Referat Obsessive Compulsive Disorder

download Referat Obsessive Compulsive Disorder

of 22

  • date post

    23-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    83
  • download

    3

Embed Size (px)

description

Referat

Transcript of Referat Obsessive Compulsive Disorder

ReferatObsessive Compulsive Disorder

Pembimbing:

Dr. Ni Wayan Ani Sp.KJDisusun Oleh:

M. Fahrezha

110.2008.313

SMF Ilmu Kesehatan JiwaRS. Jiwa Islam KlenderDesember 2013

DAFTAR ISIDaftar Isi

.1

BAB I

Pendahuluan

.2

BAB II

Tinjauan Pustaka.3

Definisi

.3

Epidemiologi

.3Etiologi

.3Patofosiologi

.5Man. Klinis

.7Diagnosis

.10Diagnosis Banding.13Penatalaksanaan.14Prognosis

.15BAB III

Kesimpulan

.16Daftar Pustaka

.17BAB I

PENDAHULUAN

Latar BelakangGangguan obsesif kompulsif merupakan sekelompok gejala yang beranekaragam yang ditandai oleh adanya obsesif dan/atau kompulsif yang menyita waktu atau secara signifikan mengganggu keseharian pasien dalam hal pekerjaan, keluarga, kehidupan sosial serta menyebabkan penderitaan yang bermakna. Obsesif adalah suatu pikiran, perasaan, ide ataupun sensasi yang mengganggu dan berulang-ulang. Bila obsesif adalah suatu aktivitas mental, maka kompulsif adalah suatu perilaku yang sadar, teratur, dan berulang-ulang, seperti menghitung, memeriksa, ataupun menghindari. Meskipun perilaku kompulsif dilakukan pasien untuk menghindarkan dirinya dari kecemasan, kerap kali hal tersebut tidak mempengaruhi kecemasannya bahkan meningkatkan kecemasannya.Hingga kini, penyebab dari gangguan obsesif-kompulsif belum dapat ditentukan dengan pasti. Terdapat bukti yang kuat adanya faktor biologis dan genetik. Di lain pihak, faktor psikologis seperti proses belajar, kepercayaan yang salah, dan pikiran yang katastrofik ditunjukkan pada sebagian besar pasien dan tampaknya memainkan peran yang penting pada penampakan gejala dan bertahannya gejala.2

Pikiran atau bayangan obsesi dapat kekhawatiran yang biasa tentang apakah pintu sudah dikunci atau belum sampai fantasi aneh dan menakutkan tentang bertindak kejam terhadap orang yang disayangi. Istilah kompulsif menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan untuk melakukan sesuatu. Sering suatu pikiran obsesif mengakibatkan suatu tindakan kompulsif. Tindakan kompulsif dapat berupa berulang kali memeriksa pintu yang terkunci, kompor yang sudah mati atau menelepon orang yang dicintai agar selalu bisa memastikan keselamatannya.1,2

BAB IITINJAUAN PUSTAKADefinisi Tindakan obsesi adalah aktivitas mental seperti pikiran, perasaan, ide, impuls, yang berulang dan intrusif. Kompulsi adalah pola perilaku tertentu yang berulang dan disadari seperti menghitung, memeriksa, dan menghindar.

Tindakan kompulsi merupakan usaha untuk meredakan kecemasan yang berhubungan dengan obsesi namun tidak selalu berhasil meredakan ketegangan. Pasien dengan gangguan ini menyadari bahwa pengalaman obsesi dan kompulsi tidak beralasan sehingga bersifat egodistonik.1Epidemiologi

Prevalensi gangguan obsesi kompulsif sebesar 2-2,4%. Sebagian besar gangguan mulai pada saat remaja atau dewasa muda (umur 18-24 tahun), tetapi bisa terjadi pada masa kanak-kanak. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan dewasa sama. Namun untuk remaja, laki-laki lebih sering terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan perempuan.Pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif biasanya merupakan orang-orang yang sukses, pemalu, keras kepala, perfeksionis, suka menghakimi, sangat berhati-hati, kaku, dan pencemas yang kronis yang menghindari keintiman dan hanya menikmati sedikit kesenangan dalam hidupnya. Mereka suka bimbang dan banyak permintaannya dan sering kali dianggap sebagai orang yang dingin, pendiam, dan tidak ramah.1,2Etiologi

Penyebab gangguan obsesi kompulsi bersifat multifaktor, yaitu interaksi antara faktor biologik, genetik, faktor psikososial.1. Faktor Biologis

a. NeurotransmitterBanyak uji coba klinis yang dilakukan terhadap berbagai obat mendukung hipotesis bahwa suatu disregulasi serotonin adalah terlibat di dalam pembentukan gejala obsesi dan kompulsi dari gangguan. Tetapi apakah serotonin terlibat di dalam penyebab gangguan obsesif kompulsif adalah tidak jelas pada saat ini. Beberapa peneliti mengatakan bahwa sistem neurotransmitter kolinergik dan dopaminergik pada pasien gangguan obsesif-kompulsif adalah 2 bidang penelitian riset untuk masa depan.b. Penelitian pencitraan otakTomografi Emisi Positron telah menemukan peningkatan aktivitas (metabolisme dan aliran darah) di lobus frontalis, ganglia basalis (khususnya kauda), dan singulum pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Baik tomografi komputer (CT) dan pencitraan resonansi magnetik (MRI) telah menemukan adanya penurunan ukuran kaudata secara bilateral pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif.

c. GenetikaData genetik yang ada entang gangguan obsesif kompulsif konsisten dengan hipotesis bahwa penurunan gangguan obsesif kompulsif memiliki suatu komponen genetika yang bermakna. Penelitian keluarga pada pasien gangguan obsesif kompulsif telah menemukan bahwa 35% sanak saudara derajat pertama pasien gangguan obsesif-kompulsif juga menderita gangguan.

d. Data biologis lainnyaPenelitian elektrofisiologis, penelitian elektroensefalogram (EEG) tidur, dan penelitian neuroendokrin telah menyumbang data yang menyatakan adanya kesamaan antara gangguan depresif dan gangguan obsesif-kompulsif. Suatu insidensi kelainan EEG nonspesifik yang lebih tinggi dari biasanya telah ditemukan pada pasien gangguan obsesif kompulsif. Penelitian EEG tidur telah menemukan kelainan yang mirip dengan yang terlihat pada gangguan depresif, seperti penurunan latensi REM (rapid eye movement). Penelitian neuroendokrin juga telah menemukan beberapa kemiripan dengan gangguan depresif, seperti nonsupresi pada dexamethasone-suppression test pada kira-kira sepertiga pasien dan penurunan sekresi hormon pertumbuhan pada infus clonidine (catapres).

2. Faktor PerilakuMenurut ahli teori belajar, obsesi adalah teori stimuli yang dibiasakan. Stimulus yang relatif netral menjadi disertai dengan kecemasan atau ketakutan melalui proses pembiasaan responden dengan memasangkannya dengan peristiwa yang secara alami adalah berbahaya atau menghasilkan kecemasan atau gangguan.Kompulsi dicapai dalam cara yang berbeda. Seseorang menemukan bahwa tindakan tertentu menurunkan kecemasan yang berkaitan dengan pikiran obsesional. Jadi, strategi menghindar yang aktif dalam bentuk perilaku kompulsif atau ritualistik dikembangkan untuk mengendalikan kecemasan. Secara bertahap, karena manfaat perilaku tersebut dalam menurunkan dorongan sekunder yang menyakitkan (kecemasan), strategi menghindar menjadi terfiksasi sebagai pola perilaku kompulsif yang dipelajari.

3. Faktor PsikososialFaktor kepribadian dan faktor psikodinamika.2Patofisiologi

Lebih dari 50% pasien dengan gejala gangguan obsesif kompulsif gejala awalnya muncul mendadak. Permulaan gangguan terjadi setelah adanya peristiwa yang stressfull, seperti kehamilan, masalah seksual, kematian keluarga. Seringkali pasien merahasiakan gejala sehingga terlambat datang berobat. Perjalanan penyakit bervariasi, sering berlangsung panjang, beberapa pasien mengalami perjalanan penyakit yang berflukuasi sementara sebagian lain menetap/terus menerus ada.

Proses patofisiologi yang mendasari terjadinya OCD belum secara jelas ditemukan. Penelitian dan percobaan terapeutik menduga bahwa abnormalitas pada neurotransmitter serotonin (5-HT) di otak secara berarti terlibat dalam kelainan ini. Secara kuat didukung pula oleh efikasi pengobatan dengan serotonin reuptake inhibitor (SRIs) pada OCD.

Bukti-bukti yang ditemukan juga terdapat dugaan adanya abnormalitas system transmisi dopaminergik pada beberapa kasus OCD. Pada beberapa penelitian kohort, Sindroma Tourette dan tic kronik multiple pada umumnya ada bersamaan dengan OCD dengan pola autosomik dominan. Gejala OCD pada tipe-tipe pasien seperti ini memiliki respon yang baik dengan terapi kombinasi SSRIs dan antipsikotik.

Penelitian dengan menggunakan pencitraan fungsional pada pasien OCD telah memperlihatkan suatu pola yang abnormal. Terutama MRI dan positron emission tomography (PET) telah menunjukkan peningkatan aliran darah dan aktivitas metabolik pada korteks orbitofrontal, system limbic, nucleus kaudatus, dan thalamus, dengan kecenderungan berada perdominan di daerah kanan. Pada beberapa penelitian, daerah yang mengalami over-aktivitas ini telah mengalami perubahan ke arah normal setelah terapi dengan SSRIs dan atau cognitive behavioral therapy (CBT). Temuan ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa gejala pada OCD dikendalikan oleh terganggunya inhibisi intrakortikal dari jalur transmisi orbitofrontal-subkortikal yang berperan dalam mediasi emosi yang kuat, dan respon autonom terhadap emosi tersebut. Cingulotomy, intervensi bedah saraf, kadang-kadang digunakan pada OCD yang resisten pengobatan, untuk mengganggu jalur transmisi tersebut.

Abnormalitas inhibisi yang serupa telah diobservasi pada sindroma Tourette, dengan postulat yang mengatakan adanya modulasi abnormal di daerah ganglia basalis.

Penelitian yang lebih baru memberikan perhatian lebih pada abnormalitas system glutamatergik dan kemungkinan untuk menggunakan terapi glutamatergik untuk OCD. Walaupun dimodulasi oleh serotonin dan neurotransmitter lainnya, sinaps-sinaps pada jalur cortico-striato-thalamo-cortical diduga kuat terlibat pada pathogenesis OCD yang utamanya melalui neurotransmitter glutamate dan gamma-aminobutyric acid (GABA). Studi-studi preklinik dan beberapa laporan kasus serta beberapa penelitian kecil lainnya telah menyediakan beberapa terapi-terapi pendukung yang menggunakan agen spesifik glutamatergik. Walau demikian, agen-agen ini (seperti memantine, n-acetylcysteine, riluzole, topiramate, glycine) memiliki efek glutamatergik dan efek farmakologis yang bermacam-macam, sehingga jika mereka dilihat efektif terhadap pengobatan OCD, penting untuk mengklarifikasi terhadap mekanisme kerja terapeut