Anoplasty-1.ppt

49
TOMY LESMANA dr. PURWADI, SpBA

Transcript of Anoplasty-1.ppt

Page 1: Anoplasty-1.ppt

TOMY LESMANAdr. PURWADI, SpBA

Page 2: Anoplasty-1.ppt

BATASAN

TINDAKAN PEMBEDAHAN UNTUK MEMBUAT

ANUS PADA PENDERITA MALFORMASI

ANOREKTAL

Page 3: Anoplasty-1.ppt

SEJARAH

Sculet (1660) : dilatasi anus Cooke (1676) : insisi dan dilatasi Bell (1787) : insisi perineal Dubois (1783) : kolostomi Amussat (1835) : proktoplasti perineal Chassaignac (1856) : probe stoma untuk

tuntunan diseksi perineal

Leisrink (1872),McLeod (1880),Handra (1884): insisi abdominal

Page 4: Anoplasty-1.ppt

SEJARAH

Pipes, Randall, Norris, Brophy, Brayton (1948-1949)

abdominoperineal 1 tahap

Stephen (1953) : pendekatan sakral

PENA (1980) : PENDEKATAN POSTEROSAGITAL

Georgeson (2000) : anoplasti laparoskopik

Page 5: Anoplasty-1.ppt

MALFORMASI ANOREKTAL

BATASAN

Kelainan bawaan yang mengenai laki-laki dan perempuan dimana didapatkan kegagalan pertumbuhan normal rektum dan / atau anus

INSIDEN : 1/5000 kelahiran

♂ : ♀ = 2 : 3

Page 6: Anoplasty-1.ppt

KLASIFIKASI

Douglas Stephen (1954) Pena (1980) Wingspread (1984)

RSUD dr.Soetomo Surabaya :

KLASIFIKASI PURWADI

Page 7: Anoplasty-1.ppt

KLASIFIKASI & TATALAKSANA

MALFORMASI ANOREKTAL

PURWADI

Page 8: Anoplasty-1.ppt

MACAM ANOPLASTI

ABDOMINOPERINEAL PULLTROUGH

POSTEROSAGITTAL ANORECTOPLASTY

LIMITED POSTEROSAGITTAL ANORECTOPLASTY

ANOPLASTI PERINEAL

ANOPLASTI LAPAROSCOPIK

Page 9: Anoplasty-1.ppt

ABDOMINOPERINEAL ABDOMINOPERINEAL PULLTROUGHPULLTROUGH

INDIKASI

Rektum terletak sangat tinggi dan tidak mungkin dicapai melalui insisi perineum

PERSIAPAN Kateter folley Posisi pronasi, panggul diganjal bantal dilanjutkan

posisi supinasi Desinfeksi povidone iodine 10%

Page 10: Anoplasty-1.ppt

ABDOMINOPERINEAL PULLTROUGH

Desinfeksi

Page 11: Anoplasty-1.ppt

ABDOMINOPERINEAL ABDOMINOPERINEAL PULLTROUGHPULLTROUGH Dimulai dengan pendekatan posterosagittal

Insisi sagital mulai koksigeus melalui pusat kontraksi sfingter ani ke arah perineum

Page 12: Anoplasty-1.ppt

ABDOMINOPERINEAL PULLTROUGH Muscle complex dipisahkan di garis tengah sampai

mencapai ruang pre sakral

Diletakkan keteter 24Fr di posterior urethra pada rongga yang akan dilalui rektum

Rekonstruksi

Page 13: Anoplasty-1.ppt

ABDOMINOPERINEAL PULLTROUGH

Penderita diletakkan pada posisi supinasi

Laparotomi irisan pfanensteel

Diseksi melingkari rektosigmoid

Bila didapatkan fistel dipisahkan dan dijahit

Page 14: Anoplasty-1.ppt

ABDOMINOPERINEAL PULLTROUGH

Page 15: Anoplasty-1.ppt

ABDOMINOPERINEAL PULLTROUGH

Selang karet (kateter) dicari di

ruang presakralis lalu

dikaitkan dengan puntung

rektum

Selang ditarik sampai rektum

mencari perineum

Puntung rektum difiksasi pada

perineum

Page 16: Anoplasty-1.ppt

POSTEROSAGITTAL ANORECTOPLASTY (PSARP)

INDIKASI Atresia ani letak tinggi Fistel rektouretral Fistel rektovesikal Fistel rektovestibular Fistel rektovaginal Kloaka

PERSIAPAN Kateter folley Desinfeksi povidone iodine 10% Posisi pronasi, panggul diganjal bantal

Page 17: Anoplasty-1.ppt

PSARP

Identifikasi sfingter ani eksterna

Page 18: Anoplasty-1.ppt

PSARP Insisi posterosagital

Page 19: Anoplasty-1.ppt

PSARP

Identifikasi otot perineum – stimulator elektrik

Page 20: Anoplasty-1.ppt

PSARP

Insisi diperdalam dengan memotong sfingter ani dan otot

levator sampai mencapai rektum

Page 21: Anoplasty-1.ppt

PSARP Dinding rektum diinsisi dan dijahit dengan beberapa

benang sutra 6-0

Page 22: Anoplasty-1.ppt

PSARP Fistel dicari, dipisahkan, dan diligasi dengan benang

absorbable 6-0

Rektum dipisahkan dengan uretra dan jaringan sekitarnya

Page 23: Anoplasty-1.ppt

PSARP

Diseksi melingkari rektum sampai rektum mencapai perineum

Page 24: Anoplasty-1.ppt

PSARP

Otot levator dan sfingter ani dijahit dengan mengikutsertakan sebagian dinding rektum

Page 25: Anoplasty-1.ppt

PSARP

Fiksasi rektum di perineum

Page 26: Anoplasty-1.ppt

Limited PSARP

Tidak diperlukan pemotongan otot levator untuk mencapai

rektum

INDIKASI

Atresia ani letak rendah (<1sm)

PERSIAPAN

Pasang kateter folley

Posisi pronasi, punggung diganjal bantal

Desinfeksi povidone iodine 10%

Page 27: Anoplasty-1.ppt

Limited PSARP

Identifikasi pusat kontraksi sfingter Insisi posterosagital, diperdalam sampai mencapai

rektum dengan memotong sfingter ani

Page 28: Anoplasty-1.ppt

Limited PSARP Dinding rektum diinsisi dan dijahit dengan beberapa

benang sutra 6-0

Page 29: Anoplasty-1.ppt

Limited PSARP

Diseksi melingkari rektum sampai rektum mencapai perineum

Page 30: Anoplasty-1.ppt

Limited PSARP

Fiksasi rektum di perineum

Page 31: Anoplasty-1.ppt

ANOPLASTI PERINEAL

INDIKASI

Fistel anoperineal dan anovestibular

PERSIAPAN

Kateter folley

Posisi pronasi, panggul diganjal bantal

Desinfeksi povidone iodine 10%

Page 32: Anoplasty-1.ppt

ANOPLASTI PERINEAL

Lacrimal probe dimasukkan melalui muara fistel Atap fistel dipotong sampai mencapai ujung rektum

Page 33: Anoplasty-1.ppt

ANOPLASTI PERINEAL

Buat jahitan melingkar dengan benang sutra 6-0 ke 6 / 8

penjuru

Diseksi melingkari rektum ke arah proksimal sampai

ujung rektum dapat mencapai perineum

Fiksasi rektum dan anus dengan benang absorbable 6-0

Page 34: Anoplasty-1.ppt

ANOPLASTI PERINEAL

V-Y plasty pada stenosis ani yang berat

Page 35: Anoplasty-1.ppt

LAPAROSKOPIK ANOPLASTI

Oleh Georgeson (2000)

INDIKASI Atresia ani letak tinggi (supralevator)

Page 36: Anoplasty-1.ppt

LAPAROSKOPIK ANOPLASTI

Dimasukkan troikar 10mm melalui insisi diatas umbilikus

Insuflasi gas CO2 sampai tekanan 8 mmHg

Dimasukkan alat laparoskopik melalui troikar umbilikus,

2 buah troikar 5mm melalui insisi yang berbeda

Diseksi rektum ke arah distal sampai mencapai fistel

rektovaginal

Fistel diligasi pada dinding vagina dan dipotong

Diseksi dilanjutkan ke distal sampai puntung rektum

dapat dibebaskan

Page 37: Anoplasty-1.ppt

LAPAROSKOPIK ANOPLASTI

Identifikasi lekuk anus dengan bantuan alat stimulator

elektrik dan diinsisi sepanjang 1 sentimeter

Insisi diperdalam secara tumpul dengan klem untuk

membuat saluran tarik-terobos dengan bantuan

transiluminasi alat laparoskop dan alat ultrasonografi

transperineal sampai mencapai puntung rektum

Page 38: Anoplasty-1.ppt

LAPAROSKOPIK ANOPLASTI

Dilatasi saluran dengan alat dilator sampai mencapai

ukuran yang adekuat untuk melakukan tarik-terobos

puntung rektum ke arah anus

Puntung rektum dijahitkan dengan kulit perineum dengan

16 jahitan melingkar

Page 39: Anoplasty-1.ppt

PERAWATAN PASKA OPERASI1. Antibiotika

Spektrum luas selama 48 sampai 72 jam paska bedah2. Kateter folley

Fistel rektouretra: kateter folley dipertahankan 5 - 7 hari3. Nutrisi

Segera setelah operasi4. Dilatasi anus

Dimulai 2 minggu setelah pembedahan 2 kali sehari Diameter dilator ditingkatkan 1mm perminggu Dilakukan 2 kali perhari sampai penderita tidak merasa

nyeri Frekuensi diturunkan bertahap

Page 40: Anoplasty-1.ppt

UKURAN DILATOR – USIA

USIA HEGAR

1 – 4 BULAN

4 – 8 BULAN

8 – 12 BULAN

1 – 3 TAHUN

3 – 12 TAHUN

> 12 TAHUN

12

13

14

15

16

17

Page 41: Anoplasty-1.ppt

PENURUNAN FREKUENSI

1 X /hari 1 BULAN 2 X /hari 1 BULAN 3 hari sekali 1 BULAN 2 X /minggu 1 BULAN 1 X /minggu 1 BULAN Tiap bulan 3 BULAN

Page 42: Anoplasty-1.ppt

KOMPLIKASI

Infeksi luka operasi Striktura ani Fistel Penekanan n.femoralis

Page 43: Anoplasty-1.ppt

ATRESIA ANI LETAK RENDAH

Page 44: Anoplasty-1.ppt

P/ 2 hr Tidak punya anus sejak lahir Perut distended Muntah + Dx : Atresia ani letak rendah Tx : anoplasty

Page 45: Anoplasty-1.ppt

Bayangan gas sampai distal rektum, 1 cm dari marker

Page 46: Anoplasty-1.ppt

Kedua kaki digantung dengan perban

Identifikasi anal dimple

Cutting pada bagian mid line diperdalam

Page 47: Anoplasty-1.ppt

Tampak anus terbelah

Sebelum tembus ke rektum dilakukan jahitan teugel 2 sisi

Jahitan teugel 4 sisi setelah rektum ditembus dengan cutting

Page 48: Anoplasty-1.ppt

Jahit mukasa rektum dengan kulit anus 8 penjuru dengan benang zyde 4-0

Page 49: Anoplasty-1.ppt