HASIL PENELITIAN STIMULUS - Universitas PENELITIAN...¢  Proses inilah yang disebut proses...

download HASIL PENELITIAN STIMULUS - Universitas PENELITIAN...¢  Proses inilah yang disebut proses penuaan. Perubahan

of 42

  • date post

    28-Jul-2021
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of HASIL PENELITIAN STIMULUS - Universitas PENELITIAN...¢  Proses inilah yang disebut proses...

DARAH TINGGI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CIPUTAT TIMUR
PROVINSI BANTEN
Anggota : Ns. Milla Evelianti Saputri, S.Kep., MKM
Iras Laratmase
2
3
RINGKASAN
Saat memasuki usia lanjut, ada suatu proses dimana terjadi penurunan fungsi tubuh
secara perlahan-lahan. Proses inilah yang disebut proses penuaan. Perubahan yang
terjadi pada lansia meliputi perubahan fisik, sosial, dan psikologis. Dari perubahan
fisik, salah satunya adalah perubahan pada sistem kardiovaskuler. Katup jantung
menebal dan menjadi kaku, kemampuan jantung memompa darah menurun 1% per
tahun, berkurangnya denyut jantung terhadap respon stress, kehilangan elastisitas
pembuluh darah, tekanan darah meningkat atau hipertensi akibat resistensi
pembuluh darah perifer (Mubarak, 2013). Hipertensi telah menjadi masalah utama
dalam kesehatan masyarakat di dunia. Data dari World Health Organization (WHO,
2013) diperkirakan sekitar 80% kenaikan kasus hipertensi terutama di negara
berkembang tahun 2025. Dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, diperkirakan
menjadi 1,6 milyar kasus di tahun 2025. Upaya yang dapat dilakukan penderita
hipertensi untuk menurunkan tekanan darah adalah dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu secara farmakologis dan non farmakologis. Terapi farmakologis dapat
dilakukan dengan menggunakan obat anti hipertensi, sedangkan terapi non
farmakologis dapat dilakukan dengan berbagai upaya yaitu mengatasi obesitas
dengan menurunkan berat badan berlebih, pemberian kalium dalam bentuk
makanan dengan konsumsi buah dan sayur, mengurangi asupan garam dan lemak
jenuh, berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol, menciptakan keadaan
rileks dan latihan fisik atau olahraga secara teratur. Oleh karena itu, penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan pada senam
lansia terhadap terjadinya penurunan tekanana darah pada lansia. Intervensi yang
diberikan dalam penelitian ini berupa senam lansia yang akan dilakukan sebanyak
2 kali dalam seminggu dalam kurun waktu 5 minggu. Penelitian dilakukan pada
lansia yang berada pada wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur Provinsi Banten.
Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat pengaruh yang siginifikan antara senam
lansia dengan penurunan tekanan darah tinggi di Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat
Timur Provinsi Banten, dengan P value < 0,05.
4
SUMMARY
When entering old age, there is a process in which there is a gradual decline in
bodily functions. This process is called the aging process. The changes that occur
in the elderly include physical, social and psychological changes. From physical
changes, one of which is changes in the cardiovascular system. The heart valves
thicken and become stiff, the ability of the heart to pump blood decreases by 1%
per year, reduced heart rate in response to stress, loss of elasticity of blood vessels,
increased blood pressure or hypertension due to peripheral vascular resistance
(Mubarak, 2013). Hypertension has become a major problem in public health in
the world. Data from the World Health Organization (WHO, 2013) is estimated that
around 80% of the increase in cases of hypertension, especially in developing
countries in 2025. Of the 639 million cases in 2000, it is estimated to be 1.6 billion
cases in 2025. Efforts that can be done by people with hypertension to lower blood
pressure can be done in two ways, namely pharmacologically and non
pharmacologically. Pharmacological therapy can be carried out using anti-
hypertensive drugs, while non-pharmacological therapy can be carried out with
various efforts, namely overcoming obesity by losing excess weight, giving
potassium in the form of food with consumption of fruits and vegetables, reducing
salt and saturated fat intake, quitting smoking, reducing consumption of alcohol,
creating a relaxed state and physical exercise or regular exercise. Therefore, this
study was conducted to determine whether there is a significant effect on elderly
exercise on the decrease in blood pressure in the elderly. The intervention given in
this study was in the form of elderly exercise which will be carried out twice a week
for a period of 5 weeks. The research was conducted on the elderly who were in the
working area of the Ciputat Timur Community Health Center, Banten Province.
The results showed that there was a significant effect between elderly exercise and
a reduction in high blood pressure in the Ciputat Timur Public Health Center,
Banten Province, with a P value <0.05.
5
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt, atas kehendakNya kegiatan
Penelitian dengan judul “Pengaruh Senam Lansia Terhadap Penurunan Tekanan
Darah Tinggi Di Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Timur Provinsi Banten” dapat
diselesaikan dengan baik. Kegiatan Penelitian ini dilaksanakan dalam rangka
memenuhi salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh dosen yaitu dalam
rangka pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bidang Penelitian.
Berkaitan dengan selesainya kegiatan ini, penghargaan dan terima kasih yang
sebesar-besarnya disampaikan kepada :
1. Universitas Nasional, atas bantuan dana yang diberikan.
2. Prof. Dr. Ernwati Sinaga, MS. Apt., Warek III Universitas Nasional Bidang Penelitian,
Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerjasama, yang telah memotivasi, mendorong,
dan memberikan semangat kepada dosen-dosen Universitas Nasional untuk melakukan
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sekaligus mengusahakan dana dari
Universitas Nasional.
3. Dr. Retno Widowati, M.Si., Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nasional atas
ijin dan kesempatan sehingga kegiatan ini berjalan dengan baik dan lancar.
4. Semua pihak yang namanya tidak bisa dicantumkan satu persatu, disampaikan
penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya, akhir kata didalam kegiatan ini
tentu masih banyak kekurangan yang ditemukan, namun demikian kegiatan penelitian
ini dapat dirasakan dan semoga bermanfaat bagi keilmuan.
Jakarta, 24 Agustus 2020
6
B. Populasi dan Sampel ………………………………… 31
C. Alat, bahan dan Responden …………………………. 31
D. Cara Kerja ………………………………………… 33
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………… 41
dewasa, misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf,
dan jaringan lain sehingga tubuh ‘mati’ sedikit demi sedikit. Sebenarnya tidak ada
batasan yang tegas, pada usia berapa kondisi kesehatan seseorang mulai menurun
karena setiap orang memiliki fungsi fisiologis alat tubuh yang sangat berbeda, baik
dalam hal pencapaian puncak fungsi tersebut maupun saat menurunnya. Umumnya
fungsi fisiologis tubuh mencapai puncaknya pada usia 20-30 tahun. Setelah
mencapai puncak, fungsi alat tubuh akan berada dalam kondisi tetap utuh beberapa
saat, kemudian menurun sedikit demi sedikit sesuai dengan bertambahnya usia
(Mubarak, 2013).
Menua atau proses penuaan adalah siklus kehidupan yang ditandai dengan
tahapan-tahapan menurunnya berbagai fungsi organ tubuh, yang ditandai dengan
semakin rentannya tubuh terhadap berbagai serangan penyakit yang dapat
menyebabkan kematian misalnya pada sistem kardiovaskuler dan pembuluh darah,
pernafasan, pencernaan, endokrin dan lain sebagainya. Hal tersebut terjadi seiring
meningkatnya usia sehingga terjadi perubahan dalam struktur dan fungsi sel,
jaringan, serta sistem organ. Perubahan tersebut pada umumnya berpengaruh pada
kemunduran kesehatan fisik dan psikis yang pada akhirnya akan berpengaruh pada
ekonomi dan sosial lansia. Sehingga secara umum akan berpengaruh pada activity
of daily living (Fatimah, 2012).
8
Lanjut usia adalah suatu proses yang alami dari tumbuh kembang. Semua
orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup
manusia yang terakhir (Azizah,2014). Saat memasuki usia lanjut, ada suatu proses
dimana terjadi penurunan fungsi tubuh secara perlahan-lahan. Proses inilah yang
disebut proses penuaan. Perubahan yang terjadi pada lansia meliputi perubahan
fisik, sosial, dan psikologis. Dari perubahan fisik, salah satunya adalah perubahan
pada sistem kardiovaskuler. Katup jantung menebal dan menjadi kaku,
kemampuan jantung memompa darah menurun 1% per tahun, berkurangnya denyut
jantung terhadap respon stress, kehilangan elastisitas pembuluh darah, tekanan
darah meningkat atau hipertensi akibat resistensi pembuluh darah perifer
(Mubarak, 2013).
adalah suatu kondisi di mana pembuluh darah terus-menerus mengalami
peningkatan tekanan. Darah dibawa dari jantung ke seluruh bagian tubuh melalui
pembuluh darah. Setiap kali jantung berdetak maka akan memompa darah ke dalam
pembuluh darah. Tekanan darah dibuat oleh kekuatan darah yang mendorong
dinding pembuluh darah (arteri). Semakin tinggi tekanan semakin keras jantung
harus memompah. Hipertensi telah menjadi masalah utama dalam kesehatan
masyarakat di dunia. Data dari World Health Organization (WHO, 2013)
diperkirakan sekitar 80% kenaikan kasus hipertensi terutama di negara
berkembang tahun 2025. Dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, diperkirakan
menjadi 1,6 milyar kasus di tahun 2025.
Upaya yang dapat dilakukan penderita hipertensi untuk menurunkan
tekanan darah adalah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara farmakologis
9
obat anti hipertensi, sedangkan terapi non farmakologis dapat dilakukan dengan
berbagai upaya yaitu mengatasi obesitas dengan menurunkan berat badan berlebih,
pemberian kalium dalam bentuk makanan dengan konsumsi buah dan sayur,
mengurangi asupan garam dan lemak jenuh, berhenti merokok, mengurangi
konsumsi alkohol, menciptakan keadaan rileks dan latihan fisik atau olahraga
secara teratur (Widyanto, 2013).
Jenis latihan fisik atau olahraga yang bisa di lakukan oleh lansia antara lain
adalah senam lansia. Senam lansia dibuat oleh Mentri Negara Pemuda dan
Olahraga yang merupakan upaya peningkatan kesegaran jasmani kelompok lansia
yang jumlahya semakin bertambah, sehingga perlu kiranya diberdayakan dan
dilaksanakan secara benar, teratur, dan terukur (Menpora, 2014). Dengan latihan
fisik atau senam dapat membantu kekuatan pompa jantung agar bertambah,
sehingga aliran darah bisa kembali lancar. Jika dilakukan secara teratur akan
memberikan dampak yang baik bagi lansia terhadap tekanan darahnya (Maryam,
2012).
Senam lansia adalah suatu bentuk latihan fisik yang memberikan pengaruh
baik terhadap fisik dan sering diidentifikasi sebagai suatu kegiatan yang meliputi
aktifitas fisik yang teratur dalam jangka waktu dan intensitas tertentu. Senam lansia
merupakan bagian dari usaha menjaga kebugaran termasuk kesehatan jantung dan
pembuluh darah, dan sebagai bagian dari program pemerintah bagi mereka yang
telah menderita hipertensi (Depkes RI, 2015).
10
Puskesmas Ciputat Timur melalui jumlah kasus penderita Hipertensi lansia pada
tahun 2017 sebanyak 35 orang, pada tahun 2018 tercatat kasus penderita hipertensi
sebanyak 46 orang, dan pada tahun 2019 tercatat jumlah kasus penderita sebanyak
26 orang. Pada beberapa kesempatan wawancara didapatkan data bahwa 7 dari 10
lansia ingin mengetahui cara penurunan tekanan darah melalui latihan fisik atau
olah raga yang teratur. Dalam ruang lingkup penelitian, latihan fisik bisa diarahkan
kepada senam lansia yang menjadi salah satu program kerja dari pemerintah.
D. Urgensi Penelitian
lansia dalam hal ini untuk membantu menurunkan tekanan darah. Dengan
Melakukan Senam Lansia
a. Pemanasan dilakukan
sebelum latihan. Pemanasan
bertujuan menyiapkan fungsi
meningkatnya informasi dan kemampuan pada lansia dalam melakukan salah satu
jenis terapi komplementer yaitu senam lansia ini, diharapkan dapat membantu
lansia dalam upaya penurunan tekanan darah tingginya dan membiasakan lansia
selalu memiliki pola hidup yang sehat.
E. Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah terdapat
pengaruh yang signifikan antara senam lansia terhadap penurunan tekanan
darah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah
mengenai pentingnya pola hidup sehat melalui senam lansia terhadap
penurunan tekanan darah.
Usia lanjut adalah kelompok orang yang sedang mengalami suatu
proses perubahan yang bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade. Usia
lanjut merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap
individu yang mencapai usia lanjut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat
dihindari (Notoatmodjo, 2012).
Penuaan merupakan proses normal perubahan yang berhubungan
dengan waktu, dan sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup.
Usia tua adalah fase akhir dari rentang kehidupan (Fatimah, 2012).
B. Tekanan Darah
beredar dalam pembuluh darah. Tekanan ini terus menerus berada dalam
pembuluh darah dan memungkinkan darah mengalir konstan. Tekanan darah
dalam tubuh pada dasarnya merupakan ukuran tekanan atau gaya di dalam arteri
yang harus seimbang dengan denyut jantung. Melalui denyut jantung, darah
akan dipompa melalui pembuluh darah kemudian dibawa keseluruh bagian
tubuh. Tekanan darah dipengaruhi volume darah dan elastisitas pembuluh darah
(Rusdi, 2013).
Inggris, tekanan darah dikontrol oleh hormon yang disebut angiotensis (Anna,
13
2012). Tekanan tertinggi karena jantung bilik kiri memompa darah ke arteri
disebut tekanan sistolik. Tekanan diastolik adalah tekanan terendah saat jantung
beristirahat atau rileks. Tekanan darah digambarkan sebagai rasio tekanan
sistolik terhadap tekanan diastolik. Pada orang dewasa tekanan normal berkisar
120/80 mmHg (Santoso, 2014).
1. Defenisi Hipertensi
peningkatan tekanan darah diatas normal yang mengakibatkan peningkatan
angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) (Triyanto, 2014).
Sedangkan menurut Joint National Commite on Detection, Evaluation and
Treatment of High Blood Pressure (JNC VII, 2009) hipertensi didefinisikan
sebagai tekanan yang lebih tinggi atau sama dengan 140/90 mmHg dapat
diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya (Ruhyanudin, 2015).
2. Klasifikasi hipertensi
Klasifikasi tekanan
Hipertensi stage 2 160 atau >160 100 atau >100
Sumber (JNC VII, 2009)
hipertensi esensial atau hipertensi primer dan hipertensi sekunder atau
hipertensi renal (Guyton, 2013):
dasar patologis yang jelas. Lebih dari 90% kasus merupakan hipertensi
essensial. Penyebab hipertensi meliputi faktor genetik dan lingkungan. Faktor
genetik mempengaruhi kepekaan terhadap natrium, kepekaan terhadap stress,
reaktivitas pembuluh darah terhadap vasokontriktor, resistensi insulin dan lain-
lain. Sedangkan yang termasuk faktor lingkungan antara lain diet, kebiasaan
merokok, stress emosi, obesitas dan lain-lain. Pada sebagian besar pasien,
kenaikan berat badan yang berlebihan dan gaya hidup tampaknya memiliki
peran yang utama dalam menyebabkan hipertensi. Kebanyakan pasien
hipertensi memiliki berat badan yang berlebih dan penelitian pada berbagai
populasi menunjukkan bahwa kenaikan berat badan yang berlebih (obesitas)
memberikan risiko 65-70 % untuk terkena hipertensi primer.
b. Hipertensi Sekunder
penyakit jantung atau obat-obat tertentu yang dapat meningkatkan tekanan
darah. Pada kebanyakan kasus, disfungsi renal akibat penyakit ginjal kronis atau
penyakit renovaskular adalah penyebab sekunder yang paling sering. Obat-obat
15
tertentu, baik secara langsung ataupun tidak, dapat menyebabkan hipertensi atau
memperberat hipertensi dengan menaikan tekanan darah. penyebab sekunder
dapat diidentifikasi, maka dengan menghentikan obat yang bersangkutan atau
mengobati/mengoreksi kondisi komorbid yang menyertainya sudah merupakan
tahap pertama dalam penanganan hipertensi sekunder
4. Tanda dan Gejala
Pada pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan
darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti
perdarahan, eksudat (kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah, dan pada
kasus berat, edema pupil. individu yang menderita hipertensi kadang tidak
menampakan gejala sampai bertahun-tahun.Gejala bila ada menunjukan adanya
kerusakan vaskuler, dengan manifestasi yang khas sesuai sistem organ yang
divaskularisasi oleh pembuluh darah bersangkutan. Perubahan patologis pada ginjal
dapat bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) dan
azetoma peningkatan nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin. Keterlibatan
pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik transien
yang bermanifestasi sebagai paralisis sementara pada satu sisi (hemiplegia) atau
gangguan tajam penglihatan (Wijayakusuma,2012).
intrakranial, Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi, ayunan
langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat,Nokturia karena
peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus, Edema dependen dan
16
terjadi pada penderita hipertensi yaitu pusing, muka merah, sakit kepala, keluaran
darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk terasa pegal dan lain-lain
(Wiryowidagdo,2013).
tekanan darah yang mempengaruhi rumus dasar: Tekanan Darah = Curah Jantung
x Tahanan Perifer. (Yogiantoro, 2014). Mekanisme patofisiologi yang berhubungan
dengan peningkatan hipertensi esensial antara lain :
a. Curah jantung dan tahanan perifer
Keseimbangan curah jantung dan tahanan perifer sangat berpengaruh
terhadap kenormalan tekanan darah. Pada sebagian besar kasus hipertensi esensial
curah jantung biasanya normal tetapi tahanan perifernya meningkat. Tekanan darah
ditentukan oleh konsentrasi sel otot halus yang terdapat pada arteriol kecil.
Peningkatan konsentrasi sel otot halus akan berpengaruh pada peningkatan
konsentrasi kalsium intraseluler. Peningkatan konsentrasi otot halus ini semakin
lama akan mengakibatkan penebalan pembuluh darah arteriol yang mungkin
dimediasi oleh angiotensin yang menjadi awal meningkatnya tahanan perifer yang
irreversible (Gray,2015).
endokrin yang penting dalam pengontrolan tekanan darah. Renin disekresi oleh
juxtaglomerulus aparantus ginjal sebagai respon glomerulus underperfusion atau
17
penurunan asupan garam, ataupun respon dari sistem saraf simpatetik (Gray,2015).
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari
angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). ACE memegang
peranan fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung
angiotensinogen yang diproduksi hati, yang oleh hormon renin (diproduksi oleh
ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I (dekapeptida yang tidak aktif). Oleh ACE
yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II
(oktapeptida yang sangat aktif). Angiotensin II berpotensi besar meningkatkan
tekanan darah karena bersifat sebagai vasoconstrictor melalui dua jalur menurut
(Gray, 2015). yaitu:
1) Meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH
diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk
mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat
sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis) sehingga urin
menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkan, volume cairan
ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian
instraseluler. Akibatnya volume darah meningkat sehingga meningkatkan
tekanan darah (Gray, 2015).
hormon steroid yang berperan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume
cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan
cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan
diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang
pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah (Gray, 2015
18
Sirkulasi sistem saraf simpatetik dapat menyebabkan vasokonstriksi dan
dilatasi arteriol. Sistem saraf otonom ini mempunyai peran yang penting dalam
pempertahankan tekanan darah. Hipertensi dapat terjadi karena interaksi antara
sistem saraf otonom dan sistem renin-angiotensin bersama – sama dengan faktor
lain termasuk natrium, volume sirkulasi, dan beberapa hormon (Gray, 2015).
d. Disfungsi Endotelium
pengontrolan pembuluh darah jantung dengan memproduksi sejumlah vasoaktif
lokal yaitu molekul oksida nitrit dan peptida endotelium. Disfungsi endotelium
banyak terjad i pada kasus hipertensi primer. Secara klinis pengobatan dengan
antihipertensi menunjukkan perbaikan gangguan produksi dari oksida nitrit (Gray,
2015).
lokal. Arterial natriuretic peptide merupakan hormon yang diproduksi di atrium
jantung dalam merespon peningkatan volum darah. Hal ini dapat meningkatkan
ekskresi garam dan air dari ginjal yang akhirnya dapat meningkatkan retensi cairan
dan hipertensi (Gray, 2015).
pembuluh darah (disfungsi endotelium atau kerusakan sel endotelium),
ketidaknormalan faktor homeostasis, platelet, dan fibrinolisis. Diduga hipertensi
dapat menyebabkan protombotik dan hiperkoagulasi yang semakin lama akan
semakin parah dan merusak organ target. Beberapa keadaan dapat dicegah dengan
pemberian obat anti-hipertensi (Gray, 2015).
g. Disfungsi diastolik
ketika terjadi tekanan diastolik. Hal ini untuk memenuhi peningkatan kebutuhan
input ventrikel, terutama pada saat olahraga terjadi peningkatan tekanan atrium kiri
melebihi normal, dan penurunan tekanan ventrikel (Gray, 2015)
20
dua :
pembuluh darah besar seperti jantung dan otak yang sering
peripheral arterial desease
pembuluh darah kecil seperti diginjal yang dapat menyebabkan
terjadinya nefropati, retinopati dan neuropati
E. Kajian Teori Senam Lansia
1. Defenisi senam lansia
Senam lansia adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan terarah serta
terencana yang diikuti oleh orang lanjut usia dalam bentuk latihan fisik yang
berpengaruh terhadap kemampuan fisik lansia. Aktifitas olahraga ini akan
membantu tubuh agar tetap bugar dan tetap segar (Widianti & Atikah, 2012). Dalam
Isesreni (2011) senam lansia merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan
kesegaran jasmani kelompok lansia yang jumlahnya semakin bertambah, sehingga
perlu diberdayakan dan dilaksanakan secara benar, teratur, dan rutin.
Senam lansia yang dibuat oleh Menteri Negara Pemuda dan Olahraga
(MENPORA) merupakan upaya peningkatan kesegaran jasmani kelompok lansia
jumlahnya semakin bertambah.Senam lansia sekarang sudah diberdayakan
diberbagai tempat seperti di panti wredha, posyandu, klinik kesehatan,
danpuskesmas. (Suroto, 2014).
Senam lansia adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan terarah serta
terencana yang diikuti oleh orang lanjut usia yang dilakukan dengan maksud
meningkatkan kemampuan fungsional raga. Senam lansia ini dirancang secara
khusus untuk melatih bagian-bagian tubuh serta pinggang, kaki serta tangan agar
mendapatkan peregangan bagi para lansia, namun dengan gerakan yang tidak
22
berlebihan. Senam lansia dapat menjadi program kegiatan olahraga rutin yang dapat
dilakukan di posyandu lansia atau di rumah dalam lingkungan masyarakat. Senam
lansia dilakukan dengan senang hati untuk memperoleh hasil latihan yang lebih baik
yaitu kebugaran tubuh dan kebugaran mental dan un
2. Gerakan Senam Lansia
latihan, meliputi pemanasan, kondisioning (inti) dan penenangan (pendinginan)
(Sumintarsi, 2016)
1. Pemanasan
Pemanasan dilakukan sebelum latihan. Pemanasan bertujuan menyiapkan
fungsi organ tubuh agar mampu mmenerima pembebanan yang lebih berat pada saat
latihan sebenarnya. Penanda bahwa tubuh siap menerima pembebanan antara lain
detak jantung telah mencapai 60% detak jantung maksimal, suhu tubuh naik 1 C -2
C dan badan berkeringat. Pemanasan yang dilakukan dengan benar akan mengurangi
cidera atau kelelahan (Sumintarsi, 2016)
Gerakan pemanasan pada senam lansia adalah sebagai berikut:
a. Sikap permulaan: berdiri tegak menghadap ke depan
Gambar 2.1
Gerakan permulaan
Gambar 2.2
c. Jalan maju, mundur, gerakan kepala menengok samping, miringkan kepala,
menundukan kepala 8 x 8 hitungan
Gambar 2.3
Gerakan kepala
d. Melangkahkan satu langgkah ke samping dengan menggerakan bahu 8 x 8
hitungan
24
Gamabar 2.4
Gerakan bahu
e. Peregangan dinamis dengan jalan di tempat 8 x 8 hitungan
Gambar 2.5
Gerakan peregangan
yakni melakukan berbagai rangkaian gerak dengan model latihan yang sesuai
dengan tujuan program latihan
25
a. Jalan maju dan mundur melatih koordinasi lengan dan tungkai 2 x 8 hitungan
Gambar 2.6
Gerakan lengan dan tungkai
b. Melangkah ke samping dengan mengayun lengan ke depan, menguatkan otot
lengan 2 x 8 hitungan
Gambar 2.7
Gerakan otot lengan
c. Kaki bertumpu pada tumit, tekuk lengan, koordinasi gerakan kaki dengan lengan
2…