MAKALAH FISIKA FARMASI

Click here to load reader

  • date post

    02-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    1.131
  • download

    54

Embed Size (px)

Transcript of MAKALAH FISIKA FARMASI

MAKALAH FISIKA FARMASI

DISPERSI KOLOIDAL DAN SIFAT-SIFATNYA

OLEH :NAMA: ASRAWALNIM: F1F212009KELOMPOK : I ( SATU)ASSISTEN: SARLAN

JURUSAN S1 FARMASIFAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAMUNIVERSITAS HALUOLEOKENDARI2013BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar BelakangDalam praktek kefarmasian modern adalah sangat penting memahami teori dan teknologi sistem disperse. Meskipun aspek kuantitatif dari subyek ini perkembangannya tidak seperti aspek kuantitatif dari kimia mikromolekular, namun teori-teori yang dapat dikemukakan dalam bidang kimia koloidal sangat membantu dalam mendekati problema-problema yang masih menjadi teka-teki yang timbul dalam penyediaan dan pembuatan emulsi, suspensi, salep, serbuk, dan tablet. Pengetahuan mengenai fenomena interfasial dan sifat-sifat karakteristik koloid dan partikel-partikel kecil merupakan dasar untuk dapat memahami kelakuan sistem disperse farmasi(Moechtar:1989)Sistem terdispersi terdiri dari partikel-partikel kecil yang dikenal sebagai fase terdispers, terdistribusi keseluruh medium kontinu atau medium disperse. Bahan-bahan yang terdispersi bisa mempunyai jangkauan ukuran dari partikel-partikel yang berdimensi atom dan molekul sampai partikel-partikel yang ukurannya diukur dalam millimeter. Oleh karena itu, cara yang paling mudah untuk menggolongkan sistem disperse berdasarkan garis tengah partikel rata-rata dari bahan terdispers(Attwood: )Berdasarkan ukuran partikelnya, sistem dispersi dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu larutan, koloid, dan suspensi. Secara sepintas perbedaan antara suspensi (sering disedbut suspensi kasar) dengan larutan (sering disebut larutan sejati) akan tampak jelas dari homogenitasnya, tetapi akan sulit dibedakan antara larutan dengan koloid atau antara koloid dengan suspensi kasar.Sistem koloid berhubungan dengan proses proses di alam yang mencakup berbagai bidang. Hal itu dapat kita perhatikan di dalam tubuh makhluk hidup, yaitu makanan yang kita makan (dalam ukuran besar) sebelum digunakan oleh tubuh. Namun lebih dahulu diproses sehingga berbentuk koloid. Juga protoplasma dalam sel sel makhluk hidup merupakan suatu koloid sehingga proses proses dalam sel melibatkan sitem koloid.I.2 TujuanMemberikan gambaran tentang sifat-sifat larutan koloid.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian DispersiSistem disperse adalah suatu sistem dimana suatu substansi(fase dispersi) terbagi dalam unit yang berlainan(tersendiri) dalam substansi lain(fase kontinu atau pembawa). Ukuran partikel dalam sistem farmasi adalah lebih dari 10 m (1 m = 10-6 m). Sifat dari sistem disperse koloidal telah banyak dipelajari oleh ilmuwan termasuk ilmuwan farmasi.B. Klasifikasi Sistem Dispersi Klasifikasi sistem disperse berdasarkan ukuran partikel yaitu :1. Dispersi molecularPartikel zat yang didispersikan berukuran lebih kecildari 1 nm. Partikel tidak terlihat dalam mikroskop electron, dapat melewati ultrafiltrasi dan membrane semipermeabel, mengalami difusi cepat. Contohnya seperti larutan.Larutan adalah sistem disperse yang ukuran partikel-partikelnya sangat kecil sehingga tidak dapat dibedakan (diamati) antara partikel pendispersi walaupun menggunakan mikroskop dengan tingkat pembesaran yang tinggi (mikroskop ultra). Tingkatan ukuran partikel larutan adalah molekul atau ion-ion sehingga larutan merupakan campuran yang homogen dan sukar dipisahkan dengan penyaringan dan sentrifuge. Oleh karena ukuran partikel zat terdispersi dengan medium pendispersinya hampir sama maka sifat zat terdispersi dalam larutan akan terpengaruh (berubah) dengan adanya zat terdispersi. Bila ke dalam air ditambahkan garam dapur maka air akan membeku dibawah 00C, semakin banyak garam yang ditambahkan semakin besar penurunan titik bekunya.2. Dispersi kasarUkuran partikel lebih besar dari 0,5 m (). Partikel terlihat dibawah mikroskop; tidak dapat melewati kertas saring normal atau mendialisis melalui membrane semipermeabel; partikel-partikel tidak mendifusi.. Contohnya suspensi. Suspensi merupakan suatu sistem disperse dengan partikel yang berukuran relative besar tersebar merata didalam medium pendispersinya. Pada umumnya sistem disperse merupakan campuran heterogen. Sebagai contoh adalah endapan hasil reaksi atau pasir yang dicampur dengan air. Dalam sistem dispersi tersebut partikel-partikel terdispersi dapat diamati dengan mikroskop atau bahkan dengan mata telanjang. Suspensi merupakan sistem disperse yang tidak stabil, sehingga bila tidak diaduk secara terus menerus akan mengendap akibat gaya gravitasi bumi. Cepat lambatnya suspensi mengendap tergantung besar kecilnya ukuran partikel zat terdispersi. Semakin besar ukuran partikel tersuspensi semakin cepat proses pengendapan terjadi. Pemisahan suspensi dapat dilakukan dengan proses penyaringan (filtrasi).Contoh suspensi adalah pengendapan Fe(OH)3.3. Dispersi koloidNama koloid untuk pertama kali diberikan oleh Thomas Graham pada tahun 1861. Istilah koloid berasal dari bahasa Yunani, yaitu kolla yang berarti lem dan oid yang berarti seperti. Secara harfiah, koloid dapat diartikan seperti lem. Karena, koloid diibaratkan seperti lem dalam hal kemampuan difusinya. Nilai difusi koloid sama rendahnya dengan lem. .Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah). Dimana di antara campuran homogen dan heterogen terdapat sistem pencampuran yaitu koloid, atau bisa juga disebut bentuk (fase) peralihan homogen menjadi heterogen. Campuran homogen adalah campuran yang memiliki sifat sama pada setiap bagian campuran tersebut, contohnya larutan gula dan hujan. Sedangkan campuran heterogen sendiri adalah campuran yeng memiliki sifat tidak sama pada setiap bagian campuran, contohnya air dan minyak, kemudian pasir dan semen. Ukuran partikel koloid berkisar antara 1-100 nm. Ukuran yang dimaksud dapat berupa diameter, panjang, lebar, maupun tebal dari suatu partikel. Contoh lain dari sistem koloid adalah adalah tinta, yang terdiri dari serbuk-serbuk warna (padat) dengan cairan (air). Selain tinta, masih terdapat banyak sistem koloid yang lain, seperti mayones, hairspray, jelly, dll.Larutan adalah campuran homogen antara zat terlarut dan pelarut. Zat terlarut dinamakan juga dengan fasa terdispersi atau solut, sedangkan zat pelarut disebut dengan fasa pendispersi atau solvent, Contohnya larutan gula atau larutangaram. Sistem koloid merupakan suatu bentuk campuran (sistem dispersi) dua atau lebih zat yang bersifat homogen namun memiliki ukuran partikel terdispersi yang cukup besar (1 - 100 nm), sehingga terkena efek Tyndall. Bersifat homogen berarti partikel terdispersi tidak terpengaruh oleh gravitasi atau gaya lain yang dikenakan kepadanya; sehingga tidak terjadi pengendapan. Secara sepintas, koloid hampir sama dengan larutan. Namun, untuk membuktikan apakah suatu campuran itu dapat digolongkan koloid atau bukan, maka diperlukan suatu alat bantu, yaitu mikroskop ultra karena ukuran Berdasarkan tabel di atas, koloid terdiri dari dua fase zat. Salah satu zat bersifat continue dan yang lain bersifat discontinue (terputus-putus). Selanjutnya, fase continue disebut sebagai medium dispersi dan zat yang berfase diskontinu disebut sebagai zat terdispersi.a. Sifat-sifat Koloid Berikut ini merupakan sifat-sifat dari koloid antara lain sebagai berikut :1. Efek Tyndall Cara yang paling mudah untuk membedakan suatu campuran merupakan larutan, koloid, atau suspensi adalah menggunakan sifat efek Tyndall . Jika seberkas cahaya dilewatkan melalui suatu sistem koloid, maka berkas cahaya tersebut kelihatan dengan jelas. Hal itu disebabkan penghamburan cahaya oleh partikel-partikel koloid. Gejala seperti itulah yang disebut efek Tyndall koloid. Istilah efek Tyndall didasarkan pada nama penemunya, yaitu John Tyndall (1820-1893) seorang ahli fisika Inggris. John Tyndall berhasil menerangkan bahwa langit berwarna biru disebabkan karena penghamburan cahaya pada daerah panjang gelombang biru oleh partikel-partikel oksigen dan nitrogen di udara. Berbeda jika berkas cahaya dilewatkan melalui larutan, nyatanya berkas cahaya seluruhnya dilewatkan. Akan tetapi, jika berkas cahaya tersebut dilewatkan melalui suspensi, maka berkas cahaya tersebut seluruhnya tertahan dalam suspensi tersebut.2. Gerak Brown Dengan menggunakan mikroskop ultra (mikroskop optik yang digunakan untuk melihat partikel yang sangat kecil) partikel-partikel koloid tampak bergerak terus-menerus, gerakannya patah-patah (zig-zag), dan arahnya tidak menentu. Gerak sembarang seperti ini disebut gerak Brown. Gerak Brown ditemukan oleh seorang ahli biologi berkebangsaan Inggris, Robert Brown ( 1773 1858), pada tahun 1827.Gerak Brown terjadi akibat adanya tumbukan yang tidak seimbang antara partikel-partikel koloid dengan molekul-molekul pendispersinya. Gerak Brown akan makin cepat, jika partikel-partikel koloid makin kecil. Gerak Brown adalah bukti dari teori kinetik molekul.3. ElektroforesisJika partikel-partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik, berarti partikel koloid tersebut bermuatan listrik. Jika sepasang elektrode dimasukkan ke dalam sistem koloid, partikel koloid yang bermuaran positif akan menuju elektrode negatif (katode) dan partikel koloid yang bermuatan negatif akan menuju elektrode positif (anode). Pergerakan partikel-partikel koloid dalam medan listrik ke masing-masing elektrode disebut elektroforesi. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa elektroforesis dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan koloid.Pada sel elektroforesis, partikel-partikel koloid akan dinetralkan muatannya dan digumpalkan di bawah masing-rnasing elektrode. Di samping untuk menentukan muatan suatu partikel koloid, elektroforesis digunakan pula dalam industri, misalnya pembuatan sarung tangan dengan karet. Pada pembuatan sarung tangan ini, getah karet diendapkan pada cetakan berbentu