Cholelithiasis Kake

Click here to load reader

  • date post

    21-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    87
  • download

    9

Embed Size (px)

description

cholelitiasis

Transcript of Cholelithiasis Kake

PRESENTASI KASUSCHOLELITHIASIS

PEMBIMBING :Dr. TAN SUHARDI, SpBDOLEH :NANDA MARDAS SAPUTRA( 110.2006.179)FK YARSI

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN BEDAHRSPAD GATOT SOEBROTO DITKESADJAKARTA, JUNI 2011

BAB IPRESENTASI KASUS

1. IDENTITAS PASIEN : Nama: Tn. R Umur: 55 Th Pekerjaan: Swasta Agama: Islam Suku/Bangsa: Jawa / Indonesia Alamat: karanggan, Gunung putri bogorI.1. ANAMNESIS ( pada tanggal 21 Juni 2011)1.Keluhan UtamaNyeri perut kanan atas.

2.Riwayat Penyakit SekarangPasien datang ke dengan keluhan nyeri pada perut kanan atas, nyeri dirasakan sudah sejak dua tahun yang lalu, pasien setahun yang lalu pernah berobat kerumah sakit dan di rumah sakit pasien didiagnosis menderita batu empedu namun pasien belum berniat untuk menjalani saran dokter untuk melakukan operasiKemudian pasien melakukan medical check up kembali dan kembali di diagnosis menderita batu empedu pasien akhirnya memutuskan untuk mau menjalani operasi karena pasien sudah akan pensiun dari pekerjaannya.Pasien selama ini hanya mengeluh rasa sakit pada perut kanan atasnya, sakit bertambah terutama jika pasien makan makanan yang mengandung banyak lemak.Pusing (-), mual (- ), muntah (-), lemas (-), BAK ( N ), BAB (N ).

3.Riwayat Penyakit DahuluAsma : DisangkalHipertensi : DisangkalJantung : DisangkalDM : Disangkal 4.Riwayat Penyakit KeluargaKeluarga pasien tidak ada yang menderita penyakt seperti pasien

2. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum: Tampak Sakit ringan Kesadaran: Compos Mentis Vital Sign: TD : 120/80 mmhg S : 36,5 C N : 80 X / mnt P : 20 X / mnt Kulit: Dbn Kepala: Normocephal Mata:Conjunctiva anemis ( - ), sclera tidak ikterik Telinga: Secret ( - ) Hidung: Secret ( - ) Mulut: Lidah Kotor tidak ada, gigi karies tidak ada Thorax Pulmo : Inspeksi: Retraksi ( - ), Ketinggalan gerak nafas ( - ) Palpasi: Ketinggalan gerak nafas ( - ) Perkusi: Sonor pada kedua lapang paru Auskultasi : Vesikuler, ronkhi ( - ), Wheezing (-/-) Jantung : Inspeksi: Ictus Cordis tak tampak Palpasi: Ictus Cordis teraba di SIC IV Perkusi: Redup Auskultasi: Regular, Murmur (-) Gallop (-) Abdomen : Inspeksi: Perut cembung Palpasi: Hepar / lien tidak teraba, NT ( - ) Perkusi: Shifting Dulness ( - ) Auskultasi: Bising usus (+) Murphy sign: ( - ) Ekstremitas: Akral hangat, Nadi kuat.

3. DIAGNOSIS SEMENTARACholelithiasis4. HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium : Tanggal 20-05-2011/08:07:40 Hematologi: Hemoglobin: - Hematokrit: Eritrosit: Leukosit: Trombosit: MCV: MCH: MCHC: Bleeding Time: 130 Clotting Time: 430 Kimia: Protein Total: Albumin: Globulin: Cholesterol: Trigliserida: Bilirubin total: 0.7 Bilirubin Direct: Bilirubin Indirect: Alkali fosfatase (pria): 74 U/L SGPT: SGOT: 26U/L GGT: Ureum: 47mg/dL Kreatinin: Asam Urat: Natrium: 143 mEq/L Kalium: 4.8 mEq/L Klorida: 105 mEq/L Analisa Gas darah pH: 7.393 pCO2: 38.6 pO2: 94.0 HCO3: 23.7 Base Excess: -0.4 O2 Saturation: 97.0 USG : Data Tidak ada Histopatologi : -kolesistisis kronik non spesifik -tidak tampak tanda ganas

5. DIAGNOSISCholecystolithiasis dengan Cholecystisis Chronic

6. PENANGANANlaparoscopic cholecystectomy

7. INSTRUKSI POST OPERASIa. Awasi tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasanb. Lakukan penampungan dan pengukuran produksi dari NGT dan urinc. Pasien dipuasakan dulud. Infus Dektrosa 5% : RL (3:2) 5 kolf/24 jame. Obat-obatan: - Injeksi Ceftriaxon 3x 1 gr IV Metofusin drip 3x 500 mg Acran injeksi 3 x 1 ampul Ketoprofen injeksi 3 x 1 ampul Vitamin K injeksi 3 x 1 ampul Kalnex injeksi 3 x 1 ampulf. bila pasien sadar terus tidak ada kembung, mual dan muntah dan bising usus adekuat, pasien dicoba minum bertahap (NGT diklem terlebih dahulu)g. Bila intake oral baik infus, NGT dan kateter di cabut, pasie boleh makan bebas, pasien mobilisasi dengan jalan dan obat-obatan diganti per oral : MEIACT tab 3 x 250 mg Ketoprofen tab 3 x 1 Glyserin cap 3 x 1h. Periksa histopatologi jaringan operasii. Boleh pulang

8. PROGNOSIS Ad Vitam: Dubia Ad Bonam Ad Sanationam: Dubia Ad Bonam Ad Functionam: Dubia Ad Bonam

BAB IIPENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kolelitiasis merupakan salah satu masalah bedah yang paling sering di negara yang sudah berkembang. Masalah batu empedu menjadi lebih dikenal seiring dengan bertambahnya usia dan pada wanita batu empedu lebih sering muncul dua kali dibanding pada pria. Dibutuhkan pemeriksaan penunjang yang memiliki sensitifitas dan spesifitas yang tinggi pada penegakan diagnosis kolelitiasis.Anomali saluran empedu dapat dijumpai pada 10-20% populasi, mencakup kelainan jumlah, ukuran, dan bentuk.Penyakit-penyakit yang sering menyerang empedu salah satunya adalah penyakit batu empedu yang sering disebut dengan kolelitiasis.Penyakit batu empedu cukup sering dijumpai di sebagianbesar negara barat. Di Amerika Serikat, pemeriksaan autopsi memperlihatkan bahwa batu empedu ditemukan paling sedikit pada 20% perempuan dan 8% pada laki-laki berusia diatas 40 tahun. Diperkirakan bahwa 16 sampai 20 juta orang di Amerika Serikat memiliki batu empedu dan setiap tahun terjadi kasus baru batu empedu. Pada saat ini tidak mungkin untuk mencegah timbulnya batu empedu, yang merupakan kelainan saluran empedu tersering. Populasi yang memiliki resiko tinggi adalah orang-orang obesitas dan orang- orang yang memiliki kelainan metabolik tertentu serta kelainan hemolitik. Kolelitiasis adalah penyakit yang menunjukkan adanya batu empedu dalam kandung empedu, sedangkan koledokolitiasis adalah batu empedu yang ditemukan di saluran empedu, sedangkan batu empedu adalah timbunan kristal di dalam kandung empedu maupun dalam saluran empedu.

BAB IIITINJAUAN PUSTAKA

1. Anatomi Dan Fisiologi Dari Sistem BilierHati, kandung empedu, dan pankreas berkembang dari cabang usus depan fetus dalam suatu tempat yang kelak menjadi duodenum, ketiganya terkait erat dalam fisiologi pencernaan.

Sumber gambar: http://drugster.info1. Hati Hati yang merupakan kelenjar terbesar dari tubuh, dapat dianggap sebagai sebuah pabrik kimia yang membuat, menyimpan, mengubah dan mengekresikan sejumlah besar substansi yang terlihat dalam metabolisme. Lokasi hati sangat penting dalam pelaksanaan fungsi ini karena hati menerima darah yang kaya nutrient ini menjadizat-zat kimia yang digunakan dibagian lain dalam tubuh untuk keperluan metabolik. Selain itu hati merupakan organ yang penting dalam pengaturan metabolisme glukosa dan protein. Hati terletak dibelakang tulang- tulang iga (kosta) dalam rongga abdomen daerah kanan atas.Hati memiliki berat 1500 g dan dibagi menjadi empat lobus. Setiap lobus hati terbungkus menjadi unit-unit yang lebih kecil, yang disebut lobules. Darahyang mengalir ke dalam hati berasal dari dua sumber dan kurang lebih 75% suplai darah datang dari vena porta yang mengalirkan darah yang kaya akan nutrient dari traktus gastrointestinal. Selain itu, darah tersebut masuk ke dalam hati melalui arteri hepatika dan banyak mengandung oksigen. Dengan demikian, sel-sel hati (hepatosit) akan terendam oleh campuran darah vena dan arterial.

2. Kandung Empedu (Vesika felea) EmbriologiCikal bakal saluran empedu dan hati adalah penonjolan sebesar tiga milimeter yang timbul di daerah ventral usus depan (foregut). Bagian kranial tumbuh menjadi hati, bagian kaudal menjadi pankreas, sedangkan bagian sisanya menjadi kandung empedu. Dari tonjolan berongga yang bagian padatnya kelak jadi sel hati, tumbuh saluran empedu yang bercabang-cabang sepert pohon diantara sel hati tersebut.AnatomiKandung empedu berbentuk bulat lonjong seperti buah alpukat dengan panjang sekitar 4-6 cm dan berisi 30-60 ml empedu. Bagian fundus umumnya menonjol sedikit ke luar tepi hati, di bawah lengkung iga kanan, di tepi lateral m. Rektus abdominis. Sebagian besar korpus menempel dan tertanam di dalam jaringan hati. Kandung empedu tertutup seluruhnya oleh peritoneum viseral, tetapi infundibulum kandung empedu tidak terfiksasi ke permukaan hati oleh lapisan peritonium. Apabila kandung empedu mengalami distensi akibat bendungan oleh batu, bagian infundibulum menonjol seperti kantong yang disebut kantong hartmann.Duktus sistikus panjangnya 1-2 cm dengan diameter 2-3 mm. Dinding lumennya mengandung katup berbentuk spiral disebut katup spiral heister, yang memudahkan cairan empedu mengalir masuk ke dalam kandung empedu, tetapi menahan aliran keluarnya.Saluran empedu ekstrahepatik terletak di dalam ligamentum hepatoduodenale yang batas atasnya porta hepatis, sedangkan batas bawahnya distal papilla vater. Bagian hulu saluran empedu intrahepatik berpangkal dari saluran paling kecil yang disebut kanilikulus empedu yang meneruskan curahan sekresi empedu melalui duktus interlobaris ke duktus lobaris, dan selanjutnya ke duktus hepatikus di hillus.Panjang duktus hepatikus kanan dan kiri masing-masing antara 1-4 cm. Panjang duktus hepatikus komunis sangat bervariasi, bergantung pada letak muara duktus sistikus. Duktus koledokus berjalan di belakang duodenum menembus jaringan pankreas dan dinding duodenum membentuk papilla vater yang terletak di sebelah medial dinding duodenum. Ujung distalnya dikelilingi oleh otot sfingter Oddi, yang mengatur aliran empedu kedalam duodenum. Duktus pankreatikus umumnya bermuara di tempat yang sama dengan duktus koledokus di dalam papilla vater, tetapi juga dapat terpisah. Sering ditemukan variasi anatomi kandung empedu, saluran empedu, dan pembuluh arteri yang memperdarahi kandung empedu dan hati. Variasi yang kadang ditemukan dalam bentuk luas ini, perlu diperhatikan para ahli bedah untuk menghindari komplikasi pembedahan, seperti perdarahan atau cedera pada duktus hepatikus atau duktus koledokus.

Sumber Gambar: faculty.etsu.eduFisiologiEmpedu diproduksi oleh sel hepatosit sebanyak 500-1500 ml perhari. Di luar waktu makan, empedu disimpan unt