PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN

Click here to load reader

  • date post

    16-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN

A Gideline for Camera-Ready Papers ofPascasarjana Universitas Syiah Kuala 14 Pages pp. 80- 93
Volume 2, No. 1,Februari 2014 - 80
PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN DI
INDONESIA
3
1) Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Pascasarjana Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
2,3) Dosen Fakultas Ekonomi dan Pasca Sarjana Universitas Syiah Kuala
Abstract: This study aims at analyzing the role of financial development on poverty alleviation in
Indonesia using annual data for the period of 1980-2014. The ARDL approach to cointegration is
used to empirically examine the existence of long run equilibrium between financial development
and poverty reduction. Additionally the VECM Granger Causality approach is used to detect the
direction of the causal relationship between financial development and poverty reduction.
Meanwhile, to measure the duration and magnitude of poverty in response to the relative strength
of the financial development shocks the impulse response Functions (IRFs) and Variance
decompositions (VDCs) were used. Money supply and domestic credit to the private sector ratio
were used as the indicators for financial development while poverty measured by household
consumption expenditure per capita, and economic growth measured by Gross Domestic Product
(GDP) per capita. Our findings showed that there was a long run relationship between financial
development, economic growth and poverty reduction in Indonesia. Furthermore, our result
showed that there was a bidirectional between financial development and poverty reduction.
Money supply and the ratio of private credit in poverty reduction were positively contributed by
the innovative shocks stemming in poverty reduction. Therefore, to accelerate poverty reduction,
the goverment may adopt a policy requiring all commercial banks to provide a certain percentage
of loans to the SMEs (Small and Medium sized Enterprises) that will be helpfull for reducing
poverty throug creating employment opportunities to growth.
Keywords : Financial Development, Poverty, Growth, ARDL, VECM,
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran sektor keuangan terhadap pengentasan
kemiskinan di Indonesia dengan menggunakan data tahunan untuk periode 1980-2014. Pendekatan ARDL
untuk kointegrasi digunakan untuk membuktikan adanya keseimbangan jangka panjang antara sektor
keuangan dengan pengentasan kemiskinan. Selain itu pendekatan VECM Kausalitas Granger digunakan
untuk mendeteksi arah hubungan kausal antara sektor keuangan dan kemiskinan. Sementara itu, untuk
mengukur jangka waktu dan besarnya kekuatan relatif kemiskinan dalam menanggapi guncangan yang
dialami sektor keuangan digunakan Impulse Response Functions (IRFs) dan Variance Decompositions
(VDCs). Jumlah uang beredar dan rasio kredit domestik untuk sektor swasta digunakan sebagai indikator
pengembangan sektor keuangan, sementara itu kemiskinan diukur dengan pengeluaran konsumsi rumah
tangga per kapita dan pertumbuhan ekonomi diukur dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan jangka panjang antara sektor keuangan, pertumbuhan
ekonomi dan pengentasan kemiskinan di Indonesia. Selanjutnya, hasil menunjukkan adanya hubungan
kausalitas dua arah antara sektor keuangan dengan kemiskinan. Kontribusi jumlah uang beredar dan rasio
kredit swasta adalah positif dalam merespon guncangan yang berasal dari kemiskinan. Oleh karena itu,
untuk mempercepat pengentasan kemiskinan, pemerintah dapat mengambil kebijakan untuk menuntut
semua bank-bank komersial menyediakan fasilitas kemudahan akses pinjaman bagi kelompok miskin dan
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UKM). Melalui kebijakan tersebut akan membantu untuk mengurangi
kemiskinan melalui penciptaan kesempatan kerja dan pada akhirnya akan mengarah kepada peningkatan
pertumbuhan ekonomi.
Jurnal Ilmu Ekonomi
PENDAHULUAN
dunia yang hidup dalam kemiskinan pada garis
kemiskinan US $1,25 - $2,50 per hari sebanyak
1,2 juta orang atau 22% .
Di Indonesia sendiri dalam beberapa
dekade terakhir telah mengalami penurunan
tingkat kemiskinan dari 16,66% pada tahun
2004 menjadi 10,96% tahun 2014. Namun
tingkat penurunan kemiskinan tersebut mulai
mengalami perlambatan. Sebelumnya
2008-2009. Namun setelah periode tersebut
mulai terjadi perlambatan tingkat penurunan
kemiskinan, pada 2011 hingga 2014 penurunan
tingkat kemiskinan hanya berkisar 0,5% saja.
Selain itu data Badan Pusat Statistik
(BPS) menunjukkan bahwa telah terjadi
peningkatan angka gini rasio dari 0,37 pada
2009 menjadi 0,41 pada 2014. Dengan
demikian dapat dikatakan ketimpangan
distribusi pendapatan dalam masyarakat
penting dari pengentasan kemiskinan yang
ditetapkan oleh Millenium Development Goals
(MDGs) tahun 2000 silam belum dapat dicapai.
Capaian target persentase penduduk yang hidup
dibawah garis kemiskinan nasional masih
11,47% dari target yang ditetapkan sebesar
7,55% (Bappenas, 2014).
dan derajat kesehatan orang miskin akan bisa
meningkatkan produktivitas mereka dalam
ekonomi.
pengentasan kemiskinan. Dampak keuangan
terjadinya perubahan tingkat pendapatan
tingkat kemiskinan.
yang membutuhkan melalui kredit. Salah satu
indikator sektor keuangan dapat di lihat dari
rasio jumlah uang beredar terhadap PDB.
Peningkatan rasio jumlah uang beredar terhadap
PDB cukup signifikan, terjadi kenaikan sebesar
15,89 persen dalam waktu 5 tahun dari 21,41
persen tahun 2009 menjadi 37,3 persen pada
2013. Peningkatan indikator lainnya juga terjadi
pada rasio kredit domestik untuk sektor swasta
yang di sediakan sektor keuangan sebesar 36,96
persen pada 2009 meningkat menjadi 45,64
persen pada 2013.
penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa
yang telah mengkaji hal tersebut diantaranya
Beck et al. (2007), Odhiambo (2009), Uddin et
al. (2014), Abosedra et al. (2015) dan Dhrifi
(2014) .
Jurnal Ilmu Ekonomi
dilakukan di Indonesia. Sepanjang pengamatan
penulis, hanya ditemukan satu penelitian yakni
studi Maryanto tahun 2013. Berdasarkan hal
tersebut diatas, maka diperlukan suatu
penelitian untuk menganalisis peran sektor
keuangan dalam pengentasan kemiskinan di
Indonesia.
(berdasarkan PPP 2005 US$ 1.25) dan US$2
PPP (purchasing power parity/paritas daya
beli) per hari (bukan nilai tukar US$ resmi)
dengan tujuan untuk membandingkan angka
kemiskinan antar negara/wilayah dan
perkembangannya menurut waktu untuk
memerangi kemiskinan di tingkat
memberikan acuan kemiskinan untuk membuat
Poverty line (garis kemiskinan). Acuan tersebut
dengan menggunakan pendekatan pengeluaran
konsumsi penduduk (consumption expenditure
approach) dengan batasan kemiskinan
non makanan lainnya per hari. Nilai garis
kemiskinan digunakan untuk menentukan
yang dibutuhkan seseorang yaitu 2100 kalori
per kapita per hari, ditambah dengan kebutuhan
minimum non makanan yang merupakan
kebutuhan dasar seseorang yang meliputi:
papan, sandang, sekolah, transportasi serta
kebutuhan rumah tangga yang mendasarinya.
Jadi menurut BPS, jika seseorang/individu yang
pengeluarannya lebih rendah dari Garis
Kemiskinan maka seseorang/individu tersebut
transaksi-transaksi dari lembaga keuangan.
(intermediary) dalam penyaluran tabungan
(investment). Menurut DFID (Departement For
International Development) sektor keuangan
perekonomian yang memberikan pelayanan
keuangan, yaitu mobilisasi tabungan, mengelola
resiko, memperoleh informasi tentang peluang-
peluang investasi, mengerahkan kontrol bagi
perusahaan, memperlancar transaksi dan
Hubungan antara sektor keuangan
Sub–Sahara Afrika juga menjadi kajian Ahmed
(2013) yang menunjukan bahwa dengan adanya
liberalisasi dalam sektor keuangan akan
Jurnal Ilmu Ekonomi
meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sektor
keuangan tidak hanya meningkatkan
investasi infrastruktur dan memungkinkan
Bukti lain ditunjukan oleh Uddin dan Shahbaz
(2013) di Kenya bahwa dalam jangka panjang
sektor keuangan berdampak positif terhadap
pertumbuhan ekonomi karena sektor keuangan
akan dapat menstimulasi peningkatan
akan mengarah ke akses yang lebih luas untuk
jasa keuangan, menghasilkan banyak lapangan
kerja, peningkatan pendapatan dan akhirnya
dapat mengurangi kemiskinan. Selanjutnya
menetes kebawah (trickle down) kepada orang
miskin melalui pengaruh pertumbuhan ekonomi.
Hal ini tersirat dari hubungan sektor keuangan
dengan pertumbuhan ekonomi bahwa
perkembangan sektor keuangan memiliki
masyarakat miskin.
kemiskinan, bahkan akan dapat tahan terhadap
goncangan eksternal yang timbul dari ekonomi
global seperti resesi.
terdapatnya hubungan dua arah yang kuat
antara pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan.
Pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan
terhadap pengurangan angka kemiskinan
menyimpulkan bahwa perkembangan sektor
keuangan berpengaruh dalam penurunan
kemiskinan bahkan dapat menurunkan
ketimpangan pendapatan. Perkembangan sektor
Sementara penurunan ketimpangan pendapatan
Kajian Uddin et al. (2014) menunjukan
bahwa adanya hubungan jangka panjang antara
perkembangan sektor keuangan, pertumbuhan
ekonomi dan pengurangan kemiskinan.
sektor keuangan dan pengentasan kemiskinan.
Sektor keuangan yang menyebabkan
juga ditemukan antara pertumbuhan ekonomi
dan kemiskinan.
melaporkan hal yang sama, bahwa dalam
jangka panjang pengentasan kemiskinan
menyebabkan perkembangan sektor keuangan.
feedback (dua arah) antara pengentasan
kemiskinan dengan perkembangan sektor
keuangan.
melakukan kajian dinegara Bangladesh
menunjukkan terdapatnya kointegrasi antar
keuangan dengan pengentasan kemiskinan di
negara tersebut.
sektor keuangan menyebabkan pertumbuhan
hypothesis di Indonesia.
1980-2014 yang diperoleh dari beberapa
sumber, seperti Statistik Ekonomi dan
Keuangan Indonesia (SEKI), Badan Pusat
Statistik (BPS), Bank Indonesia (BI), Data
World Bank, SESRIC (The Statistical,
Economic and Social Research and Training
Center for Islamic Countries), kepustakaan serta
literatur-literatur yang berkaitan dan
Dimana POV adalah kemiskinan, FD
menunjukan pengukuran sektor keuangan dan
PDB adalah pertumbuhan ekonomi. Karena
pengukuran FD menggunakan dua proksi yakni
jumlah uang beredar (LM2) dan kredit
domestik untuk sektor swasta (CR), maka
persamaan (1) dapat di pecah menjadi sebagai
berikut:
Adapun metode analisis yang
ADF (Augmented Dickey-Fuller) dan PP
(Phillips–Perron). Untuk memeriksa adanya
keseimbangan jangka panjang (long run
equilibrium) antara sektor keuangan dengan
kemiskinan digunakan teknik Autoregressive
empiris model ARDL yang dibentuk untuk
kointegrasi berdasarkan persamaan 1.1 dan 1.2
adalah:
ΔLPOVt = 01 + ∑ 11Δ (LPOVt−i) n i=1 + ∑ 12Δ(LM2t−i)
n i=1 +
ε1t ...........................................(2)
ΔLPOVt = 01 + ∑ 11Δ (LPOVt−i) n i=1 + ∑ 12Δ(CRt−i)
n i=1 +
ε1t .............................................(3)
n i=1 +
1) + ε2t ...........................(5)
Δ CRt = 02 + ∑ 21Δ(CRt−i) n i=1 + ∑ 22Δ(LPOVt−i)
n i=1 +
+ ε2t ..........................................................(5)
n i=1 +
+ ε3t .........................................................(6)
n i=1 +
Jurnal Ilmu Ekonomi
ε3t ....................................(7)
1 sampai 4 koefisien jangka pendek, β1
sampai β4 adalah koefisien jangka panjang, t
adalah tahun, i adalah urutan lag dan ε adalah
error term. Hipotesis pengujian jangka panjang
yang digunakan adalah H0 : β11 = β21 = β31 = 0
(tidak berkointegrasi) melawan hipotesis
(berkointegrasi).
(VECM) dalam penelitian ini digunakan untuk
menguji hubungan kausalitas bivariat dan
multivariat antara sektor keuangan dengan
kemiskinan. Model VECM di estimasi sebagai
berikut:
εt .......................................(3.17)
Dimana t = (P, FD, Y). α adalah n x 1 vektor
konstan masing-masingnya, Ψ adalah n x n
matrik (koefisien jangka pendek dinamis), Ω =
αβ′ dimana α adalah n x 1 vektor kolom yang
mewakili kecepatan penyesuaian jangka pendek
menuju ketidakseimbangan dan β′ adalah 1 x n
vektor baris kointegrasi yang menunjukan
matrik koefisien jangka panjang. εt adalah n x 1
vektor white noise error term dan k adalah
order autoregresi.
lainnya. Sedangkan IRFs dapat menunjukan
tanggapan sementara goncangan satu variabel
terhadap goncangan variabel lainnya. Melalui
penerapan IRFs dalam penelitian ini akan dapat
diperiksa arah, jarak dan konsistensi tanggapan
kemiskinan untuk melakukan perubahan dalam
sektor keuangan dan pertumbuhan ekonomi.
HASIL PEMBAHASAN
Hasil uji ADF dan PP menyatakan
bahwa kemiskinan, sektor keuangan dan
pertumbuhan ekonomi tidak stasioner pada
level. Variabel-variabel dalam penelitian ini
stasioner pada diferensi pertama (first
difference) atau dengan kata lain terintegrasi
pada order satu, I(1).
Autoregressive Distributed Lag (ARDL)
Pengujian adanya kointegrasi yang
berarti terdapatnya keseimbangan jangka
1 menunjukkan bahwa persamaan 2 hingga
persamaan 7 menghasilkan F-statistik yang
signifikan pada derajat kepercayaan 1%, 5%
dan 10%. Hasil ini membuktikan bahwa semua
variabel berkointegrasi yang berarti terdapatnya
keseimbangan jangka panjang antara sektor
keuangan dengan kemiskinan di Indonesia pada
periode 1980-2014.
Variabel
dependen/
independen
Panjang
lag
optimal
LM2/LPOV,LP
pada derajat 1%, 5% dan 10%. Nilai kritis bounds yang
diambil didasarkan dari Narayan (2005) (case II:
restricted intercept and no trend, dengan jumlah k = 2)
yaitu 4,94 – 6,02 pada tingkat 1%; 3,47 – 4,33 pada
tingkat 5% dan 2,84 – 3,62 pada tingkat 10%.
Selanjutnya, Tabel 2. hasil estimasi
koefisien jangka panjang model ARDL
menunjukkan bahwa jumlah uang beredar
bertanda positif dan signifikan pada tingkat
kepercayaan 1% terhadap kemiskinan di
Indonesia. Apabila jumlah uang beredar
meningkat sebesar 1 persen maka akan
meningkatkan pengeluaran konsumsi rumah
perkapita mengindikasikan terjadinya
dan tidak signifikan pada Model 1.
Tabel 2. Hasil Estimasi Model Jangka
Panjang ARDL
signifikansi 1%, 5% dan 10%; nilai dalam tanda kurung adalah
nilai t-statistik
rasio kredit domestik untuk sektor swasta
bertanda positif dan signifikan pada tingkat
kepercayaan 1%. Tanda positif tersebut sesuai
dengan yang diharapkan. Besar koefisien
0,0029 dapat diartikan kenaikan 1 persen dari
rasio tersebut, akan menyebabkan penurunan
kemiskinan sebesar 0,0029%. Sektor keuangan
yang mempunyai pengaruh positif terhadap
pengentasan kemiskinan di Indonesia konsisten
dengan hasil temuan Beck et al. (2007) dan
Dhrifi (2014) untuk negara-negara yang
berpendapatan tinggi dan menengah.
10% terhadap penurunan kemiskinan.
akan meningkatkan kemiskinan sebesar
al. (2012) bahwa pertumbuhan ekonomi
menyebabkan peningkatan kemiskinan yang
diiringi dengan ketimpangan pendapatan.
yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi
positif dan signifikan mempengaruhi penurunan
Jurnal Ilmu Ekonomi
kemiskinan.
ekonomi akan meningkatkan kemiskinan
ekonomi menyebabkan peningkatan kemiskinan
Nilai R 2 -adjusted untuk masing-masing
model adalah 0,7175 dan 0,8595 yang
menunjukkan bahwa secara bersama-sama
pertumbuhan ekonomi berkontribusi
Kausalitas Bivariat
causality) antara variabel jumlah uang beredar
(LM2) dan kemiskinan (LPOV), namun tidak
sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa
perubahan sektor keuangan di masa lalu
mempunyai pengaruh terhadap perubahan
kajian Odhiambo (2010) di Kenya dan di
Zambia dan Moreno (2011) yang dilakukan
pada 35 negara-negara berkembang.
kemiskinan (LPOV) yang menyebabkan
kredit swasta (CR) pada probabilita α = 5%,
tetapi tidak sebaliknya. Hal ini menunjukkan
bahwa perubahan tingkat kemiskinan di masa
lalu akan menyebabkan pengaruh terhadap
perubahan rasio kredit swasta di masa sekarang.
Dalam teori ekonomi dapat dijelaskan bahwa
salah satu cara dalam pengentasan kemiskinan
adalah melalui peningkatan pendapatan orang
miskin. Dengan adanya kredit untuk usaha bagi
orang miskin akan memungkinkan mereka
untuk memulai usaha mikro, sehingga akan
mengarah ke peningkatan pendapatan dan
perluasan lapangan kerja dan pada akhirnya
dapat mengurangi tingkat kemiskinan.
kemiskinan (LPOV) pada probabilita α=10%.
Hasil ini konsisten dengan kajian Uddin et al.
(2014) dan Abosedra et al. (2015). Selanjutnya
arah yang dideteksi dari jumlah uang beredar
(LM) ke pertumbuhan ekonomi adalah
unidirectional . Hal ini membuktikan teori
supply leading di Indonesia. Sementara
unidirectional juga terdapat dari sektor
keuangan CR ke pertumbuhan ekonomi yang
membenarkan berlakunya demand side
setelah terjadinya pertumbuhan ekonomi.
Jurnal Ilmu Ekonomi
jangka panjang variabel. Selain itu pengujian
ini dilakukan untuk mengetahui arah dan
kausalitas dari masing-masing variabel dalam
model, karena dalam hasil kointegrasi sebatas
hanya menyatakan hubungan tetapi belum arah
kausalitas. Hasil kausalitas multivariat
ditunjukkan dalam Tabel 3.
Variabe
-0,0131
[-0,0784]
Catatan : *, ** dan *** menunjukkan α = 10%, 5% dan 1%. Nilai dalam tanda (.)
menunjukkan probabilitas pada uji-F sedangkan nilai dalam tanda [.] merupakan nilai t-statistik.
Model 1 mempunyai nilai ECT yang
negatif dapat diinterpretasikan sebagai adanya
mekanisme dalam memperbaiki
dalam menyesuaikan kembali
antara 4,6% hingga 85,36% per tahun. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa pengentasan
kemiskinan dalam menyesuaikan
pendek akibat shock sektor keuangan akan
membutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun
untuk mencapai keseimbangan jangka
ketidakseimbangan jangka pendek untuk
ECT pada Model 2 mengindikasikan bahwa
Model 2 memiliki kecepatan penyesuaian
sistem sangat cepat untuk menyamakan kembali
tingkat ketidakseimbangannya ketika terjadi
guncangan dibandingkan Model 1.
Kausalitas dua arah (bidirectional)
keuangan dengan pengentasan kemiskinan
jumlah uang beredar (LM2) maupun dengan
variabel rasio kredit domestik untuk sektor
swasta (CR) untuk mengukur perkembangan
sektor keuangan.
sektor keuangan dapat menyebabkan
pengentasan kemiskinan dan sebaliknya
sektor keuangan. Hasil ini konsisten dengan
kesimpulan yang diperoleh Ho dan Odhiambo
(2011) di negara China, Uddin et al. (2012),
(2014) dan Abosedra et al. (2015).
Fenomena bi-directional causality
Jurnal Ilmu Ekonomi
antara sektor keuangan, pertumbuhan ekonomi
dan pengentasan kemiskinan di Indonesia
mungkin dapat dijelaskan oleh alasan berikut.
Upaya pengentasan kemiskinan yang dilakukan
akan dapat mengembangkan sektor keuangan
apabila intermediasi keuangan memberikan
berpartisipasinya kelompok-kelompok miskin
terhadap pertumbuhan ekonomi dan
apabila dilakukan kebijakan terhadap
keuangan dan pertumbuhan ekonomi juga harus
dikontrol secara bersamaan perkembangannya
tersebut.
Gambar 1. Impulse Response Kemiskinan dengan Sektor
Keuangan
variabel kemiskinan (LPOV) akibat adanya
shock pada variabel jumlah uang beredar (LM2)
menunjukkan respon yang positif hingga
periode 2. Namun pada periode 3-9 serta
periode 12 sampai berikutnya, kemiskinan
merespon negatif goncangan yang terjadi pada
jumlah uang beredar Hal ini mengindikasikan
bahwa dalam jangka panjang pertambahan
jumlah uang beredar berdampak negatif
terhadap pengentasan kemiskinan di Indonesia.
Peningkatan jumlah uang beredar dalam
masyarakat yang tidak dikontrol oleh
pemerintah dapat menyebabkan terjadinya
inflasi. Inflasi dapat mengakibatkan
kesejahteraan masyarakat.
Namun sampai akhir periode, kemiskinan
merespon goncangan pada pertumbuhan
disebabkan dengan kebijakkan pertumbuhan
miskin sehingga dapat memperlebar jurang
ketimpangan pendapatan.
variabel LPOV, LPDB dan CR. Variabel
kemiskinan (LPOV) rata-rata memberikan
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPOV to LPOV
-.02
-.01
.00
.01
.02
.03
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPOV to LM2
-.02
-.01
.00
.01
.02
.03
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPOV to LPDB
-.10
-.05
.00
.05
.10
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LM2 to LPOV
-.10
-.05
.00
.05
.10
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LM2 to LM2
-.10
-.05
.00
.05
.10
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LM2 to LPDB
-.04
-.02
.00
.02
.04
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPDB to LPOV
-.04
-.02
.00
.02
.04
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPDB to LM2
-.04
-.02
.00
.02
.04
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPDB to LPDB
Response to Cholesky One S.D. Innovations
-.02
-.01
.00
.01
.02
.03
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPOV to LPOV
-.02
-.01
.00
.01
.02
.03
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPOV to LM2
-.02
-.01
.00
.01
.02
.03
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPOV to LPDB
-.10
-.05
.00
.05
.10
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LM2 to LPOV
-.10
-.05
.00
.05
.10
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LM2 to LM2
-.10
-.05
.00
.05
.10
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LM2 to LPDB
-.04
-.02
.00
.02
.04
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPDB to LPOV
-.04
-.02
.00
.02
.04
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPDB to LM2
-.04
-.02
.00
.02
.04
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPDB to LPDB
Response to Cholesky One S.D. Innovations
-.04
-.02
.00
.02
.04
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPOV to LPOV
-.04
-.02
.00
.02
.04
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPOV to CR
-.04
-.02
.00
.02
.04
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPOV to LPDB
-8
-4
0
4
8
12
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of CR to LPOV
-8
-4
0
4
8
12
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of CR to CR
-8
-4
0
4
8
12
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of CR to LPDB
-.04
-.02
.00
.02
.04
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPDB to LPOV
-.04
-.02
.00
.02
.04
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPDB to CR
-.04
-.02
.00
.02
.04
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Response of LPDB to LPDB
Response to Cholesky One S.D. Innovations
Jurnal Ilmu Ekonomi
respon positif hingga akhir periode terhadap
goncangan pada variabel rasio kredit swasta
(CR). Namun reaksi yang diberikan oleh
pengentasan kemiskinan terhadap perubahan
goncangan petumbuhan ekonomi cukup
ekonomi direspon dengan negatif, pada periode
3-4 direspon positif namun kembali negatif
pada periode 5 hingga 8. Akhirnya sampai akhir
periode kemiskinan selalu merespon positif
perubahan pertumbuhan ekonomi.
Analisis Variance Decompositions
digunakan analisis variance decomposition.
penelitian ini maka dapat diperoleh gambaran
bagaimana pengaruh perkembangan sektor
(LM2) dan rasio kredit swasta (CR) terhadap
pengentasan kemiskinan (LPOV).
beredar jika dilihat pada periode ke-6 sampai
pada periode ke-16 memberikan kontribusi
yang relatif lebih besar dibandingkan dengan
kontribusi pertumbuhan ekonomi dalam
pertumbuhan ekonomi mampu memberikan
dibandingkan varians sektor keuangan (LM2)
yang sebesar 24,27% dalam menjelaskan
goncangan kemiskinan (LPOV).
sebesar 1,71% dalam menjelaskan pengentasan
kemiskinan dalam jangka panjang. Sementara
pertumbuhan ekonomi mampu memberikan
terhadap pengentasan kemiskinan di Indonesia.
Uji Stabilitas Model
berada dalam dua garis kritis dan signifikan
pada tingkat 5%. Hal ini mempunyai implikasi
bahwa Error Correction Term (ECT) cukup
stabil dalam jangka panjang.
Dengan demikian dapat dinyatakan
periode 1980-2014.
Residual Model 1 dan Model 2
-10.0
-7.5
-5.0…