sekolah-Orang Miskin

download sekolah-Orang Miskin

of 25

  • date post

    11-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    77
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of sekolah-Orang Miskin

Orang Miskin (tak Bisa) Sekolah NengyantiPengajar di Fisip Unsri dan Peneliti di Pusat Studi Wanita Unsri Sriwijaya Post - Selasa, 5 Mei 2009 08:39 WIB JUDUL tulisan ini sungguh sangat provokatif. Di tengah eforia sekolah gratis mulai dari SD hingga SMU, pernyataan ini sungguh tak tepat kalau dilontarkan di Provinsi Sumatera Selatan. Tapi kalau turun ke bawah melihat kondisi yang sebenarnya sungguh miris. Sekolah-sekolah negeri yang gurunya digaji oleh negara berlomba membuat program sekolah berbasis unggulan. Mereka menerima murid lebih dulu walau belum tahun ajaran baru. Mereka pun sepertinya menjadi otonom, membuat rencana kerja sendiri, mengutip uang dari orangtua/walimurid dan juga mengelola keuangan sendiri. Jumlah yang dikutip sungguh fantastis, di beberapa kasus sungguh mencengangkan, setiap bulannya mengalahkan biaya satu semester yang harus dibayarkan oleh mahasiswa non exacta di Universitas Sriwijaya. Satu orangtua murid terlihat pucat ketika harus menunggu wawancara dengan tim penerimaan siswa baru di sebuah sekolah SMU. Si orangtua diwawancarai untuk ditanya mengenai kesanggupannya memberikan sumbangan kepada sekolah yang memiliki berbagai macam program pembiayaan operasional sekolah. Ada juga orangtua yang secara psikologis tertekan, bertanya kepada walimurid atau orangtua lainnya kalau dirinya tak sanggup untuk menyumbang sumbangan minimal yang diajukan oleh sekolah. Si wali murid ini mengungkapkan kalau dirinya hanya sanggup menyumbang 3 juta rupiah, alasannya biaya bulanannya saja sudah besar. Sedangkan dirinya tergolong dalam kategori tidak miskin tetapi kurang mampu kalau harus mengeluarkan biaya lebih dari satu juta rupiah untuk biaya pendidikan. Anaknya ketika masuk ujian tulis yang diselenggarakan sekolah termasuk dalam peringkat di bawah seratus. Wali murid lainnya, yang anaknya lulus tahap ujian tertulis termasuk dalam peringkat 30 besar, lebih emosional lagi. Dirinya mengaku kalau hanya mampu memberikan sumbangan sebesar 2,5 juta sampai 3 juta rupiah. Si wali murid ini bahkan mengancam akan mengadu ke mana-mana kalau anaknya sampai tidak lulus. Anaknya termasuk anak berprestasi. Kakaknya pun sekolah di sini. Ini, ledakan emosional wali murid dari ketakberdayaan terhadap sistem. Adalagi yang tragis, ada seorang anak menangis usai bertemu dengan orangtuanya. Diduga si anak menangis karena orangtuanya menyumbang sedikit. Akibatnya si anak takut tidak diterima di sekolah yang termasuk favorit ini. Anak ini mungkin tak bisa menerima keadaan karena orangtuanya tidak memberikan sumbangan yang dianggapnya cukup. Agak aneh juga kalau si anak belum bisa menerima hal ini. Artinya si anak hanya dididik untuk belajar dan belajar, menghafal dan menghafal, tanpa sedikitpun diajak oleh pendidik mengolah rasa empatinya. Tidak ada orangtua yang akan menjerumuskan anaknya. Orangtua akan memberikan yang terbaik pada anaknya. Persoalannya adalah orangtua pasti sudah memikirkan dan berhitung untuk dapat bertahan hidup. Apalagi kondisi perekonomian saat ini yang serba sulit. Bagi warga yang bergaji 3 juta rupiah dipastikan akan berat bila harus masuk sekolah dengan bayaran dan sumbangan yang besarnya jutaan. Bagaimana dengan adik atau kakaknya yang juga masih sekolah? Bagaimana dengan kebutuhan rumah tangga? Semua itu pasti sudah diperhitungkan oleh si orangtua. Tapi ada juga orangtua murid yang dengan entengnya berkata, pendidikan itu mahal. Si orangtua ini tentu saja sedang dalam posisi yang tinggi secara ekonomi. Kalau si orangtua ini dalam posisi tidak mampu secara ekonomi, mungkin pernyataannya tidak akan demikian ketusnya.

Tanggung Jawab Negara Apakah orangtua harus marah dengan kondisi sistem seperti ini? Jangan! Justru orangtua yang harus menjadi penengah dan memberikan pengertian pada anak. Jangan memaksakan dan harus memberikan pengertian pada anak kalau sekolah-sekolah tersebut bukan untuk mereka. Ini salah orangtua kenapa tidak menjadi orang kaya? Kenapa tidak memiliki uang banyak? Inilah kehidupan. Si anak justru harus dihadapkan pada realitas kehidupan. Orangtua harus menjelaskan kalau setiap orang berbeda dan tidak harus selamanya mengikuti alur yang lurus, terkadang bengkok, terkadang mendaki, terpenting tujuan hidup tercapai. Setiap individu itu unik. Orangtua, anak, teman, saudara itu unik adanya. Semua memiliki kelebihan dan juga kekurangannya. Kalau kemudian ada orangtua yang mempertanyakan di mana tanggungjawab negara. Sah-sah saja. Negara berdasarkan UUD 1945 pasal 28c, Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. Pasal ini menunjukkan kalau pendidikan untuk masyarakat ditanggung oleh negara. Semua orang berhak untuk mendapatkan pendidikan, termasuk orang miskin. Jika ternyata ada warganya yang tak bisa sekolah karena alasan ekonomi sungguh ini sebuah ironi. Paulo Freire (1972) yang mengarang buku Pendidikan Kaum Tertindas mengungkapkan kalau orang miskin itu tertindas secara ekonomi dan juga secara politik dan psikologis. Orang miskin ketika terbentur pada satu masalah tidak dapat mencari jalan keluar karena mereka tidak memiliki pengetahuan untuk itu. Akhirnya, mereka pun berkutatan dalam kemiskinan dan ketertindasan. Orang miskin pun susah keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Padahal satu kata kunci untuk membebaskan mereka yaitu dengan pendidikan. Hal yang cukup baik diingatkan oleh Freire adalah mereka yang bisa keluar dari lingkaran penindasan diharapkan untuk tidak menindas juga. Di dalam konteks saat ini, pesan seperti itu sangat relevan. Harus diakui siswa-siswa ini sudah berjuang untuk mengejar rangking, peringkat agar bisa lolos. Mereka ada yang begadang bahkan ada juga yang sakit. Ada juga yang menangis ketika gagal. Sungguh tunas-tunas muda bangsa ini sudah menunjukan kemampuannya. Mereka berjibaku untuk mendapatkan yang terbaik. Kalau ternyata mereka tidak dihargai maka wajar kalau mereka suatu saat akan pergi. Pergi menerima tawaran beasiswa dari negara tetangga. Tunas-tunas itupun dipastikan akan terikat pada negara tersebut. Akhirnya, yang rugi juga negara ini. Sadarkah para pengambil kebijakan, pengajar, kalau negara tetangga itu sudah masuk sangat dalam. Tidak hanya ke Jakarta tetapi juga ke Palembang. Mereka datang dengan iming-iming beasiswa, mereka datang dan mentes baik secara emosional maupun intelegensia. Mereka mendatangi sekolah-sekolah setingkat SLTP dan kemudian menawarkan penghargaan yang lebih baik dibandingkan kalau mereka belajar dan dihargai oleh bangsa mereka sendiri. Jadi, jangan heran kalau ilmu pengetahuan baik teknologi maupun sosial negara tetangga lebih maju karena memiliki manajemen yang baik. Kembali ke pernyataan, orang miskin tak bisa sekolah, tentunya ini sangat menyakitkan. Kemana anggota dewan yang terhormat? Mereka sebagai wakil rakyat, apakah mereka tidak melilhat, mendengar dan berempati pada kegundahan orangtua murid? Jargon sekolah gratis. Sungguh diyakini akan sangat ditunggu-tunggu oleh para orangtua. Seorang teman, bahkan merekam debat publik calon gubernur yang akan memberikan sekolah gratis. Si teman juga menyimpan stiker calon walikota yang kemudian menjadi walikota terpilih.

Isi stiker wujudkan sekolah gratis SD, SMP, SMA dan sederajat. Wajib hukumnya, pemimpin membebaskan rakyat dari kemiskinan dan kebodohan. Semua itu kini ditunggu oleh rakyatDakta.com

Orang Miskin Dilarang Sekolah 2 Oleh : Wildan Hasan Ironi Pendidikan Kita Tiga tahun lalu seorang anak SMA berlari meninggalkan barisan pramuka di lapangan Kiarapayung, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Ahad siang saat itu, saat pembukaan Jambore Nasional 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Siswa SMA kelas II IPS Sandy Putra Bandung tersebut, berlari menuju podium dimana presiden berada. Dimas Gumilar Taufik, sesampainya di podium langsung menyerahkan sebuah map putih kepada presiden tanpa berkata-kata. Hanya matanya nampak memerah dan berkaca-kaca menyiratkan sesuatu yang tidak sulit untuk dibaca. Malu, tapi harus dilakukan. Aksi mengejutkan ini ternyata luput dari pengawasan pasukan pengamanan presiden (paspampres), yang langsung mengamankannya seusai kejadian. Ada apa gerangan? Kenapa Dimas begitu nekat menghampiri presiden? Apa yang diinginkannya? Ternyata aksi yang dilakukan Dimas hanyalah untuk meminta bantuan biaya sekolah kepada presiden. Memakai kata Hanyalah dalam tanda kutip disini, karena bagi sebagian orang, soal biaya sekolah tidak perlu melakukan aksi gila seperti itu dan langsung mencemooh apa yang dilakukan Dimas, sebagai cari sensasi dan memalukan. Ciss. Namun Dimas mengatakan, dirinya sangat ingin sekolah dan menuntut banyak ilmu. Apa mau dikata kedua orangtuanya menganggur tanpa pekerjaan. Dirinya bingung hendak meminta bantuan kepada siapa. Sedangkan semua saudaranya juga sama-sama susah dan miskin. Boroboro untuk nyekolahin anak, buat makan sekali sehari saja susahnya minta ampun. Aksi yang dilakukan siswa cerdas dan aktif ini, memang sengaja dilakukannya dan sudah ia persiapkan sebelumnya. Terbetik pikiran menyampaikan masalahnya langsung kepada presiden. Kenapa tidak? Toh bukan aksi kejahatan, bukan pula salah kirim. Ia berikan langsung kepada Presiden, karena di tangannyalah nasib pendidikan jutaan anak bangsa tergantung, termasuk dirinya. Tidak sesuai prosedur? Memang, tapi Dimas sadar jika sesuai prosedur, suratnya tidak akan sampai ke tangan presiden. Surat apa sih di negeri ini, kalau tanpa ada uang pelicin akan berhasil dengan sukses. Presiden kaget memang, menerima surat tersebut. Namun dengan bijak ia menerimanya dan ia simpan untuk ditindak lanjuti. Namun sampai kapan akan disimpan kita tidak tahu, jikapun ternyata ditindak lanjuti dan Dimas dibantu biaya sekolahnya. Haruskah berjuta-juta pelajar di negeri ini pun melompat menghadap presiden dan menyampaikan permohonan bantuan biaya pendidikan seperti