Filsafat Ilmu Dalam Perspektif Qur

12
FILSAFAT ILMU DALAM PERSPEKTIF QUR’AN Tafsir Ulang Epistemologi Makalah ini disusun untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Pendididikan Agama Islam yang diampu oleh Drs. Ahmad Zuhdi, M.Pd Disusun Oleh: Abaz Zahrotien FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS SAINS AL QUR’AN (UNSIQ) JAWA TENGAH DI WONOSOBO 2008

Transcript of Filsafat Ilmu Dalam Perspektif Qur

Page 1: Filsafat Ilmu Dalam Perspektif Qur

FILSAFAT ILMU DALAM PERSPEKTIF QUR’ANTafsir Ulang Epistemologi

Makalah ini disusun untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Pendididikan Agama Islam yang diampu oleh Drs. Ahmad Zuhdi, M.Pd

Disusun Oleh:

Abaz Zahrotien

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS SAINS AL QUR’AN (UNSIQ)

JAWA TENGAH DI WONOSOBO

2008

Page 2: Filsafat Ilmu Dalam Perspektif Qur

FILSAFAT ILMU DALAM PERSPEKTIF QUR’AN

Tafsir Ulang Epistemologi perspektif Agama dan Akhlak

PENDAHULUAN

Secara apriori mengasosiasikan Qur-an dengan Sains, adalah mengherankan,

apalagi jika asosiasi tersebut berkenaan dengan hubungan harmonis dan bukan

perselisihan antara Qur-an dan Sains. Bukankah untuk menghadapkan suatu kitab suci

dengan pemikiran-pemikiran yang tak ada hubungannya seperti ilmu pengetahuan,

merupakan hal yang paradoks bagi kebanyakan orang pada zaman ini?.

Sesungguhnya sekarang para ahli Sains yang kebanyakannya terpengaruh

oleh teori materialis, menunjukkan sikap acuh tak acuh bahkan sifat merendahkan

terhadap soal-soal agama, karena mereka memandangnya sebagai hal yang

didasarkan atas legenda. Selain daripada itu, di negeri Barat (negeri pengarang, dan

kalangan orang-orang yang terpelajar menurut sistem Barat), jika seseorang berbicara

tentang Sains dan agama, kata agama itu difahami sebagai agama Yahudi dan Kristen

tetapi tak ada orang yang memasukkan Islam dalam kata agama itu.

Tentang Islam, orang Barat mempunyai gambaran yang salah dan karena itu

mereka juga menunjukkan penilaian yang salah, sehingga sampai hari ini sangat susah

bagi mereka untuk mendapatkan gambaran yang tepat dan sesuai dengan ajaran

Islam yang sebenarnya.

Kajian Definitif atas Ilmu

Di dalam Al Qur’an terdapat kata-kata tentang ilmu dalam berbagai bentuk

(‘ilma, ‘ilmi, ‘ilmu, ‘ilman, ‘ilmihi, ‘ilmuha, ‘ilmuhum) terulang sebanyak 99 kali, (Ali

Page 3: Filsafat Ilmu Dalam Perspektif Qur

Audah, 1997: 278-279). Delapan bentuk ilmu tersebut di atas dalam terjemah Al Qur’an

Departemen Agama RI, cetakan Madinah Munawwarah (1990), diartikan dengan:

pengetahuan, ilmu, ilmu pengetahuan, kepintaran dan keyakinan. Sedangkan kata ‘ilmu

itu sendiri berasal dari bahasa Arab ‘alima = mengetahui, mengerti. Maknanya, seseorang

dianggap mengerti karena sudah mengertahui obyek atau fakta lewat pendengaran,

penglihatan dan hatinya.

Kata ilmu dalam pengertian teknis operasional ialah kesadaran tentang realitas.

Pengertian ini didapat dari makna-makna ayat yang ada di dalam Al Qur’an. Orang yang

memiliki kesadaran tentang realitas lewat pendengaran, penglihatan dan hati akan berfikir

rasional dalam menggapai kebenaran (QS. 17 : 36).

"Pengetahuan (‘ilm) boleh merupakan suatu persepsi terhadap esensi segala

sesuatu, mahiyat "suatu bentuk persepsi yang bersahaja yang tidak disertai oleh hukum

atau boleh merupakan oppersepsi; yaitu hukum bahwa sesuatu hal adalah hal itu" (Ibn

Khaldun, 2000: 669).

"Ilmu itu harus dinilai dengan konkrit. Hanya kekuatan intelektual yang

menguasai yang konkritlah yang kana memberi kemungkinan kecerdasan manusia itu

melampaui yang konkrit" (Muhammad Iqbal, 1966, 129).

Menyimak dari pandangan Ibn Khaldun dan Iqbal tentang ilmu, dapat ditarik

satu garis lurus bahwa ilmu atau realitas kebenaran akan hadir secara utuh dalam persepsi

individu, walaupun dalam pemahaman bisa berbeda atas suatu realitas atau obyek.

Kehadiran secara utuh dari suatu obyek terhadap subyek adalah suatu realitas yang tak

bisa dielakkan. Inilah yang oleh Iqbal dikatakan bahwa ilmu itu harus dinilai dengan

konkrit, yakni ilmu harus bisa terukur kebenarannya.

Page 4: Filsafat Ilmu Dalam Perspektif Qur

Meraba Arus Filsafat dalam Perspektif Historisitas dan Normativitas

Hubungan antara filsafat dan agama dalam sejarah kadang-kadang dekat dan

baik, dan kadang-kadang jauh dan buruk. Ada kalanya para agamawan merintis

perkembangan filsafat. Ada kalanya pula orang beragama merasa terancam oleh

pemikiran para filosof yang kritis dan tajam. Para filosof sendiri kadang-kadang memberi

kesan sombong, sok tahu, meremehkan wahyu dan iman sederhana umat.

Kadang-kadang juga terjadi bentrokan, di mana filosof menjadi korban

kepicikan dan kemunafikan orang-orang yang mengatasnamakan agama. Socrates

dipaksa minum racun atas tuduhan atheisme padahal ia justru berusaha mengantar kaum

muda kota Athena kepada penghayatan keagamaan yang lebih mendalam. Filsafat Ibn

Rusyd dianggap menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam, ia ditangkap, diasingkan dan

meninggal dalam pembuangan. Abelard (1079-1142) yang mencoba mendamaikan iman

dan pengetahuan mengalami pelbagai penganiayaan. Thomas Aquinas (1225-1274),

filosof dan teolog terbesar Abad Pertengahan, dituduh kafir karena memakai pendekatan

Aristoteles (yang diterima para filosof Abad Pertengahan dari Ibn Sina dan Ibn Rusyd).

Giordano Bruno dibakar pada tahun 1600 di tengah kota Roma. Sedangkan di zaman

moderen tidak jarang seluruh pemikiran filsafat sejak dari Auflklarung dikutuk sebagai

anti agama dan atheis.

Pada akhir abad ke-20, situasi mulai jauh berubah. Baik dari pihak filsafat

maupun dari pihak agama. Filsafat makin menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan

manusia paling dasar tentang asal-usul yang sebenarnya, tentang makna kebahagiaan,

tentang jalan kebahagiaan, tentang tanggungjawab dasar manusia, tentang makna

kehidupan, tentang apakah hidup ini berdasarkan sebuah harapan fundamental atau

sebenarnya tanpa arti paling-paling dapat dirumuskan serta dibersihkan dari kerancuan-

Page 5: Filsafat Ilmu Dalam Perspektif Qur

kerancuan, tetapi tidak dapat dijawab. Keterbukaan filsafat, termasuk banyak filosof

Marxis, terhadap agama belum pernah sebesar dewasa ini.

Sebaliknya agama, meskipun dengan lambat, mulai memahami bahwa

sekularisasi yang dirasakan sebagai ancaman malah membuka kesempatan juga. Kalau

sekularisasi berarti bahwa apa yang duniawi dibersihkan dari segala kabut adiduniawi,

jadi bahwa dunia adalah dunia dan Allah adalah Allah, dan dua-duanya tidak tercampur,

maka sekularisasi itu sebenarnya hanya menegaskan apa yang selalu menjadi keyakinan

dasar monotheisme. Sekularisasi lantas hanya berarti bahwa agama tidak lagi dapat

mengandalkan kekuasaan duniawi dalam membawa pesannya, dan hal itu justru

membantu membersihkan agama dari kecurigaan bahwa agama sebenarnya hanyalah

suatu legitimasi bagi sekelompok orang untuk mencari kekuasaan di dunia. Agama

dibebaskan kepada hakekatnya yang rohani dan adiduniawi (agama, baru menjadi saksi

kekuasaan Allah yang adiduniawi apabila dalam mengamalkan tugasnya tidak memakai

sarana-sarana kekuasaan, paksaan dan tekanan duniawi.

Sumber Ilmu

Jika ilmu diistilahkan sebagai kesadaran tentang realitas, maka realitas yang

paling utama ketika manusia itu lahir adalah alam semesta (mikro kosmos dan makro

kosmos). Di alam inilah manusia mulai mendengar, melihat dan merasakan obyek-obyek

yang dialaminya berupa suara, bentuk dan perasaan. Alam ini merupakan satu titik

kesadaran awal untuk mengenal realitas terutama diri sendiri. Setelah manusia

mengalami kedewasaan dan sempurna akalnya, maka ia mulai berpikir tentang

metarealitas, yakni suatu kekuatan supernatural yang ikut bermain dan sibuk mengurus

proses-proses penciptaan dari tiada menjadi ada, dari ada menjadi tiada. Atau dari mati

Page 6: Filsafat Ilmu Dalam Perspektif Qur

menjadi hidup, kemudian dari hidup menjadi mati (QS.2: 28).

Kehadiran alam fisika sebagai realitas menjadi jembatan untuk melihat sesuatu

yang bersifat metafisika yakni Yang Ada di balik fisik dan ciptaan-ciptaan itu.

Keragaman alam semesta yang tak terhingga oleh manusia merupakan kenyataan-

kenyataan yang tak bisa ditolak begitu saja tanpa argumentasi yang logis, yang berangkat

dari kesadaran tentang realitas yang diperoleh dari pendengaran, penglihatan dan hati.

Dengan demikian manusia akan menyadari dengan sendirinya tentang kehariran

alam semesta sebagai realitas fisika dan kehadiran Allah SWT sebagai realitas metafisika.

Alam fisika sebagai realitas terbuka, sedangkan alam metafisika sebagai realitas tertutup.

Alam semesta yakni mikro kosmos dan makro kosmos hadir sebagai realitas untuk

mengukuhkan eksistensi Tuhan sebagai pemilik mutlak yang tak pernah punah,

sedangkan alam semesta itu sendiri bisa punah sebagai suatu yang nisbi alias tidak kekal.

Alam semesta adalah sumber ilmu yang kedua yang merupakan ciptaan Allah

SWT karena sebelum adanya alam semesta, Allah lebih dahulu ada yang tidak

berpermulaan dan tak berakhir. Sedangkan alam memiliki permulaan dan masa akhir.

Oleh karena itu ilmu dari Allah yang bersifat langsung bersifat absolut, sedangkan ilmu

lewat alam semesta bersifat relatif.

"Menurut Al Qur’an, mempelajari kitab alam akan mengungkapkan rahasia-

rahasianya kepada manusia dan menampakkan koherensi (keterpaduan), konsistensi

dan aturan di dalamnya. Ini akan memungkinkan manusia untuk menggunakan ilmunya

sebagai perantara untuk menggali kekayaan-kekayaan dan sumber-sumber yang

tersembunyi di dalam alam dan mencapai kesejahteraan material lewat penemuan-

penemuan ilmiahnya (Ghulsyani, 1990:54).

Al Qur’an sebagai kitab "tertutup" yang merupakan kondifikasi wahyu yang

Page 7: Filsafat Ilmu Dalam Perspektif Qur

menurut teori-teori keilmuan yang tak terhingga penafsirannya sampai hari Qiyamat.

Sedangkan alam semesta sebagai kitab "terbuka" yang tak terhingga pula untuk

dieksperimen sampai hari Qiyamat. Dua sumber mata air (pengetahuan, ilmu dan

teknologi), yang abadi dan tak pernah kering dalam konteks kehidupan keduniaan. Al

Qur’an sebagai "kitab tertutup" dan alam semesta sebagai "kitab terbuka" saling

memperkuat kedudukannya masing-masing. Artinya, Al Qur’an memuat informasi-

informasi tentang material dan struktur alam semesta, sedangkan rahasia-rahasia alam

semesta bisa kita cari informasinya lewat Al Qur’an dan alam semesta itu sendiri, karena

Al Qur’an merupakan wahyu Allah dan alam adalah ciptaan Allah. Dengan demikian,

realitas kebenaran bisa ditemukan di dalam Al Qur’an sekaligus juga bisa ditemukan

pada alam semesta karena berasal dari satu sumber yakni Allah SWT Maha Kreatif alias

Pencipta.

Selain alam semesta dan Al Qur’an, masih ada satu sumber lagi yakni Hadits

yang berupa petunjuk-petunjuk Rasulullah SAW, berdasarkan pemberitahuan atau

aplikasi dari petunjuk wahyu kepada Nabi SAW terutama pengetahuan dan ilmu

tentang tata cara beribadah mahdhah yang kita lakukan selama ini seperti; shalat, zakat,

puasa, dan haji, lebih banyak kita mendapat model atau contoh langsung dari Rasulullah

SAW, yang secara esensial tidak bisa diubah atau ditukar dengan cara-cara yang lain.

Di dalam kitab As-Sunnah Mashdaran li Al-Ma’rifah wa Al-Hadharah,

dijelaskan bahwa "Sunnah merupakan sumber kedua setelah Al Qur’an bagi fikih dan

hukum Islam. Sunnah juga merupakan sumber bagi da’wah dan bimbingan bagi seorang

muslim, ia juga merupakan sumber ilmu pengetahuan religius (keagamaan), humaniora

(kemanusiaan), dan sosial yang dibutuhkan umat manusia untuk meluruskan jalan

mereka, membetulkan kesalahan mereka ataupun melengkapi pengetahuan eksperimental

Page 8: Filsafat Ilmu Dalam Perspektif Qur

mereka" (Yusuf Al Qardhawy, 1997:101).

Rasionalitas dan Spiritualitas dalam Ilmu

Berangkat dari kesadaran tentang realitas atas tangkapan indra dan hati, yang

kemudian diproses oleh akal untuk menentukan sikap mana yang benar dan mana yang

salah terhadap suatu obyek atau relitas. Cara seperti ini bisa disebut sebagai proses

rasionalitas dalam ilmu. Sedangkan proses rasionalitas itu mampu mengantarkan

seseorang untuk memahami metarsional sehingga muncul suatu kesadaran baru tentang

realitas metafisika, yakni apa yang terjadi di balik obyek rasional yang bersifat fisik itu.

Kesadaran ini yang disebut sebagai transendensi, di dalam firman Allah (QS. 3: 191),

artinya:

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau

dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit

dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini

dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api

neraka.

Bagi orang-orang yang beriman, proses rasionalitas dan spriritualitas dalam

ilmu bagaikan keeping mata uang, antara satu sisi dengan sisi yang lain merupakan satu

kesatuan yang bermakna. Bila kesadarannya menyentuh realitas alam semesta maka

biasanya sekaligus kesadarannya menyentuh alam spiritual dan begitupun sebaliknya.

Hal ini berbeda dengan kalangan yang hanya punya sisi pandangan material

alias sekuler. Mereka hanya melihat dan menyadari keutuhan alam semesta dengan

paradigma materialistik sebagai suatu proses kebetulan yang memang sudah ada cetak

Page 9: Filsafat Ilmu Dalam Perspektif Qur

birunya pada alam itu sendiri. Manusia lahir dan kemudian mati adalah siklus alami

dalam mata rantai putaran alam semesta. Atas dasar paradigma tersebut, memunculkan

kesadaran tentang realitas alam sebagai obyek yang harus dieksploitasi dalam rangka

mencapai tujuan-tujuan hedonistis yang sesaat. Alam menjadi laboratorium sebagai

tempat uji coba keilmuan atheistic, di mana kesadaran tentang Tuhan atau spiritualitas

tidak tampak bahkan sengaja tidak dihadirkan dalam wacana pengembangan ilmu.

Orientasi seperti ini yang oleh Allah dikatakan dalam Al Qur’an, bukan untuk

menambah kesyukuran dan ketakwaan, melainkan fenomena alam semesta yang

diciptakan-Nya itu menambah sempurnanya kekufuran mereka (QS 17: 94-100)

Filsafat adalah Energi dan Ilmu itu Cahaya

Filsafat adalah pemikiran, sedangkan ilmu adalah ‘kebenaran’. Gampangnya,

filsafat ilmu adalah pemikiran tentang kebenaran. Apakah benar itu benar? Kalau itu

benar maka berapa kadar kebenarannya.? Apakah ukuran-ukuran kebenaran itu? Di mana

otoritas kebenaran itu? Dan apakah kebenaran itu abadi?

Tujuan filsafat dan ilmu yakni sama-sama mencari kebenaran. Hanya saja

filsafat tidak berhenti pada satu garis kebenaran, tetapi ingin terus mencari kebenaran

kedua, ketiga dan seterusnya sampai habis energinya. Sedangkan ilmu kadang sudah

merasa cukup puas dengan satu kebenaran dan bila ilmu itu disuntik dengan filsafat alias

pemikiran maka ia kan bergerak maju untuk mencari kebenaran yang lain lagi.

Filsafat itu ibarat energi dan ilmu itu umpama mesin listrik. Jika energi dipasok

ke turbin mesin, maka mesin akan bekerja menghasilkan setrum yang dipakai untuk

menyalakan lampu yang memancarkan cahaya.

Filsafat dan ilmu bahu-membahu mengusung kebenaran, namun kebenaran

Page 10: Filsafat Ilmu Dalam Perspektif Qur

filsafat dan kebenaran ilmu masih tetap saja bersifat relatif sebagai proses yang tidak

pernah selesai. Maksudnya, bahwa kebenaran yang didapatkan oleh filsafat dan ilmu

tak pernah selesai dan terus berproses dan menjadi, yang dalam hukum dialektika

(Thesis, Antithesis, Sinthesis) dan seterusnya sebagai tanda bahwa manusia,

pemikirannya dan ciptaannya bersifat relatif. Sedangkan kebenaran itu sendiri identik

dengan Pencipta kebenaran. Oleh karena itu, yang Maha Benar hanyalah Allah SWT (QS

34: 48)

Dalam filsafat illuminasi, "Tuhan kosmos ini adalah Sumber Cahaya, yang dari-

Nya wujud diri yang beradiasi memancarkan suatu cahaya yang menyingkap semua

wujud, dan ketika tiada lagi dunia privasi, non-wujud, dan kegelapan bersanding dengan

dosa. Menurut epistimologi illuminasi, pengetahuan diperoleh ketika tidak ada rintangan

antara keduanya. Dan hanya dengan begitu, subyek mengetahui dapat menangkap esensi

obyek" (Ziai, 1998: 13)

Penutup

Pada wilayah inilah kemudian perlu kajian yang lebih mendalam tentang

terhadap filsafat dalam mengembangkan khazanah keilmuan, khususnya Islam. Ini

penting, mengingat setelah melihat sedikit penjabaran diatas setidaknya telah

memperoleh ilustrasi tentang sejauh mana Al Qur’an mengandung nilai-nilai keilmuan

dan kefilsafatan.

Tentang pendalaman secara lebih mendalam mengenai filsafat, setidaknya ini

telah selesai dalam mata kuliah filsafat umum kajian filsafat yang dapat kita peroleh

dalam diskusi dan dari referensi lainnya yang komprehensif seperti buku dan sebagainya.

Demikian sedikit kajian Al Qur’an tentang filsafat dan ilmu Al Qur’an, terima

Page 11: Filsafat Ilmu Dalam Perspektif Qur

kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan secara penuh otak kami

tentang ilmu pengetahuan.

Page 12: Filsafat Ilmu Dalam Perspektif Qur

Daftar PustakaAbdul Azhim, Ali, Epistemologi dan Aksiologi Ilmu Perspektif Islam, Penerj. Khalilullah

A.M.H, Rosda, Bandung: 1984

Audah, Ali, Konkordasi Qur’an, Litera antar Nusa, Mizan, Bogor, Bandung: 1997

Beerling dkk., Pengantar Filsafat Ilmu, alih bahasa Soedjono Soemargono, Tiara

Wacana, Yogyakarta: 1986.

Ghulsyani, Mahdi, Filsafat Sains Menurut Al Qur’an, penerj. Agus Efendi, Mizan,

Bandung: 1990.

Ha’iri Yazdi, Mehdi, Ilmu Hudhuri, penerj. Ahsin Mohamad, Mizan, Bandung: 1994.

Iqbal, Muhammad, Membangun Kembali Pemikiran Agama dalam Islam, terj. Ali Audah

dkk, Tintamas, Jakarta: 1986.

Khaldun, Ibn, Mudaddimah, Penerj. Ahmadie Thaha, Pustaka Firdaus, Jakarta: 2000.

Kartanegara, Mulyadhi, Pengantar Epistemologi Islam, Mizan, Bandung: 2003.

Marasabessy, Yusra, (Kontributor), Desekularisasi Pemikiran Landasan Islamisasi,

Mizan, Bandung: 1987.

Qardhawy, Yusuf, As-Sunnah Sumber IPTEK dan Peradaban, penerj. Setiawan Budi

Utomo, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta: 1998.

Syarif, M.M., (Editor), Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung: 1989.

Soemargono, Soedjono, Filsafat Pengetahuan, Nur Cahaya, Yogyakarta: 1983.

Ziai, Hossain, Suhrawardi & Filsafat Illuminasi, Penerj. Afif Muhammad dan Munir,

Zaman Wacana Ilmu, Bandung: 1990.