Tentang Drama Absurd

download Tentang Drama Absurd

of 32

  • date post

    15-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    46
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of Tentang Drama Absurd

  • 23/03/2010 Drs. Sumiyadi, M.Hum./Jurdiksatrasia, FPBS,UPI

    1

    MAZHAB SASTRA: ABSURDISME

    Oleh Sumiyadi

    1. Pendahuluan

    Absurdisme sebagai mazhab sastra berkembang selepas Perang

    Dunia II. Apabila kita telusuri, ternyata perkembangannya masih

    satu kutub dengan mazhab eksistensialisme, yang telah memiliki

    sejarah yang cukup panjang, bahkan sebelum Perang Dunia I.Tokoh

    eksistensialis dan juga peletak dasar eksistensialisme, Kierkegaard

    (18131855), telah menulis karya-karyanya sebelum Perang Dunia I.

    Para eksponennya, seperti Heidegger, Jaspers, dan Sartre telah

    menulis juga sebelum Perang Dunia II. Dasar-dasar eksistensialisme itu

    dapat ditemukan pula pada Nietzsche dan sastrawan Dostoyevsky,

    yang keduanya pun tidak sampai mengalami zaman Perang Dunia I

    (Hasan, 1992:12).

    Dari nama-nama yang telah disebutkan, kita dapat mengetahui

    bahwa mereka lebih dikenal sebagai filsuf daripada sebagai sastrawan.

    Dengan demikian, dapat disimpulkan pula bahwa ada keterkaitan

    antara filsafat dan sastra, seperti yang dikatakan oleh Budi Darma

    (1990:135):

    Kadang-kadang filsafat dan sastra menjadi satu. Filsafat dapat

    diucapkan lewat sastra, sementara sastra itu sendiri sekaligus

    dapat bertindak sebagai filsafat. Sesudah Perang Dunia II,

  • 23/03/2010 Drs. Sumiyadi, M.Hum./Jurdiksatrasia, FPBS,UPI

    2

    misalnya Albert Camus dan Jean Paul Sartre adalah filsuf

    eksistensialisme yang sekaligus adalah sastrawan. Novel-novel mereka adalah pengucapan filsafat, dan sekaligus juga filsafat.

    Dari kutipan di atas kita dapat mengenal satu nama lagi, yang belum

    disebut dalam tulisan ini, yaitu Albert Camus. Camuslah yang

    menghubungkan mata rantai absurdisme dengan eksistesialisme.

    Camus sendiri pernah membuat karya sastra yang bercorak absurd,

    di antaranya novel Sampar dan Orang Asing. Akan tetapi, konsep

    absurd sendiri dimuncukan Camus dalam sebuah esainya yang

    terkenal, yaitu Mitos Sisipus. Mitos Sisipus tidak hanya menjadi dasar

    pemikiran dalam karya sastra prosa, namun juga dalam karya sastra

    drama, bahkan dalam pertunjukan teaternya. Hal yang terakhir inilah

    yang melahirkan eksponen-eksponen yang khas dalam teater, seperti

    Beckett, Ionesco, dan Adamov.

    Tulisan ini akan membahas absurdisme, khususnya dalam

    teater, namun sesekali juga dihubungkan dengan karya sastra (novel

    dan drama). Sebagian besar tulisan akan berpumpun pada buku

    Martin Esslin yamg berjudul The Theatre of the Absurd (1961) dan

    "The Theatre of the Absurd" dalam On Contemporary Literature (1964)

    yang disunting oleh Richard Kostelanetz. Selanjutnya, tulisan ini

    akan dibagi dalam sub-subbagian: asal-usul absurdisme,

    karakterlsasi sastra dan teater absurd, beberapa eksponen teater

    absurd, dan strategi pembelajaran teater absurd.

  • 23/03/2010 Drs. Sumiyadi, M.Hum./Jurdiksatrasia, FPBS,UPI

    3

    2. Asal-Usul Absurdisme

    Dalam pendahuluan telah disinggung bahwa konsep absurd

    dimunculkan Albert Camus dalam buku easainya yang berjudul Mitos

    Sisipus dalam bahasa Prancis. Menurut Kasim (1994: 52) buku esai

    ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1955 oleh

    Justin O'Brien dengan judul The Myths of Sisyphus and Other Essays.

    Inti cerita Mitos Sisipus diambil dari mitologi Yunani Kuno. Dalam

    cerita itu dikisahkan bahwa Sisipus dihukum para dewa. Hukuman

    yang harus dilakukain Sisipus adalah mengangkut batu besar ke atas

    gunung yang terjal. Akan tetapi, setelah mengangkut batu yang

    berakhir di puacak, batu itu menggelinding kembali, kemudian

    Sisipus mengangkut batu itu kembali ke puncak. Hukmnan itu terus

    berulang dilakukan oleh Sisipus. Hukuman Sisipus itu dimaknai oleh

    Camus sebagal amsal hidup manusia. Goenawan Mohamad menulis

    dalam "Catatan Pinggir"-nya, "Dalam dongeng ini, menurut tafsiran

    Albert Camus sejarah manusia berlangsung mengasyikkan tapi

    dlujungnya harapan besar apa pun tak akan terpenuhi (1982:201).

    Menurut Esslin (I96l:xvlii xix) , hingga akhir Perang Dunia II

    kemerosotan keyakinan religius yang tersembunyi di balik keyakinan

    akan kemajuan, nasionalisme, dan kepalsuan berbagai negara

    totaliter, semua ambruk karena perang, lalu manusia diselimuti oleh

  • 23/03/2010 Drs. Sumiyadi, M.Hum./Jurdiksatrasia, FPBS,UPI

    4

    perasaan absurditas. Perasaan absurditas ini dijelaskan Camus

    dalam Mitos Sisipus (dalam Esslin, 1961 :xix; Kasim, 1994:52):

    Dunia yang masih dapat dijelaskan meskipun dengan

    penjelasan yang keliru merupakan dunia yang kita kenal. Namun, sebaliknya di dunia di mana ilusi-ilusi dan harapan

    tiba-tiba direnggutkan, manusia merasa terasing, merasa

    sebagai seorang asing. Pelariannya tidak merupakan pengobatan bagi dirinya karena kenangan terhadap dunianya

    yang telah hilang dan pengharapannya terhadap negeri yang

    penuh harapan, telah direnggutkan. Perpisahan ini antara manusia dengan kehidupannya, antara aktor dengan lokasi

    ceritanya, merupakan perasaan absurditas.

    Perasaan absurditas inilah yang kemudian menjadi pokok

    persoalan dalam sastra dan teater absurd. Akan tetapi, ada yang

    perlu kita garis bawahi bahwa perasaan absurditas pascaperang

    Dunia II ini terlontar di belahan Dunia Barat. Jadi, tipikal Dunia

    Barat. Oleh sebab itu, dapat kita pahami apabila peristiwa teater yang

    terjadi di penjara San Quentin telah menghebohkan para narapidana

    di penjara tersebut, seperti yang diceritakan oleh Esslin (l96l:xv

    xxiv).

    Esslin memulai ceritanya dengan titi mangsa peristiwa itu.

    Pada tanggal 19 November tahun 1957 sekelompok aktor dengan rasa

    cemas dan khawatir bersiap-slap menghadapi para penonton. Aktor-

    aktor Itu berasal dari Sani Fransisco Actors Workshop. Penontonnya

    adalah sekelompok besar narapidana di penjara San Quentin.

    Padahal, selama lebih kurang 44 tahun di penjara itu tak pernah ada

  • 23/03/2010 Drs. Sumiyadi, M.Hum./Jurdiksatrasia, FPBS,UPI

    5

    pementasan yang menghibur mereka. Pementasan terakhir di San

    Quentin adalah sebuah sandiwara termasyur yang dibintangi oleh

    biduanita termasyur bernama Sarah Bernhardt pada tahun 1913.

    Empat puluh empat tahun kemudian, penjara itu akan dipentaskan

    sebuah sandiwara serius dan tanpa pemain wanita. Sandiwara itu

    adalah Menunggu Godot karya Samuel Beckett.

    Dengan demikian, cukup beralasanlah apabila aktor-aktor itu

    beserta sutradaranya, Herbert Blau, sangat cemas dan khawatir. Ada

    tanda tanya besar dalam diri mereka: bagaimana sikap penonton

    yang garang-garang itu nanti terhadap sebuah sandiwara yang berat

    dan perlu pemahaman Intelektual, yang telah menghebohkan

    kalangan intelektual di Eropa Barat itu? Oleh karena itu, Herbert

    Blau merasa perlu terlebih dahulu mempersiapkan penontonnya.

    Blau kemudian maju ke depan para penonton yang tengah

    menyalakan rokok-rokokya disertai dengan nyala korek api yang

    sengaja diayun-ayunkan untuk menerangi ruangan yang tampak

    remang-remang. Blau membandingkan naskah Menunggu Godot

    dengan partitur musik jaz. Dengan demikian, orang dapat bebas

    menafsirkannya sesuai dengan apa yang ditangkapnya. Blau pun

    berharap, Menunggu Godot dapat memberi makna yang dalam bagi

    masing-masing penontonnya.

    Layar dibuka, sandiwara pun mulai. Selanjutnya, sandiwara

  • 23/03/2010 Drs. Sumiyadi, M.Hum./Jurdiksatrasia, FPBS,UPI

    6

    yang telah"menggegerkan" para penonton di Paris, London, dan New

    York telah dapat diserap dengan baik oleh para "mantan" penjahat

    Itu. Sejak peristiwa itu, tokok-tokoh dan dialog-dialog dalam

    Menunggu Godot telah menjadi ungkapan sehari-hari bahkan mitos di

    penjara San Quentin. Artikel utama koran penjara itu menjelaskan,

    Sandiwara itu merupakan pengungkapan simbolik yang sangat

    umum dan pengarangnya berharap agar setiap penonton mengambil kesimpulan sendiri-sendiri, sekalipun kesimpulan

    yang dibuatnya itu keliru. Sandiwara itu tidak menuntut apa-

    apa, tidak memaksakan moral (ajaran/amanat) terhadap penontonnya, tidak mengharapkan sebuah harapan yang

    khusus...Kita masih menunggu Godot, dan akan selalu

    menunggu. Bila suasana mulal membosankan dan segala aktivitas semakin lamban, kita akan mulai saling memaki, lalu

    bersumpah untuk berpisahnamun kemudian tiada tempat untuk dituju (dalam Esslin, 1961:xvi).

    Mengapa sebuah sandiwara yang digolongkan sebagai avant--

    garde dapat memesona penonton yang terdiri dari para narapidana?

    Apakah karena pementasan itu menyajikan suatu situasi yang mirip

    dengan keadaan mereka? Atau apakah karena mereka tidak cukup

    canggih dan terpelajar untuk sampai pada teater tanpa gagasan dan

    rencana yang telah dibuat sebelumnya, yang dengan demikian

    mereka terhindar dari kesalahan yang menjebak begitu bayak

    kritikus? Keduanya mungkin. Akan tetapi, apabila kita percaya

    dengan jawaban yang kedua, maka kita telah menganggap bahwa

    para narapidana itu telah bersikap snob dan jumawa.Tampaknya,

    tidak ada alasan bagi para narapidana untuk bersaing dengan

  • 23/03/2010 Drs. Sumiyadi, M.Hum./Jurdiksatrasia, FPBS,UPI

    7

    kritikus teater, yang telah menghukum drama Menunggu Godot itu

    sebagai drama atau sandiwara yang kekurangan plot, perkembangan,

    perwatakan, tegangan