77356300 Laporan Tuberculosis Fix

Click here to load reader

  • date post

    14-Feb-2015
  • Category

    Documents

  • view

    40
  • download

    0

Embed Size (px)

description

tb

Transcript of 77356300 Laporan Tuberculosis Fix

Laporan Presentasi Tugas Kuliah Farmakoterapi TUBERCULOSIS

Disusun Oleh: Indah Prihatin Amalia Priscilla Anita Suci W. Dian Mayasari 11608006 11608017 11608028 11608039

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG SEKOLAH FARMASI FARMASI KLINIK DAN KOMUNITAS 2011

TUBERCULOSIS

I.

DEFINISI TB Tuberkulosis adalah infeksi saluran napas bawah yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang biasa ditularkan melalui inhalasi percikan ludah (droplet), orang-ke-orang, dan mengkolonisasi bronkiolus atau alveolus. Kuman juga dapat masuk ke tubuh melalui saluran cerna, melalui ingesti susu tercemar yang tidak dipasteurisasi, atau kadang-kadang melalui lesi kulit. Apabila bakteri tuberculin dalam jumlah yang bermakna berhasil menembus pertahanan sistem pernapasan dan berhasil menempati saluran napas bawah, maka penjamu akan melakukan respons imun dan peradangan yang kuat. Karena respons yang hebat ini, maka hanya sekitar 5 % orang yang terpajan basil tersebut menderita tuberculosis aktif. Yang bersifat menular bagi orang lain adalah mereka yang mengidap infeksi tuberculosis aktif dan hanya pada masa infeksi aktif.

II.

SEJARAH TB 4000-2000 SM : Penyakit spinal yang disebabkan oleh TB ditemukan pada mumi di Mesir. 460-370 SM : Infeksi TB pada paru-paru disebut dengan phthisis oleh kaum Yunani yang berarti konsumsi, karena menyebabkan pengeluaran yang besar. Abad 17-18 : Insidensi TB meningkat secara signifikan di eropa pada masa industrialisasi dan urbanisasi. Abad 19 : Laju mortalitas di amerika serikat bagian barat rata-rata 400-100.000 populasi. 1882 : Robert Koch mengidentifikasi M.tuberculosis sebagai penyebab TB pada manusia. 1882 : Pembangunan sanatorium di Eropa 1882 : Pembangunan sanatorium di Amerika Serikat 1940 : Penemuan obat anti-TB

III.

EPIDEMIOLOGI TB Berdasarkan sumber data dari Sub Direktorat TB Departemen Kesehatan RI dan World Health Organization, situasi Global TB tahun 2006 adalah sebagai berikut: - Terdapat sekitar 9.2 juta kasus baru TB dan kira-kira 1.7 juta kematian karena TB pada tahun 2006. - India, Cina dan Indonesia berkontribusi lebih dari 50% dari seluruh kasus TB yang terjadi di 22 negara dengan beban berat TB: Indonesia menempati peringkat ke-3 setelah India dan Cina (lihat gambar 1).

Penanggulangan Tuberculosis (TB) di Indonesia hingga tahun 2010 sudah lebih baik, hal ini terlihat dari peringkat negara dengan kasus TB terbanyak yang menurun menjadi urutan ke-5, sebelumnya urutan ke-3 (tahun 2007). IV. INSIDENSI DAN PREVALENSI TB Berdasarkan Global Tuberculosis Control Tahun 2009 (data tahun 2007) angka prevalensi semua tipe kasus TB, insidensi semua tipa kasus TB dan Kasus baru TB Paru BTA Positif dan kematian kasus TB dapat dilihat di tabel. Tabel : Angka Prevalensi, Insidensi dan Kematian, Indonesia, 1990 dan 2009

Sumber: Global Report TB, WHO, 2009 (data tahun 2007) Berdasarkan tabel 1 tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2007 prevalensi semua tipe TB sebesar 244 per 100.000 penduduk atau sekitar 565.614 kasus semua tipe TB, insidensi semua tipe TB sebesar 228 per 100.000 penduduk atau sekitar 528.063 kasus semua tipe TB, Insidensi kasus baru TB BTA Positif sebesar 102 per 100.000 penduduk atau sekitar 236.029 kasus baru TB Paru BTA Positif sedangkan kematian TB 39 per 100.000 penduduk atau 250 orang per hari.

Angka penjaringan suspek Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya di antara 100.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam satu tahun. Angka penjaringan suspek ini digunakan untuk mengetahui upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu, dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu (triwulan/tahunan). Berdasarkan grafik angka penjaringan suspek tersebut di atas secara umum menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, khususnya mulai tahun 2003 sampai dengan tahun 2006 terjadi peningkatan secara signifikan, meskipun pada tahun 2007 dan 2009 terjadi penurunan. Pada tahun 2007 terjadi penurunan sebesar 82 per 100.000 penduduk dibandingkan dari tahun 2006 dan tahun 2009 terjadi penurunan sebesar sebesar 7 per 100.000 penduduk dibandingkan tahun 2008. Untuk tahun 2010 triwulan 1 dibandingkan dengan tahun 2009 triwulan 1 terjadi penurunan sebesar 7 per 100.000 penduduk.

Jumlah kasus baru TB Paru BTA Positif yang terbesar adalah kelompok umur 15-54 tahun sedangkan yang tertinggi pada kelompok umur 25-34 tahun. Untuk kelompok umur 0-4 tahun masih terdapat pasien baru TB Paru BTA positif.

Proporsi pasien baru TB Paru BTA positif menurut jenis kelamin dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2010 triwulan 1 yang terbesar adalah jenis kelamin laki-laki. Sedangkan bila dibandingan antara tahun 2010 triwulan 1 dengan tahun 2009 triwulan 1 untuk jenis kelamin lakilaki terjadi penurunan jumlah kasus baru TB paru BTA positif begitu juga untuk jensi kelamin perempuan juga terjadi penurunan jumlah kasus baru TB paru BTA positif. V. ETIOLOGI TB M.tuberculosis adalah anggota dari genus Mycobacteriaceae, ordo actinomycetales. Merupakan bagian dari Mycobacterium complex, anggota lainnya adalah M. ulcerans, yang juga merupakan pathogen bagi manusia, dan M. bovis yang menyebabkan TB pada sapi dan binatang lainnya. M. bovis juga dapat menyebabkan penyakit pada manusia melalui kontak secara ekstensif dengan hewan yang terinfeksi atau dapat ditransmisikan melalui susu yang tidak terpasteurisasi. Mycobacteria berbentuk batang, tidak membentuk spora, pertumbuhan lambat (4-6 minggu), aerobik. M.tuberculosis mengandung banyak substansi imunoreaktif, seperti permukaan lipd dan komponen larut-air dari dinding sel peptidoglikan, yang berperan dalam interaksi dengan makrofag. Mycobacteria mengandung beberapa protein dan antigen polisakarida yang berperan dalam patogenitas TB.

PROSES TRANSMISI Dari paparan ke infeksi M.tuberculosis dapat terpapar dari inhalasi partikel udara yang terinfeksi, yang disebut dengan droplet nuclei, yang berukuran cukup kecil (1-5 m) untuk dapat meraih ruang udara dalam alveolar. Pasien dengan TB aktif mengeluarkan droplet tersebut melalui batuk, bersin, atau berbicara; partikel tersebut dapat bertahan di udara selama beberapa jam, sehingga orang lain dapat terpapar melalui kontak udara. Faktor yang dapat menentukan kemungkinan infeksi adalah keintiman dan durasi dari kontak, tingkat infeksi, dan perlawanan dari host. Tempat yang ramai dan ventilasi yang buruk akan menyebabkan kemungkinan besar dalam transmisi TB karena semakin besar intensitas bakteri dan kontak. Dari infeksi ke penyakit Resiko perkembangan menjadi penyakit setelah terinfeksi terutama bergantung pada faktor endogen, seperti kemampuan imunitas individual. Infeksi kadang juga dapat menyebabkan gejala klinik, yang disebut dengan TB primer, umumnya terjadi pada bayi dan anak-anak. TB jenis ini pada umumnya berbahaya tetapi tidak dapat bertransmisi. Ketika terjadi infeksi di kemudian hari, kemungkinan besar sistem imun sudah mengenalinya, setidaknya untuk sementara. Mayoritas dari individu yang pernah terinfeksi dapat berkembang menjadi TB setelah satu atau dua tahun setelah terinfeksi. Bacili dapat bersifat dorman, dapat bertahan selama bertahun-tahun sebelum reaktivasi atau muncul tuberculosis sekunder, yang pada umumnya menular.

VI.

PATOFISIOLOGI TB Setelah droplet nuclei terinhalasi dari individu yang terinfeksi, akan terjadi interaksi antara M.tuberculosis dengan inang (manusia). Mayoritas mikroorganisme yang terinhalasi akan ditangkap oleh mekanisme dari mucociliary pada bronchial dan kemudian akan dapat dikeluarkan. Meskipun begitu, fraksi kecil (pada umumnya lebih kecil dari 10%) dapat mencapai alveoli. Perkembangan dari infeksi akan bergantung pada tingkat virulensi dari bakteri dan kemampuan dari makrofag inang untuk melawan bakteri. Bila bakeri dapat bertahan, mereka akan membelah secara lambat, yaitu tiap sekitar 25-32 jam dalam makrofag alveolar, pertumbuhannya akan membunuh makrofag, menyebabkan terjadinya lisis. Basil akan dikeluarkan dari makrofag yang lisis dan akan dicerna oleh monosit yang distimulus oleh faktor kemotaktik. Pada umumnya, tidak terdapat gejala klinik pada tahap ini. Karena basil M.tuberculosis sangat sulit dimatikan apabila telah mengkolonisasi saluran napas bawah, maka tujuan respons imun adalah lebih untuk mengepung dan mengisolasi basil bukan untuk mematikannya. Respons melibatkan sel T serta makrofag. Makrofag, sel T, dan jaringan fibrosa mengelillingi basil dan membentuk lesi granulomatous (yang disebut juga sebagai tuberkel). Respon ini menyebabkan pembelahan mycobacterial menjadi terhambat dan menyebabkan adanya pembentukan nekrosis pada pusat lesi tuberkel. Basil dapat bertahan dalam lesi, tetapi tekanan O2 yang rendah dan pH yang rendah dalam nekrosis lesi akan menghambat pertumbuhan bakteri. Pada tahap ini, beberapa lesi akan berfibrosis, kalsifikasi, dan sembuh. Tuberkel tersebut disebut kompleks Ghon, yang dapat dilihat pada pemeriksaan sinar-X toraks. Sedangkan beberapa tuberkel, sebelum ingesti bakteri selesai, mengalami perlunakan caseous necrosis. Pada saat ini,

mikroorganisme hidup dapat memperoleh akses ke sistem trakeobronkus dan menyebar melalui udara ke orang lain. Meskipun proses penyembuhan terjadi, mycobacteria dapat bertahan dalam makrofag selama beberapa tahun. Diperkkirakan bahwa karena viabilitas ini, sekitar 5-10% individu yang pada awalnya tidak menderita tuberculosis mungkin pada suatu saat dalam hidupnya akan menderita penyakit tersebut. Kerusakan paru akibat infeksi disebabkan oleh basil serta reaksi imun dan peradangan yang hebat. Edema interstisium dan pembentukan jaringan parut permanen di alveolus meningkatkan jarak untuk difusi oksigen dan karbon dioksida sehingga pertukaran gas menurun. Pembentukan jaringan parut dan tuberkel juga mengurangi luas permukaan yang tersedia untuk difusi gas sehingga kapasitas difusi paru menurun. Timbul kelainan V/Q yang, apabila penyakitnya cukup luas, dapat menimbulka