TERJEMAHAN JURNAL

Click here to load reader

  • date post

    12-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    24
  • download

    1

Embed Size (px)

description

dstsyru

Transcript of TERJEMAHAN JURNAL

LESI RADIOPAK ASIMPTOMATIK PADA TULANG RAHANG: PENELITIAN RADIOGRAFI DENGAN MENGGUNAKAN CBCT(Asymptomatic radiopaque lesions of the jaws: a radiographic study using cone-beam computed tomography)

Nama: Aulia OlvianaNPM: 1018011006Pembimbing: dr. Tantry Dwi K, Sp.RadSumber: Journal of Oral Science Vol. 53, No.4, 439-444

BAGIAN RADIOLOGIRSUD Hi. ABDUL MOELOEKFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG2015

Lesi Radiopak Asimptomatik pada Tulang Rahang: Penelitian Radiografi dengan Menggunakan CBCT

ABSTRAK :Radiografi panoramik dan CBCT digunakan untuk menganalisa lesi radiopak asimptomatik pada tulang rahang dan untuk menetapkan diagnosa yang relevan pada lesi berdasarkan hubungan gigi geligi dan lokasi asalnya. Terdapat seratus lesi radiopak yang terdeteksi antara tahun 1998-2002 yang dievaluasi menggunakan radiografi panoramik dan CBCT. Pada radiografi panoramik, daerah asal dibagi menjadi daerah periapikal, body atau edentulous dan tempatnya diklasifikasikan atas bagian gigi molar dan premolar. Data follow up dari rekam medis hanya tersedia 36 data pada kasus ini. Protokol penelitian untuk untuk penggunaan CBCT yang bersamaan telah disetujui oleh dewan pertimbangan etik dari institusi kami. Sebagian besar lesi radiopak diobservasi pada lokasi gigi molar dan premolar rahang bawah; 60% lesi perapikal, 24% pada body, dan 16% pada bagian edentulous. Tipe lesi radiopak yang menarik adalah yang dinamakan pearl shell structure (PSS), yang diobservasi menggunakan CBCT pada 34 dari 100 lesi. PSS merupakan struktur yang khas, dan struktur ini ditemukan pada pemeriksaan CBCT yang kemungkinan muncul pada susunan tulang awal sebelum tulang menjadi sklerosis. (J Oral Sci 53, 439-444, 2011)Kata kunci : osteosklerosis; radiografi panoramic; CBCT; diagnosis

PENDAHULUANKebanyakan kasus osteosklerosis yang idiopatik pada tulang rahang dideteksi secara tidak sengaja pada pemeriksaan radiografi panoramik. Karena penemuan dari penelitian-penelitian tentang karakteristik kondisi tersebut, aspek morfologi dari kasus ini sekarang bisa dipastikan dari gambaran radiografi dan penemuan histopatologi (1-8). Namun, hubungan antara perubahan internal osteosklerosis dengan ciri-ciri khas pada gambaran diagnostiknya masih belum jelas.Pasien dengan lesi radiopak pada tulang rahang kadang-kadang merujuk pada pasien rawat jalan kami untuk didagnosa. Karena CBCT belum berkembang sebelum tahun 1997, diagnosis untuk beberapa lesi sangat sulit untuk dilakukan dibandingkan pada saat ini. Saat dibutuhkan, sekarang kami menggunakan CBCT untuk mendiagnosis lesi radiopak dan telah diobservasi sebuah struktur menarik pada beberapa lesi ini, yang dinamakan pearl-shell structure (PSS) sebab gambaran radiografinya mirip dengan mutiara dari kerang Akoya dari Jepang. PSS dapat diobservasi pada CBCT dan pada beberapa kasus pada radiografi panoramik dan pada radiografi dental (Gambar1). Bahkan, diganosa banding dari lesi radiopak kemungkinan dapat ditingkatkan dengan pengetahuan dari daerah asalnya, khususnya dengan melihat apakah asalnya odontogenik atau nonodontogenik. Namun, faktor-faktor ini diluar dari lingkup penelitian yang dilakukan saat ini.Penelitian retrospektif ini menggunakan radiografi panoramik dan CBCT untuk menganalisa lesi radiopak asimptomatik pada tulang rahang dan menentukan diagnosa relevan dari PSS, berdasarkan dari daerah asal dari lesi dan hubungannya terhadap gigi geligi.

BAHAN DAN METODEKami menguji 100 lesi radiopak yang tampak pada radiografi panoramik (kondisi gambaran: 70-75 kVp, 7-10 mA) antara tahun 1998-2002. Pertama, kami menentukan karakteristik dari lesi dengan mengidentifikasi lokasinya pada radiografi panoramik. Kemudian, kami memperoleh gambaran dari lesi menggunakan alat CBCT (3DX; Morita Corp, Kyoto, Japan; 85 kVp, 10 mA dan 17s, dengan total filtrasi 1,2 mm Cu). Semua pasien diberikan penjelasan lengkap tentang CBCT. Protokol penelitian tentang penggunaan CBCT telah disetujui oleh dewan pertimbangan etik dari institusi kami. Radiografi panoramik digunakan untuk mengklasifikasikan daerah asal lesi seperti bagian periapikal (berhubungan dengan akar gigi), body(meliputi dalam mandibula), atau edentulous (edentulous pada daerah tulang alveolar) (Gambar 2). CBCT kemudian digunakan pada semua kasus untuk menganalisa lesi radiopak dan kontennya. Pada gambaran CBCT, PSS digambarkan sebagai gambaran yang kecil, sangat kuat, titik radiopak di dalam lesi radiopak. Daerah radiopak yang mirip dengan massa osteosklerotik juga termasuk didalam penelitian ini (Gambar1). PSS digambarkan cakupan luas dari lesi yang tepat, namun harus bisa diobservasi sedikitnya dua arah pada gambaran CBCT, misalnya parallel (Gambar 3a), cross- (Gambar 3b) dan horizontal (Gambar 3c). Dua ahli radiologi yang berpengalaman mengevaluasi gambaran CBCT dan mengidentifikasi PSS pada gambaran radiografi panoramik dan CBCT secara acak.

Gambar 1 : a). Radiografi panoramik yang menunjukkan lesi radiopak pada bagian bawah gigi premolar rahang bawah. b),c),d). Gambaran CBCT (b: penampang parallel, c: cross-section, d: penampang horizontal). Tingkat radiopak dari lesi bervariasi dan daerah pusat dengan tingkat opasitas yang meningkat dapat dilihat (PSS). Gambaran CT ini secara jelas menunjukkan bentuk heterogen dari PSS.

Gambar 2 : Daerah lesi radiopak yang terdeteksi pada radiografi panoramik

Gambar 3 : Gambaran CBCT dari PSS pada bagian periapikal di daerah bawah gigi kaninus kanan rahang bawah. Gambaran CT ini dengan jelas menunjukkan titik kecil radiopak homogen pada daerah pusat. a). Penampang parallel, b). cross section, c). Penampang horizontal.

ANALISIS STATISTIKKami menggunakan uji chi-square untuk menganalisis lokasi dari leasi radiopak dan lokasi spesifik yang ada dalam daerah tersebut. Kami menggunakan uji yang sama untuk mengevaluasi hubungan antara daerah PSS dan lokasi dari susunan lesi radiopak. Uji probabilitas Fishers juga digunakan untuk mengevalusi hubungan antara adanya PSS dan atrisi gigi. Nilai A P , 0,05 mengindikasikan nilai signifikan yang statistik.

HASIL100 lesi didapatkan yang terdiri dari 20 laki-laki dan 80 perempuan. Rata-rata umur pasien 41,9 tahun (rentang 10-82 tahun; Tabel 1). Sehubungan dengan evaluasi pada radiografi panoramik, bagian yang paling sering terjadi lesi radiopak adalah pada gigi premolar dan molar rahang bawah. Daerah ini dklasifikasikan sebagai bagian periapikal dalam 60 kasus, body 24 kasus dan edentous 16 kasus (Tabel 2). PSS ditemukan pada 34 diantara 100 kasus (34%), dan rata-rata umur pada pasien-pasien ini adalah 36,9 tahun. PSS tidak selalu ditemukan pada daerah gigi premolar dan molar, sebagian di dalam lesi body daerah premolar dan di dalam lesi periapikal daerah gigi molar. Sehingga PSS cenderung berada pada lokasi dari akar gigi. Dalam perbandingan gambaran antara CBCT dan radiografi panoramik, adanya PSS dapat dipastikan menggunakan radiografi panoramik hanya 4 dari 34 kasus (Tabel 3).Tiga puluh enam pasien dengan lesi radiopak (termasuk 23 pasien dengan PSS) diteliti menggunakan informasi dari rekam medis. Kondisi gigi sebelahnya sebagai berikut : 11 pasien tidak membutuhkan perawatan, 17 menunjukkan vitalitas pulpa, 13 memiliki abrasi pada permukaan oklusal, dan 22 bebas dari rasa nyeri (Tabel 4).Kami menetapkan dua histopatologi lesi PSS dan menemukan bahwa hal ini disebabkan oleh osteomyelitis yang memadat. Satu dari pasien ini, laki-laki berusia 14 tahun dengan penemuan yang khas dari PSS pada radiografi panoramik (Gambar 4a). Secara histopatologis, pusat dari PSS terdiri atas massa dari tulang yang remodeling dan dikelilingi oleh trabekula yang luas dan bertulang, bentuk yang irregular, dan sumsum tulang yang berserat (Gambar 4b).Uji chi-square independen menunjukkan hubungan signifikan secara statistik antara formasi daerah lesi dan lokasi lesi. Namun, daerah PSS tidak secara signifikan berhubungan dengan daerah formasi lesi radiopak. Hal serupa juga didapatkan pada uji probabilitas Fishers yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara adanya PSS dengan atrisi gigi.

a bGambar 4: a) Gambaran radiografi panoramik menunjukkan lesi radiopak dengan PSS diantara gigi kaninus bawah kiri dan gigi premolar. b) Gambaran histopatologi dari lesi menunjukkan bahwa pusat dari massa remodeling dikelilingi oleh trabekula tulang yang luas dan serat sumsum tulang fibrosa yang berbentuk irregular

DISKUSIMeskipun penyebab dari sebagian besar lesi radiopak pada tulang rahang masih belum jelas, faktor etiologi untuk beberapa lesi ini secara berangsur-angsur mulai ditemukan. Kebanyakan lesi radiopak tidak memiliki gejala dan ditemukan secara tidak sengaja pada tomografi panoramik atau pada gambaran CBCT yang didapatkan selama penilaian praoperasi dental implan. Lesi ini dapat menjadi tumor jinak atau gambaran displastik atau perubahan rangsang, dan dapat menjadi penemuan gambaran yang lengkap (9). Berbagai macam istilah telah digunakan untuk menggambarkan lesi, termasuk osteosklerosis idiopatik (10-15), kelompok tulang padat (9,16,17), enostosis (18,19), osteoporosis focal periapikal (7), dan osteitis yang memadat (20). Sebagai tambahan untuk penampakannya yang bervariasi, ukuran lesi ini dapat berubah dalam beberapa cara (17). Tidak semua lesi radiopak asimptomatik dihilangkan dengan tindakan bedah setelah terdeteksi. Beberapa kasus diobservasi untuk jangka waktu yang panjang, sehingga dapat memprediksi sifat dari lesi ini. Untuk alasan inilah, analisa menyeluruh dari lesi radiopak sekarang ini tidak mungkin untuk dilakukan.Pada penelitian ini, kami mendeteksi massa kecil radiopak yang ada di dalam beberapa lesi radiopak ini. Kami mencatat penemuan x-ray ini pada penelitian saat ini dan mengarah pada struktur pearl shell atau PSS. Kami awalnya berpikir bahwa PSS mungkin berhubungan dengan tulang. Namun pada penelitian saat ini, kami menggunakan CBCT untuk mengevaluasi 10