Ramsar OK.docx

Click here to load reader

  • date post

    28-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    112
  • download

    11

Embed Size (px)

Transcript of Ramsar OK.docx

BAB 1PENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangMenurut konversi ramsar lahan basah adalah daerah rawa, paya, gambut/badan perairan lainnya, baik alami maupun buatan yang airnya mengalir atau tergenang, bersifat tawar, payau atau asin, termasuk kawasan laut yang mempunyai jeluk air pada saat surut terendah tidak lebih dari 6 m. Indonesia memiliki lahan rawa seluas di kawasan tropika dengan bahan sedimen yang terdiri atas tanah mineral, tanah gambut, atau kombinasi keduanya. Indonesia merupakan Negara yang akan lahan basah, karena Indonesia memiliki sekitar 40,5 juta hektar lahan basah. Sayangnya, dari total lahan basah tersebut hanya sekitar 16 juta hektar yang terdapat di kawasan konservasi. Dan hanya sekitar 1 juta hektar yang telah ditetapkan sebagai situs ramsar.Situs Ramsar adalah situs lahan basah yang diusulkan oleh negara anggota untuk ditetapkan di dalam daftar lahan basah penting Internasional berdasarkan kerangka konvensi Ramsar (Wikipedia1, 2013).Lokasi lahan basah yang dilindungi Konvensi Ramsar disebut situs Ramsar. Negara yang memiliki situs Ramsar terbanyak adalah Britania Raya (168 situs), sedangkan Kanada memiliki situs Ramsar terluas dengan sekitar 130.000 km lahan basah, termasuk Teluk Queen Maud yang luasnya 62.800 km (Wikipedia2, 2013).Indonesia memiliki Situs Ramsar berjumlah 6 buah yang terdapat di Taman Nasional Berbak (Jambi), Taman Nasional Sembilang (Sumatera Selatan), Taman Nasional Rawa Aupo Watumohair (Sulawesi Tenggara), Taman Nasional Danau Sentarum (Kalimantan Barat), Taman Nasional Wasur (papua), dan Suatu Margasatwa Pulau Rambut (Jakarta).

1.2 TujuanTujuan dari makalah ini adalah untuk mengindentifikasi komponen biotik dan abiotikserta sosial budaya lahan rawa Tambak Anyar yang terdapat di Kota Martapura, Kalimantan Selatan.

BAB 2TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konvensi Ramsar Tentang Lahan Basah Secara umum tujuan atau misi dari konvensi Ramsar adalah konservasi dan pemanfaatan secara bijaksana (wise use) melalui aksi nasional dan kerjasama internasional untuk mewujudkan pembangunan secara bijaksana diseluruh dunia.Indonesia bersama 178 negara lainnya menjadi pendukung perbaikan dan perlindungan lahan basah dalam konvensi Ramsar.Tahun 2010, negara yang menjalankan konvensi Ramsar sebanyak 178 negara dengan jumlah total Ramsar site sebanyak 1908.Lokasi Ramsar site yang terbanyak adalah Inggris (175) diikuti oleh Mexico, Australia dan lainnya (Tabel 1) (Ramsar Convention Bureu 2010).Tabel 1. Lima belas negara (15) negara yang mempunyai Ramsar sites terbanyak.Nama NegaraJumlah Ramsar SiteNama NegaraJumlah Ramsar Site

UKMexikoAustraliaSpainItalyFinlandAlgeriaAlgeria175114656351494747IrelandNetherlandsCanadaChinaJapanFranceUkraine45433737373633

Hingga Oktober 2008, Ramsar list of wetlands of international importance saat ini mencakup 1 882 lokasi yang dikenal dengan Ramsar sites, keseluruhannya seluas 1 680 000 juta ha, meningkat dari sebelumnya 1 201 lokasi (tahun 2000).Negara dengan jumlah lokasi terbanyak adalah Inggris dengan 175 lokasi, dan wilayah cakupan terluas adalah Kanada yaitu 13 066 675 km2, sementara di Indonesia terdapat 3 lokasi dengan total keseluruhannya 656 510 km2 (Damanik 2008).Empat kewajiban utama yang harus dilaksanakan oleh negara-negara anggota Konvensi: 1.mendaftarkan lokasi lahan basah yaitu menetapkan sedikitnya satu kawasan lahan basah kedalam Daftar Situs Ramsar (Ramsar list) dan mengupayakan konservasinya termasuk pemanfaatan secara bijaksana; 2.pemanfaatan secara bijaksana yaitu negara anggota konvensi berkewajiban untuk memasukan konservasi lahan basah ke dalam rencana tata ruang Nasional, selain itu juga harus memformulasikan dan mengimplementasikan perencanaan tersebut untuk mengembangkan konservasi lahan basah dan pemanfaatan lahan basah secara bijaksana; 3.perlindungan dan pelatihan, yaitu negara anggota harus menetapkan perlindungan lahan basah, baik yang tercatat ke dalam Ramsar list maupun yang tidak, serta harus mengembangkan pelatihan di lapangan untuk penelitian lahan basah, pengelolaan dan pengamannya; 4.kerjasama internasional, yaitu negara anggota harus saling berkonsultasi satu sama lain mengenai implementasi konvensi, khususnya yang terkait dengan pengelolaan lahan basah di lintas batas negara, sistem air bersama, species bersama/migran (Nirarita et al. 1996).

2.2 Fungsi dan Keberadaan Lahan Basah Lahan basah adalah tempat di mana air adalah faktor primer yang berperan terhadap lingkungan dan kehidupan kelompok flora dan fauna.Lahan basah terjadi pada saat permukaan air mendekati atau menggenangi permukaan tanah, ataupun pada saat tanah digenangi air dangkal.Lahan basah merupakan salah satu ekosistem yang paling kompleks, sangat produktif dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Konvensi Ramsar mendefinisikan lahan basah yaitu daerah-daerah rawa, payau, lahan gambut, dan perairan; tetap atau sementara; dengan air yang tergenang atau mengalir; tawar, payau, atau asin; termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari enam meter pada waktu surut (Biro Konvensi Ramsar 1997). Wetlands International (2003) menyebutkan lahan basah adalah suatu daerah peralihan antara lingkungan daratan dengan lingkungan perairan, di mana tanah yang tergenang atau jenuh air menyebabkan berkembangnya suatu vegetasi yang khas.Lahan basah sebagai ekoton yaitu suatu daerah peralihan antara lingkungan daratan dengan lingkungan perairan dimana tanah yang tergenang atau jenuh air menyebabkan berkembangnya suatu vegetasi yang khas (Denny 1985 dan Wortington 1976 dalam Davies et al. 1995).U.S. National Wetlands Inventory (Corwardin et al. 1979) batasan lahan basah yakni lahan-lahan peralihan antara sistem daratan dan sistem perairan, dimana keadaan air biasanya terletak pada atau dekat permukaan, atau lahan yang ditutupi oleh perairan dangkal. Lahan basah menurut batasan tersebut, harus memiliki salah satu atau lebih dari ciri-ciri sebagai berikut: paling tidak secara periodik ditumbuhi tumbuhan air; sebagian merupakan tanah tergenang (hydric soils), kondisinya jenuh air atau tertutup oleh air dangkal, paling tidak secara periodik yaitu pada musim tumbuh. Berdasarkan batasan tersebut, lahan basah terdiri atas rawa, daerah pinggir sungai, danau atau hutan bakau, dan rawa di tepi laut.Wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut (PERMEN 16 2008). Kawasan hutan payau adalah kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan payau atau jenis tanaman lain yang berfungsi memberikan perlindungan kepada keanekaragaman hayati pantai dan lautan (Peraturan Daerah Jawa Barat Nomor 2 tahun 2006). Lahan basah pesisir meliputi daerah pesisir yang jenuh atau tergenang air, yang umumnya payau atau asin, baik secara tetap atau musiman; umumnya terpengaruh oleh pasang surut air laut atau limpasan air tawar.Fungsi hutan mangrove dapat dibagi atas fungsi fisik, biologi dan komersial. Fungsi-fungsi tersebut antara lain adalah; 1. Fungsi fisik yaitu menjaga garis pantai, mempercepat pembentukan lahan baru, sebagai pelindung terhadap gelombang dan arus, sebagai pelindung tepi sungai atau pantai.2. Fungsi biologi yaitu sebagai tempat asuhan, dan berkembang biak bagiberbagai spesies udang, ikan dan binatang lain, tempat berlindung bagi sejumlah besar spesies burung dan sebagai habitat kehidupan liar.3.Fungsi komersial yaitu tambak, rekreasi, penghasil kayu (Nirarita et al. 1996). Jenis lahan basah di Indonesia umumnya lahan basah palustrin, meliputi tempat-tempat yang bersifat merawa (berair, tergenang atau lembab), misalnya hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, dan rawa rumput atau rawa mangrove (WI-IP 2002).Lahan basah alami dalam peneliian ini adalah hutan mangrove dan yang dimaksud lahan basah buatan adalah ekowisata, tambak dan sawah.Lahan basah buatan (human made wetlands) adalah suatu ekosistem lahan basah yang terbentuk akibat intervensi manusia baik secara sengaja maupun tidak sengaja (Wibowo et al. 1996).

2.3. Potensi dan Kondisi Ekosistem Lahan Basah Menurut Green (1998), beberapa hal penting pada lahan basah adalah: hidrologi, flora, fauna, kualitas air, penggunaan lahan, tanah dan substrat serta air tanah. Dalam penelitian ini, yang diamati adalah flora, fauna, geologi termasuk akresi dan abrasi, serta penggunaan lahan.Kriteria Ramsar adalah kriteria identifikasi lahan basah yang mempunyai kepentingan internasional atau dapat dikatakan, suatu lahan basah dapat diidentifikasikan sebagai daerah yang mempunyai kepentingan internasional apabila paling sedikit memenuhi salah satu kriteria Ramsar tersebut diatas.Burung air yang dimaksud dalam Konvensi ramsar adalah burung-burung yang secara ekologis bergantung pada lahan basah (Ramsar 1971).Vegetasi di lahan basah dapat memperlambat aliran air sehingga mempercepat pengendapan sedimen dan menjernihkan air.Di samping itu vegetasi juga mampu menyerap unsur hara dan bahan pencemar yang berlebihan sehingga dapat menjaga kualitas air.Kriteria untuk identifikasi lahan basah dengan kepentingan internasional (Ramsar Resolution COP VIII.13 2002), terdapat empat kelompok kriteria pengidentifikasian suatu kawasan lahan basah sebagai kawasan lahan basah yang memiliki nilai universal penting (untuk tercatat kedalam Daftar Situs Ramsar/Ramsar list) (Tabel 2).Tabel 2.Kriteria Ramsar untuk kepentingan internasional.A. Keterwakilan langka atau unik, yaitu :

Kriteria 1 : Lahan basah tersebut merupakan suatu contoh keterwakilan, langka atau unik dari tipe lahan basah alami atau yang mendekati alami, sesuai dengan karakteristik wilayah biogeografisnya.

B. Konservasi keanekaragaman hayati, yaitu:

Kriteria 2 : Lahan basah tersebut mendukung spesies rentan, langka atau hampir langka, atau ekologi komunitas yang terancam.

Kriteria 3 : Lahan basah tersebut mendukung populasi jenis-jenis tumbuhan dan/ atau hewan yang penting bagi pemeliharaan keanekaragaman hayati di wilay