UPAYA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING (BK) DALAM

Click here to load reader

  • date post

    31-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of UPAYA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING (BK) DALAM

MENANGGULANGI KENAKALAN REMAJA (JUVENILE
Skripsi ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar S.Pd
Oleh:
FAKULTAS TARBIYAH
1440/2019 M
MENANGGULANGI KENAKALAN REMAJA (JUVENILE
Skripsi ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar S.Pd
Oleh:
FAKULTAS TARBIYAH
1440/2019 M
Skripsi dengan judul "Upaya Guru Bimbingan dan Konseling (BK) Dalam
Menanggulangi Juvenile Delinquency (Kenakalan Remaja) Pada Pelajar di
SMP Arrahman Depok” yang disusun oleh Iis Istiqomah dengan Nomor Induk
Mahasiswi 15311477 telah melalui proses bimbingan dengan baik dan dinilai
oleh pembimbing telah memenuhi syarat ilmiah untuk diujikan di sidang
munaqasyah.
ii
iii
Nama : Iis Istiqomah
Menyatakan bahwa skripsi dengan judul “Upaya Guru Bimbingan dan
Konseling (BK) dalam Menanggulangi Juvenile Delinquency (Kenakalan
Remaja) Pada Pelajar di SMP Arrahman Depok” adalah benar-benar asli
karya sendiri kecuali kutipan-kutipan yang sudah disebutkan. Kesalahan dan
kekurangan di dalam karya ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.
Ciputat, 01 Agustus 2019
iv
Motto

“Berapa banyak manusia yang tertawa-tawa ketika sore dan pagi
Padahal kain kafannya sedang dijahit sedang dia tidak menyadari”
(Nasehat Imam Syafi’i)
telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, juga telah memberikan
kemudahan dan kesehatan dan yang paling utama syukur karena Allah telah
memberikan jiwa semangat yang membara kepada penulis dalam membuat
skripsi ini sehingga penulis dapat menyelesaikannya dengan judul "Upaya
Guru Bimbingan dan Konseling (BK) Dalam Menanggulangi Juvenile
Delinquency (Kenakalan Remaja) Pada Pelajar di SMP Arrahman
Depok”.
sempurna dengan akhlak yang paling mulia yakni junjungan Nabi Muhammad
SAW, karena berkat perjuangan beliaulah kita dapat merasakan kehidupan
yang lebih bermartabat dengan kemajuan ilmu yang didasarkan pada Iman dan
Islam. Semoga kita mendapatkan syafaatnya di hari kiamat kelak.
Penulis menyadari bahwa tanpa bimbingan dan dukungan dari berbagai
pihak, penulisan skripsi ini tidak akan berjalan dengan baik dan lancar. Oleh
karena itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo, M.Hum selaku Rektor Institut
Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta.
2. Ibu Dr. Esi Hairani, M.Pd selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu
Al-Qur'an (IIQ) Jakarta.
3. Ibu Alfun Khusnia, S.Psi, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang
telah membimbing penulis dengan sabar dan menyenangkan. Ibu, semoga
Allah membalas ketulusan mu. Ibu, semoga Allah berikan kebahagiaan
untuk mu sekeluarga.
vi
4. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu AI-Quran (IIQ)
Jakarta yang telah memberikan bekal pengetahuan kepada penulis, baik
secara teoritis maupun praktis selama berada diperkuliahan.
5. Guru-guru Al-Qur'an, keluarga LTTQ yang telah memberikan ilmu dan
senantiasa memotivasi serta memperbaiki bacaan Al-Quran penulis.
6. Bapak kepala sekolah, guru, siswa dan staff administrasi SMP Arrahman
Depok yang telah memberikan izin dan membantu penulis dalam
melakukan penelitian.
7. Kedua orang tua penulis, Ayahanda dan Ibunda terkasih yang tiada henti
siang malam mendoakan putrinya agar berhasil. Ayah dan Ibu, semoga
Allah melipat gandakan ketulusan kalian, semoga Allah membalas airmata
kalian dengan kebahagiaan di hari-hari tua kalian kelak. Ayah dan ibu,
dari dasar hati putri mu ingin mengatakan betapa hati ini ingin
mengucapkan terimkasih. Terimakasih saja tidak cukup tapi putri mu akan
selalu bersyukur. Ayah dan ibu, berkat dukungan kalian, putri mu sudah
menyelesaikan kuliah di IIQ dengan baik. Ayah dan ibu, semoga usaha ku
selama menuntut ilmu bisa menjadi wasilah kita masuk syurga bersama-
sama.
8. Ke-tujuh saudara kandungku yang telah hadir mewarnai hariku, menemani
perjuangan ku, dan mengorbankan tenaganya untuk mensukseskan
keberhasilanku. Terimakasih sudah menjaga adik bungsu kalian ini,
terimaksih sudah menjaga dan melindungiku. Allah pasti membalas
kebaikan kalian semua.
9. Khususnya kepada kakak ipar saya beserta istrinya ibu Ai Mahfudhoh,
terimakasih sudah merelakan waktu tidurnya tersita hanya karena adikmu
ini, semoga Allah berkahi kehidupan kalian.
10. Seluruh teman-temanku Fakultas Tarbiyah, Ushuluddin, Syariah
khususnya Tarbiyah yang telah bekerja sama berjuang bersama dalam
vii
menuntut ilmu di IIQ Jakarta baik suka maupun duka. Terkhusus untuk
teman satu bimbingan skripsi yang sudah menjadi tim terbaik karena
saling menguatkan dan memberi bantuan.
11. Sahabat-sahabatku tersayang dan semua teman-teman penulis yang tidak
mampu disebutkan satu persatu, khususnya kepada teman apartement elite
yang sudah banyak mengajarkan arti kehidupan tentang perbedaan.
Serta semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan
skripsi ini yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu. Semoga
semua bantuan yang telah diberikan kepada penulis dicatat sebagai amal
kebaikan yang diterima oleh Allah SWT dan dibalas dengan pahala yang
berlipat ganda serta memberikan manfaat bagi penulis dan bagi siapapun
yang membacanya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin. Harapan penulis semoga
skripsi ini bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri dan umumnya bagi
pembaca semua.
Peneliti
Translitrerasi merupakan penyalinan dengan penggantian huruf dari
abjad yang satu ke abjad yang lain. Dalam penulisan skripsi ini transliterasi
arab-latin, mengacu pada berikut ini:
1. Konsonan Tunggal
Fathah : a : a ...: ai
Kasrah : i : i ...: au
a. Kata sandang yang diikuti alif lam () al-qamariyah ditransliterasikan
sesuai dengan bunyinya.
b. Kata sandang yang diikuti oleh alif lam () as-syamsiyah
ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan di depan dan
sesuai dengan bunyinya.
4. Syaddah (Tasydid)
sedangkan untuk alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan
cara menggandakan huruf yang bertanda tasydid. Aturan ini berlaku secara
umum, baik tasydid yang berada di tengahkata, di akhir kata ataupun yang
terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyah.
Contoh: Âmanna billâhi –Âmana as-Sufahâ`u
5. Ta Marbuthah ()
Apabila berdiri sendiri, waqaf atau diikuti oleh kata sifat (na`at), maka
huruf tersebut dialih aksarakan menjadi huruf “h”.
Contoh: al-Af`idah
Sedangkan ta` Marbûthah () yang diikuti atau disambungkan (di-washal)
dengan kata benda (isim), maka dialih aksarakan menjadi huruf “t”. Contoh:
al-Âyat al-Kubrâ–
Hamzah ditrasliterasikan dengan apostrof. Namun, itu hanya berlaku bagi
hamzah yang terletak di tengah dan di akhir kata. Bila terletak di awal kata,
hamzah tidak dilambangkan, karena dalam bahasa Arab berupa alif.
Contoh: –Syai`un Umirtu
7. Huruf Kapital
Sistem penulisan huruf Arab tidak mengenal huruf kapital, akan tetapi
apabila telah dialih aksarakan maka berlaku ketentuan Ejaan yang
Disempurnakan (EYD) Bahasa Indonesia, seperti penulisan awal kalimat,
huruf awal nama tempat, nama bulan, nama diri, dan lain-lain. Ketentuan
yang berlaku pada EYD berlaku pula dalam alih aksara ini, seperti cetak
miring (italic) atau cetak tebal (bold) dan ketentuan lainnya. Adapun untuk
nama diri dengan kata sandang, maka huruf yang ditulis kapital adalah awal
nama diri, bukan kata sandang. Contoh: `Ali Hasan al-Âridh, al-Asqallânî,
al-Farmawî, dan seterusnya. Khusus untuk penulisan kata Al-Quran dan
nama-nama surahnya menggunakan huruf kapital.
Contoh: Al-Qur`an, Al-Baqarah, Al-Fâtihah, dan seterusnya.
xi
1. Pengertian Juvenile Delinquency.........................................14
3. Macam-Macam Perilaku Juvenile Delinquency ..................17
4. Faktor Penyebab Perilaku Juvenile Delinquency .................18
5. Upaya Menanggulangi Juvenile Delinquency......................24
B. Bimbingan dan Konseling.........................................................34
3. Bimbingan dan Konseling di Sekolah..................................38
4. Fungsi Bimbingan dan Konseling........................................41
5. Aspek dan Indikator Kompetensi
Profesional Guru Bimbingan Konseling...............................44
7. Kualifikasi Guru BK............................................................50
Sekolah.................................................................................51
B. Analisis Upaya Guru BK dalam Menanggulangi Juvenile
Delinquency pada Pelajar di SMP Arrahman Depok.............68
BAB V PENUTUP........................................................................................86
xv
Lampiran V Surat Kesediaan Menjadi Pembimbing
Lampiran VI Surat Keterangn Telah Melakukan Penelitian
Lampiran VII Curriculum Vitae
Iis Istiqomah. 2019. Upaya Guru Bimbingan dan Konseling (BK) Dalam
Menanggulangi Juvenile Delinquency (Kenakalan Remaja) Pada Pelajar di
SMP Arrahman. Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas
Tarbiyah, Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta.
KPAI mengungkapkan kasus kekerasan terhadap anak dominan terjadi
di lingkungan sekolah pada awal 2018, yaitu Januari sampai Februari.
Berdasarkan data nasional KPAI, 72 persen terjadi kasus kekerasan fisik dan
anak menjadi korban dari kebijakan sekolah. Banyak faktor yang
mengakibatkan kenakalan remaja terus berkembang, di antaranya faktor media
sosial, pergaulan teman, sekolah, keluarga dan lain sebagainya. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana upaya guru BK dalam
mengatasi kenakalan siswa SMP Arrahman Depok. Fokus penelitian ini adalah
menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan oleh guru BK dalam mengatasi
siswa yang melakukan kenakalan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode
deskriptif analisis. Adapun data yang digunakan adalah data primer dan data
sekunder. Data yang dianalisis adalah hasil wawancara dengan kepala sekolah,
guru BK, siswa dan wali murid.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor terbesar penyebab
kenakalan remaja adalah faktor pergaulan; media sosial; dan faktor keluarga.
Namun semua itu dapat diatasi oleh pihak-pihak tertentu dengan upaya
preventif, upaya kuratif dan upaya pembinaan. Karena pada dasarnya tidak ada
anak yang nakal, yang ada hanya lah anak yang butuh bantuan dan bimbingan
oleh orang dewasa.
xvii
ABSTRACT
Iis Istiqomah. 2019. Efforts of Teacher Guidance and Counseling in
Overcoming Juvenile Delinquency in Students in Arrahman Middle
School. Islamic Religious Education Study Program, Tarbiyah Faculty,
Jakarta Institute of Qur'an Science.
KPAI revealed that cases of violence against children predominantly
occurred in the school environment in early 2018, namely January to February.
Based on KPAI's national data, 72 percent occurred cases of physical violence
and children became victims of school policies. Many factors cause juvenile
delinquency to continue to develop, including social media factors, friendships,
school, family and so forth. The purpose of this study was to determine how
the BK teacher's efforts in overcoming the mischief of students from SMP
Arahman Depok. The focus of the study is to explain the efforts made by the
BK teacher in dealing with students who commit delinquency.
This research uses a qualitative approach with descriptive analytical
methods. The data used are primary data and secondary data. The data
analyzed were the results of interviews with school principals, school
counselors, students and student guardians.
The results showed that the biggest factor causing juvenile delinquency
was social factors; social media; and family factors. But all of that can be
overcome by certain parties with preventive efforts, curative efforts and
coaching efforts. Because basically there are no naughty children, there are
only children who need help and guidance by adults.
Keywords: Juvenile delinquency, brawl, guidance and counseling teacher
1
identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika penelitian.
A. Latar Belakang Masalah
kehidupan suatu bangsa, karena hal tersebut menjadi perhatian dari
berbagai lapisan, baik dari keluarga, masyarakat, sekolah maupun
pemerintah. Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai
usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai
di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah
pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang
diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. 1
Namun saat ini, degradasi moral generasi muda semakin
memprihatinkan, sikap acuh tak acuh remaja terhadap akhlak merupakan
fenomena yang timbul akibat pertentangan jiwa baik dalam dirinya
sendiri atau lingkungannya, baik itu di rumah maupun di sekolah. Dalam
dunia pendidikan sering ditemukan perilaku siswa yang tidak diinginkan.
Umumnya ini menjadi masalah yang dihadapi siswa, khususnya di
tingkat sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas
(SMA). Beberapa masalah kenakalan remaja yang dialami diantaranya
1 Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), h. 1
2
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat aksi
tawuran pelajar menurun sepanjang 2014 hingga 2017. Pada tahun 2014
terdapat 24 persen aksi tawuran, 2015 menjadi 17,9 persen, sedangkan
2016 dan 2017 menjadi masing masing 12,9 persen. Selanjutnya KPAI
mencatat kasus tawuran di Indonesia meningkat 1,1 persen sepanjang
2018 yang berarti mencapai 14 persen. Dengan jumlah 202 anak
berhadapan dengan hukum akibat terlibat tawuran dalam rentang dua
tahun terakhir (2017-2018). KPAI mengungkapkan kasus kekerasan
terhadap anak dominan terjadi di lingkungan sekolah pada awal 2018,
yaitu Januari sampai Februari. Berdasarkan data nasional KPAI, 72
persen terjadi kasus kekerasan fisik dan anak menjadi korban dari
kebijakan sekolah. Masalah kebijakan sekolah misalnya, anak pelaku
kekerasan dikeluarkan dari sekolah dan sulit kembali mendapatkan hak
bersekolah. Kemudian terdapat laporan kekerasan psikis sebanyak 9
persen, kekerasan finansial atau pemalakan atau pemerasan 4 persen dan
kekerasan seksual sebanyak 2 persen, dan ditemukan 74 kasus anak
dengan kepemilikan senjata tajam. 3
Pelajar merupakan bagian individu yang hidup dalam situasi
transisi antara dunia anak menuju dewasa. Di sinilah tahap dimana
remaja mulai menyadari kebutuhan-kebutuhan sosialnya untuk diterima
dan diakui oleh masyarakat di sekitarnya. Ruang baru yang mereka
miliki terkadang menuntut hadirnya budaya solidaritas yang dalam
2 Kartini Kartono, Patologi Sosial 2 kenakalan Remaja, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2017), h. 23 3 Anadolu Agency, “KPAI: Tren Tawuran Pelajar Menurun dalam Tiga Tahun
Terakhir”, https://www.aa.com.tr/id/headline-hari/kpai-tren-tawuran-pelajar-menurun-dalam-
fanatisme dan vandalisme. Inilah mengapa kemunculan tawuran dan
pemalakan selalu diwarnai dengan kehadiran kelompok geng yang
cenderungan mendapat predikat negatif pada identitas kelompok geng
tersebut. Biasanya kelompok geng ini cenderung dengan fanatis dan
dogmatis serta solidaritas yang tinggi dar setiap anggotanya. Inilah sisi
psikologis remaja yang harus dipahami sebagai latar belakang kenapa
remaja cenderung terlibat dalam perilaku-perilaku menyimpang atau
kenakalan (delinquency) semacam tawuran antar pelajar dan pemalakan. 4
Pada umumnya perilaku juvenile delinquency merupakan sebuah
kelompok bermain yang diawali dengan hal-hal dinamis. Permainan
yang mula-mula bersifat netral, baik dan menyenangkan, kemudian
ditransformasikan dalam aksi eksperimental bersama yang berbahaya
dan sering mengganggu dan merugikan orang lain. Pada akhirnya
kegiatan tadi ditingkatkan menjadi perbuatan kriminal. 5
Secara psikologis, juvenile deliquency digolongkan sebagai salah
satu bentuk kenakalan yang dilakukan oleh pelajar remaja. 6 Kenakalan
itu pada umumnya merupakan kegagalan sistem kontrol-diri terhadap
impuls-impuls yang kuat dan dorongan-dorongan instinktif. Impuls-
impuls kuat, dorongan primitif dan sentimen-sentimen hebat itu
kemudian disalurkan lewat perbuatan kejahatan, kekerasan, dan agresi
keras yang dianggap mengandung nilai lebih oleh anak-anak remaja tadi,
4 Agoes Dariyo, psikologi perkembangan Remaja,(Bogor: Ghalia Indonesia, 2004),
h. 27 5 Kartini Kartono, Kenakalan Remaja,(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2017), h. 106
6 Soetyono Iskandar, Filsafat Pendidikan Vokasi, (Yogyakarta: Budi Utama, 2018),
h. 50
wujud aksi bersama atau perkelahian massal. 7
Berbagai kenakalan remaja sering dijumpai pada siswa-siswa di
beberapa sekolah sehingga berdampak buruk pada prestasinya. SMP
Arrahman Depok merupakan salah satu sekolah dari sekian banyak
sekolah yang beberapa siswanya menjadi pelaku juvenile delinquency.
Bahkan, di lingkungan sekitarnya sekolah SMP Arrahman Depok
terkenal dengan tawurannya. Menurut buku data kasus yang dimiliki
SMP Arrahman Depok, tercatat pada tahun 2010 terjadi pemalakan
antar-teman yang dilakukan oleh salah satu siswanya yang
mengakibatkan orang tua dari korban pemalakan lapor kepada pihak
sekolah. Di tahun yang sama pula terjadi tawuran antara kelas VII
dengan kelas VIII yang berlokasi di rel kereta api.
Masyarakat menyayangkan atas peristiwa tawuran yang sering
dilakukan siswa SMP Arrahman Depok. Apalagi tawuran ini disebabkan
oleh hal-hal yang sepele, contohnya berebut lapangan sepak bola.
Meskipun tidak sampai ada korban jiwa tapi tawuran tetaplah tawuran
yang mengakibatkan luka-luka dan melanggar norma. Lebih
disayangkannya lagi ketika aksi tawuran ini berhasil tidak diketahui
pihak sekolah. Hanya sekitar 30 persen aksi tawuran yang berhasil
diketahui dan dilaporkan ke pihak sekolah. Salah satu faktor yang
membuat aksi tawuran ini terjadi adalah adanya tempat yang strategis,
yiatu rel kereta api. 8
Dalam kasus kenakalan ini, tidak serta merta remaja yang harus
disalahkan, karena masa remaja adalah masa yang penuh goncangan,
7 Kartini Kartono, kenakalan Remaja, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2017), h.105
8 Wawancara dengan Koordinator BK SMP Arrahman Depok, AZK, Depok, 15
Maret 2019
perilaku-perilaku negatif. 9 Penyebab terjadinya juvenile delinquency
menurut toeri struktural fungsional (Durkheim) adalah karena struktural
dalam sekolah dan pendidikan yang salah. 10
Kondisi ini merupakan
sehingga para pelajar perlu mendapatkan perhatian yang lebih oleh guru
bimbingan dan konseling disekolah.
yang dinyatakan oleh Sunarto dan Hartono bahwa para siswa mungkin
mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami konsep-konsep
yang abstrak. Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa anak dalam
proses belajar perlu medapatkan arahan dan bimbingan supaya ia mampu
mengembangkan cara berpikirnya. 11
Sebagaimana firman Allah SWT
dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 125:

(521)
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan
pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara
yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa
9 Namora Lumongga Lubis, Memahami Dasar-Dasar Konseling, (Jakarta: Kencana,
2014), h. 254 10
Deepublish, 2018), h. 52 11
Heru Sriyono, bimbingan dan konseling belajar bagi siswa di sekolah, (depok:
rajawali pers, 2015), h. 12
6
yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang
mendapat petunjuk”. (Q.S. An-Nahl (16):125)
Maksud dari ayat di atas adalah bahwa kita harus mengajak
sesama manusia ke jalan yang benar dengan cara yang bisa diterima
orang lain, dengan perkataan yang tegas dan benar yang dapat
membedakan antara yang hak dan yang batil. Kemudian berdiskusi
dengan tutur kata yang baik, rasional dan bijaksana sehingga bisa
meresap ke dalam hati pendengarnya dan mau untuk mengamalkannya. 12
Begitu pula dengan pendidik atau pembimbing di sekolah yang
harus mendorong muridnya agar tidak melakukan sesuatu yang sia-sia
dan mencari ilmu yang bermanfaat yaitu ilmu yang membawanya pada
kebahagiaan di dunia dan di akhirat sebagaimana tujuan utama dari
pekerjaan guru yaitu mendidik. Mengajar dan mendidik adalah tugas
yang diwariskan oleh Nabi Muhammad Saw. 13
Sebagaimana dalam

“Sesungguhnya aku (Rasulullah) diutus untuk menyempurnakan
akhlak". (HR. Al-Bukhari)
mengutamakan akhlak dari pada yang lainnya. Hal ini terbukti dengan
mengingat kisah Nabi yang memiliki banyak musuh saat itu, di
antaranya adalah Uqbah ibn Abi Mu'id dan Nadlar ibn Harits. Dua orang
ini sudah keterlaluan dalam memusuhi Nabi bahkan ketika masih di
Mekah, Uqbah pernah menginjak leher Nabi yang sedang shalat di
Maqom Ibrahim. Dia pula yang telah menindihkan kotoran unta di
punggung Nabi ketika sedang sujud hingga akhirnya Fatimah harus
12
Al-Qur`an dan Terjemahan, (Jakarta: House Almahira), h. 281 13
Ahmad Mansur, Pendidik Karakter Berbasis Wahyu, (Tangerang Selatan: Gaung
Persada, 2016) h. 81
7
mengangkatnya dengan berurai air mata. Air mata yang keluar dari Putri
Rasul inilah yang membuat hati beliau benar-benar perih dibanding
siksaan itu sendiri. Nadlar selama di Mekah selalu melecehkan Al-
Qur'an. Ia sengaja menumpulkan cerita-cerita dari orang-orang Iran dan
sekitarnya untuk menyaingi Al-Qur'an. Nabi bisa saja marah dan balas
dendam, tapi yang dilakukan Nabi adalah bersabar dan tidak menebar
kebencian, karena dengan upaya ini diharapkan dapat meluluhkan hati
seseorang agar berubah menjadi baik, yakni dengan kelembutan bukan
kekerasan. 14
sekolah untuk membantu peserta didik, baik yang melakukan kenakalan
maupun tidak. Guru bimbingan dan konseling akan mengupayakan cara-
cara yang efektif untuk membantu peserta didiknya. Upaya untuk
menangani siswa yang bermasalah, khususnya yang terkait dengan
perkelahian antar pelajar dan pemalakan di sekolah dapat dilakukan
melalui dua pendekataan yaitu: (1) Pendekatan disiplin yaitu dengan
memberikan sangsi untuk menghasilkan efek jera. (2) Pendekatan
bimbingan dan konseling yaitu melalui bimbingan dan konseling dengan
mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan
berbagai layanan dan teknik yang ada. 15
Upaya di atas sama halnya dengan upaya yang dilakukan oleh
guru bimbingan dan konseling di SMP Arrahman Depok dalam
mengatasi kenakalan siswanya yang meresahkan masyarakat. Dimulai
dengan kerjasama dari seluruh pihak, yakni guru, orang tua, masyarakat,
pemerintah dan tenaga pengaman yang dikerahkan. Akhirnya usaha yang
14
Tohirin , Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), h. 27
8
Arrahman Depok yang mengalami tingkat kenakalan peserta didiknya
mulai menurun di setiap tahunnya.
Terkait dengan masalah di atas, peneliti merasa tertarik untuk
meneliti dan mengkaji lebih dalam tentang upaya guru bimbingan dan
konseling dalam menanggulangi juvenile delinquency pada pelajar.
Sehingga peneliti mengambil judul “Upaya Guru Bimbingan dan
Konseling (BK) dalam Menanggulangi Juvenile Delinquency
(Kenakalan Remaja) pada Pelajar di SMP Arrahman Depok”.
B. Identifikasi Masalah
masalah pada penelitian ini adalah:
1. Kenakalan remaja dapat mencoreng nama baik sekolah.
2. Kenakalan remaja mengakibatkan kerugian baik fisik maupun psikis,
baik merugikan diri sendiri maupun orang lain.
3. Kenakalan remaja dianggap sebagai solusi untuk memecahkan
masalah yang dihadapi oleh para remaja.
4. Orangtua yang tidak dapat menangani kenakalan anaknya kemudian
menyerahkan permasalahan anaknya kepada pihak sekolah.
C. Pembatasan Masalah
pembahasannya, yakni:
1. Kenakalan remaja dalam penelitian ini dibatasi hanya pada kenakalan
siswa berupa tawuran dan pemalakan.
2. Guru bimbingan dan konseling dalam penelitian ini adalah guru
bimbingan dan konseling di SMP Arrahman Depok.
9
3. Pelajar dalam penelitian ini yakni siswa kelas VIII SMP Arrahman
Depok.
1. Faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya Kenakalan remaja
pada pelajar di SMP Arrahman Depok?
2. Bagaimanakah upaya guru BK dalam menanggulangi Kenakalan
remaja pada pelajar di SMP Arrahman Depok?
E. Tujuan Penelitian
dapat dinyatakan bahwa penelitian ini bertujuan:
1. Mengetahui apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya juvenile
delinquency pada pelajar di SMP Arrahman Depok.
2. Mengetahui bagaimana upaya yang dilakukan oleh guru BK dalam
menanggulangi juvenile delinquency pada pelajar di SMP Arrahman
Depok.
sumber informasi dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang
terjadi dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam terutama
dalam menanggulangi keresahan masyarakat tentang juvenile
delinquency yang dilakukan oleh pelajar aktif di sekolah.
2. Secara praktis
a) Bagi guru
kualitas pengajaran yang lebih baik yaitu dengan menjadi contoh…