Transparansi Spekt Uv Vis Revised Okt 09 Oke

62
1 Spektrofotometri Spektrofotometri Ultraviolet (UV) – Ultraviolet (UV) – Visibel (Vis) Visibel (Vis) Fakultas Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Universitas Ahmad Dahlan Up-date Agustus 2007 Hari Susanti, M.Si., A

description

;lkah;fh;alhfekahse;f klhsae;l fhas;efh sj;afh ksaehf ;shefklashkfjhsdkjlfhkdjghkjdshgkjsdgr jhdg g gdrjgdsjfg dsfjgkdsjgf jgs jg s sddgjhdgskj df ds sdfkjg sdkjgsdkjgfkjgsekrjgfsr f sd rf sdj gfkjsdgfkjdsg f dskjfg dsjkg dsr dsf gdskjfgkjdsgfjdsg f df dsjk

Transcript of Transparansi Spekt Uv Vis Revised Okt 09 Oke

1

Spektrofotometri Spektrofotometri Ultraviolet (UV) – Ultraviolet (UV) –

Visibel (Vis)Visibel (Vis)

Spektrofotometri Spektrofotometri Ultraviolet (UV) – Ultraviolet (UV) –

Visibel (Vis)Visibel (Vis)

Fakultas FarmasiFakultas FarmasiUniversitas Ahmad DahlanUniversitas Ahmad Dahlan

Up-date Agustus 2007

Hari Susanti, M.Si., Apt.

2

Table I. Physical Properties Employed for Analysis

Physical property Analytical methods basedmeasured on measurement of propertyMass GravimetricVolume VolumetricAbsorption of radiation Spectrophotometry (x-ray, UV,

Vis, IR); colorimetry; atomic abs,

NMREmission of radiation Emission spectroscopy (x-ray,

UV, Vis);flame photometry,

fluorescence (x-ray, UV, Vis)Scattering of radiation Turbidimetry, Raman

spectroscopyElectrical potential PotentiometryMass-to-charge ratio Mass spectrometry

Gravimetric dan volumetric procedures classical methodes of

analysisThe remainder of the list instrumental methods

Klasifikasi metode analisis (Skoog, 1-2)

3

Fokus

Spektrofotometri UV-Vis

4

Satuan

1 Å = 1 angstrom = 10-10 m = 10-8 cm1 µ = 1 mikron = 10-6 m = 10-4 cm = 104 Å1 mµ = 1 milimikron = 10-9 m = 10-7 cm = 10 Å

(Gearien,133)

1 nm = 1 nanometer = 10-9 m = 10-7 cm = 10 Å = 1 mµ

(Miller,150;Williams,1)

Panjang gelombang pada daerah UV dan Vis biasanya dinyatakan dalam satuan “nm” (Miller,150)

5

Daerah UV dan Daerah Vis

Daerah UV (ultraviolet) 200 – 400 nm (Dyer,1) ← dapat dideteksi dengan film (150-72 kcal mol-1) (Settle,485) fotografik atau sel fotolistrik

(Diktat,5)

Sumber sinar (Dyer,4;Settle,489;Pecsok,148;Kellner,530)

lampu “hydrogen - discharge” ← the high-voltage

(180 – 400 nm) lampu “deuterium-discharge”

Daerah Vis (visibel)

400 – 800 nm (Dyer,1) ← batas sensitif mata (Diktat,4)

(72-36 kcal mol-1) (Settle,485)

Sumber sinar (Dyer,4;Kellner,530;Pecsok,148)

lampu “tungsten- filament” (400 – 800 nm)

6

Radiasi elektromagnetik (1)

Radiasi elektromagnetik, atau sinar

suatu bentuk energi radiasi, memperlihatkan sifat partikel dan gelombang

(Pecsok,115;Harvey,369)

Sifat gelombang, tergambar pada sifat optik radiasi elektromagnetik, yaitu difraksi (Harvey,369)

Sifat partikel, atau foton, tergambar pada proses interaksi radiasi elektromagnetik dengan zat, yaitu pada proses penyerapan dan emisi (Harvey,369)

7

Interaksi antara sinar dan zat (Kellner dkk,528) (1)

dipantulkan

dihamburkan

sinar darisumber

menuju detektor

Io

I

diserap

sampel(reflection)

(Scattering)

(absorption)

Io = intensitas sinar sebelum mengenai sampelI = intensitas sinar yang diteruskan

Perhitungan intensitas pita serapan menggunakan hukum Lambert dan Beer (Dyer,5)

8

Interaksi antara sinar dan zat (2)

Radiasi adalah suatu bentuk energi. Interaksi antara suatu molekul dengan radiasi menyebabkan molekul bergerak dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi yaitu ke tingkat energi eksitasi (Miller,152)

Radiasi pada daerah UV dan Vis mempengaruhi transisi elektronik. Energi yang serap pada transisi elektronik menyebabkan terjadinya eksitasi elektron yang terdapat pada orbital molekul ke orbital berikutnya yang mempunyai tingkat energi yang lebih tinggi; jadi elektron mengalami eksitasi dari tingkat dasar ke tingkat tereksitasi (Miller,152)

Keadaan tereksitasi berlangsung sangat singkat (10-9 - 10-7 detik)

(Pecsok,121; Bair,21)

9

Interaksi antara sinar dan zat (Miller,152) (3)

Dalam teori : transisi elektronik tunggal memberikan garis tunggal yang tajam pada spektra serapan. Ini hanya berlaku untuk molekul dalam bentuk gas atau untuk atom dimana transisi selain elektronik ditekan.

Untuk molekul dalam larutan, terlihat adanya pita serapan yang lebar pada spektra UV yang disebabkan oleh berbagai jenis transisi (elektronik, vibrasi, dan rotasi) yang saling berhubungan, dan karena interaksi solut-pelarut.

10

Eksitasi elektronik (1)

Penyerapan sinar (energi) UV dan Vis oleh molekul suatu zat organik :

disebabkan oleh eksitasi elektronik (Dyer,2)

melibatkan promosi elektron pada orbital σ, dan n

dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih

tinggi (Dyer,5)

Transisi elektronik () yang dilibatkan pada daerah UV dan Vis adalah tipe-tipe berikut (Dyer,6) :

σ σ*, n σ*, n *, dan *

Yang paling banyak pada daerah UV : transisi yang melibatkan elektron orbital n dan * (Miller,153)

11

Skema tingkat energi orbital molekul (2)

12

Electronic transitions involving , σ and n electrons (3)

13

Serapan sinar UV/Vis ditentukan oleh (Shimadzu, 4.4.1)

- Kromofor : gugus fungsional yang menyerap sinar

a.l : >C=C<, >C=O, -N=N-, -N=O, ← mempunyai multiplet bonding

(Shimadzu,4.4.1)

-NO2, -C=C- (Miller,154)

Kromofor biasanya mengandung “ bond” (Miller,153)

- Ausokrom : gugus fungsional yang tidak mempunyai serapan

a.l : -OH, -NH2, -SH (dan ← punya pasangan elektron yang tidak

derivatnya), dan terikat (Shimadzu,4.4.1)

beberapa halogen (Dyer,11)

Jika terikat dengan kromofor, gugus ini biasanya menyebabkan pergeseran serapan ke arah yang lebih besar dan meningkatkan intensitas puncak serapan (Dyer,10-11)

Analisis Kualitatif (1)

14

Applikasi spektrofotometri UV-Vis untuk keperluan analisis kualitatif adalah sangat terbatas karena pita serapan cenderung lebar dan karenanya informasi yang diberikan kurang detail. Walaupun demikian, investigasi terhadap spektra pada daerah ini seringkali memberikan informasi yang berguna mengenai ada tidaknya gugus fungsional (misalnya karbonil, aromatis, nitro, atau diena terkonyugasi) pada suatu senyawa organik (Skoog,80-

81)

Spektra serapan UV/Vis sering digunakan pada saat mengidentifikasi spesies molekuler. Ini sering dilakukan dengan cara membandingkan spektrum spesies zat sampel dengan spektrum zat yang telah diketahui (berasal dari spektra literatur) (Settle,497)

Analisis Kualitatif (2)

15

In the UV-Vis range from 200-700 nm typical (khas) cromophores (light absorbing groups) can be observed; groups with n *, * transitions in molecular orbitals, d-d transitions in ligand fields of metal chelates and charge-transfer bonds.

The omnipresent (keberadaan) σ-bonds in organic compounds and also the non conjugated (isolated) double bonds and n δ* transitions are not excited in the normal UV-Vis range and thus do not interfere

Informasi Analisis pada range UV-Vis (a) (Kellner,531-532)

16

Informasi Analisis pada range UV-Vis (b) (Kellner,531-532)

Substancesmax (nm

)

CH3-CO-CH=CH2 225

CH2=CH-CH=CH2 217

CH3(CH=CH)3CH3 274

CH3(CH=CH)5CH3 342

CH3(CH=CH)7CH3 401

C6H6 203

C6H5-CH=CH2 248

Absorption maxima of some conjugated chromophores

Absorption maxima of nonconjugatedchromophoresChromophore

Transition

max

(nm)

-C-C- σ σ* 150

-O- n σ* 185

-N< n σ* 195

-S- n σ* 195

>C=O * 190

n * 300 (weak

)

>C=C< * 190

17

Pergeseran serapan maksimum ke arah yang lebih panjang pergeseran batokromik

(=pergeseran merah) (Settle,486;Miller,155)

Pergeseran ini dapat disebabkan oleh terikatnya ausokrom pada kromofor (Miller,155;Williams,7) atau perubahan pelarut (Williams,7)

Pergeseran serapan maksimum ke arah yang lebih pendek pergeseran hipsokromik

(=pergeseran biru) (Settle,486;Miller,155)

Pergeseran ini dapat disebabkan oleh perubahan pelarut (makin polar) atau substituen pada molekul (Miller,155-156), atau fenomena seperti hilangnya konyugasi (Williams,7)

Kenaikan instensitas serapan, misalnya karena terikatnya ausokrom pada kromofor atau efek pelarut (makin polar) efek hiperkromik

(Miller,155-156)

Penurunan instensitas serapan efek hipokromik

(Settle,155,486;Williams,7)

Analisis Kualitatif (4)

18

Untuk keperluan kuantitatif :• diperlukan ε maks besar agar konsentrasi larutan uji encer/kecil

• larutan uji biasanya sangat encer (c ≤ 0,1 mol/L) (Kellner,528)

1 mg (jika BM 100-200) dilarutkan hingga 100 ml (Williams,2)

Jika pekat yang dipantulkan yang dihamburkan besar, sedangkan

yang diserap yang diteruskan : kecil

Yang dibutuhkan, yang diteruskan : besar

• nilai maksimal serapan (A) adalah 1,0 A yang digunakan : 0,2 – 0,8 [0,2 - 0,650 (Willard,90)] atau T : 15 – 75% Angka ini dipilih untuk meminimalkan “errorr” dari alat

Analisis Kuantitatif (1)

19

Untuk mengetahui apakah “daerah kerja” memenuhi hukum Lambert-Beer,

dibuat kurva baku Kurva baku digunakan jika “r hitung > r tabel”

kurva baku jaminan kita bekerja dengan larutan encer

yang memenuhi hukum Lamber-Beer

Analisis Kuantitatif (2)

20

Ada beberapa tehnik analisis yang dikembangkan untuk jenis sampel berlainan. Penentuan secara langsung dilakukan jika molekul analit memiliki suatu kromofor. Standar harus digunakan untuk menentukan absorbsivitas sehingga konsentrasi dapat dihitung dengan persamaan berikut

A = a.b.c or by establishing acalibration plot from which the

concentration can be determined by graphic interpretation or by regretion analysis.Penentuan secara tidak langsung umumnya dilakukan jika molekul analit tidak memiliki “a suitable chromophore”. Dalam hal ini, analit direaksikan secara kuantitatif dengan molekul yang memiliki suatu kromofor and correlating the diminution of absorbance with the concentration of the analyte, atau dengan mereaksikannya dengan suatu reagen yang dapat membentuk suatu gugus kromofor.

Analisis Kuantitatif (Settle,498)(3)

21

Cara menyatakan hukum Lambert-Beer :

T = I / Io = transmitan A = log (Io/I) = absorbansi (serapan)

- log (I/ Io) = a.b.c log (Io /I) = a.b.c - log T = a.b.c A = a.b.c

Seringkali a dinyatakan dalam ppm (mg zat/1 L larutan).

Jika c dinyatakan dalam mol per liter, dan b dalam cm,

a diganti dengan ε (koefisien ekstingsi molar, = molar absorptivitas = absortivitas molar)

(Dyer,5;Settle,487;Fritz,70-71)

dan selanjutnya persamaan Lambert-Beers menjadi

- log T = ε.b.c atau A = ε.b.c

Hukum Lambert-Beer (1)

22

Hukum Lambert-Beer (2) (Kellner,528)

A = ε . b . c

dimana

A : Absorbansi (= serapan)ε : molar absorptivitas (L mol-1 cm-1)c : kosentrasi larutan (mol/L)

b : tebal sel ≈ tebal kuvet ≈ tebal larutan (cm)

nilai c biasanya hanya untuk larutan encer (c ≤ 0,1 mol/L)

Jadi, Serapan (A) proporsional dengan konsentrasi larutan

zat (c) dan ketebalan sel (b)

23

Jika BM suatu zat tidak diketahui, atau jika yang ditetapkan berupa campuran (Williams,8), intensitas serapan dinyatakan sebagai atau , serapan larutan zat 1% dalam kuvet 1,0 cm. Hubungannya dengan ε (Dyer,5):

10 ε = X mol. berat

Contoh perhitungan serapan :

Hukum Lambert-Beer (3)

E 1%1 cm

E 1%1 cm

1%1 cmA

325 nm = 30

Berdasarkan persamaan diatas (Williams,8):

nilai serapan atau log (Io/I) larutan adalah 30;

diukur terhadap larutan dengan kadar 1% dan ketebalan larutan 1 cm, pada 325 nm

E 1%1 cm

24

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap spektrum serapan suatu zat :- pelarut- pH larutan- suhu- konsentrasi elektrolit yang tinggi- zat asing yang mengganggu

Hukum Lambert-Beer (4) (Skoog,87)

25

Pelarut (1)

• Harus dapat melarutkan zat uji dan meneruskan radiasi pada daerah yang digunakan (Pecsok,153)

• Senyawa hidrokarbon jenuh dan senyawa yang hanya memiliki gugus alkil jenuh, gugus alkohol, dan gugus eter adalah transparan (tidak memberikan serapan) pada daerah 200-1000 mµ

dapat digunakan sebagai pelarut pada penentuan spektra yang melalui daerah ini (Dyer,8-9)

• Pelarut paling umum untuk penentuan spektrum UV adalah etanol 95% (Dyer,4) Etanol absolut komersial mengandung residu benzen

yang memberikan serapan pada daerah UV (Williams,2)

26

Pelarut (2)

• Air dan heksana juga sering digunakan (Dyer,4)

• Perbedaan pelarut dapat menggeser posisi puncak serapan (Dyer,4). Serapan maksimum dalam larutan etanol terjadi pada yang lebih panjang dibandingkan dalam larutan heksana (Diktat, 31)

Pergeseran merah sekitar 10-20 nm, dari pelarut heksana ke etanol

(Diktat, 31)

Panjang gelombang maksimum ( maks) untuk senyawa nonpolar umumnya sama dalam pelarut alkohol dan heksana; maks untuk senyawa polar biasanya berbeda (bergeser) (Dyer,4)

27

Pelarut (Kellner,532) (3)

Solvent can interact strongly with certain solutes and thus change the observed UV-Vis spectra, either

by removing vibrational fine structure, or

by shifting absorption band maxima, or both

28

Pelarut (4)

29

Pelarut (5a)

30

Pelarut (5b)

31

Pelarut (5c)

32

Analisis kuantitatif campuran (Pecsok,137) (1)

33

Jika sistem terdiri lebih dari satu komponen yang menyerap,

diasumsikan :

- proses penyerapan oleh spesies tidak tergantung spesies

yang lain - serapan semua spesies adalah aditif

Pada serapan maksimum untuk komponen I pada 1, terdapat serapan komponen II

Pada serapan maksimum untuk komponen II pada 2, terdapat serapan komponen I

Spektrum serapan untuk campuran I dan II merupakan jumlah kurva kedua komponen

Analisis kuantitatif campuran (Pecsok,136) (2)

34

Rumus Perhitungan :

Pada At 1 A1

1 = εI1.b.cI dan AII

1 = εII1.b.cII

A 1 = AI1 + AII

1 = εI1.b.cI + εII

1.b.cII

Pada At 2 A1

2 = εI2.b.cI dan AII

2 = εII2.b.cII

A 2 = AI2 + AII

2 = εI2.b.cI + εII

2.b.cII

A 1 = serapan campuran yang diamati pada 1 A 2 = serapan campuran yang diamati pada 2

AI1 = serapan komponen I dalam campuran pada

1

AI2

= serapan komponen I dalam campuran pada 2

εI1, εI

2, εII1 dan εII

2 = absorbsivitas molar komponen I

dan II pada 1 dan 2

CI dan CII = konsentrasi respective komponen I dan II

dalam campuran

Analisis kuantitatif campuran (Pecsok,136-137) (3)

35

Conto….

• Titanium and vanadium form colored complexes with hydrogen peroxide. Separate solutions containing 5.00 mg of these metals were treated with perchloric acid and hydrogen peroxide and diluted to 100 ml. A third solution was prepared by dissolving 1.00g of alloy (containing Ti and V but no other interfering metals) ang tretig in the same manner as the standart solution. The absorbance of three solutions were measured at 410 and 460 nm in 1 cm cells. Calculate the % V and Ti in the alloy

• Artinya???

36

Hasil pengukuran : larutan A410

A460

Ti 0,760 0,513V 0,185 0,250Alloy 0,715 0,657

Dari larutan standar :

ATi410 = aTi

410 . b . cTi

aTi410 = 0,760/5 = 0,152

Dengan cara yang sama diperoleh :

aTi460 = 0,103, aV

410 =0,037, aV460 =

0,050

Untuk larutan alloy : At 410 nm: 0,715 = 0,132CTi + 0,037CV

At 460 nm: 0,657=0,103CTi + 0,050 Cv

Solution of these simultaneous equations yields

CTi = 3,0 mg/100 ml, CV = 6,9 mg/100 ml% Ti = 0,30 % V = 0,69

Analisis kuantitatif campuran (Pecsok,137-138) (4b)

37

H. Tahapan Kerja Analisis (1)1. Mencari “Operating Time” (OT)

Tujuan :

mengetahui waktu dimana suatu proses reaksi berlangsung stabil

Pada saat reaksi berlangsung stabil (=pada saat OT) diukur serapan larutan uji

Pengukuran pada saat reaksi berlangsung tidak stabil

data yang diperoleh tidak menentu

Bagaimana mencari dan mengetahui OT ?

38

H. Tahapan Kerja Analisis (2)2. Mencari maksimum (maks)

Tujuan :

memperoleh serapan maksimum

Serapan maksimum diperoleh jika pengukuran dilakukan pada maks

Perubahan serapan per unit konsentrasi pada maks adalah sangat besar (Skoog,87)

“ semua yang terserap larutan uji idealnya juga terukur maksimal oleh spektrofotometer “ sehingga diperoleh hasil uji yang maksimal.

maks harus dicari walaupun dalam prosedur aslinya biasanya juga telah disebutkan (petunjuk,14)

Bagaimana mencari dan mengetahui maks ?

39

40

H. Tahapan Kerja Analisis (3) 3. Membuat kurva standar

a. Dibuat dari satu seri larutan standar - menggunakan zat standar - dalam berbagai kadar

Zat standar = zat yang diuji (terdapat dalam larutan uji)

b. Diukur serapan satu seri larutan standar pada OT dan maks yang diperoleh pada tahap 1 dan 2.

Serapan tiap-tiap kadar larutan standar dicatat, dicari persamaan garis lurus dan koefisien korelasinya; absis (X) untuk konsentrasi (c) larutan standar, ordinat (Y) untuk serapan (A)

41

Kurva kalibrasi

42

43

H. Tahapan Kerja Analisis (4)

4. Mencari kadar zat dalam larutan uji

a. Larutan uji dalam kuvet yang telah dipersiapkan diukur serapannya pada OT dan maks yang telah diketahui.

Dilakukan beberapa kali pengulangan pengujian (4 replikasi).

b). Dengan bantuan kurva standar atau persamaan garis linier yang diperoleh dapat diketahui kadar zat dalam sampel.

44

Spektrofotometer

provide a plot of the intensity of transmitted or absorbed light versus wavelength (Dyer,4;Settle,488)

Penggolongan berdasarkan sistem optik

-- single beamSistem optik -- -- single detector

-- double beam -- -- double detector

Pada double beam, sumber cahaya utama terbagi menuju 2 beam :satu menuju kuvet (mengandung larutan sampel) dan satu menuju kuvet (mengandung pelarut referensi) (Dyer, 4)

Yang dimiliki Farmasi UAD ?

double beam – double detector (UV-1700)

I. Instrumen (1)

45

I. Instrumen (2)

46

I. Instrumen (3)

47

I. Instrumen (Settle,489) (4)

48

Sumber sinar

49

50

• Filter atau monokromator

Ada beberapa cara untuk mengisolasi/mendapatkan sinar monokromatik yang diinginkan. Salah satunya adalah dengan menempatkan suatu filter di depan wadah sampel

filter dapat berupa glass filter atau gelatin filter (Wratten), yang mempunyai bandwidths yang luas dan puncak emisi

yang rendah (Hicks,26)

[Bandwidth (nm) glass filter : 150+, gelatin filter : 25-50; Transmisi (%) glass filter : 25-90%, gelatin filter : 5-30

(Beckett,227)]

Beberapa instrumen menggunakan prisma atau diffraction gratings sebagai monokromator (Settle,490).

51

Skema monokromator

prisma (Pecsok,150)

52

Sampel

Sampel (molekul, ion) yang diuji pada daerah UV atau Vis biasanya berupa gas atau larutan dan ditempatkan dalam sel atau kuvet (Pecsok,153,226)

53

Kuvet

Untuk Vis dari gelas atau kuarsa (quartz) (Pecsok,153;Kellner,530)

Untuk UV harus dari kuarsa (Fritz, 77; Dyer, 4)

Gelas menyerap sinar UV dengan kuat (Dyer,4)

Kuvet biasanya mempunyai panjang celah 1,0 cm (Dyer,4;Skoog,50)

Kuvet dari kuarsa atau gelas dapat dibersihkan dengan dibilas

dengan air; jika perlu, dengan larutan deterjen atau asam nitrat panas (Pecsok,153)

Dibilas dengan etanol agar cepat kering

Dibilas untuk mencegah terjadinya penumpukan zat yang

mengabsorbsi, pada permukaan kuvet (Settle,497)

54

55

• Serapan yang terukur oleh spektrofotometer tidak hanya serapan solut dalam larutan uji melainkan juga semua molekul yang dilewati sinar. Karenanya dibuat blangko, untuk mengkoreksi pantulan, hamburan dan penyerapan oleh kuvet dan konstituen pada larutan uji.

Blangko dibuat dengan menempatkan konstituen (pelarut, reagen, dll) yang digunakan pada larutan uji, ke dalam kuvet. Dengan larutan blangko selanjutnya rekorder diatur pada posisi T = 100% atau A = 0, pada pengujian serapan solut. Setelah itu baru dilakukan pembacaan serapan solut dalam larutan uji.

Dengan demikian, serapan konstituen dalam larutan uji

yang diukur dapat diabaikan.

K. Blangko (Hicks dkk., 22-23; Gearien,139)

56

Detektor

57

58

Aplikasi UV/Vis (Harvey, 395-398)

Bidang lingkungan(misal : analisis berbagai logam dalam air)

Bidang klinik(misal : analisis barbiturat dalam serum)

Bidang industriBidang industri farmasi : analisis antibiotika, hormon, vitamin, analgesik) Bidang industri lain : analisis makanan, cat, gelas, logam

Bidang Forensik(misal : analisis narkotika, alkohol dalam darah)

59

Spektrum elektromagnetik dan sinar visibel

60

Panjang gelombang dan warna sinar

61

Literatur (1)

Dyer,J.R., Applications of Absorption Spectroscopy of Organic Compounds, Prentice-Hall, Inc., USA, 1965

Settle, F.A. (Editor), Handbook of Instrumental Techniques for Analytical Chemistry, Prentice-Hall PTR, New Jersey, 1997

Miller,J.M dan Growther, J. B (Editors), Analytical Chemistry in a GMP Environment, A Practical Guide, John Wiley & Sons, Inc., Canada, 2000.

Williams, D.H dan Fleming, I., Spectroscopic Methods in Organic Chemistry, Edisi 5, McGraw-Hill Publishing Company, England, 1995

Bair, E.J., Introduction to Chemical Instrumentation, McGraw-Hill Book Company, Inc., USA, 1962

Willard, H.H dkk., Instrumental Methods of Analysis, edisi 4, Litton Educational Publishing, Inc., India, 1965

Kellner, R. dkk (Editor), Analytical Chemistry, The Approved Text to the FECS Curriculum Analytical Chemistry, Wiley-VCH, Germany, 1998

62

Literatur (2)

Pecsok, R.L. dkk, Modern Methods of Chemical Analysis, edisi 2,John Wiley & Sons, Inc., Canada, 1976

Skoog, D.A dan West, D.M., Principles of Instrumental analysis, Holt, Rinehart and Winston, Inc., USA, 1971

Fritz, J.S dan Schenk, G.H., Quantitative Analytical Chemistry, edisi 2, Allyn and Bacon, Inc., USA, 1969

Harvey, D., Modern Analytical Chemistry, McGraw-Hill Company, USA, 2000

Gearien, J.E dan grabowski, B.F., Methods of Drug analysis, Lea & Febiger, Philadelphia, 1969

Hicks, R. dkk., Laboratory Instrumentation, Harper & Row, Publisher, Inc., USA, 1974

Anonim, Instruction Manual PharmaSpec UV-1700 series, User’s System Guide, Shimadzu Corporation, Japan, 2001