PENGOBATAN TRADISIONAL SEBAGAI PILIHAN UTAMA PENGOBATAN PASIEN

Click here to load reader

  • date post

    15-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    4.653
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of PENGOBATAN TRADISIONAL SEBAGAI PILIHAN UTAMA PENGOBATAN PASIEN

TEACHING HEALTH ETHICS PENGOBATAN TRADISIONAL SEBAGAI PILIHAN UTAMA PENGOBATAN PASIEN

PendahuluanPerkembangan pengobatan kedokteran saat ini semakin mengarah pada pengobatan modern. Berbagai jenis operasi dan penggunaan obat-obatan produksi pabrik semakin meluas. Tentunya perkembangan tersebut terjadi demi semakin membaiknya hasil yang diharapkan. Banyak pasien yang tertolong dengan adanya perkembangan pengobatan tersebut. Meskipun demikian, tentunya terdapat pula efek samping yang ditimbulkan. Hal tersebut membuat masyarakat selaku konsumen dari pengobatan tersebut berpikir ulang dalam memilih jenis pengobatan. Tidak jarang masyarakat memilih pengobatan tradisional yang dianggap memiliki efek samping yang lebih kecil, yang di samping itu juga terdapat keterkaitan dengan kepercayaan yang dimiliki oleh masayarakat. Adapun pengobatan tradisional tersebut merupakan pengobatan dengan cara maupun obat yang mengacu pada pengalaman, ketrampilan turun menurun atau pelatihan yang diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Meskipun sering kali dasar dari pengobatan tradisional tersebut belum jelas dan belum terdapat penelitian yang akurat terhadap metode dan jenis obat yang digunakan, tidak jarang pasien beralih kepada pengobatan tradisional. Pasien menolak diberikan pengobatan secara modern dengan berbagai alasan dan beralih ke pengobatan tradisional meskipun berdasarkan teori akan dapat menimbulkan masalah kesehatan yang lebih lanjut. Di lain pihak, seorang pasienpun memiliki hak untuk memilih pengobatan yang akan digunakannya. Keadaan seperti ini menimbulkan perdebatan atau masalah yang kontroversial hingga saat ini. Kontroversi yang terjadi lebih menitik beratkan pada budaya,1

adat istiadat yang berlaku, etika, bahkan agama. Pelayanan kesehatan modern, dalam hal ini pengobatan modern telah memunculkan dilema-dilema etika yang sangat kompleks dari berbagai sudut pandang. Dokter sering kali tidak dipersiapkan untuk mengelola hal-hal tersebut secara baik (kompeten). Pembahasan mengenai etik akan sangat bermanfaat dalam menghadapi persoalan tersebut. Perlu dilakukan telaah etik dalam menyelesaikan ketidaksepakatan yang terjadi. Bioetika berperanan dalam menyikapi keadaan ini tergantung dari masing-masing individu. Semakin hari pemahaman etika kedokteran merupakan tuntutan yang dipandang semakin perlu. Praktek kedokteran klinik yang baik memerlukan beberapa pengetahuan tentang masalah etika seperti informed consent, kejujuran, kerahasiaan, perawatan akhir hidup, menghilangkan sakit, dan hak pasien. Etik sendiri secara harfiah berasal dari kata Yunani ethos yang berarti adat, budi pekerti. Dari uraian tersebut, maka etika dapat dipahami sebagai ilmu mengenai kesusilaan. Dalam filsafat, pengertian etika adalah telaah dan penilaian kelakuan manusia ditinjau dari kesusilaannya. Kesusilaan yang baik merupakan ukuran kesusilaan yang disusun bagi diri seseorang atau merupakan kumpulan keharusan, kumpulan kewajiban yang dibutuhkan oleh masyarakat atau golongan masyarakat tertentu bagi anggota-anggotanya. Beauchamp dan Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral (moral principle) dan beberapa aturan dibawahnya. Keempat kaidah tersebut adalah :1.

Prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak otonomi pasien (the right to self determination). Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin informed consent.

2.

Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan untuk kebaikan pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar dari pada sisi buruknya.

3.

Prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai primum non nocere atau above all do no harm.

2

4.

Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya. Sedangkan aturan dibawahnya adalah veracity (berbicara benar, jujur dan terbuka),

privacy (menghormati hak privasi pasien), confidentiality (menjaga kerahasiaan pasien) dan fidelity (loyalitas dan promise keeping). Etika kedokteran yang membahas tata susila dokter dalam menjalankan profesinya, khususnya yang berkaitan dengan pasien, semakin menjadi tantangan yang harus digeluti. Sebab tugas profesi kedokteran adalah tugas kemanusiaan yang luhur. Apalagi kesediaan untuk terlibat dan melayani manusia sakit adalah pilihan hidupnya. Ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu: etika jabatan (medical ethics) dan etika asuhan kedokteran (ethics of medical care). Etika jabatan kedokteran menyangkut masalah yang berkaitan dengan sikap para dokter terhadap teman sejawat, para pembantunya serta terhadap masyarakat dan pemerintah. Etika asuhan kedokteran merupakan etika kedokteran untuk kehidupan sehari-hari, yaitu mengenai sikap dan tindakan seorang dokter terhadap penderita yang menjadi tanggungjawabnya. Selain prinsip atau kaidah dasar moral diatas yang harus dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan klinis, profesional kedokteran juga mengenal etika profesi sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku (code of ethical conduct). Nilai-nilai etika profesi tersebut tercermin di dalam sumpah dokter dan kode etik kedokteran. Kode Etik Kedokteran di Indonesia pertama kali disusun tahun 1969 dalam musyawarah kerja Susila Kedokteran yang dilaksanakan di Jakarta. Bahan rujukan yang digunakan adalah Kode Etik Kedokteran Internasional yang telah disempurnakan pada tahun 1968 melalui Muktamar ke-22 Ikatan Dokter Sedunia. Kode Etik tersebut mengalami beberapa kali perubahan, yang terakhir adalah pada musyawarah kerja nasioal IDI XIII, 1993. Secara umum, pada dasarnya manusia memiliki 4 kebutuhan dasar, yaitu : (a) kebutuhan fisiologis yang dipenuhi dengan makanan dan minuman, (b) kebutuhan psikologis yang dipenuhi dengan rasa kepuasan, istirahat, santai, dll, (c) kebutuhan sosial yang dipenuhi melalui keluarga, teman dan komunitas, serta (d) kebutuhan kreatif dan spiritual yang dipenuhi dengan melalui pengetahuan, kebenaran, cinta dan lainnya.3

Kebutuhan-kebutuhan tersebut harus dipenuhi secara berimbang. Apabila seseorang memilih untuk memenuhi kebutuhan tersebut secara tidak berimbang, maka ia telah menentukan secara subyektif apa yang baik bagi dirinya, yang belum tentu baik secara obyektif. Baik disebabkan oleh ketidaktahuan atau akibat kelemahan moral, seseorang dapat saja tidak mempertimbangkan semua kebutuhan tersebut dalam membuat keputusan etik, sehingga berakibat terjadinya konflik di bidang keputusan moral.

Skenario KasusTeaching Health Ethics (Resource Materials from the WHO South-East Asia Region)Learning Scenarios > The physician-patient relationship >Conflict and conflict-solvng

Seseorang yang lebih memilih pengobatan tradisional. Dokter: Pasien ini tinggal di sebuah kota, namun mengalami kecelakaan di kota lain dalam negara yang sama. Ia mengalami trauma pada lututnya. Seorang dokter menemaninya saat dirujuk. Ia tidak memiliki masalah pada pembiayaan karena ditanggung oleh asuransi. Dia dijelaskan bahwa tidak terdapat masalah dan pihak rumah sakit akan menyediakan fasilitas untuk operasi. Namun ia menolak untuk diobati. Saya menjelaskan kepada pasien dan keluarganya, jika tidak diberikan pengobatan, konfigurasi lutut pasien akan berubah dan mengakibatkan gangguan pergerakan. Juga akan timbul nyeri apabila pasien berjalan terlalu jauh. Akan muncul artritis pasca trauma. Deformitas akan terjadi yang dapat menyebabkan pasien tidak bisa berjalan dengan stabil. Ia tetap menolak meskipun sudah dijelaskan semuanya. Ia meminta untuk dikirim ke tempat pengobatan traditional yang terkenal. Keluarganya setuju dengan pendapatnya. Saya tidak mampu untuk mengubah pemikiran mereka, jadi saya membiarkan mereka untuk memutuskannya. Ternyata tempat pengobatan tersebut memiliki pasien yang sangat banyak, melebihi pasien di rumah sakit.

4

Masalah Moral yang TerjadiBagaimana peran dokter dalam hubungan dokter-pasien dalam kasus tersebut? Bagaimana menyikapi hak otonomi pasien dalam memilih pengobatan? Bagaimana sikap anda sebagai dokter bila menghadapi kasus tersebut?

Fakta fakta yang Terjadi2.1 Cedera Lutut Persendian atau artikulasio adalah suatu hubungan antara dua buah tulang atau lebih yang dihubungkan melalui pembungkus jaringan ikat pada bagian luar dan pada bagian dalam terdapat rongga sendi dengan permukaan tulang yang dilapisi oleh tulang rawan. Fungsi dari sendi secara umum adalah untuk melakukan gerakan pada tubuh. Sendi lutut merupakan bagian dari extremitas inferior yang menghubungkan tungkai atas (paha) dengan tungkai bawah. Fungsi dari sendi lutut ini adalah untuk mengatur pergerakan dari kaki. Dan untuk menggerakkan kaki ini juga diperlukan antara lain :a.

Otot- otot yang membantu menggerakkan sendi. jangan lepas bila bergerak.

b. Capsul sendi yang berfungsi untuk melindungi bagian tulang yang bersendi supaya

c. d. e.

Adanya permukaan tulang yang dengan bentuk tertentu yang mengatur luasnya gerakan. Adanya cairan dalam rongga sendi yang berfungsi untuk mengurangi gesekan antara tulang pada permukaan sendi. Ligamentum-ligamentum yang ada di sekitar sendi lutut yang merupakan penghubung kedua buah tulang yang bersendi sehingga tulang menjadi kuat untuk melakukan gerakan-gerakan tubuh.5

Sendi lutut ini termasuk dalam jenis sendi engsel, yaitu pergerakan dua condylus femoris diatas condylus tibiae. Gerakan yang dapat dilakukan oleh sendi ini yaitu gerakan fleksi , ekstensi dan sedikit rotatio. Jika terjadi gerakan yang melebihi kapasitas sendi maka akan dapat menimbulkan cedera yang antara lain terjadi robekan pada kapsul dan ligamentum di sekitar sendi. Tipe-