histologi, genetika, farmakologi, biokimia dan fisiologi. Untuk mempelajari Untuk mempelajari...

download histologi, genetika, farmakologi, biokimia dan fisiologi. Untuk mempelajari Untuk mempelajari bagaimana

of 22

  • date post

    11-Aug-2019
  • Category

    Documents

  • view

    215
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of histologi, genetika, farmakologi, biokimia dan fisiologi. Untuk mempelajari Untuk mempelajari...

  • 1

  • 2

  • 3

  • 4

  • 5

  • 6

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Patologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penyakit. Patologi meliputi

    kejadian penyakit secara alami serta perubahan morfologi dan fungsional dalam

    jaringan tubuh selama sakit. Hasil akhir dari mempelajari patologi bagi klinikus adalah

    mendiagnosis dan penanganan terhadap penyakit. Untuk memperoleh diagnosis

    penyakit melalui patologi, maka perlu dipelajari perkembangan, struktur dan fungsi

    normal jaringan tubuh. Untuk itu ilmu yang perlu dipelajari antara lain embriologi,

    anatomi, histologi, genetika, farmakologi, biokimia dan fisiologi. Untuk mempelajari

    bagaimana agen infeksi menyebabkan penyakit, maka perlu dipelajari virology,

    bakteriologi, parasitologi dan toksikologi. Dengan mempelajari bidang-bidang ilmu

    tersebut, maka suatu penyakit dapat ditangani, dicegah dan ditentukan tingkat

    kesembuhannya atau prognosis. Prognosis meliputi tiga yaitu fausta, dubius atau

    infausta. Prognosis fausta artinya suatu penyakit dapat disembuhkan; dubius artinya

    kesembuhan diragukan; sedangkan infausta artinya suatu penyakit dipastikan tidak

    dapat disembuhkan.

    Jika suatu hewan sakit, maka dipastikan ada bagian tubuh yang tidak berfungsi

    semestinya. Kegagalan fungsi organ tubuh tersebut bagi klinikus dan patologist akan

    dipelajari untuk menemukan penyebabnya dan sekaligus penanganannya. Tetapi pada

    hewan yang mengalami kematian tiba-tiba dimana tanpa diketahui sakit secara klinis,

    maka bidang patologi dapat menelusurinya. Patologi adalah ilmu yang mempelajari

    penyakit secara molekuler, biokimia, aspek fungsional dan morfologi dari penyakit

    dalam cairan tubuh, sel, jaringan dan organ tubuh, sehingga berdasarkan jenis gangguan

    ini, suatu penyebab penyakit dapat ditelusuri.

    Ada beberapa batasan digunakan dalam penjelasan penyakit secara patologi

    antara lain tanda klinis, lesi (jejas), etiologi, patogenesis, diagnosis dan prognosis. Jika

    ada hewan yang diare, maka sulit ditelusuri secara langsung melalui menanyakan

    makanan apa yang telah dimakannya seperti halnya pada manusia. Untuk menelusuri

    penyebab diare pada hewan adalah dengan memeriksa lesi atau jejas terutama pada

  • 7

    mukosa usus. Berdasarkan lesi tersebut ditelusuri penyebabnya sesuai karakteristik dari

    agen infeksi (etiologi).

    Patologi mempelajari kejadian dan bagaimana terjadi suatu penyakit.

    Kejadiannya adalah lesi yang terjadi dan teramati. Sedangkan ’bagaimana terjadi’

    merupakan patogenesis atau perjalanan penyakit dari mulai masuk dalam tubuh dan

    perkembangannya sampai menimbulkan penyakit. Mempelajari patologi melibatkan

    istilah-istilah atau bahasa baru yang bertujuan untuk mendefenisikan lesi-lesi dengan

    patogenesisnya dan etiologinya. Hal ini merupakan pemahaman suatu teori patologi

    untuk mengkomunikasikan suatu lesi. Secara praktis seorang pathologist harus mampu

    menguraikan lesi-lesi, mengenali proses penyakit dan menjelaskan bagaimana lesi

    tersebut terjadi. Semua ini memerlukan pengalaman dalam praktek, pemaparan

    spesimen dan kemampuan memecahkan masalah. Pelatihan teknik pemeriksaan lesi

    yang ditunjang dengan pengetahuan patogenesis penyakit, prosedur diagnostik, dan

    interpretasi lesi-lesi yang ada, maka diagnosis dan prognosis suatu penyakit dapat

    ditegakkan secara akurat.

    Penggunaan istilah pada patologi hendaknya tepat untuk menghindari

    kebingungan. Pada patologi umum kebanyakan digunakan diagnosis morfologis pada

    lesi-lesi jaringan. Lesi makroskopis dijelaskan dengan disertai keterangan tentang

    lokasi, warna, ukuran, bentuk, konsistensi dan penampakan pada bidang sayatan. Lesi

    juga perlu penjelasan kuantifikasi dengan pengukuran yang tajam dengan batasan

    umum seperti ringan, sedang atau berat. Uraian mikroskopis perlu orientasi dari

    komponen lesi.

    Berbagai tipe abnormalitas atau lesi yang terjadi dikelompokkan sesuai dengan

    tujuan yang dipelajari. Dalam patologi umum, kategori yang umum dipelajari adalah

    lesi-lesi yang berkaitan dengan degenerasi dan nekrosis sel, gangguan sirkulasi,

    peradangan dan kesembuhan, gangguan pertumbuhan, neoplasma, patologi imun dan

    hubungan inang-parasit dalam menimbulkan penyakit. Sedangkan pada patologi

    sistemik biasanya menyangkut penyakit spesifik dari sistem organ diantaranya sistem

    pencernaan, respirasi, urinaria, tulang dan otot, dan syaraf.

    Patologist atau ahli patologi adalah orang yang mengabdikan dirinya untuk

    mempelajari proses penyakit. Patologist bekerja secara prinsip pada mekanisme

  • 8

    patogenesis penyakit, sering pada level biokimia maupun morfologi. Praktisi patologist

    bekerja pada tujuan diagnosa penyakit dan melakukan autopsi (nekropsi) dan

    menginterpretasi hasil nekropsi maupun biopsi. Tujuannya adalah menemukan,

    memberi nama dan menginterpretasikan lesi pada jaringan yang diperiksa. Sangat

    sering patologist mengobservasi penyakit yang alami sebagai kunci dalam proses

    penentuan patogenesis dari lesi suatu penyakit. Patologist berusaha membuat diagnosis,

    mungkin morfologik (penamaan lesi), etiologik (penamaan penyebab), atau defenitif

    (penamaan penyakit spesifik). Contoh, lesi kataral enteritis, disebabkan oleh

    Escherichia coli, nama penyakitnya Colibasilosis. Contoh lain: lesi granulomatous

    enteritis, disebabkan oleh Mycobacterium paratuberculosis, nama penyakitnya Johne’s

    disease. Sering tidak mungkin menentukan penyebab penyakit secara spesifik, sehingga

    patologist mencatat dan menguraikan lesi morfologis dan kemudian

    menginterpretasikan apa yang terjadi.

    Peran utama veteriner (kedokteran hewan) adalah diagnosis, penanganan,

    pencegahan dan kontrol terhadap penyakit hewan dalam upaya mengurangi kerugian

    ekonomi masyarakat. Kunci dari fungsi ini adalah diagnosis. Kunci diagnosis adalah

    kemampuan mengenali lesi pada hewan mati maupun sakit, memahami patogenesis dan

    dari hal-hal tersebut dapat dibuat kesimpulan dan rekomendasi untuk pengobatan,

    kontrol dan pencegahan. Pemilik hewan mengharapkan diagnosis serta interpretasi dari

    konskuensi penyakit terhadap kelompok ternak yang lain. Prognosis dapat ditetapkan

    jika patogenesis penyakit diketahui. Para klinikus akan tepat dapat melakukan terapi

    jika diagnosis serta prognosis telah dipastikan berdasarkan patogenesis yang pasti.

    Diagnosis dan prognosis menghendaki pengenalan lesi dengan patogenesisnya yang

    komprehensif. Sehingga patologi sering disebut benar-benar sebagai ujung tombak dari

    bidang kedokteran, baik kedokteran manusia maupun kedokteran hewan.

  • 9

    BAB II

    DEGENERASI DAN NEKROSIS

    Patologi adalah ilmu yang mempelajari proses terjadinya penyakit (patogenesis)

    berdasarkan lesi-lesi/ jejas yang ada pada sel/jaringan hewan/manusia sehingga dapat

    dijelaskan sebab-sebab sakit atau kematiannya. Lesi/jejas yang dimaksud meliputi

    perubahan fungsi dan morfologis sel/jaringan baik dari aspek anatomis, histologis,

    patofisiologis dan manifestasi klinis yang dapat diamati. Oleh karena itu, mempelajari

    patologi harus kuat bidang ilmu-ilmu tersebut, yaitu : anatomi, histologi, biokimia,

    fisiologi, diagnosa klinik dan yang lainnya. Sangat mustahil dapat menentukan

    sel/jaringan mengalami sakit apabila tidak tahu bagaimana normalnya.

    Patognomonis adalah lesi yang khas/menciri, sehingga dapat dipastikan penyakitnya.

    Contoh : lesi negri`s bodies pada hipocampus/otak anjing → rabies

    Perdarahan ptekie pada proventrikulus ayam → ND

    DEGENERASI

    Degenerasi adalah perubahan morfologi dan fungsi sel/jaringan yang bersifat

    reversibel (sel/jaringan sakit).

    Sel Normal

    .

    .

    Degenerasi (Sakit) Nekrosis (Mati)

  • 10

    Lesi degenerasi diberi akhiran `osis` pada nama jaringan yang mengalami degenerasi.

    Contoh : Nefrosis (nefron = ginjal), hepatosis (hepar)

    Lesi degenerasi secara umum diamati meliputi membran sel, sitoplasma dan inti

    (nukleus). Apakah membran sel berlipat, mengkerut atau tegang/membengkak,

    tergantung jenis degenerasi. Sitoplasma yang dimana organel-organel berlokasi,

    sedapat mungkin diamati perubahannya. Inti sel diamati warna, bentuk dan

    keberadaannya (di tepi sel atau di tengah-tengah).

    Jenis-jenis degenerasi :

    1. Degenerasi parenkimatosa (clowdy swelling)

    Degenerasi parenkimatosa umumnya terjadi pada organ yang terdiri dari sel-sel

    parenkim (hati, ginjal) ditandai pembengkakan sel, sehingga secara keseluruhan

    organ membengkak. Penyebabnya : mekanik, anoksia, toksik, peroksidasi lipid,

    karena infeksi viral, bakterial dan respon kekebalan berlebihan.

    Perubahan makroskopik yang dapat diamati adalah pembengkakan organ/

    jaringan hati dan ginjal. Ketidak seimbangan osmotik intra dan ekstrasel

    diakibatkan oleh gangguan `sodium pump`. Na (sodium) merupakan mineral

    intrasel dan K merupakan ekstrasel.

    2. Degenarasi melemak

    Degenerasi melemak (fatty degeneration) merupakan akumulasi lemak dalam

    sitoplasma sel. Biasanya terjadi dalam sel-sel parenkimatosa, misalnya sel hepar

    (fatty liver), tubulus ginjal, myocard dan