gizi buruk rvisii

download gizi buruk rvisii

of 28

  • date post

    19-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    273
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of gizi buruk rvisii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah gizi merupakan salah satu faktor penting, bahkan merupakan penentu keberhasilan upaya pembangunan manusia Indonesia. Kondisi kesehatan yang baik dan optimal akan memungkinkan seseorang untuk memiliki kesempatan dan kemampuan yang lebih besar dalam kebutuhan pendidikan dan ekonomi (Atmaja, 2010). Anak memenuhi merupakan

investasi sumber daya manusia (SDM) yang memerlukan perhatian khusus untuk kecukupan status gizinya sejak lahir, bahkan sejak dalam kandungan. Setelah lahir, asupan makanan untuk bayi sejak usia dini merupakan fondasi yang penting bagi kesehatan dan kesejahteraannya di masa depan. Balita akan sehat jika sejak awal kehidupannya sudah diberi makanan sehat dan seimbang sehingga kualitas SDM yang dihasilkan optimal (Baskoro, 2008). Gambaran status gizi buruk balita di Indonesia menurut BB/U berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2010 sebesar 4,9%. Sedangkan persentase gizi buruh ruk balita menurut BB/U di daerah Jawa Tengah sebesar 3,3%. Jumlah persentase status gizi balita berdasarkan TB/U untuk Indonesia balita dengan status sangat pendek sebesar 18,5% dan untuk Jawa tengah sebesar 16,9% (Profil Kesehatan Indonesia, 2010). Persentase gizi buruk pada balita di kabupaten Banyumas meningkat dari 0,05% pada tahun 2009 menjadi 0,16% pada tahun 2010. Dengan jumlah tertinggi terdapat di tiga wilayah kerja puskesmas. Daerah wilayah kerja puskesmas dengan jumlah balita gizi buruk adalah Puskesmas Kembaran I jumlah 12 balita dengan persentase 0.56%, Puskesmas Sumbang I jumlah 12 balita dengan persentase 0,46% dan puskesmas Sokaraja I jumlah 12 balita dengan persentase 0,43%. Desa Karangsari Kecamatan Kembaran memiliki angka gizi buruk...... (Profil Kesehatan Banyumas, 2010). Pengetahuan serta pendapatan yang kurang dari masyarakat merupakan faktor tidak langsung di gizi buruk. Karena faktor pngetahuan dan pendapatan yang kurang tersebut maka dalam muncul persepsi bahwa makanan yang sehat

1

merupakan makanan yang mahal. Guna menghilangkan pesepsi tersebut perlunya pendidikan kesehatan guna memberikan persepsi bahwa makanan tidak harus mahal.

B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut diatas dapat diketahui bahwa di desa Karangsari mempunyai angka prevalensi gizi buruk yang cukup besar sehingga diperlukan adanya upaya mengenai peningkatan pengetahuan dan sikap masyarakat tentang makanann sehat agar prevalensi kejadian gizi buruk dapat menurun.

C. Tujuan 1. Umum Meningkatkan pengetahuan dan sikap tentang pentingnya makanan sehat dan bergizi pada ibu rumah tangga di desa.... Sebagai upaya pencegahan gizi buruk 2. Khusus a. b. Mengenalkan makanan yang mengandung protein, lemak, karbohidrat. Memberikan contoh tentang menu seimbang untuk konsumsi rumah tangga sehari-hari

D. Keluaran yang Diharapkan 1. Adanya kesadaran dari masyarakat desa ..... untuk mengaplikasikan menu makanan sehat dan bergizi untuk kebutuhan sehari-hari. 2. Penerapan pola makan sehat dan bergizi di desa...... 3. Menghidangkan menu sehat dan bergizi dengan biaya yang murah.

2

E. Manfaat 1. Mahasiswa a. Menumbuhkan sikap peduli terhadap masyarakat. b. Menambah wawasan dan pengalaman dalam melakukan kegiatan. c. Media pengembangan serta penerapan ilmu pengetahuan. d. Mendorong mahasiswa untuk berfikir kreatif, inovativ dan dinamis. 2. Perguruan Tinggi a. Perwujudan tri darma perguruan tinggi b. Menambah khasanah ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh perguruan tinggi c. Meningkatkan citra positiv perguruan tinggi sebagai salah satu pencetak generasi perubah yang positiv bagi bangsa. 3. Lingkungan Masyarakat a. Membangun kesadaran seluruh masyarakat tentang makanan sehat dan bergizi serta tidak mahal b. Penerapan pola makan sehat dan bergizi untuk menu keluarga seharihari.

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Status Gizi Keadaan gizi adalah keadaan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan gizi dan penggunaan zat gizi tersebut atau keadaan fisiologi akibat dari tersedianya zat gizi dalam sel tubuh (Supariasa, 2002). Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi. Dibedakan atas status gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, dan gizi lebih (Almatsier, 2006 yang dikutip oleh Simarmata, 2009). Status gizi merupakan faktor yang terdapat dalam level individu (level yang paling mikro). Faktor yang mempengaruhi secara langsung adalah asupan makanan dan infeksi. Pengaruh tidak langsung dari status gizi ada tiga faktor yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak, dan lingkungan kesehatan yang tepat, termasuk akses terhadap pelayanan kesehatan (Riyadi, 2001 yang dikutip oleh Simarmata, 2009). B. Gizi Buruk a. Pengertian Gizi Buruk Gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi, atau nutrisinya di bawah standar rata-rata. Status gizi buruk dibagi menjadi tiga bagian, yakni gizi buruk karena kekurangan protein (disebut kwashiorkor), karena kekurangan karbohidrat atau kalori (disebut marasmus), dan kekurangan kedua-duanya. Gizi buruk ini biasanya terjadi pada anak balita (bawah lima tahun) dan

ditampakkan oleh membusungnya perut (busung lapar). Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan zat gizi, atau dengan ungkapan lain status gizinya berada di bawah standar rata-rata. Zat gizi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Gizi buruk (severe malnutrition) adalah suatu istilah teknis yang umumnya dipakai oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi

4

buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun (Nency, 2005). Anak balita (bawah lima tahun) sehat atau kurang gizi dapat diketahui dari pertambahan berat badannya tiap bulan sampai minimal 2 tahun (baduta). Apabila pertambahan berat badan usia sesuai

dengan pertambahan umur menurut suatu standar organisasi kesehatan dunia, dia bergizi baik. Jika sedikit dibawah standar disebut bergizi kurang yang bersifat kronis. Apabila jauh dibawah standar dikatakan gizi buruk. Sehingga istilah gizi buruk adalah salah satu bentuk kekurangan gizi tingkat berat atau akut (Pardede, J, 2006). b. Klasifikasi Gizi Buruk Departemen Kesehatan (2000) mengklasifikasi Gizi buruk menjadi 3 jenis menurut ciri-ciri atau tanda klinis dari masing-masing klasifikasi. 3 klasifikasi tersebut yaitu: 1) Marasmus Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang timbul diantaranya muka seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit (kelihatan tulang di bawah kulit), rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan kulit, gangguan pencernaan (sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak tampak sering rewel dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih merasa lapar. Gejala marasmus adalah : a) Penderita tampak sangat kurus karena hilangnya sebagian besar lemak dan otot-ototnya, tinggal tulang terbungkus kulit. b) Wajah seperti orang tua c) Iga gambang dan perut cekung d) Otot paha mengendor (baggy pant) e) Cengeng dan rewel, setelah mendapat makan anak masih terasa lapar

5

2) Kwarshiorkhor Penampilan tipe kwashiorkor seperti anak yang gemuk (suger baby), bilamana dietnya mengandung cukup energi disamping kekurangan protein, walaupun dibagian tubuh lainnya terutama pada bagian pantat terlihat adanya atrofi. Tampak sangat kurus dan atau edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh. Berikut ini merupakan ciri dari penderita kwarhiorkor yaitu: a) Perubahan status mental : cengeng, rewel, kadang apatis b) Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut, pada penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat terlihat rambut kepala kusam. c) Wajah membulat dan sembab d) Pandangan mata anak sayu e) Pembesaran hati, hati yang membesar dengan mudah dapat diraba dan terasa kenyal pada rabaan permukaan yang licin dan pinggir yang tajam. f) Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah menjadi coklat kehitaman dan terkelupas. 3) Marasmic-kwarsiorkhor atau kekurangan energi protein (KEP) Gambaran klinis dari Marasmic-kwarsiorkhor merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor dan marasmus. Makanan sehari-hari tidak cukup mengandung protein dan juga

energi untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita demikian disamping menurunnya berat badan < 60% dari normal

memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit, sedangkan kelainan biokimiawi juga dapat diamati. (Depkes RI, 2000). C. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Gizi Buruk 1) Faktor Langsung a) Konsumsi Makanan Faktor makanan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh langsung terhadap keadaan gizi seseorang karena konsumsi makan

6

yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh, baik kualitas maupun kuantitas dapat menimbulkan masalah gizi. b) Infeksi Timbulnya KEP tidak hanya karena makanan yang kurang, tetapi juga karena penyakit. Anak mendapatkan makanan cukup baik tetapi sering diserang diare atau demam, akhirnya dapat menderita KEP. Sebaliknya anak yang makannya tidak cukup baik, daya tahan tubuh dapat melemah. Dalam keadaan demikian mudah diserang infeksi, kurang nafsu makan, dan akhirnya mudah terserang KEP (Soekirman, 2002). 2) Faktor tidak langsung a) Tingkat Pendapatan Tingkat Pendapatan Pendapatan keluarga merupakan penghasilan dalam jumlah uang yang akan dibelanjakan oleh keluarga dalam bentuk makanan. Kemiskinan sebagai penyebab gizi kurang menduduki posisi pertama pada kondisi yang umum. Hal ini harus mendapat perhatian serius karena keadaan ekonomi ini relatif mudah diukur dan berpengaruh besar terhadap konsumen pangan. Golongan miskin menggunakan bagian terbesar dari pendapatan untuk memenuhi kebutuhan makanan, dimana untuk keluarga di negara berkembang sekitar dua pertiganya. (Sokirman, 2002) b) Pengetahuan Gizi Pengetahuan gizi ibu merupakan proses untuk merubah sikap dan p