Chole Syst It Is

Click here to load reader

  • date post

    30-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    230
  • download

    1

Embed Size (px)

description

keperawatan pencernaan

Transcript of Chole Syst It Is

BAB IPENDAHULUANA. LATAR BELAKANGBeberapa kelainan mempengaruhi sistem bilier dan mempengaruhi drainase empedu yang normal ke dalam duodenum. Penyakit kandung empedu merupakan kelainan pada sistem bilier, kelainan ini mencakup karsinoma, infeksi serta batu pada kandung empedu. Cholecystitis adalah radang kandung empedu yang merupakan inflamasi akut dinding kandung empedu (Noer, 2007). Pada kelainan bilier tidak semua kejadian infeksi pada kandung empedu (cholecystitis) berhubungan dengan batu empedu (cholelithiasis) namun lebih dari 90% penderita kolesistitis akut menderita batu empedu.Berdasarkan literatur barat, pasien batu empedu ternyata sangat banyak. Misalnya, di negara Amerika Serikat, sekitar 12% penduduk dewasa atau sekitar 20 juta jiwa menderita batu empedu. Dari jumlah tersebut, pasien wanita lebih banyak dibadingkan pria. Setiap tahun, 1 juta pasien batu empedu baru ditemukan. Setiap tahun, 500.000 pasien batu empedu menjalani operasi pengangkatan batu empedu (kolesistektomi laparoskopi), dengan total biaya sekitar 4 triliun dollar (Suharjo, 2009).Di Eropa dan Amerika utara, angka kejadian batu empedu 15%. Di Inggris, berdasarkan penelitian menggunakan ultrasonografi, dilaporkan ada 6,9-8% populasi dewasa yang menderita batu empedu. Hal ini berarti ada 4,1 juta pasien batu empedu. Jumlah pasien batu empedu di Indonesia belum diketahui karena belum ada studi tentang hal tersebut (Suharjo, 2009).Kolesistektomi adalah tindakan pilihan untuk pasien dengan batu empedu multipel/besar karena berulangnya pembentukan batu secara simtomatologi akut atau mencegah berulangnya pembentukan batu. Pendekatan lain yaitu dengan kolesistektomi dini. Keadaan umum diperbaiki dan sepsis diatasi dengan pemberian antibiotik seperti yang dilakukan pada pengobatan konservatif, sambil memastikan diagnosis memperbaiki keadaan umum, dan mengatasi penyakit penyerta seperti pankreatitis. Setelah 24-48 jam, keadaan penderita umumnya lebih baik dan infeksi telah dapat diatasi. Tindakan bedah dini yang dapat dilakukan dalam 72 jam pertama perawatan ini memberikan keuntungan karena mempersingkat masa rawat di rumah sakit sampai 5-7 hari, dan mempersingkat masa sakit sekitar 30 hari (Sjamsuhidajat, 2011).1

B. RUMUSAN MASALAHBagaimanakah konsep penyakit cholecystitis dan asuhan keperawatan pada klien dengan cholecystitis?C. TUJUAN1. Tujuan umumMengidentifikasi konsep cholecystitis dan asuhan keperawatan yang dapat diterapkan pada kasus cholecystitis.2. Tujuan khususa. Menjelaskan anatomi fisiologi kandung empedub. Menjelaskan pengertian cholecystitisc. Menjelaskan faktor risiko cholecystitisd. Menjelaskan etiologi cholecystitise. Menjelaskan klasifikasi cholecystitisf. Menjelaskan patofisiologi cholecystitisg. Menjelaskan manifestasi klinik cholecystitish. Menjelaskan pemeriksaan penunjang cholecystitisi. Menjelaskan penatalaksanaan cholecystitisj. Menjelaskan komplikasi cholecystitisk. Menjelaskan prognosis cholecystitisl. Menjelaskan Web Of Causation (WOC) cholecystitis m. Menjelaskan pengkajian keperawatan pada kasus cholecystitisn. Menjelaskan diagnosa keperawatan pada kasus cholecystitiso. Menjelaskan intervensi pada kasus cholecystitisD. MANFAAT1. Mahasiswa memahami konsep dan proses asuhan keperawatan pada klien cholecystitis dengan sehingga menunjang pembelajaran mata kuliah.2. Mahasiswa mengetahui proses asuhan keperawatan cholecystitis yang benar sehingga dapat menjadi bekal dalam persiapan praktik di rumah sakit.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI FISIOLOGI KANDUNG EMPEDU1. AnatomiKandung empedu berbentuk bulat lonjong seperti buah alpukat dengan panjang sekitar 4-6 cm dan berisi 30-60 ml empedu. Bagian fundus umumnya menonjol sedikit ke luar tepi hati, di bawah lengkung iga kanan, di tepi lateral m. Rektus abdominis. Sebagian besar korpus menempel dan tertanam di dalam jaringan hati. Kandung empedu tertutup seluruhnya oleh peritoneum viseral, tetapi infundibulum kandung empedu tidak terfiksasi ke permukaan hati oleh lapisan peritonium. Apabila kandung empedu mengalami distensi akibat bendungan oleh batu, bagian infundibulum menonjol seperti kantong yang disebut kantong hartmann (Sjamsuhidajat, 2011).Duktus sistikus panjangnya 1-2 cm dengan diameter 2-3 mm. Dinding lumennya mengandung katup berbentuk spiral disebut katup spiral heister, yang memudahkan cairan empedu mengalir masuk ke dalam kandung empedu, tetapi menahan aliran keluarnya (Sjamsuhidajat, 2011).Saluran empedu ekstrahepatik terletak di dalam ligamentum hepatoduodenale yang batas atasnya porta hepatis, sedangkan batas bawahnya distal papilla vater. Bagian hulu saluran empedu intrahepatik berpangkal dari saluran paling kecil yang disebut kanilikulus empedu yang meneruskan curahan sekresi empedu melalui duktus interlobaris ke duktus lobaris, dan selanjutnya ke duktus hepatikus di hillus (Sjamsuhidajat, 2011).Panjang duktus hepatikus kanan dan kiri masing-masing antara 1-4 cm. Panjang duktus hepatikus komunis sangat bervariasi, bergantung pada letak muara duktus sistikus. Duktus koledokus berjalan di belakang duodenum menembus jaringan pankreas dan dinding duodenum membentuk papilla vater yang terletak di sebelah medial dinding duodenum. Ujung distalnya dikelilingi oleh otot sfingter Oddi, yang mengatur aliran empedu kedalam duodenum. Duktus pankreatikus umumnya bermuara di tempat yang sama dengan duktus koledokus di dalam papilla vater, tetapi juga dapat terpisah. Sering ditemukan variasi anatomi kandung empedu, saluran empedu, dan pembuluh arteri yang memperdarahi kandung empedu dan hati. Variasi yang kadang ditemukan dalam bentuk luas ini, perlu diperhatikan para ahli bedah untuk menghindari komplikasi pembedahan, seperti perdarahan atau cedera pada duktus hepatikus atau duktus koledokus (Sjamsuhidajat, 2011).3

Gambar 1.Anatomi Sistem Saluran Empedu di dalam dan di luar Hepar (Cahyono, 2009).

2. FisiologiEmpedu diproduksi oleh sel hepatosit sebanyak 500-1500 mL perhari. Di luar waktu makan, empedu disimpan untuk sementara di dalam kandung empedu, dan disini mengalami pemekatan sekitar 50% (Sjamsuhidajat, 2011).Pengaliran cairan empedu dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu sekresi empedu oleh hati, kontraksi kandung empedu, dan tahanan sfingter koledokus. Dalam keadaan puasa, empedu yang diproduksi akan dialih-alirkan ke dalam kandung empedu. Setelah makan, kandung empedu berkontraksi, sfingter relaksasi, dan empedu mengalir ke dalam duodenum. Aliran tersebut sewaktu-waktu seperti disemprotkan karena secara intermitten tekanan saluran empedu akan lebih tinggi daripada tahanan sfingter (Sjamsuhidajat, 2011).Kolesistokinin (CCK) hormon sel APUD (amine precursor uptake and decarboxylation cells) dari selaput lendir usus halus, dikeluarkan atas rangsangan makanan berlemak atau produk lipolitik di dalam lumen usus. Hormon ini merangsang nervus vagus sehingga terjadi kontraksi kandung empedu. Dengan demikian, CCK berperan besar terhadap terjadinya kontraksi kandung empedu setelah makan (Sjamsuhidajat, 2011).a. Fisiologi produksi empeduSebagai bahan sekresi, empedu mempunyai tiga fungsi utama. Yang pertama, garam empedu, fosfolipid dan kolesterol beragregasi di dalam empedu untuk membentuk micelles campuran. Dengan emulsifikasi, komple micelles ini memungkinkan absorpsi lemak dan vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E, K) yang ada di dalam usus. Absorpsi mineral tertentu (kalsium, tembaga, besi) juga dipermudah. Kedua, empedu bertindak sebagai vehikel untuk ekskresi usus bagi banyak senyawa yang dihasilkan secara endogen dan eksogen (seperti bilirubin). Ketiga, sebagian dengan menetralisi asam lambung, empedu membantu mempertahankan lingkungan alkali yang tepat di dalam duodenum, yang dengan adanya garam empedu, memungkinkan aktivitas maksimum enzim pencernaan sesudah makan (Sabiston, 2012).Normalnya hepatosit dan saluran empedu menghasilkan 500-1500 ml empedu tiap harinya. Produksi empedu merupakan proses kontinyu yang hanya sebagian menjadi sasaran regulasi saraf, hormon dan humoral. Masukan (input) vagus bekerja langsung pada sel saluran empedu untuk meningkatkan seksresi air dan elektrolit, sedangkan aktivitas simpatis splanknikus cenderung menghambat produksi empedusecara tidak langsung dengan menurunkan aliran darah ke hati. Hormon gastrointestinal kolesistokinin (CCK), sekretin dan gastrin memperkuat sekresi duktus dan aliran empedu dalam respon terhadap makanan. Garam empedu sendiri bertindak sebagai koleretik kuat selama masa sirkulasi enterohepatik yang dinaikkan (Sabiston, 2012).Sekresi aktif garam empedu oleh hepatosit merupakan faktor utama yang meregulasi volume empedu yang disekresi. Air dan elektrolit mengikuti secara pasif sepanjang perbedaan osmolar untuk mempertahankan netralitas. Ekskresi lesitin dan kolesterol ke dalam kanalikuli untuk membentuk micelles campuran, sulit dipahami dan bisa digabung dengan sekresi garam empedu melintasi membrana kanalikulus. Sistem transpor aktif terpisah dan berbeda menimbulkan sekresi bilirubin dan anion organik lain. Sel duktulus meningkatkan sekresi empedu dengan memompakan natrium dan bikarbonat ke dalam lumen (Sabiston, 2012).Empedu dieksresi secara kontinyu oleh hati kedalam saluran empedu. Selama puasa, kontraksi tonik sfingter oddi menyebabkan empedu refluks kedalam vesika biliaris, tempat dimana empedu disimpan dan dipekatkan. Disini garam empedu, pigmen empedu dan kolesterol dipekatkan sebanyak sepuluh kali lipat oleh absorpsi air dan elektrolt. Sekitar 50% kumpulan garam empedu dalam vesika biliaris selam puasa. Tunika mukosa vesika biliaris juga mensekresi mukus yang bisa melakukan fungsi perlindungan. Dengan makan, CCK dilepaskan oleh lemak dan dalam jumlah kecil oleh asam amino yang memasuki duodenum; CCK merangsang kontraksi vesika biliaris dan relaksasi sfingter oddi. Bila tekanan dalam duktus koledokus melebihi tahanan mekanisme sfingter (15 sampai 20 cm H2O), maka empedu memasuki lumen duodenum. Masukan (input) vagus memudahkan memudahkan tonus dan kontraks