Cushing_syndrome Jadi Jadi

Click here to load reader

  • date post

    24-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    34
  • download

    4

Embed Size (px)

description

tge7

Transcript of Cushing_syndrome Jadi Jadi

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangTransplantasi hati pada dasarnya adalah mengganti hati yang rusak dengan hati yang sehat untuk lebih meningkatkan angka harapan hidup pasien-pasien dengan penyakit hati akut ataupun kronik yang mengalami kegagalan fungsi. Saat ini banyak kemajuan dibidang tranplantasi hati baik itu dari segi tehnik operasi yang dilakukan ataupun obat- obatan imunosupresi yang diberikan. Apabila dilakukan dengan baik maka survival rate pasien yang menjalani tranplantasi hati akan mencapai 90-95 % dalam satu tahun dan 65- 85 % dalam lima tahun(1,2).Tranplantasi hati pada manusia pertama kali dilakukan pada tahun 1963 oleh Thomas Starzl di Denver Colorado. Sampai tahun 1983 tranplantasi hati masih berstatus eksperimental dan setelah ditemukannya obat imunosupresi baru, merubah sejarah tranplantasi hati. Penemuan Siklosporin pada penelitian klinis yang dilaksanakan oleh Roy Calne dari University Cambridge London terjadi perubahan keberhasilan yang besar, survival rate dari 30% meningkat menjadi 70 %. Penemuan obat imunosupresi yang baru seperti takrolimus dan interleukin -2 reseptor bloker telah mempercepat perkembangan kemajuan tranplantasi hati, dimana survival rate 1 tahun menjadi 85-90 % sedangkan untuk 5 tahun 65-75 %. Sejak tahun 1983 status tranplantasi hati sudah dianggap dan diterima sebagai terapi definitif untuk penyakit hati terminal. Perbaikan selanjutnya terjadi pada tahun 1986 dengan penemuan antibodi monoklonal(3).Di Amerika serikat lebih dari 6.000 tranplantasi hati dilakukan setiap tahunnya sedangkan di Indonesia transplantasi hati pertamakali dan dilakukan di RS PuriIndah Jakarta pada Desember 2010 dimana teknik yang digunakan pada operasi ini adalahliving donor liver transplant dimana dalam teknik ini digunakan hati dari orang hidup.Transplantasi hati adalah operasi tingkat tinggi dan di Indonesiamasih tergolong baru(4,5). Tantangan utama dalam tranplantasi hati adalah jurang yang semakin besar antara jumlah donor yang tersedia dan banyaknya penderita calon tranplantasi yang menunggu, jumlah ini diperbesar dengan adanya kasus yang kambuh setelah tranplantasi hati. United Network for Organ Sharing (UNOS) melaporkan di USA pada tahun 1999 terdaftar sejumlah 14.709 untuk tindakan tranplantasi tetapi hanya terdapat 4.527 donor hati oleh karena itu perlu dilakukan pemilihan pasien-pasien yang akan menjadi kandidat untuk tranplantasi hati(3,6)Beberapa kriteria telah dipergunakan untuk menilai tingkat beratnya penyakit hati seperti: klasifikasi kriteria Child-Turcoaate Pugh (CTP), kriteria model prognosis penyakit hati tahap akhir model for end stage of liver disease (MELD), atau adanya keadaan dan kondisi yang kurang baik sebagai akibat dari komplikasi penyakit. Salah satu contoh kriteria yang sangat sering di pergunakan untuk menilai tingkat beratnya penyakit adalah sistem skor CTP. Seorang penderita dinyatakan mempunyai klas A jika ia mempunyai skor kurang dari 7, klas B jika skor berkisar 7-9 dan termasuk klas C jika ia mempunyai nilai yang lebih dari 10 poin. Untuk kepentingan masuk dalam daftar tunggu untuk tindakan tranplantasi penderita harus mempunyai skor 7 atau klas B menurut Child. Namun demikian sekarang sistem skor CTP tidak lagi merupakan dasar utama untuk alokasi organ, karena sekarang harus didasarkan juga pada MELD skor(7). Suatu studi menunjukkan bahwa terjadi peningkatan angka tranplantasi hati dan penurunan angka kematian pasien-pasien yang menunggu untuk dilakukan tranplantasi hati setelah digunakanya MELD skor sebagai suatu metode untuk menentukan pasien- pasien yang akan menjalani tranplantasi hati(8). Menurut American Society of Liver Tranplantation dan AASD ada beberapa kriteria minimal untuk para calon tranplantasi hati antara lain: Kebutuhan yang segera untuk tranplantasi hati, perkiraan masa hidup 1 tahun < 90%, Score Child-Pugh > 7 ( klas B dan C ) dan perdarahan hipertensi portal atau kejadian peritonitis bakterialis spontan. Reperat ini dibuat untuk lebih mengetahui tentang tranplantasi hati pada penderita penyakit hati akut ataupun kronis yang mengalami kegagalan fungsinya.Sindrom cushing adalah kumpulan keadaan klinis yang diakibatkan oleh efek metabolik dari kadar glukokortikoid atau kortisol yang meningkat dalam darah. Nama penyakit ini diambil dari Harvey Cushing seorang ahli bedah yang pertama kali mengidentifikasi penyakit ini pada tahun 1912. Sindrom cushing terjadi akibat kelebihan glukokortikosteroid. Sangat sering terjadi akibat pemberian kortikosteroid terapeutik. (Gleadle, 2003)Kumpulan gejala klinis yang ditemukan yaitu hipertensi, striae, osteoporosis, hiperglikemia, moon face, buffalo hump (penumpukan lemak di area leher, dan lain sebagainya. Gejala klinis yang ditemukan sangat mudah berpengaruh terhadap perkembangan penyakit selanjutnya atau risiko komplikasinya.Prevalensi sindroma cushing ini pada laki-laki sebesar 1:30.000 dan pada perempuan 1: 10.000. Angka kematian ibu yang tinggi pada sindrom cushing desebabkan oleh hipertensi berat sebesar 67%, diabetes gestasional sebesar 30%. Kematian ibu telah dilaporkan sebanyak 3 kasus dari 65 kehamilan dengan sindrom cushing. (Hernaningsih dan Soehita, 2005)Oleh karena itu, untuk mencegah angka kematian khususnya ibu pasca melahirkan dengan sindrom cushing yang semakin bertambah kami mencoba untuk menyusun asuhan keperawatan penyakit sindrom cushing. Kami akan menyusun asuhan keperawatan penyakit sindrom chusing secara umum yang baik.

1.2 Rumusan Masalah1) Apa yang dimaksud dengan transplantasi hati?2) Apa definisi dari sindrom cushing?3) Apa saja etiologi dari sindrom cushing?4) Apa manifestasi klinis dari sindrom cushing?5) Bagaimana patofisiologi dari sindrom cushing?6) Bagaimana pemeriksaan diagnostik pada pasien dengan sindrom cushing?7) Bagaimana penatalaksanaan klien dengan sindrom cushing?8) Komplikasi apa yang dapat terjadi pada sindrom cushing?9) Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan sindrom cushing?

1.3 Tujuan1. Tujuan umumMampu menjelaskan mengenai transplantasi ginjal dan konsep patologis penyakit sindrom cushing dan menyusun asuhan keperawatan pada klien yang mengalami sindrom cushing2. Tujuan khususa. Dapat mengetahui tentang transplantasi ginjalb. Dapat mengetahui konsep anatomi dari kelenjar adrenalc. Dapat mengetahui proses terjadinya dari sindrom cushingd. Mampu mengidentifikasi tanda dan gejala sindrom cushinge. Mampu memahami masalah keperawatan yang sedang terjadi pada klien dengan sindrom cushingf. Dapat merumuskan asuhan keperawatan dari sindrom cushing

1.4 ManfaatBagi mahasiswaMakalah ini dapat dijadikan sebagai salah satu bahan bacaan oleh mahasiswa khususnya keperawatan sebagai informasi mengenai transplantasi hati dan konsep penyakit sindrom cushing dan penyusunan asuhan keperawatan pada klien dengan sindrom cushing yang tepatsehingga dapat meminimalisir angka kejadian cushing sindrom.

BAB 2ANATOMI DAN FISIOLOGI HATI

2.1 Anatomi hatiHati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh, rata-rata sekitar 1500 gram atau 2,5 % berat badan orang dewasa normal. Hati merupakan organ plastis lunak yang tercetak oleh struktur sekitarnya. Permukaan superior adalah cembung dan terletak dibawah kubah kanan diafragma dan sebagian kubah kiri. Bagian bawah hati adalah cekung dan merupakan atap ginjal kanan, lambung, pankreas, dan usus. Hati memiliki dua lobus utama, kanan dan kiri. Lobus kanan dibagi menjadi segmen anterior dan posterior oleh fisura segmentalis kanan yang tidak terlihat dari luar. Lobus kiri dibagi menjadi segmen medial dan lateral oleh ligamentum falsiforme yang dapat dilihat dari luar. Ligamentum falsiforme berjalan dari hati ke diafragma dan dinding depan abdomen. Permukaan hati diliputi oleh peritoneum viseralis, kecuali daerah kecil pada permukaan posterior yang melekat langsung pada permukaan diafragma. Beberapa ligamentum yang merupakan lipatan peritoneum membantu menyokong hati. Dibawah peritonium terdapat jaringan penyambung padat yang dinamakan kapsula Glisson, yang meliputi seluruh permukaan organ, kapsula ini pada hilus atau porta hepatis dipermukaan inferior melanjutkan diri ke dalam massa hati membentuk rangka untuk cabang- cabang vena porta, arteri hepatika, dan saluran empedu.2.1.1 Struktur MikroskopikSetiap lobus hati terbagi menjadi struktur-struktur yang dinamakan lobulus yang merupakan unit miroskopis dan fungsional hati. Setiap lobulus merupakan badan heksagonal yang terdiri atas lempeng- lempeng sel hati berbentuk kubus, tersusun radial mengelilingi vena sentralis. Di antara lempengan sel hati terdapat kapiler- kapiler yang dinamakan sinusoid yang merupakan cabang vena porta dan arteri hepatika. Tidak seperti kapiler lain, sinusoid dibatasi oleh sel fagositik atau sel Kupffer. Sel Kupffer merupakan sistem monosit-makrofag dengan fungsi utamanya adalah menelan bakteri dan benda asing lain dalam darah. Hanya sumsum tulang yang mempunyai massa sel monosit-makrofag yang lebih banyak daripada yang terdapat dalam hati, jadi hati merupakan salah satu organ utama sebagai pertahanan terhadap invasi bakteri dan agen toksik. Selain cabang- cabang vena porta dan arteri hepatika yang melingkari bagian periper lobulus hati, juga terdapat saluran empedu. Saluran empedu interlobular membentuk kapiler empedu yang sangat kecil yang dinamakan kanalikuli dan berjalan ditengah-tengah lempengan sel hati. Empedu yang dibentuk dalam hepatosit dieksresi kedalam kanalikuli yang bersatu membentuk saluran empedu yang makin lama makin besar, hingga menjadi saluran empedu besa(10,11)2.1.2 SirkulasiHati memiliki dua sumber suplai darah yaitu dari saluran cerna dan limfa melalui vena porta dan dari aorta melalui arteri hepatika. Sekitar sepertiga darah yang masuk adalah darah arteri dan sekitar dua pertiga adalah darah dari vena porta. Volume total darah yang melewati hati setiap menit adalah 1500 ml dan dialirkan melalui vena hepatika kanan dan kiri yang selanjutnya bermuara pada vena kava inferior.Vena po