refrat struma

Click here to load reader

  • date post

    26-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    64
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of refrat struma

BAB IPENDAHULUANKemajuan sektor industri di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Dengan majunya industri maka akan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.Begitu pula dengan daerah di sekitar industri akan dapat berkembang juga di berbagai bidang. Hal ini akan meningkatkan taraf ekonomi dan sosial masyarakat. Namun dengan majunya perindustrian, akan terdapat pula dampak negatif dari industri. Salah satunya adalah dampak negatif terhadap kesehatan paru baik bagi pekerja maupun masyarakat di sekitar industri akibat adanya pencemaran udara yang terjadi dari hasil pengolahan industri.

Jenis penyakit paru yang dapat timbul pada para pekerja dan masyarakat sangat bermacam-macam, tergantung dari jenis partikel atau paparan yang terhisap. Terhisapnya partikel bahan-bahan, debu-debu , zat-zat kimia dapat menimbulkan gangguan pernapasan berupa batuk kronis, sesak nafas, di mana pada pemeriksaan foto rontgen thorax tampak kelainan-kelainan yang kadang-kadang menyerupai penyakit paru lain, seperti gambaran radang atau keganasan. Dalam hal ini peran dari pemeriksaan radiologis sangatlah penting untuk menegakkan diagnosis dan menilai kecacatan paru pada penyakit paru akibat debu.

Untuk melakukan diagnosa penyakit dan usaha pencegahan terjadinya kelainan-kelainan tersebut, maka pengetahuan yang cukup tentang dampak debu terhadap paru serta pengetahuan yang cukup untuk mengenali gambaran radiologis penyakit paru akibat kerja sangat diperlukan. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan produktifitas, kesehatan dan taraf hidup para pekerja maupun masyarakat yang berada disekitar tempat industri.BAB IIANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERNAFASANA.Anatomi paru-paru

Paru-paru merupakan organ pada sistem pernafasan yang berhubungan dengan sistem kardiovaskuler dan berfungsi sebagai tempat pertukaran antara oksigen dari udara luar dengan karbondioksida dari dalam tubuh. Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan. Berbentuk konus yang memiliki apeks di bagian kranial dan basis di bagian kaudal.

Paru-paru kanan terdiri atas 3 lobus, yaitu lobus superior, lobus medius dan lobus inferior. Lobus superior dan lobus medius dipisahkan oleh fissura horizontalis, sedangkan lobus medius dan lobus inferior dipisahkan oleh fissura oblique. Lobus superior paru kanan terbagi menjadi tiga segmen yaitu segmen apicale, segmen anterior dan segmen posterior. Lobus medius paru kanan terdiri atas segmen medial dan segmen lateral. Sedangkan lobus inferior paru kanan dibagi menjadi lima segmen yaitu segmen apicobasal, segmen medialbasal, segmen laterobasal, segmen anterobasal, dan segmen posterobasal.

Paru-paru kiri terdiri atas 2 lobus, yaitu lobus superior dan lobus inferior yang terpisahkan oleh fissura oblique. Lobus superior paru kiri terbagi menjadi empat segmen yaitu segmen apicoposterior, segmen anterior, segmen lingula superior, dan segmen lingula inferior. Lobus inferior paru kiri dibagi menjadi lima segmen yaitu segmen apical, segmen mediobasal, segmen laterobasal, segmen anterobasal, dan segmen posterobasal.

Pada paru terdapat 2 sistem pendarahan yang berbeda fungsinya yaitu sistem pendarahan oleh Aa dan Vv pulmonalis (berfungsi pada faal respirasi) dan sistem pendarahan oleh Aa dan Vv brochiales (berfungsi pada metabolisme jaringan paru).

Paru-paru mendapatkan inervasi simpatis dari truncus simpaticus (Th III, IV, V) dan inervasi parasimpatis dari N vagus.

B.Anatomi saluran nafas

Berdasarkan letak anatominya, saluran pernafasan pada manusia dibagi menjadi dua sistem yaitu sistem pernafasan eksternal (atas) dan internal (bawah). Sistem pernafasan eksternal dimulai dari tempat masuknya udara ke dalam tubuh melalui hidung atau mulut hingga mencapai trachea, sedangkan sistem pernafasan internal merupakan kelanjutan dari sistem pernafasan eksternal hingga mencapai alveolus di paru-paru. Pada referat ini akan lebih ditekankan mengenai anatomi dari sistem pernafasan internal.

Trachea atau batang tenggorok adalah tabung fleksibel dengan panjang kira-kira 10 cm dengan lebar 2,5 cm. trachea berjalan dari cartilago cricoidea kebawah pada bagian depan leher dan dibelakang manubrium sterni, berakhir setinggi angulus sternalis (taut manubrium dengan corpus sterni) atau sampai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini bercabang mcnjadi dua bronkus (bronchi). Trachea tersusun atas 16 - 20 lingkaran tak- lengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea, selain itu juga membuat beberapa jaringan otot.

Bronkus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira vertebrata torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trachea. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke arah tampuk paru. Bronkus utama kanan lebih pendek dan lebih lebar, dan lebih vertikal daripada yang kiri, sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama lewat di bawah arteri, disebut bronckus lobus bawah. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan, dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan kelobus atas dan bawah.Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus lobaris dan kernudian menjadi lobus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi bronkhiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih 1 mm. Bronkiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkiolus terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru (alveolus).

Alveolus adalah kantung udara berbentuk seperti anggur, berdinding tipis, dan dapat mengembang yang terdapat di ujung percabangan saluran napas. Ruang interstitial antara alveolus dan kapiler di sekitarnya membentuk sawar yang sangat tipis yang memisahkan udara di dalam alveolus dengan darah kapiler paru. Ketipisan sawar ini mempermudah terjadinya proses pertukaran gas. Pada dinding alveolus terdapat pori-pori Khon yang berukuran kecil. Adanya pori-pori Khon ini memungkinkan terjadinya ventilasi kolateral yaitu pengaliran udara ke alveolus-alveolus yang berdekatan. Ventilasi kolateral ini sangat penting untuk mengalirkan udara segar ke alveolus yang salurannya tersumbat akibat suatu penyakit.

C.Fisiologi pernafasan

Proses fisiologis respirasi di mana oksigen dipindahkan dari udara ke dalam jaringan-jaringan, dan karbon dioksida dikeluarkan ke udara ekspirasi dapat dibagi menjadi tiga stadium, yaitu:

1. Ventilasi ( proses pertukaran gas antara udara luar dengan tubuh.2. Transportasi, yang terdiri dari beberapa aspek : (1) Difusi gas-gas antara alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksterna) dan antara darah sistemik dan jaringan.

(2) Distribusi darah dalam sirkulasi pulmoner dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus-alveolus

(3) reaksi kimia dan fisik dari oksigen dan karbon dioksida dengan darah.3. Respirasi sel ( stadium akhir dari respirasi. Selama respirasi sel,metabolit dioksidasi untuk mendapatkan energi, dan karbon dioksida terbentuk sebagai sampah proses metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru-paru.

Ventilasi

Proses ventilasi terdiri dari dua fase, yaitu fase inspirasi (pernapasan aktif) dan ekspirasi (pernapasan pasif).

Pada fase inspirasi, otot-otot pernapasan berkontraksi untuk memperbesar volume rongga dada. Otot utama dalam proses inspirasi normal adalah diafragma dibantu oleh musculus intercostalis eksternus. Saat diafragma berkontraksi, terjadi pendataran dari diafragma yang menyebabkan bertambahnya dimensi vertikal rongga dada. Kontraksi dari musculus intercostalis eksternus akan mengangkat sangkar iga ke arah atas dan luar. Hal ini akan menambah dimensi horizontal dari rongga dada. Bertambahnya volume rongga dada akan mengakibatkan tekanan udara di dalamnya menurun dan lebih rendah dari udara luar sehingga gas dari udara luar dapat masuk ke paru.

Pada fase ekspirasi, otot-otot pernapasan akan berelaksasi. Iga dan diafragma kembali ke posisi semula. Hal ini mengakibatkan jaringan paru yang elastis kembali ke ukuran semula dan mengeluarkan gas di dalam paru secara pasif.

BAB IIIPNEUMOCONIOSIS

A.Definisi

Pneumoconiosis adalah penyakit paru yang disebabkan pengendapan partikel bahan-bahan, debu mineral ataupun logam yang terhirup dalam jangka waktu panjang dan menimbulkan kelainan pada paru.

Pneumoconiosis secara umum digunakan untuk menggambarkan reaksi non-neoplastik dari paru terhadap partikel debu yang terhirup. Istilah pneumoconiosis juga secara umum membedakan dari penyakit-penyakit yang berhubungan dengan debu-debu organik, seperti pneumonitis alergi, organic toxic dust syndrome, atau penyakit seperti asthma, bronkhitis, dan emfisema.

Gambar paru dengan pengendapan partikel debu

Karakter dan berat-ringannya reaksi jaringan paru terhadap debu yang terhirup ditentukan oleh 5 faktor dasar, yaitu:1) Sifat dari debu yang terhirup, khususnya ukuran partikel dan derajat fibrogenik dari jenis debu tersebut(partikel terinspirasi yang berukuran diantara 0.5 5 m adalah yang biasanya tertahan dalam paru, tetapi serat asbestos dan partikel talk dapat lebih besar dari ukuran ini).

2) Jumlah dari debu yang tertahan dalam paru.

3) Durasi dan intensitas dari paparan.4) Interval sejak onset paparan. Latensi yang panjang sejak paparan pertama (20-30 tahun) adalah keadaan yang khas untuk terjadinya pneumoconiosis.5) Idiosinkrasi individual atau keaneh