PENUAAN PEMBULUH DARAH

download PENUAAN PEMBULUH DARAH

of 52

  • date post

    31-Dec-2016
  • Category

    Documents

  • view

    224
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PENUAAN PEMBULUH DARAH

  • 12

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Anatomi dan Fisiologi Pembuluh Darah

    2.1.1 Sistem Pembuluh Darah

    Di antara berbagai organ tubuh, pembuluh darah mungkin merupakan salah satu

    organ yang mempunyai peranan penting dan sistemnya sangat kompleks. Dikenal

    dua sistem sirkulasi di mana pembuluh darah memegang peranan utama yaitu:

    sistem sirkulasi sistemik dan sistem sirkulasi paru-paru (Guyton, 2000). Di setiap

    sistem, masing-masing dikelompokkan menjadi 3 sistem yaitu sistem arterial,

    sistem kapiler dan sistem venosa. Aorta adalah pembuluh darah besar bagian dari

    sistem sirkulasi sistemik, yang keluar dari jantung dan berfungsi untuk membawa

    darah jantung yang penuh berisi oksigen ke pembuluh arteri. Dari pembuluh aorta

    yang besar kemudian bercabang menjadi beberapa pembuluh darah arteri yang

    ukurannya lebih kecil dan membawa darah dari percabangan aorta keseluruh

    tubuh, kecuali arteri paru-paru yang berfungsi sebaliknya (Guyton, 2000; High

    beam encyclopedia, 2008; Farlex, 2008). Di target organ, pembuluh darah arteri

    bercabang-cabang dan berakhir menjadi pembuluh darah yang lebih kecil yang

    disebut dengan arteriol. Arteriol bekerja sebagai katup pengatur di mana darah

    dilepaskan ke dalam kapiler. Kapiler adalah pembuluh darah terkecil yang

    berfungsi untuk menukar cairan dan bahan gizi di antara darah dan ruang

    interstisial (Guyton, 2000). Venula mengumpulkan darah dari kapiler-kapiler.

  • 13

    Secara berangsur-angsur mereka bergabung menjadi vena-vena yang makin lama

    makin besar. Vena adalah pembuluh darah yang berfungsi sebagai penyalur yang

    membawa darah dari jaringan kembali ke jantung (Guyton, 2000).

    Secara histoanatomik, ketebalan dinding ketiga sistem ini berbeda, sesuai

    dengan fungsi utamanya masing-masing. Aorta dan pembuluh darah arteri, karena

    fungsinya untuk menyalurkan darah dari jantung ke seluruh tubuh, mengalami

    tekanan yang tinggi. Sehingga pembuluh darah arteri memiliki dinding vaskuler

    yang kuat dan darah mengalir dengan cepat ke jaringan-jaringan.

    Arteriol yang berfungsi sebagai katup pengatur dari sistem arteri, memiliki

    dinding otot yang kuat yang dapat menutup sama sekali arteriol tersebut sehingga

    memungkinkannya untuk berdilatasi beberapa kali, dengan demikian dapat

    mengubah aliran darah ke kapiler.

    Kapiler, karena fungsinya sebagai penukar cairan dan bahan gizi, memiliki

    dinding yang sangat tipis dan permeabel terhadap zat yang bermolekul kecil.

    Selanjutnya dari kapiler darah kemudian berlanjut menuju venula-venula yang

    kemudian bergabung menjadi pembuluh darah vena.

    Vena, karena berfungsi mengalirkan darah kembali ke jantung, memiliki

    tekanan dinding yang sangat rendah dan sebagai akibatnya dinding vena tipis.

    Tetapi walaupun begitu, dinding vena berotot yang memungkinkannya untuk

    mengecil dan membesar, sehingga vena mampu menyimpan darah dalam jumlah

    kecil atau besar tergantung kepada kebutuhan badan.

  • 14

    Tabel 2.1 di bawah ini menunjukkan perbedaan ketebalan dinding

    pembuluh darah, diameter lumen dan luas area sesuai dengan fungsinya dalam

    sistem.

    Tabel. 2.1. Tebal Dinding Pembuluh Darah, Diameter Lumen dan Luas

    Penampang Lintang (Area) Pembuluh Darah

    SISTEM

    PEMBULUH

    DARAH

    TEBAL

    DINDING LUMINAL AREA

    Aorta 2 mm 2.5 cm 4.5 cm2

    Arteri 1 mm 0.4 cm 20 cm2

    Arteriol 20 m 30 m 400 cm2

    Kapiler 1 m 5 m 4500 cm2

    Venol 2 m 20 m 4000 cm2

    Vena 0.5 mm 5 mm 40 cm2

    Vena Kava 1.5 mm 3 cm 18 cm2

    Sumber: Kardiologi Molekuler oleh Baraas F., 2006, hal. 187

    2.1.2 Struktur Dinding Pembuluh Darah

    Dinding pembuluh darah terdiri dari 3 (tiga) lapisan, yaitu: lapisan terdalam yang

    disebut sebagai tunika intima; yang ditengah disebut sebagai tunika media dan

    yang terluar disebut sebagai tunika adventisia (Gambar 2.1). Tunika intima terdiri

    dari selapis sel endotel yang bersentuhan langsung dengan darah yang mengalir

    dalam lumen, dan selapis jaringan elastin yang berpori-pori yang disebut

    membran basalis. Tunika media terdiri dari sel-sel otot polos, jaringan elastin,

    proteoglikan, glikoprotein dan jaringan kolagen. Dalam keadaan biasa, jumlah

    jaringan elastin yang membentuk tunika media aorta dan pembuluh darah besar

    lainnya, lebih menonjol dibandingkan dengan otot polosnya. Sebaliknya di

  • 15

    pembuluh darah arteri lebih banyak dijumpai sel otot polos yang membentuk

    tunika medianya. Perbedaan sel dalam tunika media menjadi tidak jelas (tidak bisa

    dibedakan) bila sudah memasuki arteriol, bahkan tampaknya, dapat dikatakan

    bahwa di dalam arteriol jaringan ikat dari tunika adventisia menjadi lebih dominan

    (Guyton, 2000; Baraas F., 2006).

    Gambar 2.1: Penampang Dinding Pembuluh Darah

    Dalam dinding kapiler pembuluh darah, tidak didapatkan lagi lapisan

    tunika media dan yang ada adalah lapisan sel endotel. Pada sistem venosa,

    komponen tunika jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sistem

    arterial. Tunika media tidak begitu berkembang dan hanya terdapat pada vena

    kava dan pembuluh darah vena besar lainnya. Pada vena-vena kecil dan venol,

    hanya jaringan ikat tuna adventisia yang lebih dominan. Oleh karena itu sistem

    venosa lebih mudah mengalami dilatasi yang ireguler dan menampung pembuluh

    darah paling besar (Guyton, 2000; Baraas F., 2006).

    Sumber: Hast, 2003

  • 16

    Elastin yang bersifat hydrofobik berperan dalam mempertahankan

    elastisitas dinding pembuluh darah, sedangkan jaringan kolagen berperan dalam

    mempertahankan struktur dan bentuk pembuluh darah. Jaringan kolagen pada

    tunika media yang terdiri dari tiga tipe yaitu, tipe I dan tipe II mengandung sel-sel

    fibril dengan diameter 20-90 nm, dan tipe III yang bersifat lebih elastik. Jaringan

    ikat kolagen yang ada dalam tunika intima adalah jaringan kolagen tipe IV,

    sedangkan yang tipe V ada di membran basal. Tunika adventisia yang merupakan

    lapisan terluar bertindak sebagai pelindung dan terdiri dari banyak jaringan ikat,

    saraf otonom, pembuluh darah limfe dan vasa vasorum (Guyton, 2000; Baraas F.,

    2006).

    2.1.3 Sel Endotel

    Lapisan terdalam dari tunika intima, terdiri dari selapis sel yang disebut sel

    endotel. Sel ini berbentuk pipih, poligonal dengan ukuran sekitar 10 x 50 m dan

    tebalnya 1-3 m, dengan sumbu panjang sel sejajar dengan aliran darah (Baraas F.,

    2006). Sel ini berada disemua struktur pembuluh darah mulai dari jantung sampai

    dengan kepiler dan berhubungan langsung dengan aliran darah (Guyton, 2000,

    Bruce A., et al., 2002, Baraas F., 2006).

    Sel endotel berfungsi untuk mengatur aliran darah yang dipompa oleh

    jantung menuju ke seluruh tubuh, begitu juga sebaliknya (Baraas F., 2006),

    memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengadaptasikan dirinya, baik secara

    jumlah maupun kemampuan mengatur untuk tujuan memenuhi kebutuhan lokal

    (Bruce A, et al., 2002). Disamping itu sel ini, bilamana rusak akan mudah diganti

    oleh adanya Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) (Mochida S etal.,

  • 17

    1998), hanya saja diperlukan waktu untuk proses regenerasi tersebut (Reidy etal.,

    1986). Kelebihan inilah yang memberikannya kemampuan untuk memiliki fungsi

    yang berbeda-beda sesuai dengan fungsi metabolik organ yang diembannya

    masing-masing (Baraas F., 2006). Secara umum sel endotel memiliki 3 (tiga)

    fungsi dasar, yaitu: Pertama, endotel berfungsi sebagai garis pertahanan utama

    (barrier) terhadap hampir semua elemen asing yang mencoba invasi ke dalam

    suatu organ; kedua endotel berfungsi sebagai tempat metabolisme dan

    katabolisme senyawa-senyawa tertentu; dan ketiga, sel ini berfungsi sebagai

    tempat sintesis berbagai senyawa vasoaktif yang diperlukan dalam

    mempertahankan tonus pembuluh darah (Bruce, 2002, Bger, 2004), yaitu antara

    lain sintesis berbagai mediator inflamasi, mediator proliferasi sel-sel subendotel

    dan berbabagi faktor hemostasis lainnya (Guyton, 2000; Libby P., et al., 2002;

    Najjar et al., 2005; Baraas F., 2006). Fungsi di atas disebabkan karena peran

    utama sel endotel adalah mengendalikan sifat-sifat arteri seperti tonus vaskuler,

    permeabilitas vaskuler, angiogenesis dan respon terhadap proses inflamasi (Najjar

    et al., 2005)

    Sel endotel mengeluarkan Oksida Nitrit (NO) yang berperan sangat

    penting dalam mempertahankan tonus pembuluh darah khususnya untuk proses

    relaksasi pembuluh darah (Libby P., et al., 2002; Bger, 2004; Najjar et al., 2005;

    Baraas F., 2006). NO merupakan hasil dari proses perubahan L-Arginine menjadi

    sitrulin yang dikatalisis oleh enzym Nitric Oxyde Syntase (NOS) yang termasuk

    dalam kelompok sitokrom P-450. Telah dapat diidentifikasi 3 (tiga) isoform NOS

    yaitu: neuralNOS (nNOS) yang berasal dari kromosom 7, inducible NOS (iNOS)

  • 18

    yang berasal dari kromosom 12 dan endothelial constitutive NOS (ecNOS) yang

    berasal dari kromosom 17 (Baraas F., 2006).

    Gaya gesek pulsatil (shear stress) darah dan dengan adanya ion Ca2+

    dari

    luar sel dapat menyebabkan ecNOS menjadi aktif. Oleh karena itu produksi NO

    oleh sel endotel distimulasi dan dipertahankan oleh faktor-faktor yang dapat

    meningkatkan konsentrasi Ca2+

    intrasel, seperti gaya gesek pulsatil pada