Anatomi Histologi Fisiologi Sistem Saluran Pernapasan Atas

download Anatomi Histologi Fisiologi Sistem Saluran Pernapasan Atas

of 12

  • date post

    26-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    214
  • download

    6

Embed Size (px)

description

Anatomi Histologi Fisiologi Saluran Pernapasan Atas

Transcript of Anatomi Histologi Fisiologi Sistem Saluran Pernapasan Atas

Sistem Respiratori

Sistem RespiratoriAnatomi Histologi dan Fisiologi Saluran Pernapasan Atas

RAHDIAN HUSA 13011101204 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Anatomi Sistem Saluran Pernapasan Atas1. HIDUNG

Gambar 1. Anatomi Hidung.2Hidung luar berbentuk pyramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah: Pangkal hidung (bridge), batang hidung, (dorsum nasi), puncak hidung (tip), ala nasi, kolumela, dan lubang hidung (nares anterior).1 Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang 1) tulang hidung (os nasal), 2) prosesus frontalis os maksila dan 3) prosesus nasalis os frontal; serta tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung.1Udara memasuki hidung dan melewati permukaan konka nasal (nasal turbinates) yang luas. Permukaan yang luas dan bergelombang ini berfungsi untuk menghangatkan, melembabkan, dan menyaring udara yang masuk.3Bagian dari rongga hdung atau kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat dibelakang nares anterior, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise. Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial (septum nasi), dinding lateral (terdapat 4 buah konka), dinding inferior dan superior.1Batas Rongga HidungDinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila dan os palatum. Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribriformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung1Kompleks Ostiomeatal (KOM)Kompleks ostiomeatal merupakan celah pada dinding lateral hidung yang dibatasi oleh konka media dan lamina papirasea. KOM merupakan unit fungsional yang merupakan tempat ventilasi dan drenase dari sinus-sinus yang letaknya di anterior yaitu sinus maksila, etmoid, frontal.Vaskularisasi HidungBagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari a. etmoid anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a. oftalmika dari a. karotis interna. Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a. maksilaris interna, bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a. fasialis. Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a. sfenopalatina, a. etmoid anterior, a. labialis superior dan a. palatine mayor, yang disebut Pleksus Kiesselbach (Littles area).1 Persarafan HidungFungsi penghidu berasal dari n. olfaktorius. Saraf ini turun melalui lamina kribrosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.12. FARING

Gambar 2. Anatomi Faring.2

1) NasofaringBatas nasofaring dibagian atas adalah dasar tengkorak, dibagian bawah adalah palatum mole, ke depan adalah rongga hidung sedangkan ke belakang adalah vertebra servikal.42) Orofaring Orofaring disebut juga mesofaring, dengan batas atasnya adala palatum mole, batas bawah adalah tepi atas epiglottis, ke depan adalah rongga mulut, sedangkan ke belakang adalah vertebra servikal.4Dinding Posterior FaringSecara klinik dinding posterior faring penting karena ikut terlibat pada radang akut atau radang kronik faring, abses retrofaring, serta gangguan otot-otot di bagian tersebut.4

TonsilTonsil adalah masa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kapsul didalamnya. Terdapat 3 macam tonsil yaitu tonsil faringal (adenoid), tonsil palatine dan tonsil lingual yang ketiga-tiganya membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer.4

3) Laringofaring (Hipofaring)Batas laringofaring di sebelah superior adalah tepi atas epiglottis, batas anterior ialah laring, batas inferior ialah esophagus, serta batas posterior ialah vertebra servikal.4Ruang Faringal1. Ruang Retrofaring (Retropharyngeal Space)Dinding anterior ruang ini adalah dinding belakang faring yang terdiri dari mukosa faring, fasia faringobasilaris dan otot-otot faring. Abses retrofarin sering ditemukan pada bayi atau anak.42. Ruang Parafaring (Fosa Faringo-maksila)Ruang ini berbentuk kerucut dengan dasar tengkorak dekat foramen jugularis dna puncaknya pada kornu mayus os hyoid.4

3. LARING

Gambar 3.Anatomi Laring.2

Laring merupakan bagian yang terbawah dari saluran napsa bagian atas. Bentuknya menyerupai limas segitiga terpancung, dengan bagian atas lebih besar daripada bagian bawah. Bangunan kerangka laring tersusun dari satu tulang, yaitu tulang hyoid, dan beberapa buah tulang rawan. Tulang hyoid berbentuk seperti huruf U, yang permukaan atasnya dihubungkan dengan lidah, mandibula, dan tengkorak tendo dan otot-otot. Sewaktu menelan, kontraksi otot-otot ini akan menyebabkan laring tertarik ke atas, sedangkan bila laring diam, maka otot-otot ini bekerja untuk membuka mulut dan membantu menggerakan lidah.5Tulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago epiglottis, kartilago tiroid. Kartilago krikoid, kartilago aritenoid, kartilago kornikulata, kartilago kuneiformis dan kartilago tritisea. Kartilago krikoid dihbungkan dengan kartilago tiroid oleh ligamentum krikotiroid. Bentuk kartilago krikoid berupa lingkaran.5

Gambar 4. Anatomi Laring (Kartilago)Ligamentum yang membentuk susunan laring adalah ligamentum seratokrikoid (anterior, lateral, dan posterior), ligamentum krikotiroid medial, ligamentum krikotiroid posterior, ligamentum kornikulofaringal, ligamentum hyoid lateral, ligamentum hiotiroid medial, ligamentum hioepiglotika, ligamentum ventrikularis, ligamentum vokale yang menghubungkan kartilago aritenoid dengan kartilago tiroid, dan ligamentum tiroepiglotika.5Gerakan laring dilaksanakan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik dan otot-otot intrinsik. Otot-otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara kesulruhan,sedangkan otot-otot intrinsic menyebabkan gerak bagian-bagian laring tertentu yang berhubungan dengan pita suara.Otot-otot ekstrinsik laring ada yang terletak di atas tulang hyoid (suprahioid), m. digastrikus, m. geniohioid. Otot intrinsik laring ialah m. krikoaritenoid lateral, m. tiroepiglotika.5

Gambar 5. Anatomi Laring (Muskulus)Rongga Laring Dengan adanya lipatan mukosa pada ligamentum vokale dan ligamentum ventrikulare, maka tebentuklah plika vokalis (pita suara asli) dan plika ventrikularis (pita suara palsu). 1 Bidang antara plika vokalis kiri dan kanan, disebut rima glottis, sedangkan antara kedua plika ventrikularis, disebut rima vestibule.5Plika vokalis dan plika ventrikularis membagi rongga laring dalam 3 bagian, yaitu vestibulum laring (supraglotik), glotik dan subglotik (rongga laring yang terletak dibawah plika vokalis). Rima glottis terdiri 2 bagian, yaitu bagian intermembran dan bagian interkartilago. Bagian intermembran ialah ruang anatara kedua plika vokalis, dan terletak di bagian anterior, sedangkan bagian interkartilago terletak antara kedua puncak kartilago aritenoid, dan terletak di bagian posterior.5

Gambar 6. Anatomi Laring dan Pita Suara.2Epiglotis membantu melindungi laring saat proses menelan dengan mengarahkan makanan kea rah esophagus. Kartilago aritenoid yang membantu proses pembukaan dan penutupan glotis kurang jelas terlihat pada anak dibandingkan orang dewasa. Ruang subglotis menyempit kea rah krikoid yang meruupakan bagian dari trakea. Pada anak usia kurang dari 3 tahun, cincin krikoid (cincin trakea pertama yang berbentuk lingkaran utuh) merupakan bagian tersempit jalan napas, sementara pada anak besar atau dewasa, glotis merupakan bagian tersempit.5

Histologi Sistem Saluran Pernapasan AtasI. HIDUNGRongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernapasan (mukosa respiratori) dan mukosa penghidu (mukosa olfaktorius). Mukosa pernapasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia (ciliated pseudostratified collumner epithelium) dan diantaranya terdapat sel-sel goblet.1Mukosa olfaktorius dan konka superior, yaitu salah satu sekat bertulang dalam ronngga hidung. Epitel olfaktorius dikhususkan untuk menerima rangsang baud an karenanya, berbeda dengan epitel respiratorius; epitel ini adalah bertingkat semu silindris tinggi tanpa sel goblet. Epitel olfaktorius terdapat di rongga hidung, pada kedua sisi septum, dan di dalam konka nasal superior.6Dibawah lamina propria terdapat kelenjar olfaktoris tubuloasinar (kelenjar Bowman). Kelenjar ini menghasilkan secret serosa, berbeda dengan sekret campur mukosa dan serosa yang dihasilkan kelenjar di bagian lain rongga hidung.6II. FARINGBentuk mukosa faring bervariasi, tergantung pada letaknya. Pada nasofaring karena fungsinya untuk saluran respirasi, maka mukosanya bersilia, sedang epitelnya torak berlapis yang mengandung sel goblet. Orofaring, dan laringofaring, karena fungsinya untuk saluran cerna , epitelnya gepeng berlapis tidak bersilia.4 Di sepanjang faring dapat ditemukan banyak sel jaringan limfoid yang terletak dalam rangkaian jaringan ikat yang termasuk dalam sistem retikuloendotelial.4III. LARINGPita suara superior, atau pita suara palsu laring dibentuk oleh mukosa dan diteruskan sebagai permukaan posterior epiglottis. Epitel pelapisnya adalah epitel bertingkat semu silindris bersilia dengan sel goblet.6 Dibawah epitel, yaitu di dalam lamina propria, terdapat kelenjar campur yang terutama terdiri dari mukosa. Duktus ekskretorius yang bermuara di permukaan epitel, terlihat antara asini kelenjar. Limfonoduli terlettak di dalam lamina propria pada sisi ventricular pita suara.6Ventrikel adalah lekukan atau ceruk dalam memisahkan pita suara palsu dengan pita suara sejati. Mukosa pada dinding lateral ventrikel serupa dengan mukosa pada pita suara palsu.6Mukosa pita suara sejati terdiri atas epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk dan lamina proopria padat dan tipis tanpa kelenjar, jaringan limfoid, maupun pembuluh darah. Pada apeks pita suar