pemanfaatan Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat di Wilayah

Cengkareng .... 81

Tabel 5.18. P Value Variabel Variabel Hubungan Faktor Predisposisi Terhadap

Pemanfaatan Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng .. 83

Tabel 5.19. P Value Variabel Variabel Hubungan Faktor Pendukung Terhadap

Pemanfaatan Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng .. 84

Tabel 5.20. P Value Variabel Variabel Hubungan Faktor Kebutuhan Terhadap

Pemanfaatan Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng .. 85

xx

Daftar Bagan

Bagan 2.1. Pencarian Pelayanan Kesehatan: Individual Determinants of Health Service

Utilization by Ronald Andersen and John F. Newman (2005) 35

Bagan 3.1. Kerangka Konsep Penelitian 38

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pengobatan tradisional mengalami peningkatan peminat pada

sebagian besar masyarakat, khususnya masyarakat urban setelah tahun 1999.

Indonesia memiliki kekayaan suku budaya tradisional termasuk dibidang

pengobatan tradisional dari Sabang sampai Merauke. Pengobatan tradisional

yang berbasis kearifan lokal (local wisdom) dapat meningkatkan taraf

kehidupan, baik secara ekonomi maupun kesehatan masyarakat lokal. (WHO,

2010). Jika masyarakat mampu memanfaatkan pengobatan tradisional maka

akses masyarakat terhadap pengobatan pada saat mengalami gangguan

kesehatan semakin mudah karena disesuaikan dengan kemampuan daerah

atau lokal untuk menangani masalah kesehatan.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Nomor 1076/MENKES/SK/VII/2003 tentang Penyelenggaraan Pengobatan

Tradisional Menteri Kesehatan Republik Indonesia, pengobatan tradisional di

Indonesia diklasifikasikan dalam beberapa jenis, yaitu: keterampilan, ramuan,

pendekatan agama dan supranatural. Dari beberapa jenis pengobatan

tradisional tersebut, terdapat praktek praktek yang berbasis keterampilan,

ramuan, pendekatan agama dan supranatural yang mulai banyak muncul di

lingkungan masyarakat. (Kementerian Kesehatan, 2003)

Pengobatan tradisional telah berkembang pesat di seluruh dunia.

Berdasarkan data World Health Organization pada tahun 2002, 75%

2

penduduk Perancis menggunakan pengobatan alternatif, 77% klinik terapi di

Jerman menggunakan akupuntur, 95% rumah sakit di China memiliki klinik

pengobatan tradisional dan 70% penduduk India menggunakan obat

tradisional untuk pengobatannya. Di Belanda dan Inggris masing masing

sekitar 60%, dan 74%, penduduk menggunakan pengobatan tradisional.

Presentasi penduduk yang menggunakan pengobatan alternatif dan

komplementer di Canada, Amerika, dan Belgia berkisar 70%, 42%, dan 38%

(WHO, 2002).

Kondisi Pengobatan tradisional di Indonesia menurut data

Kementerian Kesehatan pada tahun 2013 cakupan Pengobatan kesehatan

sudah mencakup 53,6% Kabupaten/Kota dari 416 Kabupaten/Kota di

Indonesia (223 Kabupaten/Kota). Dari cakupan wilayah tersebut, Puskesmas

yang sudah menyelenggarakan Pengobatan tradisional sudah mencapai 793

Puskesmas dari 9671 mencakup akupuntur dan akupresur (Kementerian

Kesehatan, 2013). Salah satu Puskesmas yang menyelenggarakan pengobatan

tradisional adalah Puskesmas Cengkareng. Dimana pada salah satu

layanannya terdapat akupunktur.

Perkembangan pengobatan tradisional mendapat perhatian serius dari

berbagai negara. Dari hasil kesepakatan pertemuan World Health

Organization (WHO) dalam acara Congress on Traditional Medicine di

Beijing pada bulan November 2008 disebutkan bahwa Pengobatan tradisional

yang aman dan bermanfaat dapat diintegrasikan ke dalam sistem Pengobatan

konvensional. Dari pertemuan WHO pada tahun 2008 disebutkan dalam salah

satu resolusinya, yaitu: mendorong negara negara anggotanya agar

3

mengembangkan Pengobatan tradisional di negara masing - masing sesuai

dengan kondisi setempat (WHO, 2010).

Kedudukan pengobatan tradisional di Indonesia berdasarkan Undang

Undang (UU) Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan

ditetapkan sebagai salah satu penyelenggara upaya kesehatan. Praktik

Pengobatan tradisional berdasarkan UU tersebut dibina dan diawasi oleh

pemerintah langsung agar dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan

keamanannya serta tidak bertentangan dengan norma agama.

Dengan adanya pergeseran pola penyakit yang terjadi di Indonesia

dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif, pemanfaatan Pengobatan

tradisional dapat menjadi rujukan bagi masyarakat untuk mengatasi

keterbatasan akses Pengobatan konvensional. Pengobatan tradisional telah

diakui keberadaannya sejak dahulu kala dan dimanfaatkan oleh masyarakat

dalam upaya preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif. Sampai saat ini

Pengobatan tradisional terus berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi

disertai dengan peningkatan pemanfaatannya oleh masyarakat. Hal ini

sebagai imbas dari semangat untuk kembali menggunakan hal hal yang

bersifat alamiah atau dikenal dengan istilah back to nature (Kementerian

Kesehatan, 2010).

Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2001, 57,7%

penduduk Indonesia melakukan pengobatan sendiri. Dimana dari jumlah

tersebut, 31,7% menggunakan obat tradisional (jamu dan ramuan tradisional),

9,8% menggunakan pengobatan tradisional dan 16,1% mendiamkan

4

gangguan kesehatannya hingga sembuh dengan sendirinya. Lalu pada tahun

2004 penduduk Indonesia yang melakukan pengobatan sendiri meningkat

menjadi 72,44% dimana 32,87% menggunakan pengobatan tradisional.

Di DKI Jakarta terdapat 306 tempat pengobatan tradisional (Yellow

Pages, 2014). Jumlah ini didapatkan berdasarkan data nomor telepon tempat

pengobatan tradisional di Jakarta. Jumlah tersebut cukup banyak, mengingat

jumlah rumah sakit di Jakarta ada 155 rumah sakit, diantaranya 32 rumah

sakit publik milik pemerintah, 54 rumah sakit publik milik swasta (nonprofit),

64 rumah sakit privat milik swasta, dan 5 rumah sakit privat milik Badan

Usaha Milik Negara (Kementerian Kesehatan, 2014). Menurut Dirjen Bina

Kesehatan Masyarakat Kementrian Kesehatan, jumlah pengobat tradisional di

Indonesia yang tercatat cukup banyak, yaitu 280.000 pengobat dengan 30

keahlian/spesialisasi (Balai Kesehatan Tradisional Masyarakat Makassar,

2013).

Pengobatan tradisional memiliki banyak manfaat positif namun

disamping efek positif pengobatan tradisional, ada beberapa kasus

pengobatan tradisional yang terjadi di Indonesia yang dituduh melakukan

penipuan pengobatan dengan pendekatan agama. Pengobatan yang dilakukan

dengan pendekatan agama dan spiritual sebenarnya tidak memiliki dampak

positif bagi pasien. Hal yang merugikan seperti ini harus dihindari dari

praktik Pengobatan tradisional yang ada di Indonesia.

Kasus lain terkait pengobatan tradisional, yaitu iklan klinik

pengobatan China yang dinyatakan telah melanggar Peraturan Menteri

5

Kesehatan RI Nomor 1787/Menkes/Per/XII/2010 tentang Iklan dan Publikasi

Pengobatan serta Keputusan Menteri Kesehatan Nomor

386/Men.Kes/SK/IV/1994 tentang Pedoman Periklanan Obat Tradisional.

Iklan klinik pengobatan tradisional yang berasal dari China ini mengandung

unsur pemujaan pada testimoni yang dilakukan oleh beberapa pasiennya.

Iklan klinik ini beredar di televisi swasta yang menampilkan testimoni

testimoni setelah melakukan pengobatan di klinik tersebut dan kalimat yang

diutarakan oleh pasien pasien tersebut berupa kalimat pemujaan. Hal inilah

yang menjadi pelanggaran terhadap pedoman periklanan obat tradisional oleh

klinik yang menyelenggarakan pengobatan tradisional berbasis pengobatan

tradisional China tersebut.

Belum adanya peraturan yang tegas terhadap seluruh penyelenggaraan

pengobatan tradisional di Indonesia karena masih dalam masa pengembangan

maka pelanggaran praktek pengobatan tradisional masih lebih banyak terjadi

dibandingkan dengan pengobatan konvensional (rumah sakit). Berdasarkan

pendapat yang dikemukan oleh Sarfino (2006) tentang interaksi

biopsikososial akibat pelanggaran yang dilakukan oleh pengobat tradisional,

dapat mengakibatkan keterlambatan pengobatan (delay treatment) bagi pasien

pasiennya dalam memperoleh penanganan medis atau pengobatan yang

seharusnya sudah didapatkan pasien sehingga tidak menjadi komplikasi pada

gangguan kesehatannya.

Perilaku pencarian pengobatan adalah perilaku individu maupun

kelompok atau penduduk untuk melakukan atau mencari pengobatan.

Perilaku pencarian di masyarakat terutama di negara yang sedang

6

berkembang sangat bervariasi, diantaranya ada 5 pilihan dari yang paling

rendah sampai yang paling tinggi mengenai tindakan pada saat mengalami

gangguan kesehatan (sakit), yaitu: tidak bertindak atau tidak melakukan apa

apa (no action), tindakan mengobati sendiri (self- treatment), mencari

pengobatan ke fasilitas - fasilitas pengobatan tradisional (traditional remedy),

mencari pengobatan dengan membeli obat - obat ke warung - warung obat

(chemist shop) dan sejenisnya, termasuk ke tukang - tukang jamu, serta

mencari pengobatan ke fasilitas - fasilitas pengobatan modern yang diadakan

oleh pemerintah atau lembaga - lembaga kesehatan swasta, yan dikategorikan

ke dalam balai pengobatan, puskesmas, dan rumah sakit (Notoatmodjo,

2007).

Berdasarkan beberapa tahap perilaku pencarian pengobatan, pencarian

pengobatan tradisional termasuk tahap awal yang dilakukan untuk

menyembuhkan masalah kesehatan. Sebagai upaya promotif dan preventif

dalam bidang kesehatan, diperlukan identifikasi terkait dengan faktor faktor

yang mendorong masyarakat dalam memilih pengobatan tradisional. Agar di

masa mendatang tidak terjadi penyalahgunaan Pengobatan tradisional, maka

faktor faktor yang mendorong ini dapat digunakan sebagai dasar dibuatnya

program kesehatan dalam upaya promotif dan preventif.

Dari uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui faktor faktor

yang berhubungan dengan perilaku pencarian Pengobatan tradisional

masyarakat di Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014. Karena wilayah Jakarta

Barat memiliki jumlah penduduk yang paling padat di wilayah Jakarta dan

7

banyaknya Pengobatan tradisional yang tumbuh, terutama Pengobatan

tradisional berbasis TCM (Traditional Chinese Medicine).

1.2. Rumusan Masalah

Kemajuan dunia kedokteran konvensional (modern) yang sudah

sangat pesat saat ini dapat menjadi rujukan masyarakat terutama masyarakat

kota atau masyarakat yang tinggal di wilayah yang relatif sudah maju.

Namun, fenomena pemanfaatan Pengobatan (pengobatan) tradisional sebagai

pilihan pengobatan, khususnya masyarakat urban meningkat. Hal ini ditandai

oleh banyaknya praktek pengobatan tradisional di lingkungan tempat tinggal

masyarakat urban. Dari semua pengobatan tradisional yang ada di

masyarakat, belum semuanya memiliki izin praktek pengobatan. Hal ini

mengakibatkan praktek pengobatan tradisional yang dilakukan Pengobatan

tradisional yang tidak memiliki izin tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Pengobatan tradisional yang banyak dipilih oleh masyarakat

dilatarbelakangi oleh faktor faktor tertentu. Hal inilah yang membuat

peneliti tertarik mengidentifikasi faktor faktor apa saja yang berhubungan

dengan perilaku pencarian kesehatan ke Pengobatan tradisional.

1.3. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran predisposisi (usia, jenis kelamin, status pernikahan,

pendididikan, pekerjaan, jumlah keluarga, suku/etnis, agama, jarak

rumah dengan Pengobatan, nilai tentang sehat dan sakit, sikap terhadap

Pengobatan, dan pengetahuan tentang Pengobatan) masyarakat yang

8

memilih pengobatan tradisional sebagai pilihan Pengobatan di

Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?

2. Bagaimana gambaran pendukung (asuransi kesehatan, tarif Pengobatan)

masyarakat yang memilih pengobatan tradisional sebagai pilihan

Pengobatan di Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?

3. Bagaimana gambaran kebutuhan (pandangan subjektif terhadap penyakit

yang pernah dialami dan keadaan penyakit yang dialami sesuai dengan

diagnosis medis) masyarakat yang memilih pengobatan tradisional

sebagai pilihan Pengobatan di Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?

4. Bagaimana hubungan predisposisi (usia, jenis kelamin, status pernikahan,

pendididikan, pekerjaan, jumlah keluarga, suku/etnis, agama, jarak

rumah dengan Pengobatan, nilai tentang kesehatan dan penyakit, sikap

terhadap Pengobatan, dan pengetahuan tentang Pengobatan) dengan

perilaku pengobatan tradisional masyarakat di Cengkareng, Jakarta Barat

tahun 2014?

5. Bagaimana hubungan pendukung (asuransi kesehatan, tarif Pengobatan)

dengan perilaku pengobatan tradisional masyarakat di Cengkareng,

Jakarta Barat tahun 2014?

6. Bagaimana hubungan kebutuhan (pandangan subjektif terhadap penyakit

yang pernah dialami dan keadaan penyakit yang dialami sesuai dengan

diagnosis medis) dengan perilaku pengobatan tradisional masyarakat di

Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?

9

1.4. Tujuan

1.4.1. Tujuan Umum

Mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan perilaku

pemilihan pengobatan tradisional masyarakat di Kecamatan

Cengkareng, Jakarta Barat, tahun 2014.

1.4.2. Tujuan Khusus

1. Diketahuinya gambaran predisposisi (usia, jenis kelamin, status

pernikahan, pendididikan, pekerjaan, jumlah keluarga, suku/etnis,

agama, jarak rumah dengan Pengobatan, nilai tentang sehat dan sakit,

sikap terhadap Pengobatan, dan pengetahuan tentang Pengobatan)

masyarakat yang memilih pengobatan tradisional sebagai pilihan

Pengobatan di Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?

2. Diketahuinya gambaran pendukung (asuransi kesehatan, dan tarif

Pengobatan) masyarakat yang memilih pengobatan tradisional

sebagai pilihan Pengobatan di Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?

3. Diketahuinya gambaran karakteristik kebutuhan (pandangan subjektif

terhadap penyakit yang pernah dialami dan keadaan penyakit yang

dialami sesuai dengan diagnosis medis) masyarakat yang memilih

pengobatan tradisional sebagai pilihan Pengobatan di Cengkareng,

Jakarta Barat tahun 2014?

4. Diketahuinya hubungan karakteristik predisposisi (usia, jenis kelamin,

status pernikahan, pendididikan, pekerjaan, jumlah keluarga,

suku/etnis, agama, jarak rumah dengan Pengobatan, nilai tentang

10

kesehatan dan penyakit, sikap terhadap Pengobatan, dan pengetahuan

tentang Pengobatan) dengan perilaku pengobatan tradisional

masyarakat di Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?

5. Diketahuinya hubungan karakteristik pendukung (asuransi kesehatan,

dan tarif Pengobatan) dengan perilaku pengobatan tradisional

masyarakat di Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?

6. Diketahuinya hubungan karakteristik kebutuhan (pandangan subjektif

terhadap penyakit yang pernah dialami dan keadaan penyakit yang

dialami sesuai dengan diagnosis medis) dengan perilaku pengobatan

tradisional masyarakat di Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?

1.5. Manfaat Penelitian

1. Untuk program, yaitu dapat digunakan sebagai salah satu masukan

terhadap program promosi pengobatan tradisional, tidak saja bagi

pembuat program namun juga untuk mereka yang menaruh

perhatian terhadap program tersebut. Hasil penelitian ini juga

diharapkan dapat dijadikan data dasar bagi pengembangan

program promosi kesehatan yang terkait dengan pengobatan

tradisional jika dibutuhkannya gambaran partisipasi masyarakat,

khususnya pada masyarakat urban.

2. Untuk ilmu pengetahuan, diharapkan hasil penelitian dapat

menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya dan dimanfaatkan

sebanyak banyaknya untuk kepentingan pengembangan ilmu

pengetahuan.

11

3. Untuk universitas, diharapkan hasil penelitian sebagai salah satu

bentuk program tri darma perguruan tinggi, yaitu bidang

penelitian.

1.6. Ruang Lingkup

Studi ini dilakukan di Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat

untuk melihat karakteristik masyarakat yang menggunakan

pengobatan tradisional sebagai Pengobatan pilihannya dan untuk

melihat apa saja faktor faktor yang mendorong masyarakat untuk

menggunakan pengobatan tradisional sebagai Pengobatan yang

pilihannya. Dengan tujuan yang telah dirumuskan oleh peneliti, maka

ditetapkan penelitian ini bersifat kuantitatif dengan metode cross

sectional. Lingkup objek responden dalam studi kuantitatif ini dibatasi

untuk menggambarkan faktor faktor pendorong masyarakat memilih

pengobatan tradisional sebagai pengobatan pilihan.

12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sistem Pengobatan

Sistem pengobatan atau pengobatan di Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu:

pengobatan konvensional atau modern dan pengobatan tradisional. Pengobatan

konvensional atau modern adalah pengobatan yang berbasis pada ilmu kedokteran

konvensional yang telah lama berkembang sejak sebelum abad ke 19. Pengobatan

dengan metode yang mengacu pada pengobatan secara medis oleh dunia Barat yang

ditunjang dengan berbagai peralatan madis yang canggih dan obat obatan yang

bersifak kimia (buatan).

Sedangkan pengobatan tradisional adalah pengobatan yang berbasis kearifan

lokal (local wisdom) baik cara penyembuhan atau terapi yang digunakan maupun

obat obatan yang digunakan adalah bahan bahan alami. Pengobatan tradisional

terbagi dalam dua versi yaitu klasik dan modern. Tradisional klasik dlakukan secara

turun temurun tanpa ilmu atau penelitian sedangkan versi modern adalah pengobatan

yang berkonsep holistik dan sebagai komplemen (pelengkap) dari pengobatan medis.

2.2. Pengobatan Tradisional

2.2.1. Definisi

Menurut WHO (2000), pengobatan tradisional adalah jumlah total

pengetahuan, keterampilan, dan praktek - praktek yang berdasarkan pada

teori - teori, keyakinan, dan pengalaman masyarakat yang mempunyai adat

13

budaya yang berbeda, baik dijelaskan atau tidak, digunakan dalam

pemeliharaan kesehatan serta dalam pencegahan, diagnosa, perbaikan atau

pengobatan penyakit secara fisik dan juga mental.

Menurut WHO (2000) pengobatan tradisional (Traditional Medicine

disingkat TM) mengacu pada pengetahuan, keterampilan serta praktek

berdasarkan teori, kepercayaan dan pengalaman masyarakat adat istiadat

dan budaya yang berbeda, digunakan dalam pemeliharaan kesehatan dan

pencegahan, diagnosis, perbaikan atau pengobatan penyakit fisik dan mental.

Obat tradisional mencakup berbagai terapi dan praktek yang berbeda dari satu

negara dengan negara lain dan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Di

beberapa negara, hal ini disebut sebagai "alternatif" atau "komplementer"

obat (Complementary Alternative Medicine disingkat CAM).

Seperti di Indonesia, pengobatan alternatif komplementer diartikan

sebagai pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan

derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan

rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas,

keamanan, dan efektivitas yang tinggi dan berlandaskan ilmu pengetahuan

biomedik, yang belum diterima dalam kedokteran konvensional

(Kementerian Kesehatan, 2007). Dari pengertian tersebut, pengobatan

tradisional, alternatif dan komplementer dapat diartikan sebagai pengobatan

yang berasal dari kepercayaan turun temurun dan digunakan sampai

sekarang dengan tujuan untuk meningkatan derajat kesehatan masyarakat.

14

Pengobatan tradisional telah digunakan selama ribuan tahun dengan

kontribusi besar yang dibuat oleh praktisi kesehatan manusia, khususnya

sebagai penyedia perawatan kesehatan primer di tingkat masyarakat.

TM/CAM telah mempertahankan popularitasnya di seluruh dunia. Sejak tahun

1990 - an penggunaannya telah meningkat di banyak negara maju dan

berkembang. Selain itu, pengobatan tradisional juga salah satu cabang

pengobatan alternatif yang bisa didefinisikan sebagai cara pengobatan yang

dipilih oleh seseorang bila cara pengobatan konvensional tidak memberikan

hasil yang memuaskan (Asmino, 1995).

Menurut Kementerian Kesehatan (2008), Pengobatan tradisional

adalah pengobatan dan/atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu

pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris dapat

dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di

masyarakat, diluar ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan.

Upaya kesehatan tradisional adalah upaya kesehatan yang

diselenggarakan dengan cara lain diluar ilmu kedokteran yang mencakup cara

- teknik (metode), obat, sarana, dan pengobatnya (sumber daya manusia,

penyelenggara) yang mengacu pada pengetahuan, pengalaman, dan

keterampilan turun temurun, baik yang diperoleh dengan cara berguru atau

malalui pendidikan.

15

2.2.2. Jenis Pengobatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer

Jenis pengobatan tradisional, alternatif dan komplementer (Permenkes

RI, no: 1109/Menkes/Per/2007) adalah:

1. Intervensi tubuh dan pikiran (mind and body intervention): hipnoterapi,

mediasi, penyembuhan spiritual, doa, dan yoga.

2. Sistem pelayanan pengobatan alternatif: akupuntur, akupresur,

naturopati, homeopati, aromaterapi, dan ayurveda.

3. Cara penyembuhan manual: chiropractice, healing touch, tuina, shiatsu,

osteopati, dan pijat urut.

4. Pengobatan farmakologi dan biologi: jamu, herbal, dan gurah

5. Diet nutrisi untuk pencegahan dan pengobatan: diet makro nutrient,

micro nutrient.

6. Cara lain dalam diagnosa dan pengobatan: terapi ozon, hiperborik, dan

EECP.

Jenis Pengobatan Tradisional menurut Asmino (1995), pengobatan

tradisional ini terbagi menjadi dua, yaitu: cara penyembuhan tradisional atau

traditional healing, yang terdiri daripada pijatan, kompres, akupuntur dan

sebagainya serta obat tradisional atau traditional drugs, yaitu: menggunakan

bahan - bahan yang telah tersedia dari alam sebagai obat untuk

menyembuhkan penyakit. Obat tradisional ini terdiri dari tiga jenis, yaitu:

pertama dari sumber nabati yang diambil dari bagian - bagian tumbuhan

seperti buah, daun, kulit batang dan sebagainya. Kedua, obat yang diambil

dari sumber hewani seperti bagian kelenjar - kelenjar, tulang - tulang maupun

16

dagingnya dan yang ketiga adalah dari sumber mineral atau garam garam

yang bisa didapatkan dari mata air yang keluar dari tanah contohnya, air mata

air zam - zam yang terletak di Mekah Mukarramah.

2.2.2.1. Obat Herbal

Obat herbal didefinisikan sebagai obat - obat yang dibuat dari

bahan alami seperti tumbuhan yang sudah dibudidayakan maupun

tumbuhan liar. Selain itu, obat herbal juga bisa terdiri dari obat yang

berasal dari sumber hewani, mineral atau gabungan antara ketiganya

(Mangan, 2003). Sebanyak 150,000 daripada 250,000 spesis

tumbuhan yang diketahui di dunia adalah berasal dari kawasan

tropika. Di Malaysia saja, kira kira 1,230 jenis spesies tumbuhan

telah lama digunakan di dalam rawatan tradisional (Dharmaraj, 1998).

Kaum Melayu misalnya sering menggunakan akar susun kelapa

(Tabernaemontana divaricata), akar melur (Jasminum sambac), bunga

raya (Hibisus rosa sinensis) dan ubi memban (Marantha arundinacea)

untuk rawatan kanser (Dharmaraj, 1998).

Dalam pengobatan tradisional ini, memang masih kurang data

data laboratorium tentang khasiat serta manfaat tanaman - tanaman

tersebut. Oleh sebab itu, di kalangan ahli dokter modern menganggap

pengobatan alternatif ini kurang ilmiah karena tidak didukung dengan

data klinis yang valid. Para ahli pengobatan tradisional ini pada

dasarnya melihat kesehatan sebagai satu pendekatan holistik dimana

jika adanya berlaku gangguan pada salah satu organ tubuh maka ini

akan menyebabkan ketidakseimbangan pada organ tubuh yang

17

lainnya. Tujuan utama pengobatan ini dilakukan lebih kepada

penyembuhan dengan menyeimbangkan kondisi organ - organ ini dan

bukan hanya untuk menghilangkan gejala saja (Mursito, 2002).

Keuntungan utama dalam menggunakan obatan herbal ini

adalah biayanya yang murah (Moh, 1998). Ini karena mudahnya dapat

bahan baku ini termasuklah bisa ditanam sendiri di halaman rumah

sebagai bekalan. Kebanyakan tumbuhan ini mudah membesar dan

tidak memerlukan kos penjagaan yang tinggi jika ditanam sendiri.

Selain itu, efek samping yang ditimbulkannya relatif kecil sehingga

lebih aman digunakan daripada obat obatan modern yang banyak

efek sampingnya. Bahkan, di kalangan masyarakat, obat herbal ini

dianggap tidak memiliki efek samping walaupun sebenarnya dalam

setiap tumbuhan ini memiliki bahan kimia hanya dalam dosis yang

relatif kecil sehingga tidak memberikan efek yang besar pada

penggunanya (Mangan, 2003).

2.2.2.2. Pijat Tradisional

Pijat adalah sebuah perlakuan hands-on, dimana terapis

memanipulasi otot dan jaringan lunak lain dari tubuh untuk

meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan. Berbagai jenis pijat dari

lembut membelai hingga teknik manual yang lebih dalam untuk

memijat otot serta jaringan lunak lainnya. Pijat ini telah dipraktikkan

sebagai terapi penyembuhan selama berabad - abad yang hampir ada

dalam setiap kebudayaan di seluruh dunia. Ini dapat membantu

meringankan ketegangan otot, mengurangi stres, dan membangkitkan

18

rasa ketenangan. Meskipun pijat mempengaruhi tubuh secara

keseluruhan, hal itu terutama mempengaruhi aktivitas, sistem

muskuloskeletal, peredaran darah, limfatik, dan juga saraf.

Jenis pijatan, ada hampir 100 pijat tubuh yang berbeda - beda

tekniknya. Setiap teknik unik dirancang untuk mencapai tujuan

tertentu. Jenis yang paling umum diterapkan di Amerika Serikat dan

semakin berkembang di negara - negara lain meliputi:

1. Pijatan Aromaterapi: Minyak essensial dari tanaman dipiijat di

atas kulit untuk meningkatkan penyembuhan dan efek relaksasi

dari pijatan itu. Minyak essensial ini diyakini memiliki pengaruh

kuat pada suasana hati dengan merangsang dua struktur jauh di

dalam otak, yaitu: sistem limbik dan hipokampus yang

merupakan penyimpan emosi dan memori.

2. Pijatan Craniosakral: tekanan lembut diterapkan pada kepala dan

tulang belakang untuk memperbaiki ketidakseimbangan dan

memulihkan aliran cairan serebrospinal di daerah - daerah

tersebut.

3. Pijatan Limfatik: Pijatan yang lembut dan berirama digunakan

untuk meningkatkan aliran getah bening (cairan berwarna yang

membantu melawan infeksi dan penyakit) ke seluruh tubuh. Salah

satu bentuk yang paling populer dari pijat limfatik, drainase

limfatik manual (MLD), berfokus pada pengeringan kelebihan

19

getah bening. MLD biasanya digunakan setelah operasi (seperti

mastektomi untuk kanker payudara) untuk mengurangi bengkak.

4. Pijatan Miofasial: tekanan lembut dan memposisi tubuh

digunakan untuk relaksasi dan peregangan otot - otot, fasia

(jaringan ikat), dan struktur terkait. Biasanya terapis fisik dan

terapis pijat yang terlatih menggunakan teknik ini.

5. Terapi Polaritas: Suatu bentuk energi penyembuhan, terapi

polaritas menstimulasi dan menyeimbangkan aliran energi dalam

tubuh untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan.

6. Refleksi: teknik khusus menggunakan ibu jari dan jari diterapkan

pada tangan dan kaki. Refleksologis percaya bahwa daerah ini

mengandung "titik refleks" atau koneksi langsung ke organ

tertentu dan struktur pada seluruh tubuh.

7. Rolfing: Tekanan diterapkan pada fasia (jaringan ikat) untuk

meregangkan, memperpanjang, dan membuatnya lebih fleksibel.

Tujuan dari teknik ini adalah untuk menyelaraskan tubuh

sehingga menghemat energi, melepaskan ketegangan, dan fungsi

yang lebih baik.

8. Shiatsu: tekanan lembut jari tangan diterapkan terhadap titik

titik tertentu pada tubuh untuk menghilangkan rasa sakit dan

meningkatkan aliran energi (dikenal sebagai qi) melalui jalur

energi tubuh (disebut meridian).

20

9. Pijatan Olahraga: Sering digunakan pada atlet profesional dan

individu aktif lainnya, pijatan olahraga dapat meningkatkan

kinerja dan mencegah serta mengobati cedera yang berhubungan

dengan olahraga.

10. Pijatan Swedia: Berbagai stroke dan teknik tekanan yang

digunakan untuk meningkatkan aliran darah ke jantung,

menghilangkan hasil metabolisme dari jaringan, meregangkan

ligamen dan tendon, serta meredakan ketegangan fisik dan

emosional.

11. Pijatan Trigger Point : Tekanan diterapkan untuk "memicu

poin" (daerah lembut di mana otot - otot telah rusak) untuk

mengurangi kejang otot dan sakit.

12. Sentuhan Integratif: Suatu bentuk terapi pijat lembut yang

menggunakan teknik nonsirkulasi. Hal ini dirancang untuk

memenuhi kebutuhan pasien yang dirawat di rumah sakit atau

dalam perawatan hospis.

13. Sentuhan Pengasih: Menggabungkan satu - satu fokus perhatian,

sentuhan yang disengaja, dan pijatan sensitif dengan komunikasi

untuk meningkatkan kualitas hidup untuk pasien usia lanjut, sakit,

atau pasien kritis (ADAM, 2010).

Pijat diyakini dapat mendukung penyembuhan, meningkatkan

energi, mengurangi waktu pemulihan cedera, meringankan rasa sakit,

21

dan meningkatkan relaksasi, suasana hati, dan kesejahteraan. Hal ini

berguna untuk banyak masalah muskuloskeletal, nyeri punggung,

osteoarthritis, fibromyalgia, dan terkilir. Pijat juga dapat mengurangi

depresi pada orang dengan sindrom kelelahan kronis, mudah sembelit

(bila teknik ini dilakukan di daerah perut), menurunkan

pembengkakan setelah mastektomi (pengangkatan payudara),

mengurangi gangguan tidur, dan meningkatkan citra diri. Di tempat

kerja, pijat telah terbukti dapat mengurangkan stres dan meningkatkan

kewaspadaan mental. Sebuah studi (Cambron, 2006) menemukan

bahwa pijat jaringan dapat mengurangi tingkat tekanan darah

(pengurangan rata - rata 10,4 mm Hg dalam tekanan sistolik dan

penurunan tekanan diastolik sebesar 5,3 mm Hg).

Studi lain menunjukkan bahwa pijat memiliki efek

menguntungkan pada rasa sakit langsung dan suasana hati di antara

pasien dengan kanker tingkat lanjut (Kutner, 2008). Menurut studi

klinis yang dilakukan (Furlan, 2008), menunjukkan bahwa pijat

mengurangi rasa sakit punggung kronis lebih efektif daripada

perlakuan lainnya (termasuk akupunktur dan perawatan medis

konvensional untuk kondisi ini), dan dalam banyak kasus, biayanya

juga kurang dari perlakuan lainnya.

Ibu dan bayi yang baru lahir juga tampak manfaat dari pijat.

Ibu yang dilatih untuk memijat bayi mereka sering merasa kurang

tertekan dan memiliki ikatan emosional yang lebih baik dengan bayi

mereka. Bayi yang menerima pijatan dari ibu mereka juga cenderung

22

lebih sedikit menangis, dan lebih aktif, waspada, dan ramah. Bayi

prematur yang menerima terapi pijat telah menunjukkan penambahan

berat badan lebih cepat daripada bayi prematur yang tidak menerima

terapi ini. Bayi yang menerima pijat secara teratur juga mendapat tidur

lebih baik, mengurangi masalah kembung perut atau kolik, dan

memiliki kesadaran tubuh yang lebih baik serta pencernaan lebih

teratur (Beider, 2007).

Studi yang dilakukan Vennesy pada tahun 2007 yang

menyentuh tentang pengobatan secara fisik ini menunjukkan bahwa

pijat bisa menjadi pengobatan yang efektif untuk anak - anak muda

dan remaja dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk:

1. Autism: Anak - anak autistik, yang biasanya tidak suka disentuh,

menunjukkan perilaku yang kurang autis dan lebih sosial serta

perhatian setelah menerima terapi pijat dari orang tua mereka.

2. Dermatitis atopik: Anak - anak dengan masalah ini, tampaknya

berkurangan kemerahan, bersisik serta gatal - gatal dan gejala

lain jika menerima pijat. Pijat sebaiknya tidak digunakan saat

kondisi kulit meradang secara aktif.

3. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD): Pijat dapat

memperbaiki suasana hati pada anak dengan ADHD dan

membantu mereka merasa kurang gelisah dan hiperaktif.

23

4. Bulimia: Studi menunjukkan bahwa remaja dengan gangguan

makan merasa kurang tertekan dan cemas setelah menerima

terapi pijat.

5. Diabetes: Pijat dapat membantu mengatur kadar gula darah dan

mengurangi kecemasan dan depresi pada anak dengan diabetes.

6. Rheumatoid arthritis: Anak - anak remaja dengan rheumatoid

arthritis (JRA) telah terbukti kurang mengalami rasa sakit,

kekakuan pada waktu pagi, dan kecemasan hasil daripada terapi

pijat.

Orang - orang yang mempunyai kondisi seperti gagal jantung,

gagal ginjal, infeksi pada vena superfisial atau selulitis pada bahagian

kaki dan lain - lain, pengumpalan darah pada kaki, masalah koagulasi,

dan infeksi kulit yang bisa berjangkit. Bagi pasien yang menderita

kanker, perlu mendapatkan pengesahan daripada dokter mereka

karena pijatan ini bisa merusakkan tisu yang rapuh akibat dari

kemoterapi atau pengobatan radiasi. Begitu juga dengan pasien goiter,

ekzema dan lesi - lesi kulit lainnya ketika masih sedang kambuh serta

pasien yang menderita osteoporosis, demam tinggi, kurang sel darah

putih, masalah mental dan yang sedang pulih dari pembedahan harus

mengelakan dari melakukan pijatan ini.

2.2.2.3. Akupunktur

Akupunktur adalah cara pengobatan yang menggunakan cara

menusuk jarum pada titik - titik tertentu pada tubuh badan manusia

24

dan digunakan untuk mengembalikan serta mempertahankan

kesehatan seseorang dengan menstimulasi titik - titik itu. Indikasi

melakukan akupunktur (WHO, 1991):

1. Saluran pencernaan dan lambung, untukmengatasi berbagai

masalah fungsional seperti masalah ekskresi asam lambung,

nyeri kolik, otot dan peradangan,

2. Saluran nafas, untuk mengatasi kondisi alergi dan meningkatkan

daya tubuh,

3. Mata, kelainan mata yang bersifat radang dan fungsional otot

serta refraksi,

4. Mulut; untuk mengatasi rasa nyeri setelah pencabutan gigi

ataupun peradangan kronis,

5. Saraf, otot dan tulang; yaitu masalah yang berkaitan dengan

nyeri, kelemahan, kelumpuhan serta peradangan pada sendi.

Akupunktur juga dapat digunakan sebagai terapi alternatif

untuk penyakit yang secara konvensional belum jelas pengobatannya

dan apabila pengobatan konvensional sudah kurang bereaksi terhadap

panyakit tersebut. Akupunktur juga dapat digunakan secara beriringan

dengan terapi konvensional ini dan terbukti dapat membantu penderita

yang diserang penyakit berat seperti stroke dalam rehabilitasi mereka.

Seperti yang telah diketahui, semua jenis pengobatan pasti ada

kontraindikasinya. Bagi akupunktur, kontraindikasinya adalah bagi

penderita yang dalam keadaan hamil. Selain itu, penderita yang

menggunakan pacu jantung ataupun pacemaker juga dinasihatkan

25

untuk tidak memilih pengobatan akupunktur ini. Dan dalam kerja

menusuk, seorang akupunkturis tidak bisa menusuk dekat daerah

tumor ganas dan juga pada kulit yang sedang meradang. WHO juga

sedang meninjau tentang perlindungan dan pencegahan terhadap

penularan Hepatitis dan HIV/AIDS melalui jarum akupunktur.

Praktisi akupunktur dan masyarakat yang menggunakan khidmat

pengobatan akupunktur ini diharapkan diberi pendidikan tentang

risiko yang bisa dialami dan cara kerja yang benar untuk menanggung

ulangan keadaan ini.

2.2.2.4. Akupressur

Akupressur berasal dari kata accus dan pressure, yang berarti

jarum dan menekan. Istilah ini dipakai untuk cara penyembuhan yang

menggunakan teknik penekanan dengan jari pada titik titik

akupunktur sebagai pengganti penusukan jarum pada system

penyembuhan akupunktur. Tujuan penekanan pada titik titik

akupressur adalah melancarkan aliran energy untuk dapat

menjalankan fungsinya. Fungsi organ organ tubuh akan terganggu

jika tidak mendapatkan aliran energi yang cukup. Gangguan fungsi

tubuh akan mengganggu keseimbangan system tubuh (Kementerian

Kesehatan, 2012).

2.3. Pemanfaatan Pengobatan

Menurut Levey dan Loomba (1973), yang dimaksud dengan Pengobatan

adalah setiap upaya yng diselenggarakan sendiri atau bersama-sama dalam suatu

26

organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan seseorang, keluarga,

kelompok dan masyarakat (Ilyas, 2003). Pengobatan merupakan suatu produk yang

unik jika dibandingkan dengan produk jasa lainnya, karena Pengobatan memiliki tiga

ciri utama, yaitu:

1. Uncertainly

Pengobatan bersifat uncertainly artinya adalah Pengobatan tidak dapat

dipastikan waktu, tempat dan besarnya biaya yang dibutuhkan maupun tingkat

urgensi dari pelayanan tersebut.

2. Asymetry of Information

Suatu keadaan kesehatan dengan penggunaan atau pembeli jasa Pengobatan.

Pemanfaatan Pengobatan adalah hasil dan proses pencarian Pengobatan oleh

seseorang maupun kelompok. Pengetahuan tentang faktor yang mendorong individu

membeli kesehatan merupakan informasi kunci untuk mempelajari utilisasi

Pengobatan. Mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pemanfataan/ utilisasi

(Ilyas, 2003).

2.4. Perilaku Pemanfaatan Pengobatan

2.4.1. Definisi Perilaku

Pemanfaatan Pengobatan adalah hasil dari proses pencarian

Pengobatan oleh seseorang maupun kelompok. Pengetahuan tentang faktor

yang mendorong individu membeli Pengobatan merupakan informasi kunci

untuk mempelajari utilisasi Pengobatan. Mengetahui faktor-faktor yang

27

mempengaruhi pencarian Pengobatan berarti juga mengetahui faktor-faktor

yang memengaruhi pemanfaatan/utilisasi. Menurut Andersen R (1968)

perilaku orang sakit berobat ke Pengobatan secara bersama dipengaruhi oleh

faktor predisposisi (predisposing factors), faktor pemungkin (enabling

factors), dan faktor kebutuhan (need factors).

Menurut Notoadmodjo (2007) perilaku pencarian pengobatan adalah

perilaku individu maupun kelompok atau penduduk untuk melakukan atau

mencari pengobatan. Perilaku pencarian di masyarakat terutama di negara

yang sedang berkembang sangat bervariasi, respons seseorang apabila

sakit adalah sebagai berikut:

Pertama, tidak bertindak atau tidak melakukan apa-apa (no action),

alasannya antara lain bahwa kondisi yang demikian tidak akan mengganggu

kegiatan atau kerja mereka sehari-hari. Mungkin mereka beranggapan bahwa

tanpa bertindak apapun simptom atau gejala yang dideritanya akan lenyap

dengan sendirinya. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan belum merupakan

prioritas di dalam hidup dan kehidupannya.

Kedua, tindakan mengobati sendiri (self treatment) dengan alasan

yang sama seperti telah diuraian. Alasan tambahan dari tindakan ini adalah

karena orang atau masyarakat tersebut sudah percaya kepada diri sendiri, dan

sudah merasa bahwa berdasar pengalaman yang lalu usaha sendiri sudah

mendatangkan kesembuhan. Hal ini mengakibatkan pengobatan keluar tidak

diperlukan.

28

Ketiga, mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan

tradisional (traditional remedy). Keempat, mencari pengobatan dengan

membeli obat-obat ke warung-warung obat (chemist shop) dan sejenisnya,

termasuk ke tukang tukang jamu. Kelima, mencari pengobatan ke fasilitas-

fasilitas pengobatan modern yang diadakan oleh pemerintah atau lembaga-

lembaga kesehatan swasta, yang dikategorikan ke dalam balai pengobatan,

puskesmas, dan rumah sakit (Notoatmodjo, 2007).

Fasilitas Pengobatan yang kurang di daerah pedesaan menyebabkan

sebagian besar masyarakat masih sulit mendapatkan atau memperoleh

pengobatan. Selain itu hal penting yang mempersulit usaha pertolongan

terhadap masalah kesehatan pada masyarakat desa adalah kenyataan yang

sering terjadi dimana penderita atau keluarga penderita tidak dengan segera

mencari pertolongan pengobatan. Perilaku yang menunda untuk memperoleh

pengobatan dari praktisi kesehatan ini disebut dengan treatment delay

(Sarafino, 2006).

Treatment delay adalah rentang waktu yang telah berlalu ketika

individu mengalami simptom awal sampai individu memasuki Pengobatan

dari praktisi kesehatan (Sarafino, 2006). Rendahnya penggunaan fasilitas

kesehatan ini, seringkali kesalahan dan penyebabnya dikarenakan faktor jarak

antara fasilitas tersebut dengan masyarakat yang terlalu jauh, tarif yang

tinggi, pelayanan yang tidak memuaskan dan sebagainya. Perilaku

merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari

luar). Perilaku juga dapat dikatakan sebagai totalitas penghayatan dan

aktivitas seseorang yang merupakan hasil bersama antara beberapa faktor.

29

Sebagian besar perilaku manusia adalah operant response yang berarti

respons yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus tertentu

yang disebut reinforcing stimulation atau reinfocer yang akan memperkuat

respons. Oleh karena itu untuk membentuk perilaku perlu diciptakan adanya

suatu kondisi tertentu yang dapat memperkuat pembentukan perilaku

Prasetijo (2004).

2.4.1. Faktor - Faktor yang Memengaruhi Perilaku Berdasarkan Model

Andersen

Berdasarkan perilaku dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, pasien

akan memutuskan menggunakan Pengobatan. Untuk menjelaskan tentang

proses pemanfaatan Pengobatan oleh masyarakat atau pasien oleh Andersen

(1995) dikemukakan bahwa keputusan seseorang dalam memanfaatkan

Pengobatan tergantung pada:

1. Karakteristik Predisposisi (predisposing characteristic)

Karakteristik ini digunakan untuk menggambarkan fakta bahwa tiap

individu mempunyai kecenderungan untuk menggunakan Pengobatan yang

berbeda-beda. Karakteristik predisposisi dapat dibagi ke dalam 3 kelompok

yakni:

a. Ciri - ciri demografi : umur, jenis kelamin, status pernikahan, dan

penyakit yang pernah diderita.

b. Struktur sosial : jenis pekerjaan, status sosial, pendidikan, ras, jumlah

anggota keluarga, agama, kesukuan, dan jarak ke Pengobatan.

30

c. Kepercayaan: keyakinan, sikap, serta pengetahuan terhadap

Pengobatan dan penyakitnya.

2. Karakteristik Pendukung (enabling characteristic)

a. Sumber daya keluarga : penghasilan keluarga, kemampuan membeli

jasa pelayanan dan keikutsertaan dalam asuransi kesehatan.

b. Sumber daya masyarakat : jumlah sarana Pengobatan, jumlah tenaga

kesehatan, rasio penduduk dengan tenaga kesehatan dan lokasi sarana

serta karakteristik masyarakat (urban atau rural).

3. Karakteristik Kebutuhan (need characteristic)

Kebutuhan merupakan dasar dan stimulus langsung untuk

menggunakan Pengobatan. Karakteristik kebutuhan dapat dibagi menjadi 2

kategori yakni :

a. Perceived (subject assessment).

b. Evaluated (clinical diagnosis).

Komponen kebutuhan yang dirasakan (perceived need), diukur

dengan perasaan subjektif individu terhadap Pengobatan. Jadi secara umum

dapat dikatakan bahwa faktor kebutuhan (need) merupakan penentu akhir

bagi individu dalam menentukan seseorang memanfaatkan Pengobatan

(Andersen, 1995).

Manusia adalah makhluk bio-psiko-sosial-spiritual yang utuh dan unik

sehingga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia berbeda dengan

31

makhluk lain yang ada dimuka bumi ini. Teori kebutuhan manusia

memandang manusia sebagai suatu keterpaduan, keseluruhan yang

terorganisir dalam upaya memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan manusia

dipandang sebagai tekanan internal hasil dari perubahan keadaan sistem dan

tekanan ini diwujudkan dengan adanya suatu perilaku yang dilakukan agar

terpenuhinya suatu kebutuhan.

Menurut Abraham Maslow kebutuhan manusia terdiri dari 5 yaitu (i)

kebutuhan fisiologis, (ii) kebutuhan rasa aman dan keselamatan, (iii)

kebutuhan dicintai dan dimiliki, (iv) kebutuhan akan harga diri dan (v)

kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan kesehatan (health needs) pada

dasarnya bersifat objektif yaitu kebutuhan kesehatan yang ditentukan oleh

tenaga medis dan karena itu untuk meningkatkan derajat kesehatan pada

perseorangan, keluarga, kelompok ataupun masyarakat, upaya untuk

memenuhinya bersifat mutlak.

Sebagai sesuatu yang bersifat objektif maka munculnya kebutuhan

sangat ditentukan oleh masalah kesehatannya. Berbeda halnya dengan

kebutuhan, permintaan kesehatan (health demand) yang pada dasarnya

bersifat objektif yaitu kebutuhan kesehatan yang ditentukan oleh persepsi

pasien tentang kesehatannya. Oleh karena itu pemenuhan permintaan tersebut

pada saat itu saja (Notoadmodjo, 2007). Kebutuhan terhadap Pengobatan

seringkali disalahtafsirkan dengan permintaan terhadap perawatan,

pemenuhan kebutuhan Pengobatan belum tentu merupakan pemenuhan

permintaan perawatan Pengobatan seseorang (Azwar, 1996).

32

Menurut Ewless dan Simnett ada empat macam kebutuhan yaitu (i)

kebutuhan normatif, (ii) kebutuhan yang dirasakan, (iii) kebutuhan yang

dinyatakan, dan (iv) kebutuhan komparatif. Kebutuhan normatif adalah

kebutuhan yang ditetapkan oleh seorang ahli atau seorang profesional sesuai

dengan kebutuhan normatif, seperti peraturan kesehatan makanan, ditetapkan

oleh undang-undang. Kebutuhan yang dirasakan adalah kebutuhan yang

diidentifikasikan orang- orang sebagai apa yang mereka inginkan. Kebutuhan

yang dirasakan dapat sedikit atau tak terbatas banyaknya tergantung pada

kesadaran dan pengetahuan orang tentang apa yang dapat tersedia. Kebutuhan

yang dinyatakan adalah apa yang orang katakan mereka butuhkan dan telah

diubah menjadi permintaan yang terungkap/dinyatakan. Tidak semua

kebutuhan yang dirasakan dapat berubah menjadi kebutuhan yang

dinyatakan. Tidak ada kesempatan, motivasi atau keberanian menyatakan

sesuatu dapat menjadi hambatan pengungkapan kebutuhan yang dirasakan.

Kebutuhan komparatif adalah kebutuhan yang ditatapkan ahli dengan

membandingkan kebutuhan masing-masing kelompok sasaran. Dalam hal ini,

kelompok yang belum mendapat perlakuan dianggap merupakan kelompok

yang memiliki kebutuhan.

Dalam menjelaskan keputusan dalam pencarian

pengobatan/pemanfaatan Pengobatan, model Andersen adalah yang paling

banyak digunakan (Becker, 1974). Model perilaku penggunaan Pengobatan

ini dikembangkan sekitar tahun 1960-an, untuk memahami mengapa keluarga

menggunakan Pengobatan, mengukur kelayakan akses Pengobatan, dan untuk

33

membantu mengembangkan kebijakan dalam mempromosikan akses yang

layak (Andersen, 1995).

Menurut model ini, penggunaan Pengobatan oleh seseorang

merupakan fungsi dari predisposisi dalam menggunakan Pengobatan, faktor

pemungkin dan kebutuhan akan pengobatan. Karakteristik predisposing,

faktor demografi seperti umur dan jenis kelamin mempresentasikan secara

biologis bahwa orang orang akan memerlukan perawatan kesehatan

(Whuka dan Eat dalam Andersen, 1995). Struktur sosial diukur dengan faktor

faktor determinan status seseorang di masyarakat, kemampuan dia untuk

mengatasi masalah masalah tersebut. Pengukuran tradisional untuk menilai

struktur sosial adalah pendidikan, pekerjaan, dan suku bangsa (Andersen,

1995).

Health belief/kepercayaan kesehatan adalah sikap, nilai nilai dan

pengetahuan yang dimiliki seseorang tentang kesehatan dan Pengobatan yang

bias mempengaruhi persepsi mereka akan kebutuhan dan penggunaan

Pengobatan. Health belief menyediakan sebuah arti untuk menjelaskan

bagaimana struktur social bias mempengaruhi sumber daya pemungkin

(enabling resources), persepsi kebutuhan, dan kebutuhan subsekuent

(subsequent use).

Sumber daya yang memungkinkan dari masyarakat dan pribadi harus

ada untuk penggunaan Pengobatan. Pertama, petugas kesehatan dan fasilitas

kesehatan harus tersedia dimana orang orang tinggal dan bekerja.

Kemudian orang orang harus mempunyai tujuan dan mengetahui

34

bagaimana mendapatkan dan menggunakan pelayanan tersebut. Perjalanan

dan waktu tunggu merupakan pengukuran yang penting disini (Andersen,

1995).

Model health service harus mempertimbangkan bagaimana orang

orang memandang kesehatan mereka secara umum, bagaimana mereka

merasakan gejala gejala penyakit, nyeri, dan kekhawatiran tentang

kesehatan mereka. Hal ini bisa menjadikan keputusan penting bagi mereka

dalam pencarian pengobatan. Perceived need adalah fenomena sosial dan

harus dijelaskan dengan struktur sosial dan kepercayaan kesehatan (health

belief). Evaluated need (kebutuhan yang dievaluasi) menggambarkan

pernyataan tenaga professional tentang status kesehatan seseorang dan

kebutuhan mereka akan Pengobatan. Tentunya untuk evaluated need tidaklah

sederhana. Untuk pengukuran vaiditas dan reliabilitasnya harus melalui ilmu

biologi dan membutuhkan kompetensi dari para ahli/professional dalam

melakukan penilaian. Harapan logis dari model adalah bahwa perceived need

akan lebih menolong kita dalam pencarian pengobatan. Sedangkan evaluated

need akan lebih dekat menghubungkan untuk jenis jenis

treatment/pengobatan/perlakuan yang akan disediakan setelah seorang pasien

dipertemukan dengan penyedia Pengobatan.

Hipotesis Andersen menyatakan bahwa faktor predisposing, enabling,

dan need akan mempunyai perbedaan kemampuan dalam menjelaskan

penggunaan, tergantung dari tipe pelayanan yang digunakan (Andersen, 1968

dalam Andersen, 1995).

35

2.5. Kerangka Teori

Predisposing Enabling Need

Bagan 2.1

Perilaku Pencarian Pengobatan

Individual Determinants of Health Service Utilization

by Ronald Andersen and John F. Newman (2005)

Demograpic: Age,

Sex, Marital

Status, Past Illness

Social Structure:

Education, Race,

Occupation,

Family Size,

Athnicity, Religion,

Residential

Mobility

Beliefs: Values

Concerning Health

and Illness,

Attitudes Toward

Health Services,

Knowledge About

Disease

Family: Health

Insurance, Type of

Regular Source,

access to Regular

Source

Community: Ratios

of Health

Personnel and

Facilities to

Population, Price

of Health Health

Services, Region of

Country, Urban

Rural Character

Evaluated:

Symptoms,

Diagnoses

Perceieved:

Disability,

Symptoms,

Diagnoses,

General State

Presipi

-tating

factor

Health

Service

Use

36

BAB III

KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL

DAN HIPOTESIS

3.1. Kerangka Konsep

Berdasarkan teori Ronald M. Andersen tentang perilaku pencarian

pengobatan dalam penelitian ini dikhususkan pengobatan tradisional,

beberapa faktor yang diduga mempengaruhi perilaku seseorang

diantaranya, yaitu:

1. Faktor predisposisi, dibagi menjadi 3, yaitu:

A. Demografi, yang meliputi: usia, jenis kelamin, dan status

pernikahan,

B. Struktur sosial, yang meliputi: tingkat pendidikan, pekerjaan,

jumlah anggota keluarga dalam satu rumah, suku/etnis, agama,

serta jarak rumah dengan pengobatan tradisional

C. Kepercayaan, yang meliputi: penilaian tentang sehat dan sakit,

sikap terhadap pengobatan tradisional, serta pengetahuan tentang

pengobatan tradisional.

2. Faktor pendukung, dibagi menjadi 2, yaitu:

A. Keluarga, yang meliputi asuransi atau jaminan kesehatan yang

dimiliki oleh keluarga.

B. Masyarakat, yang meliputi tarif pengobatan tradisional.

37

3. Faktor kebutuhan, dibagi menjadi 2, yaitu:

A. Pandangan subjektif pengobatan pada saat sakit

B. Keadaan penyakit yang dialami sesuai dengan diagnosis medis

38

Bagan 3.1. Kerangka Konsep Penelitian

Predisposisi

Demografi:

1. Usia

2. Jenis kelamin

3. Status pernikahan

Struktur Sosial:

4. Tingkat pendidikan

5. Pekerjaan

6. Jumlah keluarga

7. Suku/etnis

8. Agama

9. Jarak rumah

dengan pengobatan

Kepercayaan:

10. Nilai tentang

sehat dan sakit

11. Sikap terhadap

pengobatan

tradisional

12. Pengetahuan

tentang pengobatan

tradisional

Pendukung

Keluarga:

13. Asuransi/

jaminan kesehatan

Masyarakat:

14. Tarif

pengobatan

tradisional,

Kebutuhan

15. Pandangan

subjektif

pengobatan pada

saat sakit

16. Keadaan

penyakit yang

dialami sesuai

dengan diagnosis

medis

Perilaku

Pencarian

Pelayanan

Kesehatan

Tradisional

39

3.2. Definisi Operasional

Tabel 3.1. Definisi Operasional

Variabel Definisi

Operasional Alat Ukur Cara Ukur Skala Hasil Ukur

Perilaku

Pencarian

Pengobatan

Tradisional

Frekuensi

responden

mengakses

pengobatan

tradisional pada

saat mengalami

gangguan

kesehatan.

Kuesioner Wawancara Ordinal

1. Jarang

2. Kadang

kadang

3. Sering

Usia

Lamanya hidup

responden yang

dihitung

dari tahun lahir

sampai

ulang tahun

terahir.

Kuesioner Wawancara Ordinal 1. 30 tahun

2. > 30 tahun

Jenis

Kelamin

Kondisi biologis

reponden sejak

dilahirkan.

Kuesioner Wawancara Ordinal

1.Pria

2.Wanita

Status

Pernikahan

Data yang

dimiliki oleh

responden pada

saat

pengambilan

data

berdasarakan

data yang

terdaftar dalam

pencatatan sipil

terkait dengan

pernikahannya.

Kuesioner Wawancara Ordinal

1.Sudah

Menikah

2.Belum

Menikah

3.Duda/Janda

Tingkat

Pendidikan

Jenis pendidikan

formal yang

terakhir yang

diselesaikan

oleh responden

Kuesioner Wawancara Ordinal

1.Rendah

(tidak sekolah

sampai SMA)

2.Tinggi (D3

sampai S3)

Pekerjaan

Aktivitas atau

rutinitas yang

dilakukan

sebagai profesi

Kuesioner Wawancara Nominal

1.Tidak

Bekerja/

Pensiunan

40

untuk memenuhi

kebutuhan

sehari hari.

2.Pegawai

Negeri Sipil

atau TNI atau

POLRI

3.Pegawai/

Karyawan

Swasta

4.Wiraswasta/

Pedagang

5.Buruh/

Pekerja Kasar

Jumlah

Anggota

Keluarga

Total anggota

keluarga yang

tinggal dalam

satu rumah

dengan

responden.

Kuesioner Wawancara Ordinal

1.Baik ( 4

orang)

2.Buruk (> 4

orang)

Suku/ Etnis

Suku bangsa

yang dimiliki

oleh responden

Kuesioner Wawancara Nominal

1.Suku Betawi

2.Suku Jawa

3.Suku Batak

4.Suku Melayu

5.Suku Sunda

6.Etnis

Tionghoa

7.Suku Bali

Agama

Ajaran atau

kepercayaan

yang diakui di

Indonesia dan

menjadi

keyakinan oleh

responden

Kuesioner Wawancara Nominal

1.Islam

2.Kristen

Katolik

3.Protestan

4.Budha

5.Hindu

6.Konghuchu

Jarak Rumah

dengan

Pengobatan

Tradisional

Seberapa jauh

responden dari

rumahnya ke

pengobatan

yang menjadi

rujukan pada

saat sedang

sakit.

Kuesioner Wawancara Nominal 1.Dekat

2.Jauh

Nilai tentang

Kesehatan

dan Penyakit

Pandangan

responden

terhadap suatu

penyakit

Kuesioner Wawancara Ordinal

1.Baik

2.Sedang

3.Buruk

41

Sikap

Terhadap

Pengobatan

Tradisional

Respon yang

timbul dalam

menghadapi

pengobatan

Kuesioner Wawancara Ordinal

1. Buruk

(33,65)

2. Baik

(>33,65)

Pengetahuan

Tentang

Pengobatan

Tradisional

Pengetahuan

yang dimiliki

oleh responden

tentang

pengobatan

tradisional pada

saat

pengambilan

data penelitian

Kuesioner Wawancara Ordinal

1. Rendah

(59,7)

2. Tinggi

(>59,7)

Asuransi

atau Jaminan

Kesehatan

Keluarga

Jaminan

kesehatan untuk

menanggung

biaya

pengobatan

yang dimiliki

oleh anggota

keluarga.

Kuesioner Wawancara Ordinal 1.Ada

2.Tidak ada

Tarif

Pengobatan

Tradisional

Biaya yang

dikenakan pada

saat melakukan

pemeriksaan

kesehatan/

berobat

Kuesioner Wawancara Ordinal

1.Tinggi

2.Sedang

3.Rendah

Pandangan

Subjektif

Terhadap

Penyakit.

Persepsi

responden

terhadap

gangguan

kesehatan yang

pernah dialami

oleh responden

Kuesioner Wawancara Ordinal

1. Buruk

(3,76 )

2. Baik(>3,76 )

Keadaan

Penyakit

Berdasarkan

Diagnosis

Medis

Pernyataan

responden

mengenai

keluhan yang

dirasakan

terhadap gejala

gejala

gangguan

kesehatan.

Kuesioner Wawancara Nominal

1. Masalah pada otot

dan sendi

2. Kolesterol tinggi

3. Asam urat 4. Diabetes 5. Stroke 6. Reumatik

42

3.3. Hipotesis

Berdasarkan kerangka konsep yang telah dibuat dalam penelitian ini,

rumusan hipotesis peneliti adalah:

1. Ada hubungan antara faktor predisposisi (usia, jenis kelamin, status

pernikahan, pendididikan, pekerjaan, jumlah keluarga, suku/etnis, agama,

jarak rumah dengan pengobatan tradisional, penilaian tentang sehat dan

sakit, sikap terhadap pengobatan, dan pengetahuan tentang pengobatan)

dengan perilaku pengobatan tradisional masyarakat,

2. Ada hubungan antara pendukung faktor (asuransi kesehatan dan tarif

pengobatan) dengan perilaku pengobatan tradisional masyarakat,

3. Ada hubungan antara faktor kebutuhan (pandangan subjektif terhadap

penyakit yang pernah dialami dan keadaan penyakit yang dialami sesuai

dengan diagnosis medis) dengan perilaku pengobatan tradisional

masyarakat.

43

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif

dengan desain penelitian cross sectional, dimana pengumpulan data dan

pengukuran variabel independen dan variabel dependen dilakukan pada

waktu yang bersamaan. Lalu dari data yang terkumpul dilakukan uji

statistik dengan uji chi square. Pemilihan desain ini didasarkan pada

tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui faktor faktor yang

berhubungan terhadap perilaku pencarian pelayanan kesehatan tradisional

masyarakat urban di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014.

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2014 di wilayah

Cengkareng, Jakarta Barat.

4.3. Populasi dan Sampel

4.3.1. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah semua orang dewasa

yang bertempat tinggal di Cengkareng serta pernah melakukan

pencarian pelayanan kesehatan (pengobatan) tradisional.

44

4.3.2. Sampel Penelitian

Sampel pada penelitian ini adalah sebagian orang dewasa

yang bertempat tinggal di Cengkareng serta pernah melakukan

pencarian pelayanan kesehatan (pengobatan) tradisional.

Teknik sampling atau teknik pengambilan sampel yang

digunakan yaitu purposive dengan karakteristik responden yaitu:

orang dewasa yang pernah melakukan pencarian pelayanan

kesehatan tradisional. Untuk mendapatkan jumlah sampel, peneliti

menggunakan rumus uji hipotesis beda dua proporsi (Lemeshow,

1997) sebagai berikut :

n = {Z1-/2 2P (1-P) + Z1- P1 (1 - P1) + P2 (1 - P2)}2

(P1 - P2)

2

Keterangan:

n = Besar sampel

Z1-/2 = Derajat kemaknaan (5%)

Z1- = Kekuatan uji (95%)

P1 = Proporsi masyarakat yang menggunakan pelayanan

kesehatan tradisional

P2 = Proporsi masyarakat yang tidak menggunakan pelayanan

kesehatan tradisional

45

Tabel 4.1. Jumlah Sampel

Penelitian Variabel P1 P2 Jumlah

Sampel

Tiomarni Lumban Gaol

(2013)

Akses pelayanan kesehatan

pada saat sakit 0,319 0,681 47

Inggit Meliana

Anggarini (2004)

Pengetahuan tentang

pelayanan kesehatan

tradisional

0,635 0,365 86

Inggit Meliana

Anggarini (2004)

Keyakinan dalam

menggunakan pelayanan

kesehatan tradisional

terhadap efek penyembuhan

0,646 0,354 74

Berdasarkan perhitungan sampel dengan beberapa nilai P dari

penelitian terdahulu, maka jumlah sampel yang akan diambil dalam

penelitian ini adalah jumlah sampel penelitian ini adalah 86 responden.

Dari jumlah tersebut ditambah 10% dari total responden, yaitu sebanyak 9

orang. Hal ini untuk mengantisipasi adanya bias. Maka jumlah

keseluruhan sampel adalah 95 responden.

Berdasarkan data kependudukan yang bersumber dari Sensus

Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, jumlah penduduk dan

pembagian responden berdasarkan kelurahan kelurahan yang terdapat di

wilayah kecamatan Cengkareng pada tahun 2010, yaitu:

Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Kecamatan Cengkareng

No. Kelurahan Jumlah

Penduduk Persentase

Jumlah

Responden

1. Duri Kosambi 86.352 16,80 % 16

2. Rawa Buaya 71.231 13,86 % 13

3. Kedaung Kali Angke 36.821 7,17 % 8

4. Kapuk 160.083 31,15 % 30

5. Cengkareng Timur 87.293 16,98 % 16

6. Cengkareng Barat 72.140 14,04 % 12

Total 513.920 100 % 95

46

Setelah ditentukan jumlah sampel yang harus diambil pada masing

masing kelurahan, maka ditentukan sampel akan diambil pada tempat

tempat pengobatan tradisional yang ada di masing masing kelurahan

dengan kriteria:

1. Memiliki ahli pengobatan tradisonal yang sudah memiliki izin dari

Puskesmas atau sudah tergabung dalam Asosiasi Pengobat Tradisional

Indonesia.

2. Memiliki keturunan sebagai keluarga pengobat tradisional ramuan secara

turun - temurun.

Berdasarkan kriteria tersebut terdapat 6 tempat pengobatan

tradisional yang dijadikan tempat untuk pengambilan sampel, yaitu:

1. Duri Kosambi: Ramuan Tradisional Taman Sringanis

2. Rawa Buaya: Klinik Akupunktur Shinse Stephen Pang

3. Kedaung Kali Angke: Pengobatan Tradisional Al Hikmah Darul Ibtida

4. Kapuk: Pengobatan Tradisional Mbah Kyai Agung

5. Cengkareng Timur: TCM Anmo Peter Cung

6. Cengkareng Barat: TCM Shinse Jiang Taman Palem Lestari

4.4. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian ini adalah lembar kuesioner yang berisi 99

pertanyaan untuk menjawab semua variabel penelitian. Pertanyaan pada

kuesioner tersebut adalah perilaku pencarian pelayanan kesehatan

tradisional, usia, jenis kelamin, status pernikahan, tingkat pendidikan,

pekerjaan, jumlah keluarga yang tinggal dalam satu rumah, suku/etnis,

agama, jarak rumah dari pelayanan kesehatan tradisional, penilaian tentang

47

sehat dan sakit, sikap terhadap pelayanan kesehatan tradisional,

pengetahuan tentang pelayanan kesehtaan tradisional, kepemilikan

asuransi/jaminan kesehatan, tarif pelayanan kesehatan tradisional,

pandangan subjektif masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tradisional,

keadaan penyakit pada saat berobat ke pelayanan kesehatan tradisional.

Pada item kuesioner yang menggunakan jawaban benar dan salah,

menggunakan skoring 1 untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah.

Item kuesioner yang menggunakan 4 poin skala Likert mulai dari sangat

tidak setuju hingga sangat setuju dan skoring diberikan dengan ketentuan

seperti dalam tabel 4.3. Dalam menentukan cut of point dari total skor

yang didapatkan untuk masing masing variabel yang belum memiliki cut

of point yang trerdapat pada definisi operasional maka ditentukan

berdasarkan nilai rata rata dari total skor yang didapatkan.

4.5 Uji Validitas dan Realibitas

4.5.1. Uji Validitas

Uji validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur

itu mengukur apa yang di ukur. Perhitungan dilakukan dengan

rumus korelasi Product Moment kemudian membandingkan antara

nilai korelasi atau r hitung dari variabel penelitian dengan r tabel.

Rumus korelasi Product Moment (Korelasi Pearson) adalah

(Sugiyono, 2007) :

r hitung=

48

Keterangan :

r = Koefisien korelasi

N = jumlah responden

X = skor tiap item pertanyaan

Y = skor total

XY = hasil kali skor X dan Y untuk setiap responden

X2 = kuadrat skor tiap item pertanyaan

Y2 = kuadrat skor total

Keputusan hasil dengan melihat r hitung. Pengujian validitas

dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :

1. Jika rhitung>rtabel, maka pertanyaan dinyatakan valid.

2. Jika rhitung 0.3494 (N = 30) dan memiliki p value 0.05 maka

pertanyaan pada kuesioner yang digunakan sebagai instrumen

penelitian ini dapat dinyatakan valid dan dapat digunakan pada saat

pengambilan data.

49

4.5.2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas adalah suatu cara untuk melihat apakah alat

ukur dalam hal ini kuisioner akan memberikan hasil yang sama

apabila pengukuran dilakukan secara berulang-ulang. Pengukuran

variabel hanya dilakukan sekali saja dan kemudian hasilnya

dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar

jawaban pertanyaan. Pengukuran reliabilitas menggunakan uji

statistik yang dilihat dari nilai Cronbach alpha dengan

menggunakan bantuan komputer. Pengujian dilakukan dengan

menggunakan software uji statistik.

Pengujian reliabilitas dilakukan dengan kriteria sebagai

berikut:

a. Jika r alpha> r tabel, maka kuesioner reliabel.

b. Jika r alpha< r tabel, maka kuesioner tidak reliabel.

Rumus yang digunakan dalam uji ini adalah rumus Cronbach

Alpha sebagai berikut:

ri =

Keterangan :

ri = koefisien reliabilitas yang dicari

K = banyaknya item pertanyaan

Si 2 = jumlah varians item

50

St 2 = varians pertanyaan

Hasil uji coba ini menunjukkan nilai alpha sebesar 0,753.

Dengan merujuk pada pendapat Inggit Meliana Anggarini (2004)

Kuesioner atau angket yang berisi pertanyaan pertanyaan

penelitian dinyatakan reliable jika memiliki nilai Cronbach alpha

> 0,6. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa

instrumen yang telah diujicobakan ini reliable karena mempunyai

nilai alpha > 0,6.

4.6. Cara Pengambilan Data

Data yang diambil pada penelitian ini adalah data primer. Data

yang diambil langsung dari sumbernya dan dikumpulkan melalui kuesioner

yang disebarkan oleh peneliti dan diisi langsung oleh responden atau

dibantu