Tht Zalfina Cora

Click here to load reader

  • date post

    19-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    8
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Tht Zalfina Cora

  • 2003 Digitized by USU digital library 1

    KOLERASI TES KULIT CUKIT DENGAN KEJADIAN SINUSITIS MAKSILA KRONIS DI BAGIAN THT FK USU/RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2001

    ZALFINA CORA

    Program Pendidikan Dokter Spesialis Bidang Studi Ilmu Penyakit THT-KL

    Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

    BAB I PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang Sinusitis maksila kronis adalah peradangan mukosa sinus maksila dengan keluhan lebih dari 3 bulan.1 . Sinus paranasal adalah ronggarongga didalam tulang kepala yang terletak disekitar rongga hidung dan mempunyai hubungan dengan melalui muaranya.2 Sampai saat ini sinusitis maksila kronis masih merupakan masalah dan merupakan subjek yang selalu diperdebatkan, baik mengenai etiologi, keluhan, diagnosis maupun tindakan selanjutnya.3 Berbeda dengan sinusitis akut, sinusitis kronis biasanya sukar disembuhkan dan hasil pengobatan sering mengecewakan, baik untuk dokter dan terutama untuk penderita.4 Penderita biasanya mempunyai keluhan hidung tersumbat, sakit kepala, cairan mengalir dibelakang hidung, hidung berbau dan penciuman berkurang.1,5,6 Berbagai etiologi dan faktor predisposisi berperan dalam timbulnya penyakit ini, seperti deviasi septum, polip kavum nasi, tumor hidung dan nasofaring serta alergi.7,8 Menurut Lucas seperti yang dikutip Moh. Zaman , etiologi sinusitis adalah sangat kompleks. Hanya 25% disebabkan oleh infeksi, selebihnya 75% disebabkan oleh alergi dan ketidakseimbangan pada sistim saraf otonom yang menimbulkan perubahan-perubahan pada mukosa sinus.3 Alergi adalah salah satu faktor prediposisi dalam patogenesis sinusitis maksila kronis, yang mengakibatkan edema mukosa dan hipersekresi, keadaan ini akan menimbulkan penyumbatan muara sinus mengakibatkan stasis sekret. Hal ini sebagai medium infeksi yang akhirnya menyebabkan sinusitis kronis.1,7,8 Penyakit alergi adalah suatu penyimpangan reaksi tubuh terhadap paparan bahan asing yang menimbulkan gejala pada orang yang berbakat atopi sedangkan pada kebanyakan orang tidak menimbulkan reaksi apapun.9,10 Gangguan alergi pada hidung ternyata lebih sering dari perkiraan dokter maupun orang awam, yaitu menyerang sekitar 10 % dari populasi umum. 8 Prevalensi rinitis alergi telah diketahui bervariasi antara 5 10 % panduduk diberbagai kota di dunia.11 Insiden rinitis di Bandung 1,5 % , di Sub Bagian Alergi-Imunologi Bagian THT FKUI/RSCM selama setahun 1992 adalah 1,14 %. 12 dan di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 1993-1994 sebesar 16,44%.12 Sinusitis dibagi menjadi 1) sinusitis akut, bila infeksi beberapa hari sampai beberapa minggu, 2) sinusitis sub akut, beberapa minggu sampai beberapa bulan, 3) sinusitis kronis, beberapa bulan sampai beberapa tahun.1,14,15 Menurut Cauwenberge (1983), disebut sinusitis kronis bila infeksi sudah lebih dari 3 bulan.14 Sinus maksila merupakan sinus yang paling sering terinfeksi, karena merupakan sinus paranasal yang terbesar, letak muaranya lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga aliran sekret (dreanase) dari sinus maksila sangat tergantung dari

  • 2003 Digitized by USU digital library 2

    gerakan silia. Dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus) sehingga infeks i gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila. Muara sinus maksila terletak di meatus medius, disekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat.14 Diagnosis sinusitis maksila kronis berdasarkan anamnenis yang cermat, pemeriksaan rinoskopi anterior dan posterior, adanya sekret kental perulen, pemeriksaan penunjang seperti transiluminasi, pemeriksaan radiolog, fungsi sinus maksila dan sinoskopi. Bila perlu dapat dilakukan pemeriksaan histopatologi, nasoendoskopi serta CT scan.1 Rinitis alergi dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, bila terdapat 2 atau lebih gejala seperti bersin-bersin lebih 5 kali setiap serangan, hidung dan mata gatal , ingus encer lebih dari satu jam dan hidung tersumbat, maka dinyatakan positif. Hampir 50 % diagnosis rinitis alergi dapat ditegakkan dari anamnesis saja.16 Oleh karena faktor alergi merupakan salah satu penyebab timbulnya sinusitis maksila kronis, maka perlu dilakukan tes kulit epidermal berupa tes kulit cukit (Prick tes, tes tusuk). Tes ini cepat, simple, tidak menyakitkan, relatif aman dan jarang menimbulkan reaksi anafilaktik.10,17,18,19 Untuk menjamin akurasinya, tes cukit harus dilaksanakan setelah terlampaui masa wash out obat anti alergi yang terakhir dikonsumsinya . Sebagai contoh , antihistamin sedatif 1 minggu, antihistamin non sedatif 2-4 hari, kortikosteroid 6-8 minggu.11 Uji cukit merupakan pemeriksaan yang paling peka untuk reaksi-reaksi yang diperantai oleh IgE dan dengan pemeriksaan ini alergen peyebab akan dapat diketahui.16,20 Dalam penelitian ini diagnosis sinusitis maksila kronis yang disebabkan oleh alergi, ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan THT rutin, pemeriksaan foto polos sinus paranasal dan tes kulit cukit. 2. Masalah penelitian Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli bahwa salah satu faktor predisposisi sinusitis maksila kronis adalah alergi, timbul keinginan peneliti untuk mengetahui seberapa besar perkiraan alergi sebagai salah satu faktor predisposisi timbulnya sinusitis maksila kronis di Bagian THT/FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan. Dipilihnya sinus maksila sebagai objek yang diteliti mengingat sinus maksila lebih sering mengalami peradangan dibandingkan dengan sinus paranasal yang lain. Diharapkan setelah penelitian ini pemeriksaan alergi pada kasus sinusitis maksila kronis dapat dikerjakan secara rutin sehingga pengobatan sinusitis maksila kronis lebih akurat. 3. Hipotesis Alergi merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada kejadian sinusitis maksila kronis. 4. Tujuan penelitian 4.1. Umum 4.1.1. Menentukan seberapa besar peranan alergi sebagai faktor presdisposisi sinusitis maksila kronis. 4.2. Khusus 4.2.1 Mengetahui seberapa besar hasil tes kulit cukit (positip) pada penderita sinusitis maksila kronis.

  • 2003 Digitized by USU digital library 3

    5. Manfaat penelitian Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memperoleh nilai, berapa besar peranan alergi yang dianggap sebagai faktor predisposisi sinusitis maksila kronis, sehingga pengobatan lebih akurat.

    BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

    Suatu peradangan mukosa sinus paranasal disebut sinusitis. Penyakit ini sering dijumpai di Bagian Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan. Bila mengenai sel beberapa sinus disebut multisinusitis sedang bila mengenai seluruh sinus paranasal, disebut pansinusitis. Sinus maksila sering terkena, kemudian berturut-turut sinus etmoid, sinus frontal dan sinus sphenoid.14,21 Penyakit ini berasal dari perluasan infeksi hidung, gigi, faring, tonsil atau adenoid. Tetapi dapat juga terjadi akibat trauma langsung, barotraumas, berenang atau menyelam. Ikut berperan pula beberapa faktor predisposisi yang menyebabkan obstruksi muara sinus maksila, sehingga mempermudah terjadinya sinusitis seperti deviasi septum, hipertropi konka, massa di dalam rongga hidung dan alergi.7,8 Istilah alergi dikemukakan pertama kali oleh Von Pirquet pada tahun 1906 yang pada dasarnya mencakup baik respon imun berlebihan yang menguntungkan seperti pada vaksinasi, maupun mekanisme yang merugikan dan menimbulkan penyakit. Secara umum penyakit alergi di bagi dalam 4 golongan yaitu alergi atopi, alergi obat, penyakit serum dan dermatitis kontak. Manifestasi klinik alergi paling sering tampak melalui 3 organ sasaran, yaitu saluran napas, saluran cerna, dan kulit. Alergi atopi adalah reaksi hipersensitivitas tipe I pada individu secara genetik menunjukkan kepekaan terhadap alergen.7,8,22

    Banyak penderita yang menunjukkan reaksi alergi terhadap alergen ekstrinsik seperti debu, tungau, bulu binatang, tepung sari, berbagai jenis makanan dan zat lain.10-23 Dari tes kulit, alergen-alergen yang memberikan hasil positip bermakna berturut terbanyak adalah tungau debu rumah (91,16 %), debu rumah (73,47%) dan serpihan epitel/bulu binatang (63,95 %).13

    Pemaparan terhadap alergen tersebut menyebabkan berbagai gejala seperti rinitis, asma, urtikaria, diare, muntah-muntah dan lain-lain. Perlu diwaspadai bahwa gejala yang sama dapat pula disebabkan oleh faktor-faktor non imunologik10,13,22 I. SINUS MAKSILA 1. Embriologi dan perkembangan Pada bulan ketiga kehidupan embrio, sinus maksila terbentuk, dimulai dari suatu invaginasi mukosa meatus media ke arah lateral dan ke arah korpus maksila os maksila.7 Perubahan-perubahan progresif pada dinding hidung lateral dengan pembentukan sinus paranasal terjadi secara simultan dengan perkembangan palatum. Pada hari ke 40 dari fetus sewaktu perkembangan rongga hidung, maka lekukan horizontal (horizontal groove) nampak pada dinding leteral, yang kemudian akan membentuk meatus medius dan inferior. Profilerasi mesenchym maxillo turbinate, menonjol kedalam lumen dan kemudian menjadi konka inferior. Konka yang lebih atas berkembang dari lipatan etmoid turbinate yang tampak kemudian. Perkembangan sinus terjadi ketika lipatan konka terbentuk. Ini merupakan proses

  • 2003 Digitized by USU digital library 4

    lambat, yang berlanjut sampai terhentinya pertumbuhan tulang pada awal kehidupan dewasa. Dari keempat sinus paranasal, hanya sinus maksila dan etmoid yang ada waktu lahir. Sinus maksila tampak pertama kali seperti suatu depresi ektodermal tepat diatas prosesus unsinatus pada konka inferior.23,24 Pada saat lahir rongga sinus maksila berbentuk tabung dengan ukuan 7 x 4 x 4 mm, ukuran posterior lebih panjang daripada anterior, sedangkan ukuran tinggi dan lebar hampir sama panjang. Dengan kecepatan pertumbuhan setiap tahunnya sebesar 2-3 mm ke arah vertikal dan kearah posterior, maka pada usia 8 tahun rongga sinus maksila telah mencapai meatus inferior.7,15,25 Pa