Case Struma

Click here to load reader

  • date post

    30-May-2017
  • Category

    Documents

  • view

    239
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of Case Struma

CASE PRESENTATION SUBDIVISI BEDAH ONKOLOGI

I. IDENTITASNama: RosdaTanggal lahir : 29/09/1979J. Kelamin: Perempuan RM: 651453Tgl. MRS: 24/02/2013Alamat: Jl.Sultan Hasanuddin Ruangan: Lontara 2 Kamar 4 Bed 1Jaminan: JKN II. ANAMNESISKU : Benjolan pada leher samping kananAT : Disadari oleh pasien sejak sekitar 2 tahun yang lalu, awalnya sebesar kelereng pada leher sebelah kanan namun lama kelamaan membesar.Tidak dirasakan nyeri pada benjolan. Tidak ada nyeri menelan. Tidak ada perubahan suara menjadi serak, tidak sesak nafas, tidak dirasakan jantung berdebar-debar, tidak ada perasaan mudah lelah maupun sering berkeringat. Pasien tidak pernah merasa tangannya sering gemetar. Nafsu makan pasien normal dan tidak mengalami penurunan berat badan. Riwayat keluarga dengan penyakit yang sama tidak ada. Riwayat berobat sebelumnya tidak ada. Riwayat operasi di daerah leher tidak ada, riwayat penyinaran radiasi di sekitar leher tidak ada. Riwayat tempat tinggal di daerah pegunungan. Riwayat keluhan yang sama di lingkungan sekitar rumah tidak ada.

III. PEMERIKSAAN FISISStatus GeneralisSakit sedang/ Gizi cukup/ ComposmentisStatus VitalisT : 110/80 mmHgN : 80 x/menit, P : 20 x/menit, Suhu axilla : 36,8oCStatus Regional Kepala : Mesocephal, normocephalRambut : Rambut hitam, lurus, sukar dicabut.Mata: Ikterus (-), Anemis (-), exoftalmus (-)Telinga: Otore (-), perdarahan (-)Hidung: Rinorhea (-), epistaksis (-)Bibir: Tidak tampak sianosis, bibir kering/ terkelupas (-).Lidah: Kotor (-), candidiasis (-)ThoraxInspeksi: Simetris kiri=kanan, ikut gerak nafas, tipe thoracoabdominal Palpasi: MT (-), NT (-), krepitasi (-), vocal fremitus kiri=kananPerkusi: Sonor, batas paru hepar ICS V kananAuskultasi: BP vesikuler, BT Rh-/- , Wh-/-JantungInspeksi: Iktus kordis tidak tampakPalpasi: Iktus kordis sulit dinilaiPerkusi : Pekak, batas jantung kanan ICS 2 parasternalis kanan, batas jantung kiri ICS VI 2 jari samping kiri linea midclavicularisAuskultasi: Bunyi jantung I/II dalam batas normal, bising (-)

AbdomenInspeksi: Warna kulit sama dengan sekitarnya, datar, ikut gerak napasAuskultasi: Peristaltik ada, kesan normalPalpasi: Massa tumor (-), nyeri tekan (-),H/L tidak terabaPerkusi : Timpani, nyeri ketok (-)Ekstremitas superior kanan dan kiri :Inspeksi: Warna kulit sama dengan sekitarnya, jejas (-), udem(-) , massa tumor (-)Palpasi : Nyeri tekan tidak ada, krepitasi tidak ada, massa tumor (-) pembesaran KGB (-)ROM: Dalam batas normalEkstremitas inferior kanan dan kiriInspeksi: Warna kulit sama dengan sekitarnya,jejas (-), udem(-)Palpasi : Nyeri tekan tidak ada, krepitasi tidak ada, massa tumor (-) pembesaran KGB (-)ROM: Dalam batas normalStatus LokalisColli anterior : Inspeksi: tampak warna kulit sama dengan sekitarnya, tampak benjolan pada regio colli dekstra, ikut gerak menelan. Tidak tampak luka, tidak ada ulkus, tidak tampak scar bekas operasi. Tidak tampak pembesaran kelenjar getah bening, edema tidak ada, hematom tidak ada.Palpasi: teraba benjolan dengan ukuran 5x4x4 cm, konsistensi padat kenyal, permukaan rata, berbatas tegas, ikut gerakan waktu menelan, mobile, nyeri tekan tidak ada, pembesaran kelenjar getah bening tidak ada.

IV. RESUMESeorang perempuan umur 34 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan adanya massa/tumor pada regio colli dekstra yang disadari sejak 2 tahun yang lalu, dan semakin membesar dalam 1 tahun terakhir. Massa tidak terasa nyeri, tidak ada disfagia, tidak ada keluhan hoarseness. Tidak ada keluhan yang menandakan toksik, jantung berdebar tidak ada, tangan tidak gemetar. Nafsu makan baik dan tidak terjadi penurunan berat badan. Riwayat pernah mengalami penyakit yang sama tidak ada. Riwayat keluarga dengan penyakit yang sama tidak ada. Riwayat penyakit yang sama di lingkungan sekitar rumah tidak ada. Riwayat berobat sebelumnya tidak ada, riwayat operasi dan terpapar radiasi pada daerah colli tidak ada.Pada pemeriksaan fisis pasien tampak sakit sedang, gizi cukup, compos mentis. Status vitalis dalam batas normal. Status lokalis pada regio Colli dekstra yaitu tampak benjolan pada colli sebesar bola golf, ikut gerak menelan, warna kulit sama dengan sekitarnya. Teraba benjolan pada thyroid ukuran 5x4x4 cm, batas tegas, permukaan rata, konsistensi padat kenyal, tidak ada pembesaran KGB.

V. DIAGNOSISStruma Nodusa Non Toksik Dekstra

VI. ANJURANAdapun pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan untuk menegakkan diagnosis, antara lain:1. Laboratorium (Darah rutin, fungsi tyroid: FT4, TSHs)2. Pemeriksaan Fine Needle Aspiration3. USG leher4. Foto cervical5. Foto thorax

VII. RENCANA TERAPIIsthmolobektomi dekstra

DISKUSIPada kasus ini, pasien perempuan 34 tahun datang dengan keluhan utama benjolan pada leher yang disadari sejak 2 tahun yang lalu, awalnya sebesar kelereng pada leher sebelah kanan namun lama kelamaan membesar seperti sekarang ini selama 1 tahun terakhir. Melalui pemeriksaan fisis, ditemukan status generalis sakit sedang, gizi cukup, composmentis, status vitalis dalam batas normal, status regional dalam batas normal, status lokalis pada regio colli dekstra, inspeksi didapatkan tampak benjolan sebesar bola golf, ikut gerak menelan, warna kulit sama dengan sekitarnya. Pada inspeksi, benjolan ikut gerak menelan, menunjukkan benjolan tersebut berasal dari glandula thyroidea. Dapat disimpulkan bahwa benjolan yang ada pada leher pasien adalah struma.Kelenjar tiroid terletak dibagian bawah leher, terdiri atas dua lobus, yang dihubungkan oleh isthmus yang menutupi cincin trakea 2 dan 3. Kapsul fibrosa menggantungkan kelenjar ini pada fasia pratrakea sehingga pada setiap gerakan menelan selalu diikuti dengan terangkatnya kelenjar ke arah kranial, yang merupakan ciri khas kelenjar tiroidMenurut bentuk pembengkakan pada leher, struma dapat bersifat difus ataupun nodusa. Pada palpasi teraba satu benjolan pada thyroid ukuran 5 x 4 x 4 cm ikut gerakan waktu menelan, batas tegas, permukaan rata, konsistensi padat kenyal. Tidak ditemukan adanya pembesaran kelenjar getah bening pada regio Colli. Dapat disimpulkan bahwa benjolan tersebut adalah Struma noduler.Pasien tidak sulit menelan, tidak sesak dan suara tidak berubah, ini menunjukkan tidak terdapat gejala penekanan lokal glandula thyroidea pada struktur lain di leher, seperti trakea dan esophagus . Struma menurut perubahan fungsi fisiologis kelenjar tiroid seperti hipertyroid dan hipotyroid dibedakan menjadi struma toksik dan nontoksik. Secara klinis, pasien datang dengan gejala eutyroid, seperti jantung tidak berdebar-debar, berat badan tidak mengalami penurunan, dan tidak mudah lelah saat beraktivitas serta tangan tidak gemetar. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pasien ini tidak mengalami gangguan fungsi glandula thyroid yakni eutyroid, sehingga pasien ini dapat didiagnosa struma nodusa non toksik. Dari hasil palpasi, benjolan yang teraba terkesan tumor jinak, karena batas tumor jelas, permukaan tumor rata, menunjukkan tidak terjadi infiltrasi tumor ke jaringan sekitarnya, perubahan suara tidak menjadi serak, sehingga struma yang terbentuk diperkirakan jinak. Untuk menegakkan diagnosis selain dilakukan anamnesis teliti dan pemeriksaan fisik, diperlukan pemeriksaan penunjang antara lain : 1. pemeriksaan untuk mengukur fungsi tiroid. Pemerikasaan hormon tiroid dan TSH paling sering menggunakan radioimmuno-assay (RIA) dan cara enzyme-linked immuno-assay (ELISA) dalam serum atau plasma darah.2. Pemeriksaan radiologis dengan foto rontgen dapat memperjelas adanya deviasi trakea, atau pembesaran struma retrosternal yang pada umumnya secara klinis pun sudah bisa diduga, foto rontgen leher posisi AP dan Lateral diperlukan untuk evaluasi kondisi jalan nafas sehubungan dengan intubasi anastesinya, bahkan tidak jarang untuk konfirmasi diagnostik tersebut sampai memerlukan CT-scan tiroid untuk menilai pembesaran kelenjar, pembesaran getah bening, adanya gambaran mikrokalsifikasi (nekrosis sentral) dan infiltrasi jaringan sekitarnya.3. ultrasonografi digunakan untuk menentukan apakah nodul thyroid , baik yang teraba pada saat palpasi maupun yang tidak, merupakan nodul yang tunggal ataupun multipel padat atau kistik.

Selain itu, untuk membedakan struma toksik dengan nontoksik jika tidak tersedia alat dan bahan laboratorium ataupun pemeriksaan penunjang lainnya, dapat dilakukan dengan menghitung basal metabolic rate (BMR). Perhitungan BMR bertujuan untuk mendeteksi hipertiroid yang tersembunyi. Pengukuran dapat menggunakan rumus Reed, yaitu :

Keterangan :n : nadiNilai rujukan :s : systoleNormal BMR (-10%) sampai 10%d : diastole

Adapun perhitungan Basal metabolic rate pada pasien ini yakni:% BMR:0,75 [n + 0,74 (s d)] 72%:0,75 [80 + 0,74 (110-80)] -72%:0,75 [80 + 0,74 (30)] -72%: 0,75 [102,2] -72%:4,65 %Hasil perhitungan BMR pasien 4,65 % (normal), sehingga dapat disimpulkan bahwa struma pasien ini tidak bersifat toksik.Melalui anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang lainnya yang telah dilakukan, maka pasien dididagnosis sebagai Struma Nodusa Non Toksik. Penatalaksanaan yang dianjurkan berupa subtotal thyroidektomi.

STRUMA NODUSA NON TOKSIK

Kelenjar tiroid normalnya tidak teraba. Istilah pada goiter (struma) berasal dari bahasa latin guttur yang berarti tenggorokan dan biasanya digunakan untuk menggambarkan pembesaran kelenjar tiroid.Anatomi

Kelenjar tiroid terletak di bagian bawah leher, terdiri dari 2 lobus yang dihubungkan oleh ismus yang menutupi cincin trakea 2 dan 3. Setiap lobus tiroid berukuran panjang 2,5-4 cm, lebar 1,5-2 cm dan tebal 1-1,5 cm. Berat kelenjar tiroid dipengaruhi oleh berat badan dan asupan yodium. Pada orang dewasa berat normalnya antara 10-20 gram.Pada sisi posterior melekat erat pada fasia pratrakea dan laring melalui kapsul fibrosa, sehingga akan ikut bergerak kea rah cranial sewaktu menelan.Pada sebelah anterior kelenjar tiroid menempel otot pretrakealis (m. sternotiroid dan m. sternoh