Gizi buruk

Click here to load reader

  • date post

    29-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    14
  • download

    0

Embed Size (px)

description

gizi buruk

Transcript of Gizi buruk

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Malnutrisi adalah suatu keadaan defisiensi, kelebihan atau ketidakseimbangan protein energi dan nutrien lain yang dapat menyebabkan gangguan fungsi pada tubuh. Secara umum malnutrisi terbagi atas dua bagian yaitu undernutrisi dan overnutrisi. Undernutrisi atau keadaan defisiensi terdiri dari marasmus, kwashiorkor, serta marasmik-kwashiorkor.1Gizi buruk masih merupakan masalah kesehatan utama di banyak negara di dunia, terutama di negara-negara yang sedang berkembang di Asia, Afrika, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Salah satu klasifikasi dari gizi buruk adalah marasmik-kwashiorkor. Di seluruh dunia, diperkirakan terdapat 825 juta orang yang menderita gizi buruk pada tahun 20002002, dan 815 juta diantaranya hidup di negara berkembang. Prevalensi yang tinggi terdapat pada anak-anak di bawah umur 5 tahun (balita). Prevalensi balita yang mengalami gizi buruk di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan laporan provinsi selama tahun 2005 terdapat 76.178 balita mengalami gizi buruk dan data Susenas (Survei Sosial dan Ekonomi Nasional) tahun 2005 memperlihatkan prevalensi balita gizi buruk sebesar 8,8%. Pada tahun 2005 telah terjadi peningkatan jumlah kasus gizi buruk di beberapa propinsi dan yang tertinggi terjadi di dua propinsi yaitu Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.1,2Banyak faktor yang mempengaruhi timbulnya gizi buruk dan faktor tersebut saling berkaitan. Secara langsung penyebab terjadinya gizi buruk yaitu anak kurang mendapat asupan gizi seimbang dalam waktu cukup lama dan anak menderita penyakit infeksi. Anak yang sakit, asupan zat gizi tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh secara optimal karena adanya gangguan penyerapan akibat penyakit infeksi. Secara tidak langsung penyebab terjadinya gizi buruk yaitu tidak cukupnya persediaan pangan di rumah tangga, pola asuh kurang memadai, dan sanitasi atau kesehatan lingkungan kurang baik, serta akses pelayanan kesehatan terbatas. Akar masalah tersebut berkaitan erat dengan rendahnya tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan kemiskinan keluarga.3Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa anak gizi buruk dengan gejala klinis (marasmus, kwashiorkor, marasmus kwashiorkor) umumnya disertai dengan penyakit infeksi seperti diare, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), tuberculosis (TB), serta penyakit infeksi lainnya. Data dari WHO menunjukkan bahwa 54% angka kesakitan pada balita disebabkan karena gizi buruk, 19% diare, 19% ISPA, 18% perinatal, 7% campak, 5% malaria, dan 32% penyebab lainnya.41.2Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana Definisi dari Gizi Buruk?2. Bagaimana Epidemiologi Gizi Buruk?3. Bagaimana Etiologi Gizi Buruk?

4. Bagaimana Faktor Risiko Gizi Buruk?5. Bagaimana Klasifikasi Gizi Buruk?6. Bagaimana Patofisiologi Gizi Buruk?7. Bagaimana Manifestasi Klinis dari Gizi Buruk?8. Bagaimana Diagnosis Gizi Buruk?9. Bagaimana Penatalaksanaan Gizi Buruk10. Bagaimana Komplikasi dari Gizi Buruk?11. Bagaimana Prognosis Klinis dari Gizi Buruk?1.3 Tujuan

Berdasarkan Rumusan masalah diatas, penulis mengambil tujuan sebagai berikut:

1. Bagaimana Definisi dari Gizi Buruk.

2. Bagaimana Epidemiologi Gizi Buruk.3. Bagaimana Etiologi Gizi Buruk.

4. Bagaimana Faktor Risiko Gizi Buruk.5. Bagaimana Klasifikasi Gizi Buruk.6. Bagaimana Patofisiologi Gizi Buruk.7. Bagaimana Manifestasi Klinis dari Gizi Buruk.8. Bagaimana Diagnosis Gizi Buruk.9. Bagaimana Penatalaksanaan Gizi Buruk.

10. Bagaimana Komplikasi dari Gizi Buruk.11. Bagaimana Prognosis dari Gizi Buruk.1.4Manfaat

Melalui makalah ini, penulis mengharapkan dapat menambah pengetahuan dokter muda mengenai penegakan diagnosis dan penatalaksanaan gizi buruk secara komprehensif.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi

Gizi buruk merupakan istilah teknis yang biasanya digunakan oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran.5 Gizi buruk adalah kondisi seseorang yang nutrisinya di bawah rata-rata.6 Hal ini merupakan suatu bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Keadaan gizi kurang tingkat berat pada masa bayi dan balita ditandai dengan dua macam sindrom yang jelas yaitu Kwashiorkor (karena kurang konsumsi protein) dan Marasmus (karena kurang konsumsi energi dan protein).5Marasmus adalah keadaan gizi buruk yang ditandai dengan tampak sangat kurus, iga gambang, perut cekung, wajah seperti orang tua dan kulit keriput. Kwashiorkor adalah keadaan gizi buruk yang ditandai dengan edema seluruh tubuh terutama di punggung kaki, wajah membulat dan sembab, perut buncit, otot mengecil, pandangan mata sayu dan rambut tipis / kemerahan. Marasmik-kwashiorkor adalah keadaan gizi buruk dengan tanda-tanda gabungan dari marasmus dan kwashiorkor.1Sedangkan menurut Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit Departemen Kesehatan RI 2003 marasmik-kwashiorkor adalah gizi buruk dengan gambaran klinik yang merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor dan marasmus dengan BB/U < 60 % baku median WHO-NHCS disertai edema yang tidak mencolok.72.2. Epidemiologi

Berdasarkan perkembangan masalah gizi, pada tahun 2005 diperkirakan sekitar 5 juta anak menderita gizi kurang (berat badan menurut umur), 1,5 juta diantaranya menderita gizi buruk. Dari anak yang menderita gizi buruk tersebut ada 150.000 menderita gizi buruk tingkat berat yang disebut marasmus, kwashiorkor, dan marasmus-kwashiorkor, yang memerlukan perawatan kesehatan yang intensif di Puskesmas dan Rumah Sakit. Masalah gizi kurang dan gizi buruk terjadi hampir di semua Kabupaten dan Kota. Pada saat ini masih terdapat 110 Kabupaten / Kota dari 440 Kabupaten / Kota di Indonesia yang mempunyai prevalensi di atas 30% (berat badan menurut umur). Menurut WHO keadaan ini masih tergolong sangat tinggi. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, sebanyak 13,0% berstatus gizi kurang, diantaranya 4,9% berstatus gizi buruk. Data yang sama menunjukkan 13,3% anak kurus, diantaranya 6,0% anak sangat kurus dan 17,1% anak memiliki kategori sangat pendek. Prevalensi nasional Gizi Buruk pada Balita pada tahun 2007 yang diukur berdasarkan BB/U adalah 5,4%, dan Gizi Kurang pada Balita adalah 13,0%. Prevalensi nasional untuk gizi buruk dan kurang adalah 18,4%. Menurut Departemen Kesehatan (2004), pada tahun 2003 terdapat sekitar 27,5% (5 juta balita kurang gizi), 3,5 juta anak (19,2%) dalam tingkat gizi kurang, dan 1,5 juta anak gizi buruk (8,3%). WHO (1999) mengelompokkan wilayah berdasarkan prevalensi gizi kurang ke dalam 4 kelompok yaitu: rendah (di bawah 10%), sedang (10-19%), tinggi (20-29%), sangat tinggi (30%). 2.3. Etiologi

Terdapat beberapa penyebab langsung yang dapat mengakibatkannya angka kejadian gizi buruk yaitu tidak hanya dikarenakan asupan makanan yang kurang, tetapi juga penyakit. Anak yang mendapat cukup makanan tetapi sering menderita sakit, pada akhirnya dapat menderita gizi buruk. Demikian pula pada anak yang tidak memperoleh cukup makan, maka daya tahan tubuhnya akan melemah dan akan mudah terserang penyakit.Terdapat pula beberapa penyebab tidak langsung yang dapat mengakibatkannya angka kejadian gizi buruk yaitu pertama, ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai. Setiap keluarga diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya dalam jumlah yang cukup baik jumlah maupun mutu gizinya. Kedua, pola pengasuhan anak kurang memadai. Setiap keluarga dan mayarakat diharapkan dapat menyediakan waktu, perhatian, dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang dengan baik baik fisik, mental dan sosial. Ketiga, pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. Sistem pelayanan kesehatan yang ada diharapkan dapat menjamin penyediaan air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan.Secara garis besar sebab-sebab marasmus ialah pemasukan kalori yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat, kelainan metabolik (misalnya renal asidosis, idiopathic hypercalcemia, galactosemia, lactose intolerance), malformasi kongenital (misalnya penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschprung, deformitas palatum, palatoschizis, micrognathia, stenosis pilorus, hiatus hernia, hidrosefalus, cystic fibrosis pankreas).

Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya asupan protein yang berlangsung kronis. Faktor yang dapat menyebabkan kwashiorkor antara lain kurangnya pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting terhadap terjadi kwashiorkhor, terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti ASI. {enghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi, saat dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan proteinnya. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi.

Penyebab marasmik kwashiorkor dapat dibagi menjadi dua penyebab yaitu malnutrisi primer dan malnutrisi sekunder. Malnutrisi primer adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh asupan protein maupun energi yang tidak adekuat. Malnutrisi sekunder adalah malnutrisi yang terjadi karena kebutuhan yang meningkat, menurunnya absorbsi dan atau peningkatan kehilangan protein maupun energi dari tubuh.

Gambar 1. Etiologi Gizi Buruk

2.4Faktor Resiko Gizi Buruk

Banyak faktor resiko terjadinya gizi buruk pada balita diantaranya penyakit infeksi, jenis kelamin, umur, berat badan lahir rendah, tidak diberi ASI eksklusif, imunisasi tidak lengkap, pekerjaan ayah dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah, ibu pekerja, tingkat pendidikan orang tua yang rendah, jumlah anggota keluarga yang besar, perolehan imunisasi yang kurang, konsumsi protein yang kurang, dan lain- lain.102.5Klasifikasi

Penentuan prevalensi KEP (Kekurangan Energi Protein) diperlukan klasifikasi menurut derajat beratnya KEP, klasifikasi demikian yang sering dipakai adalah sebagai berikut:

2.5.1 Klasifikasi Berdasarkan Baku Median WHO-NCHS8Klasifikasi KEPBB/UBB/TB

Ringan70-80%80-90%

Sedang60-70%70-80%

Berat