REGENERASI SARAF Kata kunci: Cedera saraf, degenerasi, regenerasi saraf perifer *Departemen...

Click here to load reader

  • date post

    09-Feb-2021
  • Category

    Documents

  • view

    4
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of REGENERASI SARAF Kata kunci: Cedera saraf, degenerasi, regenerasi saraf perifer *Departemen...

  • Tinjauan Pustaka

     

    Neurona Vol. 32 No. 1 Desember 2014

     

    REGENERASI SARAF PERIFER

    PERIPHERAL NERVE REGENERATION

    Ashalia Chandra Dewi*, Shahdevi Nandar Kurniawan*, Machlusil Husna*,

    Masruroh Rahayu*

    Introduction: Peripheral nerves consist of all nervous system outside the brain and spinal cord. If there is a peripheral nerve injury, there will be a series of complex process to dispose tissue damage and start recovery. The rate of regeneration depends on the severity of the injury, the onset of innervation and peripheral nerve condition itself. However, peripheral nerve degeneration and regeneration process is not fully understood.

    Peripheral nerves regenerate spontaneously after injury because of supportive environment and capacity of intrinsic growth of the neurons. The precision and success of peripheral nerve repair depend on level of nerve injury. With the increasingly advanced technology, several studies have looked into peripheral nerve regeneration therapy to enhance the accuracy and speed of peripheral nerve regeneration. Keywords: Degeneration, nerve injury, peripheral nerve regeneration ABSTRAK

    Pendahuluan: Saraf perifer merupakan sistem saraf yang berada di luar otak dan medula spinalis. Apabila terjadi cedera saraf, maka akan terjadi rangkaian proses yang kompleks dan teratur untuk membuang jaringan yang rusak dan memulai proses perbaikan. Tingkat regenerasi dapat tergantung dari beratnya cedera saraf, waktu terjadinya invervasi dan kondisi jaringan saraf perifer sendiri. Namun proses degenerasi dan regenerasi saraf perifer yang komplek belum dimengerti secara penuh.

    Saraf perifer beregenerasi secara spontan setelah cedera karena adanya lingkungan yang mendukung dan aktivasi kapasitas pertumbuhan instrinsik dari neuron. Ketepatan waktu dan keberhasilan proses perbaikan saraf perifer tergantung dari tingkat keparahan cedera. Saat ini dengan teknologi yang semakin maju, telah dikembangkan beberapa penelitian tentang terapi untuk regenerasi saraf perifer untuk meningkatkan regenerasi saraf perifer dengan cepat dan tepat. Kata kunci: Cedera saraf, degenerasi, regenerasi saraf perifer

    *Departemen Neurologi FK Universitas Brawijaya, Malang. Korespondensi: shahdevinandar@yahoo.com PENDAHULUAN

    Saraf perifer merupakan sistem saraf yang berada di luar otak dan medula spinalis. Apabila terjadi cedera saraf maka akan terjadi rangkaian proses yang kompleks dan teratur untuk membuang jaringan yang rusak dan memulai proses perbaikan. Cedera saraf sendiri menggambarkan interaksi sel molekul yang penting untuk regenerasi akson dan kesembuhan fungsional pasien.1,2,3

    Proses regenerasi saraf perifer setelah cedera saraf tergantung dari tingkat derajat cedera saraf sendiri. Semakin berat derajatnya, akson yang berregenerasi tidak lagi terlindungi dalam selaputnya, sehingga akan terjadi kegagalan reinervasi organ target. Suatu penelitian mengenai neurobiologi cedera dan regenerasi saraf membuktikan bahwa denervasi sel Schwann, aksotomi neuron kronis, dan kesalahan arah akson yang berregenerasi ke dalam tabung endoneurial yang salah dapat memperburuk pemulihan fungsional. Dari hal tersebut, proses regenerasi cukup sulit, karena tergantung dari beberapa faktor yang saling melengkapi dan mendukung. Jika salah satu faktor tersebut terganggu, maka regenerasi juga terganggu.

  • Tinjauan Pustaka

     

      Neurona Vol. 32 No. 1 Desember 2014  

    Regenerasi saraf merupakan kemampuan saraf perifer untuk memperbaiki dirinya, termasuk membuat kembali koneksi yang fungsional, yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Proses regenerasi ini sangat penting untuk kelanjutan fungsional saraf setelah cedera.1,2,3,4

    Tingkat regenerasi dapat tergantung dari beratnya cedera saraf, waktu saat mendapatkan invervasi, dan kondisi jaringan saraf perifer sendiri. Namun proses degenerasi dan regenerasi saraf perifer yang kompleks belum sepenuhnya dimengerti.

    Anatomi Saraf Perifer

    Secara makroskopis, saraf spinalis dibagi menjadi 31 segmen (8 servikal, 12 torakal, 5 lumbal, 5 sakral, dan 1 koksigeal) yang meninggalkan medula spinalis dan berjalan melalui foramina intervertebralis di kolumna vertebralis. Sedangkan pada otak terdapat 12 pasang saraf kranial yang masuk melalui berbagai foramen dalam tulang tengkorak. Hampir sebagian merupakan serabut eferen (okulomotor, troklearis, abdusen, assesorius, dan hipoglosus), beberapa adalah serabut aferen (olfaktorius, optikus, dan vestibulokoklearis), dan sisanya merupakan serabut saraf yang bersifat aferen dan eferen (trigeminus, fasialis, glossofaringeus, dan vagus).2,3,4

    Secara mikroskopis serabut saraf mempunyai lapisan pelindung jaringan ikat, yang terdiri dari endoneurium yang membungkus secara langsung masing-masing akson, perineurium yang membungkus vesikel (kumpulan beberapa akson dan endoneuriumnya), dan epineurium yang membungkus beberapa vesikel dan pembuluh darah di antaranya. Serabut saraf perifer terdiri dari akson dan dendrit. Akson dikelilingi oleh selubung mielin yang dibentuk oleh sel Schwann. Akson merupakan fungsi domain yang paling familiar dan merupakan proses seluler dimana neuron membuat kontak dengan sel target untuk mengirim informasi, membuat struktur konduksi untuk mentransmisikan aksi potensial ke sinaps, dan subdomain tertentu untuk transmisi sinyal dari neuron ke sel target. Tidak seperti akson, dendrit memiliki struktur yang bercabang. Penjalaran dendrit mungkin berhubungan dengan banyak akson yang berbeda dan neuron yang jauh atau diinervasi dengan akson tunggal yang membuat kontak sinaps. Dasar dari dendrit berlanjut dengan sitoplasma dari badan sel.2,3,4

    Respon Neuron Terhadap Cedera

    Setelah saraf perifer mengalami cedera, terjadi suatu rangkaian proses yang kompleks dan teratur untuk membuang jaringan yang rusak dan memulai proses perbaikan. Ujung proksimal dan distal dari saraf yang cedera mengalami perubahan struktur dan molekular sebagai persiapan untuk proses regenerasi akson. Degenerasi akson merupakan perubahan yang terjadi pada suatu sel saraf jika akson terpotong atau mengalami cedera. Perubahan tersebut mulai timbul dalam 24-48 jam setelah cedera. Besarnya perubahan tergantung pada beratnya cedera terhadap akson dan akan lebih besar jika cedera terjadi di dekat nukleus. Sel saraf mengalami pembengkakan dan menjadi bulat, nukleus membengkak dan terletak eksentrik serta granula Nissl tersebar ke tepi sitoplasma. Pertahanan sitoplasma suatu neuron terhadap cedera bergantung pada adanya hubungan dengan nukleus meski secara tidak langsung.1,2,4,6

    Nukleus memiliki peranan penting pada sintesis protein yang akan dibawa ke dalam proses sel dan menggantikan protein yang telah dimetabolisme oleh aktivitas sel, akibatnya sitoplasma akson dan dendrit akan segera mengalami degenerasi jika prosesus inti terpisah dari badan sel saraf. Neuron yang hancur dikeluarkan oleh fagosit, yaitu oleh sistem retikuloendotelial pada susunan saraf perifer. Pada susunan saraf perifer, terpotongnya suatu akson diikuti oleh usaha untuk regenerasi dan perubahan perbaikan degeneratif pada segmen distal dari tempat cedera, termasuk ujung-ujungnya yang disebut

  • Tinjauan Pustaka

     

      Neurona Vol. 32 No. 1 Desember 2014  

    degenerasi Wallerian. Akson yang membengkak dan berbentuk ireguler terjadi pada hari pertama, dan akan terpecah menjadi fragmen-fragmen pada hari ketiga atau keempat, kemudian debris dicerna oleh sel Schwann dan makrofag jaringan yang ada di sekitarnya. Seluruh akson akan hancur dalam waktu seminggu, sementara itu selubung mielin akan terjadi menjadi butir-butir lemak yang akan difagosit oleh makrofag jaringan.1,3,6,7

    Regenerasi Saraf Perifer

    Regenerasi saraf perifer menunjukan kemampuan saraf perifer untuk memperbaiki dirinya termasuk membuat kembali koneksi yang dapat berfungsi lagi secara fungsional. Regenerasi ini diikuti oleh aktivitas dari makrofag, sel Schwann, dan akson. Keberhasilan regenerasi tergantung dari tingkat keparahan cedera dan hasil perubahan-perubahan degeneratif.2,5,8 Klasifikasi cedera yang sering digunakan secara klinis adalah klasifikasi Seddon dan Sunderland. Seddon membagi cedera saraf berdasarkan tingkat keparahannya ke dalam 3 kategori besar, yaitu neurapraksia (derajat ringan), aksonotmesis (derajat sedang), dan neurotmesis (derajat berat). Klasifikasi Sunderland membagi menjadi 5 kelompok, yaitu cedera derajat pertama ekuivalen dengan neurapraksia dan cedera derajat kedua ekuivalen dengan aksonotmesis. Cedera derajat ketiga berada di antara aksonotmesis dan neurotmesis. Sunderland membagi neurotmesis Seddon menjadi cedera derajat keempat dan kelima.1,2,3 Kesembuhan fungsional setelah cedera saraf melibatkan serangkaian tahapan yang kompleks, yang masing-masing dapat memperlambat atau mengganggu proses regeneratif. Pada kasus dengan semua derajat cedera saraf, tahapan-tahapan regenerasi ini perlu digolongkan secara anatomis. Tahapan regenerasi dapat dikelompokkan berdasarkan zona anatomi, yaitu 1) badan sel neuron, 2) segmen antara badan sel dan lokasi cedera, 3) lokasi cedera itu sendiri, 4) segmen distal antara lokasi cedera dan organ target, dan 5) organ target itu sendiri.2,6,9,10

    Pada saat regenerasi, diameter akson akan meningkat namun tidak akan mencapai besar normalnya sebelum cedera. Terdapat ketergantungan antara badan sel dan akson dalam hal kesembuhan, yaitu badan sel tidak dapat sembuh dengan sempurna tanpa koneksi fungsional perifer yang baik, dan kaliber akhir akson tergantung dari kesembuhan badan sel. Badan sel sendiri bereaksi terhadap cedera