2007-3-00411-TI-Bab 2

download 2007-3-00411-TI-Bab 2

of 39

  • date post

    19-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    116
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of 2007-3-00411-TI-Bab 2

23

BAB 2 LANDASAN TEORI

2.1 2.1.1

Introduction to Manufacturing System Definisi Manufacturing System Menurut Mikell P. Groover (2001, p375), Manufacturing System merupakan sebuah sekumpulan dari perlengkapan yang terintegrasi (mesin dan peralatan produksi) dan sumber daya manusia, dimana berfungsi untuk menjalankan satu atau lebih proses produksi dan atau operasi perakitan terhadap bahan baku awal, komponen, dan sekumpulan komponen.

2.1.2

Komponen Dalam Manufacturing System Menurut Mikell P Groover (2001, p376-381), pada dasarnya manufacturing system mengandung beberapa komponen yaitu : a) Mesin mesin produksi (termasuk peralatan produksi dan komponen hardware lainnya) Dalam sistem manufaktur saat ini, kebanyakan proses produksi dan pekerjaan merakit dikerjakan dengan mesin dan bantuan peralatan produksi. Mesin dapat diklasifikasikan manual (mesin dioperasikan oleh

24

satu operator), semi automated (mesin diatur dengan menggunakan program kemudian pekerja hanya berfungsi mengawasi, melakukan loading dan unloading), dan fully automated (mesin sepenuhnya berjalan sendiri di bawah kendali program dan tidak memerlukan pekerja untuk mengawasi) b) Material Handling System Dalam kebanyakan proses produksi maupun perakitan menggunakan sistem perpindahan barang. Berikut adalah bagian dari material handling system : Bagian Loading, Positioning, dan Unloading Bagian ini hampir dijumpai pada setiap stasiun kerja. Loading merupakan proses memindahkan unit produksi menuju mesin produksi atau perlengkapan produksi dari lokasi bahan baku. Positioning merupakan proses untuk meletakkan komponen ke lokasi yang tepat dan pasti pada mesin produksi. Unloading merupakan proses memindahkan unit yang sudah selesai di proses menuju proses selanjutnya. Bagian Work Transport Between Station Bagian ini melakukan perpindahan material produksi antara stasiun kerja dalam sistem multi-station. Perpindahan dapat dilakukan secara manual atau dengan menggunakan alat bantu.

25

Bagian Temporary Storage Function Bagian ini merupakan tempat penyimpanan material produksi sementara dimana bertujuan untuk memastikan bahwa material yang akan diproses suatu stasiun kerja selalu tersedia dan stasiun kerja tersebut tidak mengalami kondisi starving.

c) Computer Control System Pada saat ini sistem manufaktur yang automasi membutuhkan komputer untuk mengkontrol perlengkapan yang semi automasi atau automasi, dan berpartisipasi dalam koordinasi keseluruhan untuk sistem manufakturnya. Beberapa contoh fungsi sistem komputer adalah fungsi kendali material handling, fungsi penjadwalan produksi, fungsi kendali kualitas, dan lainnya. d) Pekerja Manusia Dalam kebanyakan sistem manufaktur peran pekerja manusia adalah melakukan beberapa atau keseluruhan dari pekerjaaan yang menambah nilai atas penyelesaian komponen atau produk. Dalam hal ini pekerja manusia termasuk ke dalam pekerja langsung.

26

2.2 2.2.1

Bottleneck Model Definisi Bottleneck Menurut Vincent Gaspersz (2005, p348), Bottleneck adalah suatu kondisi dimana suatu operasi atau fasilitas membatasi atau menghambat output dalam satu sekuens untuk satu lini produksi. Menurut Mikell P. Groover (2001, p528), stasiun kerja bottleneck adalah stasiun kerja yang memiliki nilai service time yang paling besar dibandingkan stasiun kerja lainnya dalam satu lini produksi.

2.2.2

Terminology dan Symbol dalam Bottleneck Model Menurut Mikell P. Groover (2001, p488 489), terminologi yang digunakan dalam dalam bottleneck model dapat diaplikasikan untuk FMS (Flexible Manufacturing System) adalah : 1) Part Mix Adalah campuran dari variasi komponen bagian atau jenis produk yang diproduksi sistem. 2) Workstations and Servers Dalam hal ini terminologi bottleneck model memungkinkan untuk lebih dari satu mesin yang menjalankan operasi yang sama. Dalam hal ini juga dimungkinkan terdapat stasiun kerja yang menjalankan operasi loading dan unloading.

27

3) Processing Routing Processing Routing didefinisikan urutan operasi dari stasiun kerja yang dijalankannya yang berhubungan dengan processing time. Processing time didefinisikan sebagai total waktu dari penyelesaian unit produksi dari suatu stasiun kerja tanpa memperhitungkan waktu tunggu dari stasiun kerja lainnya. 4) Work Handling System Merupakan sistem perpindahan material yang digunakan untuk

memindahkan komponen atau produk dari satu stasiun kerja ke stasiun kerja lainnya. 5) Transport Time Merupakan rata-rata waktu perpindahan yang dibutuhkan untuk memindahkan material dari satu stasiun kerja ke stasiun kerja lainnya dalam suatu process routing. 6) Operation Frequency Merupakan jumlah untuk menjalankan operasi pengerjaan untuk setiap unit kerjanya.

28

2.2.3

Operational Parameters dari Bottleneck Model Menurut Mikell P. Groover (2001, p489), Parameter operasional yang digunakan dalam sistem produksi ini adalah rata-rata workload atau beban kerja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu operasi kerja. Berikut adalah rumus yang digunakan :WL = Pr oces sin g Time + Transport Time , Dimana : (1 Defect Rate )

WL Processing Time Transport Time

= Workload stasiun kerja (min) = Waktu pengerjaan stasiun kerja (min) = Rata-rata waktu perpindahan dari stasiun kerja sebelumnya (min)

Defect Rate

= Tingkat produk cacat yang dihasilkan stasiun kerja.

2.3 2.3.1

Line Balancing Problem Latar Belakang Line Balancing Menurut Mikell P. Groover (2001, p529), line balancing merupakan suatu metode yang digunakan dalam mendesain suatu lini operasi atau perakitan yang dilakukan secara manual. Pada dasarnya dalam suatu lini operasi atau perakitan mengandung banyak elemen kerja yang berdiri sendiri. Dengan urutan kerja elemen tersebut, suatu lini produksi harus beroperasi sesuai dari tingkat produksi yang spesifik dan menurunkan cycle time.

29

Atas dasar inilah line balancing digunakan untuk menugaskan individual elemen kerja ke suatu situasi kerja agar semua pekerja memiliki persamaan jumlah kerja yang harus dikerjakan.

2.3.2

Terminology dari Line Balancing Menurut Mikell P. Groover (2001, p529 532), dalam line balancing terdapat beberapa konsep yang digunakan untuk mengukur performansi line balancing problem. Berikut adalah konsep dan terminology yang digunakan : 1) Minimum Rational Work Elements Merupakan bagian terkecil dari elemen kerja yang mempunyai tujuan yang terbatas dan spesifik, seperti menambahkan komponen ke bagian utama atau menggabungkan dua komponen atau menjalankan beberapa bagian kecil dari keseluruhan elemen kerja. Penjumlahan waktu elemen kerja sama dengan :Twc = Tek , Dimana :k =1 ne

Tek

= Waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan elemen kerja k (min)

ne k

= Jumlah dari elemen kerja yang ada = 1,2,3,.,ne.

30

2) Precedence Constraints Merupakan fungsi kebutuhan akan urutan kerja dari elemen elemen kerja yang ada. Ada beberapa elemen kerja yang harus dikerjakan sebelum elemen kerja lain bekerja. 3) Measure of Line Balance Efficiency Dikarenakan perbedaan yang ada dalam waktu elemen kerja dan precedence constraints dalam elemen elemen kerja dalam satu lini, maka sangatlah tidak mungkin untuk mendapatkan line balance yang sempurna. Untuk mengukur seberapa baik keseimbangan lini maka digunakan balance efficiency. Atau lawannya yaitu seberapa waktu yang hilang akibat lini produksi yang tidak seimbang yaitu balance delay. Berikut adalah rumus yang digunakan :Eb =

(w Max Tsi ) Twc , Dimana : Twc dan d = (w Max Tsi ) w Max Tsi= Balance efficiency (persentase) = Service time stasiun kerja yang paling besar dalam satu lini (min)

Eb Tsi

Twc w

= Total work contents = Jumlah pekerja

31

2.3.3

Line Balancing Consideration and Approach Menurut Mikell P. Groover (2001, p552 554), selain dengan menggunakan algoritma line balancing untuk mengalokasikan elemen kerja ke stasiun stasiun kerja yang ada dalam satu lini berdasarkan deterministic quantitative data, kita juga dapat menggunakan beberapa pertimbangan dan pendekatan untuk meningkatkan performansi dari lini produksi yang ada yaitu : 1) Method analysis Method analysis melibatkan studi tentang aktivitas kerja manusia untuk mencari cara bagaimana aktivitas dapat dikerjakan dengan sedikit usaha, sedikit waktu, akan tetapi mendatangkan pengaruh yang lebih besar. (seperti analisis gerakan tangan pekerja, mendesain layout yang lebih baik, dan lainnya). 2) Subdividing work elements Subdividing work elements merupakan suatu pendekatan khusus dimana jika memungkinkan suatu elemen kerja yang ada dibagi menjadi sub elemen kerja. 3) Sharing work elements between two adjacent stations Apabila suatu elemen kerja menjadi bottleneck dalam satu stasiun kerja dimana stasiun kerja lain yang berdekatan lebih banyak menganggur, maka memungkinkan untuk membagi elemen kerja tersebut ke dalam dua stasiun kerja yang saling berdekatan.

32

4) Utility workers Utility worker adalah pekerja yang ditugaskan yang membantu suatu stasiun kerja yang mengalami overloaded. 5) Changing workhead speeds at mechanized stations Jika memungkinkan untuk suatu elemen kerja kecepatan prosesnya ditingkatkan atau dilambatkan untuk mendapatkan waktu proses yang seimbang dalam satu lini. 6) Preassembly of components Jika memungkinkan untuk suatu komponen yang lambat untuk dikerjakan sebagai akibat tingkat kesulitannya, maka komponen tersebut dilakukan pengerjaan pendahuluan diluar lini produksi yang ada. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dan mempercepat waktu pengerjaan elemen kerja tersebut. 7) Storage buffer between station Dengan menempatkan tempat penyimpanan material sementara, maka akan dapat melancarkan aliran material dari stasiun kerja yang memiliki waktu pengerjaan yang bervariasi satu dengan lainnya. 8) Zoning other