Peran guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi

Click here to load reader

  • date post

    02-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Peran guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi

1 Sarbudin Peran guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi prokrastinasi pada peserta didik di SMA Negeri 2 Kota Bima
Jurnal Guiding World Vol. 03 No. 02. November 2020: Hal 01-21
GUIDING WORLD JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING Volume 03, Nomor 02 November 2020 E-ISSN: 2614-3585
DOI: 1033627
Peran guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi prokrastinasi pada peserta didik di SMA Negeri 2 Kota Bima
Sarbudin
Prodi Bimbingan dan Konseling, Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP Bima) Email: sarbudin@gmail.com
Abstrak
Penelitian ini di latar belakangi oleh adanya beberapa peserta didik di SMA
Negeri 2 Kota Bima yang mengalami prokrastinasi, diantaranya tidak
mengerjakan tugas, menganggap enteng/menunda mengerjakan tugas sampai
saat terakhir untuk mengumpulkan tugas, sehingga berdampak pada turunya
prestasi peserta didik. Tidak mengerjakan tugas, menganggap enteng/menunda
mengerjakan tugas sampai saat terakhir untuk mengumpulkan tugas, sehingga
berdampak pada turunya prestasi peserta didik. Rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah apa penyebab peserta didik mengalami prokrastinasi di
SMA Negeri 2 Kota Bima Tahun Pelajaran 2019/2020?, dan tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan
prokrastinasi pada peserta didik di SMA Negeri 2 Kota Bima.
Penelitianinimenggunakanmetodepenelitiankualitatifdeskriptif, dengan Teknik
dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru bimbingan dan
konseling.
Adapun teknik analisis data dalam penelitian ini adalah reduksi data, display
data, dan verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti temukan dapat
disimpulkan bahwa guru bimbingan dan konseling berperan penting dalam
mengatasi prokrastinasi pada peserta didik yang awalnya belum mengetahui
dampak dari menunda-nunda mengerjakan tugas, setelah diberikan pemahaman
dan bimbingan ternyata membuahkan hasil yang positif, peserta didik jadi
mengetahui akibat dari menunda-nunda mengerjakan tugas dan menjadikan
peserta didik percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki mereka, guru
bimbingan dan konseling berharap peserta didik tidak lagi mengulangi untuk
menunda-nunda mengerjakan tugas karena akan sangat berpengaruh pada nilai
rendah
PENDAHULUAN
yang mendukung kemajuan bangsa dan negara. Menurut Undang-undang Sisdiknas No. 20
tahun 2003 “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
2 Sarbudin Peran guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi prokrastinasi pada peserta didik di SMA Negeri 2 Kota Bima
Jurnal Guiding World Vol. 03 No. 02. November 2020: Hal 01-21
GUIDING WORLD JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING Volume 03, Nomor 02 November 2020 E-ISSN: 2614-3585
DOI: 1033627
ahlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat
(Kemendikbud,2013).
Di sekolah terdapat Guru Bimbingan dan Konseling yang membantu siswa dalam
mengatasi masalah yang sedang dialami oleh siswa dilingkungan sekolah maupun diluar
lingkungan sekolah.Nurihsan (2009:30) Guru Bimbingan dan Konseling adalah guru yang
memiliki kemampuan dan kualitas kepribadian yang baik, memiliki pengetahuan dan keahlian
professional tentang pelayanan bimbingan dan konseling, serta pendidikan psikologi yang
sesuai dengan tugas dan profesinya.Sedangkan menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional No. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 6 menyatakan guru Bimbingan dan konseling adalah
konselor sekolah, konselor adalah pendidik. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang
berkualitas sebagai guru, dosen, konselor, pamong, belajar, widyaiswara, tutor, instruktur,
fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan ke khususannya,sertaberpartisipasi dalam
menyelenggarakan pendidikan.
Bimbingan dan Konseling adalah proses bantuan yang diberikan oleh pembimbing
(konselor) kepada individu(konseli) melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal
balik antara keduanya,supaya konseli mempunyai kemampuan atau kecakapan melihat dan
menemukan masalahnya serta mempunyai kemampuan memecahkan masalahnya sendiri
(Tohirin 2013:25).
Adapun bentuk layanan yang digunakan di dalam penyelenggaraan bimbingan dan
konseling: yaitu layanan Orientasi, Informasi, Penempatan dan penyaluran, konsultasi,
Konseling individual, Bimbingan kelompok, Konseling kelompok, Penguasaan konten,
Mediasi, dan Advokasi, (prayitno,2009).Yang menyelenggarakan layanan adalah guru
bimbingan dan konseling.
Dari pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa guru Bimbingan dan Konseling
merupakan seorang pendidik yang memiliki tugas membantu siswa dalam mengatasi masalah
yang sedang dialami siswa dilingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah. Fungsi
guru bimbingan dan konseling adalah membantu mengembangkan kemampuan belajar, agar
menjadikan peserta didik mandiri dalam belajar.
Adapun peranGuru bimbingan dan konseling yaitu bertanggung jawab untuk
membimbing, memberi arahan, dan motivasi, sekaligus membantu dalam menangani berbagai
masalah yang dialami peserta didik baik seorang atau lebih. Seperti salah satu masalah yang
dihadapi oleh peserta didik yaitu masalah prokrastinasi.
Prokrastinasi adalah menunda dengan sengaja kegiatan yang di inginkan walaupun
mengetahui bahwa penundaannya dapat menghasilkan dampak buruk, seperti menunda
mengerjakan tugas, penundaan belajar menghadapi ulangan maupun ujian, membaca, kinerja
administrative, menghadiri pertemuan akademik/ mengikuti pembelajaran di kelas, serta
menunda-nunda pekerjaan rumah (PR).
Satria M.Rafiko (2017), melakukan penelitian tentang Strategi Guru Bimbingan Dan
Konseling Dalam Mengatasi Perilaku Prokrastinasi Akademik Siswa Di Man 2 Batu Sangkar
Tahun 2016-2017,tujuan dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi perilaku prokrastinasi
akademik siswa, melakukan need assessment dan himpunan data. Hasilnya menunjukan
bahwa guru mata pelajaran dan wali kelas, penyusunan rencana diantarannya: layananan
informasi, layanan bimbingan kelompok, layanan konseling perorangan dan layanan
3 Sarbudin Peran guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi prokrastinasi pada peserta didik di SMA Negeri 2 Kota Bima
Jurnal Guiding World Vol. 03 No. 02. November 2020: Hal 01-21
GUIDING WORLD JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING Volume 03, Nomor 02 November 2020 E-ISSN: 2614-3585
DOI: 1033627
mengikuti layanan dengan aktif.
Menangani Prokrastinasi Akademik Siswa MAN 2 Tahun 2017-2018, Tujuan penelitian
untuk mengetahui tahap-tahap konseling behavioral dalam menangani prokrastinasi akademik
yang dilakukan guru BK MAN 2 Yogyakarta adalah : 1) assesmen, mendapatkan data bahwa
subjek menunda tugas disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, 2) goal setting, tujuan
konseling agar subjek mandiri dan bertanggung jawab, 3) technique implementation, teknik
yang digunakan adalah desenttisasi positif dan penguatan positif dan hukuman, 4) evaluation
termination,menghasilkan kominten dan kesadaran diri subjek, 5) feedback, menunjukan
bahwa proses konseling tidak berhasil sehingga perlu adanya perbaikan dan penanganan yang
lebih serius.
Suryadi (2017),Melakukan penelitian Tentang Layanan Bimbingan dan Konseling
Belajar Untuk Mereduksi Prokrastinasi Akademik Siswa Boarding SMA IT Abu Bakar
Yogyakarta , tujuan penelitian yaitu untuk mengidenfikasi perilaku prokrastinasi akademik
siswa meliputi layanan dasar berfungsi sebagai layanan preventif dan pemeliharaan, layanan
responsif berfungsi sebagai layanan kuratif yang spesifik digunakan dalam mereduksi
prokrastinasi akademik siswa.
Berdasarkanobservasi dan wawancara pada peserta didik di SMA Negeri 2 Kota
Bima masih terdapat beberapa peserta didik yang mengalami prokrastinasi, diantaranya tidak
mengerjakan tugas, menganggap enteng/menunda mengerjakan tugas sampai saat terakhir
untuk mengumpulkan tugas, sehingga berdampak pada turunya prestasi peserta didik.Oleh
karena itu prokrastinasi merupakan masalah penting yang perlu mendapatkan perhatian
karena berpengaruh pada peserta didikitu sendiri. prokrastinasi harus diatasi agar peserta didik
mengembangkan potensi-potensi dirinya, menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan yang Maha Esa, berahlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti ingin mengetahui bagaimana Peran Guru
Bimbingan Konseling Dalam Mengatasi Prokrastinasi Pada Peserta Didik dan mengangkat
penelitian dengan judul Peran Guru Bimbingan dan Konseling Dalam Mengatasi
Prokrastinasi Pada Peserta Didik di SMANEGERI 2 KOTA BIMA.
Berdasarkan uraian masalah tersebut di atas, maka rumusan masalah yang di angkat
dalam penelitian ini adalah bagaimana peran guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi
prokrastinasi di SMA Negeri 2 Kota Bima?
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran guru bimbingan dan konseling dalam
mengatasi prokrastinasi pada peserta didik di SMA Negeri 2 Kota Bima.
KERANGKA TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Guru Bimbingan dan Konseling
a. Pengertian Guru Bimbingan dan Konseling
Winkel (2006: 172) Guru bimbingan dan konseling adalah tenaga professional, yang
mencurahkan seluruh waktunya pada pelayanan bimbingan (full-time guidance
counselor).
Guru bimbingan dan konseling adalah seorang tenaga professional yang memperoleh
pendidikan khusus diperguruan tinggi dan mencurahkan seluruh waktunya pada layanan
4 Sarbudin Peran guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi prokrastinasi pada peserta didik di SMA Negeri 2 Kota Bima
Jurnal Guiding World Vol. 03 No. 02. November 2020: Hal 01-21
GUIDING WORLD JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING Volume 03, Nomor 02 November 2020 E-ISSN: 2614-3585
DOI: 1033627
bimbingan dan konseling. Tenaga ini memberikan layanan-layanan bimbingan dan
konseling kepada para siswa dan menjadi konsultan bagi staf sekolah dan orang tua
(Winkel dan Hastuti, 2012:184).
Guru bimbingan dan konseling adalah seorang guru yang bertugas memberikan bantuan
psikologis dan kemanusiaan secara ilmiah dan professional sehingga seorang guru
bimbingan Dan konseling harus berusaha menciptakan komunikasi yang baik dengan
murid dalam menghadapi masalah dan tantangan hidup (Sukardi,DK 2008).
Berdasarkan uraian diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa guru bimbingan dan konseling
adalah tenaga professional yang ikut berpartisipasi dalam mengarahkan, bertugas dan
memberikan bantuan psikologis dan kemanusiaan secara ilmiah dan professional
sehingga seorang guru bimbingan dan konseling memperoleh pendidikan khusus
diperguruan tinggi dan mencurahkan seluruh waktunya pada layanan bimbingan dan
konseling.
b. Tugas Guru Bimbingan dan Konseling
Menurut Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 “guru yang merangkap sebagai wali
kelas, guru mata pelajaran dan guru Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki tugas
utama untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik, sedangkan dalam SK mendikbd No. 25 tahun 1995 tentang
petunjuk teknis pelaksanaan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya yang
menggariskan bahwa tugas pokok guru pembimbing di sekolah: menyusun program
bimbingan, yaitu rencana layanan bimbingan dan konseling dalam bidang bimbingan
pribadi, belajar, social dan karir.
Tugas guru bimbingan dan konseling yaitu membantu peserta didik dalam :
1) Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta
didik dalam memahami, menilai bakat dan minat.
2) Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta
didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan
sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.
3) Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta
didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah atau
madrasah secara mandiri.
4) Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam
memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.
c. Kompetensi Guru Bimbingan dan Konseling
Kompetensi merupakan seperangkat perilaku dari seseorang berupa sikap, karakteristik
pribadi, keterampilan, kemampuan, serta pengetahuan yang mengarah kepada aspek
kognitif,afektif dan psikomotorik yang mengarahkan seseorang untuk mencapai tujuan
yang efisien.
Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Depdiknas,
2005a), dan peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan (Depdiknas,2005b), dikemukakan empat kompetensi pendidik sebagai agen
pembelajaran. Kompetensi tersebut mencakup kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.
Proses pembelajaran, yang dalam pelayanan konseling berbentuk proses konseling
merupakan kondisi yang secara dinamis, strategis langsung dikembangkan oleh Guru
5 Sarbudin Peran guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi prokrastinasi pada peserta didik di SMA Negeri 2 Kota Bima
Jurnal Guiding World Vol. 03 No. 02. November 2020: Hal 01-21
GUIDING WORLD JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING Volume 03, Nomor 02 November 2020 E-ISSN: 2614-3585
DOI: 1033627
Bimbngan dan Konseling klien. Proses konseling inilah yang menjadi tugas pokok guru
bimbingan dan konseling profesional. Untuk mampu mewujudkan proses konseling yang
efektif guru bimbingan dan konseling dituntut menguasai berbagai kompetensi yang
mendukung profesi guru bibingan dan konseling.
Kompetensi guru bimbingan dan konseling yang diaksud disini mengacu pada standar
kompetensi konselor (SKK) yang terdapat dalam standar Kualifikasi Akademik dan
Kompetensi Konselor (SKAKK) yang dirumuskan dalam Permendiknas No.27 Tahun
2008.
1) Standar Kompetensi Konselor
Dalam Permendiknas nomor 27 tahun 2008 yang dikutip dalam paying (2011:304)
tentang standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi konselor (SKAKK), dijelaskan
bahwa :
sebagai satu keutuhan.Kompetensi akademik merupakan landasan ilmiah dari
pelaksanaan pelayanan profesional bimbingan dan konseling, kompetensi akademik
dan profesional konselor secara terintegrasi membangun keutuhan kompetensi
pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional.
Sesuai denganpermendiknas no.27 tahun 2008 tersebut dapat disimpulkan bahwa
seorang guru bimbingan dan konseling harus memiliki keempat kompetensi yaitu:
kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Untuk lebih jelasnya
keempat kompetensi tersebut akan dipaparkan di bawah.
a) Kompetensi Pedagogik
kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman
terhadap peserta didik, rancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil
belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
petensi yang dimilikinya (Mulyasa,2009 :75).Dalam hal ini kompetensi pedagogik
yang harus dimiliki guru bimbingan dan konseling yaitu kemampuan dalam
memberikan bimbingan belajar bagi peserta didik terutama peserta didik yang
malas belajar.
kompetensi pedagogik dijabarkan menjadi beberapa indikator, yaitu:
1) Menguasai teori dan praksi pendidikan.
Tugas konselor adalah memberikan pelayanan kepada konseli..dengan
Seorang guru bimbingan dan konseling harus bisa menguasai teori yang ada
berdasarkan landasan keilmuannya sehingga teori tersebut dapat digunakan
untuk bekal guru bimbingan dan konseling dalam memberikan pelayanan
kepada peserta didik. Dengan teori yang matang maka kemampuan dalam
memberikan layanan pun akan lebih optimal.
2) Mengaplikasikan perkembangan fisiologis dan psikologis serta prilaku
konseli.
Dalam layanan konseling guru bimbingan dan konseling yang baik harus
mengetahui dan mencatat setiap perkembangan yang ada yang terjadi pada
konseli, baik yang bersifat fisiologis maupun psikologis.Data perkembangan
6 Sarbudin Peran guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi prokrastinasi pada peserta didik di SMA Negeri 2 Kota Bima
Jurnal Guiding World Vol. 03 No. 02. November 2020: Hal 01-21
GUIDING WORLD JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING Volume 03, Nomor 02 November 2020 E-ISSN: 2614-3585
DOI: 1033627
tadi sangat berguna untuk menentukan pemberian layanan yang tepat dalam
tahap konseling selanjutnya.
3) menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur, jenis dan
jenjang satuan pendidikan.
esensi pelayanan bimbingan dan konseling tersebut maka guru bimbingan dan
konseling akan siap ditugaskan di mana saja yang sesuai dengan jalurnya.
Kaitan kompetensi pedagogik dengan penelitian yang dilakukan peneliti
adalah kompetensi pedagogik merupakan bagian dari komponen pembentuk
profesionalisme konselor. Dengan memiliki kompetensi pedagogik yang baik
guru bimbingan dan konseling mampu mengelola pembelajaran yang
mendidik dan dialogis.
b) Kompetensi kepribadian
kepada peserta didik yang membutuhkannya dengan menjaga kode etik profesi
konselor.
kompetensi kepribadian dijabarkan menjadi beberapa indikator, yaitu:
1) Beriman Dan Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Di sila pertama pancasila menyebutkan bahwa Negara Indonesia
berlandaskan ketuhanan yang Maha Esa.Konselor haruslah beriman dan
bertaqwa kepada tuhan yang maha Esa. Sehingga menjadi pribadi religious
yang dapat menentramkan diri sendiri dan orang lain terutama konseli.
2) Menghargai dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, individualitas dan
kebebasan memilih.
Manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan
dari orang lain. Sehingga nilai-nilai kemanusiaan, individualitas dan
kebebasan memilih haruslah dijunjung tinggi.Begitupun dengan guru
bimbingan dan konseling, harus mampu menghargai nilai kemanusiaan,
individualitas dan kebebasan memilih setiap individu terutama konseli.
3) Menunjukan integritas dan stabilitas kepribadian yang kuat.
Guru bimbingan dan konseling harus memiliki kepribadian yang mantap,
pribadi yang mantap dapat diwujudkan dalam integritas dan stabilitas
kepribadian yang kuat. Tanpa integritas dan stabilitas kepribadian yang
mengakibatkan guru bimbingan dan konseling terlihat plin plan dan
menurunya minat dan kepercayaan konseli terhadap konselor.
4) Menampilkan kinerja berkualitas tinggi.
Salah satu cirri guru bimbingan dan konseling profesional adalah mampu
menampilkan kinerja berkualitas tinggi. Dengan kinerja kualitas tinggi maka
7 Sarbudin Peran guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi prokrastinasi pada peserta didik di SMA Negeri 2 Kota Bima
Jurnal Guiding World Vol. 03 No. 02. November 2020: Hal 01-21
GUIDING WORLD JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING Volume 03, Nomor 02 November 2020 E-ISSN: 2614-3585
DOI: 1033627
sehingga dapat lebih memuaskan para pengguna jasa layanan bimbingan dan
konseling.
Konsep Teori Prokrastinasi
a. Pengertian Prokrastinasi
Menurut Lay (dalam wattimena, 2015), Prokrastinasi adalah menunda apa yang perlu
dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu hingga beberapa waktu ke depan karena hal
tersebut dirasakan berat, tidak menyenangkan, atau kurang menarik.Sedangkan menurut
Watson (Ghufron, 2003:15), anteseden prokrastinasi berkaitan dengan takut gagal, tidak
suka pada tugas yang diberikan, menentang dan melawan kontrol, mempunyai sifat
ketergantungan dan kesulitan dalam membuat keputusan. Brown dan Holzman (dalam
Gufron,2003) bahwa prokrastinasi adalah seseorang yang mempunyai kecenderungan
untuk menunda, atau tidak segera memulai suatu pekerjaan, menghadapi pekerjaan atau
tugas.
Faktor-faktor tersebut dibagi menjadi dua berdasarkan faktor internal dan eksternal.
Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut :
1) Faktor internal yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu yang
mempengaruhi terjadinya prokrastinasi.Faktor ini dapat dikelompokkan menjadi dua
macam, yaitu kondisi fisik dan psikologis individu.
a) Kondisi fisik individu
Kondisi fisik individu berarti kondisi tubuh atau jasmani seseorang yang dapat
dilihat dari kesehatannya. Ketika mendapat tugas, peserta didik yang kurang
sehat tidak dapat mengerjkan tugas dengan maksimal, sehingga tugasnya pun
tidak dapat selesai tepat waktu.
Fatigue atau kelelahan juga dapat berpengaruh terhadap prograstinasi. Menurut
millgram (dalam ghufron,2010: 164) seseorang yang terkenal fatigue akan
memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk melakukan prokrastinasi dari
pada yang tidak.
Kondisi psikologis adalah suatui kondisi jiwa seseorang, baik itu dari emosional,
perasaan, sikap atau lain-lain yang bersangkutan dengan psikologisnya. Tinggi
rendahnya motivasi yang dimiliki seseorang juga akan mempengaruhi
terbentuknya perilaku penundaan.
2) Faktor eksternal adalah faktor-faktor diluar diri individu yang mempengaruhi
prokrastinasi. Faktor-faktor tersebut terdiri dari:
a) Gaya pengasuhan orang tua
Hasil penelitian Ferrari & ollivete (dalam ghufron,2010: 165) menemukan
bahwa gaya pengasuhan ayah yang otoriter menyebabkan munculnya
kecenderungan perilaku prokrastinasi, sedangkan gaya pengasuhan otoritatif
tidak menyebabkan prokrastinasi. Berbeda dengan pengasuhan otoriter, orang
tua yang mendidik anaknya dengan demokratis akan menyebabkan timbulnya
sikap asertif, karena anak merasa diberi kebebasan dalam mengekspresikan diri
sehingga memunculkan rasa percaya diri.
8 Sarbudin Peran guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi prokrastinasi pada peserta didik di SMA Negeri 2 Kota Bima
Jurnal Guiding World Vol. 03 No. 02. November 2020: Hal 01-21
GUIDING WORLD JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING Volume 03, Nomor 02 November 2020 E-ISSN: 2614-3585
DOI: 1033627
Prokrastinasi lebih banyak terjadi pada lingkungan yang rendah pengawasan dari
pada lingkungan yang penuh pengawasan. Seseorang cenderung akan rajin
mengerjakan tugas apabila ada yang mengawasi dirinya. Sebaliknya ketika tidak
ada yang mengawasi, mereka merasa lebih bebas mau mengerjakan tugas
sekarang atau nanti.Selain itu faktor teman bergaul dan masyarakat dapat pula
mempengaruhi prokrastinasi.
Dari pendapat diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa prokrastinasi adalah penundaan
yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan yang
dirasakan berat, tidak disukai dan tidak menyenangkan pada tugas yang diberikan.Dan
prokrastinasi dapat dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal adalah
faktor yang ada dalam diri individu, sedangkan faktor eksternal adalah faktor di luar diri
individu, yang memunculkan perilaku prokrastinasi seseorang semakin meningkat.
Teori Perkembangan Prokrastinasi
a. Psikodinamik
Penganut psikodinamik beranggapa bahwa pengalaman masa kanak-kanak akan
mempengaruhi perkembangan proses kognitif seseorang ketika dewasa, terutama trauma.
Orang yang pernah mengalami trauma akan suatu tugas tertentu, misalnya gagal
menyelesaikan tugas sekolahnya, akan cenderung melakukan prokrastinasi ketika
dihadapkan lagi pada suatu tugas yang sama. Dia akan teringat kepada pengalaman
kegagalan dan perasaan tidak menyenangkan yang pernah dialami.
b. Behavioristik
mendapatkan punishment atas perilaku tersebut. Seorang yang pernah merasakan sukses
dalam melakukan penundaan dalam tugas sekolah, cenderung akan mengulangi lagi
perbuatannya. Sukses yang dia rasakan akan dijadikan reward untuk mengulangi perilaku
yang sama pada masa yang akan datang.
c. Kognitif dan Behavioral-Kognitif
Ellis dan Knaus memberikan penjelasan tentang prokrastinasi dari sudut pandang
cognitive-behavioral.Prokrastinasi terjadi karena adanya keyakinan irasional yang
dimiliki oleh seseorang.Keyakinan irasional tersebut dapat disebabkan suatu kesalahan
dalam mempersepsikan tugas sekolah.Seseorang memandang tugas sebagai sesuatu yang
berat dan tidak menyenangkan.Oleh karena itu, seseorang merasa tidak mampu
menyelesaikan tugasnya secara memadai sehingga menunda-nunda menyelesaikan tugas
tersebut secara memadai.
a. Prokrastinator lebih suka untuk menunda pekerjaan atau tugas- tugasnya.
b. Berpendapat lebih baik mengerjakan nanti dari pada sekarang, danmenundaPekerjaan
adalah bukan suatu masalah.
c. Terus mengulang perilaku prokrastinasi
9 Sarbudin Peran guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi prokrastinasi pada peserta didik di SMA Negeri 2 Kota Bima
Jurnal Guiding World Vol. 03 No. 02. November 2020: Hal 01-21
GUIDING WORLD JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING Volume 03, Nomor 02 November 2020 E-ISSN: 2614-3585
DOI: 1033627
d. Pelaku prokrastinasi akan kesulitan dalam mengambil keputusan.
Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi jadi
siswa yang melakukan prokrastinasi tahu bahwa tugas yang dihadapinya harus segera
diselesaikan, akan tetapi dia menunda-nunda untuk mulai mengerjakannya atau menunda-
nunda untuk menyelesaikan sampai tuntas jika dia sudah mulai mengerjakan sebelumnya.
Keterlambatan dalam mengerjakan tugas, jadi siswa yang melakukan prokrastinasi
memerlukan waktu yang lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan pada umumnya dalam
mengerjakan suatu tugas.
diri secara berlebihan, maupun melakukan hal-hal yang tidak dibutuhkan dalam penyelesaian
suatu tugas, tanpa memperhitungkan keterbatasan waktu yang dimilikinya. Kadang-kadang
tindakan tersebut mengakibatkan seseorang tidak berhasil menyelesaikan tugasnya secara
memadai.Kelambanan, dalam arti lambannya siswa dalam melakukan suatu tugas dapat
menjadi ciri yang utama dalam prokrastinasi.
Kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual, maksudnya siswa yang
melakukan prokrastinasi mempunyai kesulitan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan batas
waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Seorang prokrastinator sering mengalami
keterlambatan dalam memenuhi deadline yang telah ditentukan, baik oleh orang lain maupun
rencana-rencana yang telah ditentukan sendiri. Seseorang mungkin telah merencanakan untuk
mulai mengerjakan tugas pada waktu yang telah ditentukan akan tetapi ketika…