Refarat Fisiologi Kehamilan

Click here to load reader

  • date post

    15-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    38
  • download

    1

Embed Size (px)

description

Tugas Baca Koas Obgyn FK UNPATTI

Transcript of Refarat Fisiologi Kehamilan

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI REFERATFAKULTAS KEDOKTERAN NOVEMBER 2015UNIVERSITAS PATTIMURA

FISIOLOGI KEHAMILAN

Disusun Oleh:Aisyah A Z R Wattimena2009-83-043Supervisor :dr. Novy Riyanti, Sp.OG, M. Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIKPADA BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGIFAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS PATTIMURAAMBON2015

FISIOLOGI KEHAMILAN

1. Definisi fisologi kehamilanMenurut Federasi Obstertri dan Ginekologi Internasional, kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Dihitung dari saat fertilisasi sampai kelahiran bayi, kehamilan normal biasanya berlangsung dalam waktu 40 minggu. Usia kehamilan tersebut dibagi menjadi 3 trimester yang masing-masing berlangsung dalam beberapa minggu. Trimester 1 selama 12 minggu, trimester 2 selama 15 minggu (minggu ke-13 sampai minggu ke-27), dan trimester 3 selama 13 minggu (minggu ke- 28 sampai minggu ke-40).1,2

2. Fertilisasi ovum dan pembelahan zigotUntuk terjadi kehamilan harus ada spermatozoa , ovum, pembuahan ovum (konsepsi), dan nidasi (implantasi) hasil konsepsi. Setiap spermatozoa terdiri atas 3 bagian yaitu kaput atau kepala yang berbentuk lonjong agak gepeng dan mengandung bahan nucleus, ekor, dan bagian yang silindrik (leher) menghubungkan kepala dengan ekor. Dengan getaran ekornya spermatozoa dapat bergerak cepat. Ovulasi membebaskan oosit sekunder dan sel aderen pada kompleks oosit cumulus dari ovarium. Meskipun secara teknis ini massa sel dilepaskan ke dalam rongga peritoneum, oosit cepat ditelan oleh fimbriae infundibulum dari tuba fallopi. Transportasi lebih lanjut melalui saluran telur dilakukan dengan gerakan arah silia dan peristaltik tuba. Ovum dilingkari oleh zona pelusida. Diluar zona pelusida ini ditemukan sel-sel korona radiata dan didalamnya terdapat perivititelina, tempat benda-benda kutub. Bahan-bahan dari sel-sel korona dapat disalurkan ke ovum melalui saluran saluran halus di zona pelusida. Jumlah sel-sel korona radiata di dalam perjalanan ovum di ampula tuba makin berkurang, sehingga ovum hanya dilingkari oleh zona pelusida pada waktu berada dekat pada perbatasan ampula dan isthmus tuba, tempat pembuahan umumnya terjadi.1,2,3,4Jutaan spermatozoa ditumpahkan di forniks vagina dan disekitar porsio pada waktu koitus. Hanya beberapa ratus ribu spermatozoa dapat terus ke kavum uteri dan tuba, dan hanya beberapa ratus dapat sampai ke bagian ampula tuba dimana spermatozoa dapat memasuki ovum yang telah siap untuk dibuahi. Hanya satu spermatozoa yang mempunyai kemampuan (kapasitasi) untuk membuahi. Pada spermatozoa ditemukan peningkatan konsentrasi DNA di nukleusnya, dan kaputnya lebih mudah menembus dinding ovum oleh karena diduga dapat melepaskan hialuronidase.1,2,4Gambar 1. Proses Fertilisasi

Fertilisasi (pembuahan) adalah penyatuan ovum (oosit sekunder) dan spermatozoa yang biasanya berlangsung di ampula tuba. Fertilisasi meliputi penetrasi spermatozoa ke dalam ovum, fusi spermatozoa dan ovum diakhiri dengan fusi materi genetic. Hanya satu spermatozoa yang telah mengalami proses kapasitasi mampu melakukan penetrasi membran sel ovum. Untuk mencapai ovum, spermatozoa harus melewati korona radiata (lapisan luar sel ovum) dan zona pelusida (suatu bentuk glikoprotein ekstraseluler), yaitu dua lapisan yang menutupi dan mencegah ovum mengalami fertilisasi lebih dari satu spermatozoa. Suatu molekul komplemen khusus di permukaan kepala spermatozoa kemudian mengikat ZP3 glikoprotein di zona pelusida. Pengikatan ini memicu akrosom melepaskan enzim yang membantu spermatozoa menembus zona pelusida.1,2,3,4Pada saat spermatozoa menembus zona pelusida terjadi reaksi korteks ovum. Granula korteks di dalam ovum (oosit sekunder) berfusi dengan mebran plasma sel, sehingga enzim di dalam granula-granula dikeluarkan secara eksositosis ke zona pelusida. Hal ini yang menyebabkan glikoprotein di zona pelusida berikatan satu sama lain membentuk suatu materi yang keras dan tidak dapat ditembus spermatozoa. Proses ini mencegah ovum dibuahi lebih dari satu sperma.1,2Pembuahan ini akan membentuk zigot yang terdiri dari bahan genetik dari perempuan dan laki-laki. Pada manusia terdapat 46 kromosom otosom dan 2 kromosom kelamin; pada seorang laki-laki satu X dan satu Y. Sesudah pembelahan kematangan, maka ovum matang mempunyai 22 kromosom otosom dan 1 kromosom X atau 22 kromosom otosom serta 1 kromosom Y. Zigot sebagai hasil pembuahan yang memiliki 44 kromosom otosom serta 2 kromosom X maka tumbuh sebagai janin perempuan, sedangkan yang memiliki 44 kromosom otosom serta 1 kromosom X dan 1 kromosom Y akan tumbuh sebagai janin laki-laki. 1,2Dalam beberapa jam setelah pembuahan terjadi, mulailah pembelahan zigot. Hal ini dapat berlangsung oleh karena sitoplasma ovum mengandung banyak zat asam amino dan enzim. Segera setelah pembelahan ini terjadi, pembelahan-pembelahan selanjutnya berjalan dengan lancar, dalam 3 hari terbentuk suatu kelompok sel yang sama besarnya. Hasil konsepsi berada dalam stadium morula dimana kelompok sel tersebut menyerupai buah murbei. Dalam morula terbentuk suatu rongga yang disebut eksoselom. Rongga ini terletak tidak tidak ditengah-tengah, tetapi eksentris. Dengan demikian sel morula saat ini terbagi menjaadi 2 jenis. 1) sel-sel yang terletak di sebelah luar, yang merupakan dinding dari telur disebut trofoblast. Fungsi trofoblast ini adalah untuk mencari makanan bagi sel telur 2) sel-sel yang terletak disebelah dalam, yang merupakan kelompok sel, disebut bintik benih atau nodus embrionale. Bayi akan terbentuk dari sel ini. Kemudian hasil konsepsi disalurkan ke pars ismika dan pars interstitialis tuba (bagian-bagian tuba yang sempit) dan terus disalurkan kearah kavum uteri oleh arus getaran silia pada permukaan sel-sel tuba dan kontraksi tuba. 1,2,3,4

Gambar 2. Pembelahan zigot

3. NidasiSelanjutnya pada hari keempat hasil konsepsi mencapai stadium blastula yang disebut blastokista, suatu bentuk yang dibagian luarnya adalah trofoblast dan dibagian dalamnya disebut masa inner cell. Massa inner cell ini berkembang menjadi janin dan trofoblast akan berkembang menjadi plasenta. Dengan demikian, blastokista diselubungi oleh suatu simpai yang disebut trofoblast. Trofoblast ini sangat kritis untuk keberhasilan kehamilan terkait dengan keberhasilan nidasi (implantasi), produksi hormone kehamilan, proteksi imunitas bagi janin, peningkatan aliran darah maternal ke dalam plasenta dan kelahiran bayi. Sejak trofoblast terbentuk, produksi hormone human chorionic gonadotropin (hCG) dimulai, suatu hormone yang memastikan bahwa endometrium akan menerima (reseptif) dalam proses implantasi embrio. 1,2,3,5

Trofoblast yang mempunyai kemampuan menghancurkan dan mencairkan jaringan menemukan endometrium dalam masa sekresi, dengan sel-sel desidua yang besar-besar dan mengandung lebih banyak glikogen serta mudah dihancurkan oleh trofoblast. Nidasi diatur oleh suatu proses yang kompleks antara trofoblas dan endometrium. Di satu sisi trofoblast mempunyai kemampuan invasi yang kuat, disisi lain endometrium mengontrol trofoblast dengan menyekresikan faktor-faktor yang aktif lokal yaitu inhibitor cytokines dan protease. Keberhasilan nidasi dan plasentasi yang normal adalah hasil keseimbangan proses antara trofoblast dan endometrium. Trofoblas ekstravili ditemukan di luar villus dan dapat dibagi dalam kategorii endovascular dan interstitial. Trofoblas endovascular menyerang dan mengubah spiral arteri selama kehamilan untuk membuat aliran darah resistansi rendah yang merupakan karakteristik dari plasenta. Sedangkan trofoblas interstitial menyerang desidua dan mengelilingi arteri spiral ibu. 1,2,3,5

Gambar 3. Trofoblast ekstraseluler yang mengilingi arteri spiral.

Kelainan dalam optimalisasi aktivitas trofoblast dalam proses nidasi akan berlanjut dengan berbagai penyakit dalam kehamilan. Apabila invasi trofoblast ke arteri spiralis maternal lemah atau tidak terjadi, maka arus darah uteroplasenta rendah dan menimbulkan sindrom preeklampsia. Kondisi ini akan menginduksi plasenta menyekresikan substansi vasoaktif yang memicu hipertensi maternal. Kenaikan tekanan darah ibu dapat merusak arteri spiralis dan tersumbat, sehingga terjadi infark plasenta. Sebaliknya, invasi trofoblast yang tidak terkontrol akan menimbulkan penyakit trofoblast gestational seperti mola hidatidosa dan koriokarsinoma. 1,2Dalam tingkat nidasi, trofoblast antara lain menghasilkan hormon hCG. Produksi hormone hCG meningkat sampai kurang lebi hari ke-60 kehamilan untuk kemudian turun lagi. Diduga bahwa fungsinya ialah mempengaruhi korpus luteum untuk tumbuh terus dan menghasilkan terus progesterone, sampai plasenta dapat membuat cukup progesterone sendiri. Hormon korionik gonadotropin inilah yang khas untuk menentukan ada tidaknya kehamilan. Hormone tersebut dapat ditemukan dalam air kemih ibu hamil. 1,2,3Nidasi terjadi 6 atau 7 hari pascafertilisasi. Pada umumnya blastokista masuk di endometrium dengan bagian di mana massa inner-cell berlokasi. Dikemukakan bahwa hal inilah yang menyebabkan tali pusat berpangkal sentral atau parasentral. Bila sebaliknya dengan bagian lain blastokista memasuki endometrium, maka terdapatlah tali pusat dengan insersio velamentosa. Umumnya nidasi terjadi di dinding depan ata belakang uterus, dekat pada fundus uteri. Jika nidasi ini terjadi barulah dapat disebut adanya kehamilan. 1,2,5

Gambar 4. Implantasi blastokistaSetelah nidasi berhasil, selanjutnya hasil konsepsi akan bertumbuh dan berkembang di dalam endometrium. Kemudian terjadi diferensiasi sel-sel blastokista. Dalam blastokista terdapat suatu embryonal plate yang dibentuk antara 2 ruangan, yakni ruang amnion dan yolk sac. Pertumbuhan embrio terjadi dari embryonal plate yang selanjutnya terdiri atas tiga unsur lapisan, yakni sel-sel ectoderm, mesoderm dan entoderm. Ruangan amnion kelak akan menjadi besar dan meli