PENELITIAN PRIORITAS NASIONAL MASTERPLAN prioritas nasional masterplan percepatan dan perluasan...

Click here to load reader

download PENELITIAN PRIORITAS NASIONAL MASTERPLAN prioritas nasional masterplan percepatan dan perluasan pembangunan

of 26

  • date post

    29-Jun-2019
  • Category

    Documents

  • view

    217
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PENELITIAN PRIORITAS NASIONAL MASTERPLAN prioritas nasional masterplan percepatan dan perluasan...

  • 1

    Koridor : Bali-Nusa TenggaraFokus Kegiatan : Pariwisata

    LAPORAN AKHIR (TAHUN I)PENELITIAN PRIORITAS NASIONAL MASTERPLAN PERCEPATAN

    DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA2011-2025 (PENPRINAS MP3EI 2011-2025)

    FOKUS/KORIDOR :PARIWISATA/BALI-NUSA TENGGARA

    TOPIK KEGIATAN

    STRATEGI PENGEMBANGAN SUMBERDAYA GENETIK BUAH-BUAHANLOKAL UNTUK MENINGKATKAN INTEGRASI PERTANIAN

    DENGAN PARIWISATA DI BALI

    TIM PENGUSUL

    Ketua : Prof. Dr. Ir. I Nyoman Rai, M.S. 0015056303Anggota : 1. Dr. Ir. Gede Wijana, M.S. 0007076105

    2. I Putu Sudana, A. Par, M. Par. 00060372043. Ir. I Wayan Wiraatmaja, MP. 0018045908

    Dibiayai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada MasyarakatDirektorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan KebudayaanSesuai dengan Surat Perjanjian Penugasan Pelaksanaan Penelitian Nomor:186/

    UN14.2/PNL.01.03.00/2015/Tanggal 3 Maret 2015

  • 2

  • 3

    DAFTAR ISI

    Halaman

    HALAMAN PENGESAHAN .. 2DAFTAR ISI . 3RINGKASAN ... 4BAB I. PENDAHULUAN .. 5

    1.1. Latar Belakang 51.2. Tujuan . 71.3. Urgensi (Keutamaan Penelitian) . 71.4. Luaran yang ditargetkan . 8

    BAB II. STUDI PUSTAKA 82.1. Sumberdaya Genetik Buah-Buahan Lokal . 92.2. Intergrasi Pertanian dengan Pariwisata .. 10

    BAB III. PETA JALAN PENELITIAN .. 13BAB IV. MANFAAT PENELITIAN . 14BAB V. METODE PENELITIAN . 15BAB VI. HASIL PENELITIAN TAHUN I.. 17

    6.1. Jenis-Jenis Sumberdaya Genetik Buah-Buahan Lokal .. 176.2. Web-site dan Peta Geografis Sumberdaya Genetik Buah-Buahan

    Lokal .. 1456.3. Komoditas Buah Unggulan ..6.4. Musim Panen Buah di Bali 6.5. Kajian Kemasan Paket Agrowisata Berbasis Kegiatan On-farm

    dan Off-farm Agribisnis Buah-Buahan Lokal dan Kaitannya denganDaya Tarik Wisata Sekitarnya

    BAB VII. KESIMPULAN DAN DARAN ..7.1. Kesimpulan 7.2. Saran ..

    DAFTAR PUSTAKA .LAMPIRAN: FOTO-FOTO KEGIATAN .

    187

    191

    193

    225

    225

    226

    227

    236

  • 4

    STRATEGI PENGEMBANGAN SUMBERDAYA GENETIK BUAH-BUAHANLOKAL UNTUK MENINGKATKAN INTEGRASI PERTANIAN

    DENGAN PARIWISATA DI BALI

    Rai, I N*., G. Wijana*, I P. Sudana**, dan I W. Wiraatmaja*

    *) Prodi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian Univ. Udayana, Denpasar, Bali**) Prodi Industri Perjalanan Wisata, Fak. Pariwisata Univ. Udayana, Denpasar, Bali

    Alamat Korespondensi/E-mail:inrai_fpunud@yahoo.com

    RINGKASAN

    Pesatnya perkembangan pariwisata di Bali memunculkan masalah baru yaitu semakinterdesaknya sektor pertanian. Untuk menghindari semakin tidak seimbangnya perkembanganpariwisata dan pertanian dikembangkanlah model pembangunan pertanian terintegrasidengan pariwisata. Penelitian ini bertujuan melakukan identifikasi dan telaah pemanfaatansumber daya genetik buah-buahan lokal untuk meningkatkan integrasi pertanian danpariwisata di Bali. Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2015 diseluruhkabupaten/kota di Bali, menggunakan metode eksplorasi dan survey untuk mengidentifikasijenis-jenis sumberdaya genetik buah-buahan lokal, lokasi persebarannya, danpenggunaannya untuk kegiatan pariwisata. Batasan/definisi buah lokal dalam penelitian iniadalah sesuai dengan bunyi Pasal 1 Ayat 6 Perda Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2013tentang Perlindungan Buah Lokal, bahwa buah lokal adalah semua jenis buah-buahan yangdikembangkan, dibudidayakan, dan tumbuh di Bali. Hasil penelitian menunjukkanteridentifikasi lebih dari 40 jenis dan 150 sub-jenis buah-buahan lokal, baik yangdibudidayakan secara komersial maupun yang tidak/belum dibudidayakan dan buah-buahanlangka. Lokasi tumbuhnya sebagian besar tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota di Baliseperti jeruk Bali, salak, pisang, wani, mangga, manggis, durian, jambu biji, dan nangka,tetapi banyak pula yang hanya dibudidayakan atau tumbuh pada lokasi spesifik tertentuseperti strowberi, kawista, jeruk Kintamani, anggur, leci, dan badung. Ketersediaanproduksi buah-buahan lokal tersebut umumnya masih bersifat musiman, dengan musimpanen dominan dari bulan Desember sampai Maret, kecuali buah-buahan tertentu sepertistrowberi, jambu biji, pisang, papaya, dan nangka, baik karena sifat tanamannya sendiri yangberbuah tidak mengenal musim maupun karena telah diterapkannya teknologi produksi diluar musim. Produksi buah-buahan lokal Bali dimanfaatkan sebagai komoditas ekspor,perdagangan antar pulau, konsumsi lokal, memenuhi keperluan ritual adat dan budaya danpasar pariwisata. Pemanfaatan untuk kegiatan pariwisata masih relatif kecil, yaitu dalambentuk: (1) hasil buah untuk konsumsi segar (fresh fruit) seperti salak, wani, pisang,mangga, jeruk, dan manggis; (2) hasil buah untuk bahan juice (markisa, mangga, melon,strowberi, wani); (3) hasil buah untuk bahan wine (salak, anggur), (4) bagian buah, daun,atau bagian lainnya untuk massage/Spa (jeruk lemon, nenas, alpokat, papaya, strowberi,belimbing wuluh); dan (5) kebun buah-buahan untuk agrowisata (strowberi, salak, jeruk, danmanggis). Berdasarkan hasil penelitian ini perlu ada upaya nyata meningkatkanpemanfaatan buah-buahan lokal untuk kegiatan pariwisata agar kesejahteraan masyarakatpetani di Bali semakin meningkat.

  • 5

    BAB I. PENDAHULUAN

    1.1. Latar Belakang

    Provinsi Bali masih menjadi tujuan wisata utama di Indonesia. Berkembang pesatnya

    sektor pariwisata memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi perekonomian Bali,

    ditunjukkan oleh tingginya kontribusi sektor pariwisata, hotel dan restoran terhadap PDRB

    Bali yaitu mencapai 29,89% selama 3 tahun terakhir (2010-2012), sementara kontribusi

    sektor pertanian pada periode yang sama hanya mencapai 19,17% (BPS Bali, 2013).

    Komersialisme Bali yang menonjolkan pariwisata secara berlebihan berdampak pada

    tidak berkembangnya ekonomi Bali yang lain secara seimbang, terutama sektor pertanian.

    Perkembangan yang asimetris dengan dominasi sektor pariwisata telah berdampak pada

    termarginalisasinya partanian, padahal pertanian bukan saja sebagai pilar penting dalam

    mendukung keberhasilan pariwisata, tetapi juga sebagai sektor strategis yang harus tetap

    dijaga karena merupakan hajat hidup bagi sebagian besar masyarakat Bali dan instrument

    penting dalam menjaga keberlanjutan parwisata. Disadari atau tidak, sesungguhnya

    pariwisata Bali sangat tergantung pada pertanian. Bali dikenal dan dikagumi karena nilai

    budaya agrarisnya yang unik dan kondisi alamnya yang menarik. Keunikan budaya dan

    keindahan tersebut akan tetap terjaga apabila pertanian tetap terjaga, dan ini akan bisa

    tercapai apabila pertanian itu sendiri memberi kesejahteraan bagi masyarakatnya. Oleh

    karena itu, dikembangkanlah model pembangunan partanian disinergikan dengan pariwisata.

    Goodwin (2000) mengemukakan bahwa sinergi pembangunan pertanian dengan pariwisata

    dimaksudkan agar sektor pariwisata memberikan multiplier effect kepada para pelaku sektor

    pertanian sehingga kesejahteraan pelaku pertanian meningkat, sekaligus mampu mendukung

    pemberdayaan dan keberlanjutan sistem pertanian.

    Integrasi pertanian dengan pariwisata di Bali sejak satu dekade terakhir telah

    dikembangkan dalam berbagai bentuk seperti pengembangan pariwisata pada sistem subak,

    pemanfaatan view dan aktivistas pertanian (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan,

    peternakan, dan perikanan) untuk agrowisata atau agro-ekowisata, dan lain-lain. Kegiatan

    tersebut telah memberikan dampak positif terhadap pendapatan ekonomi petani sekaligus

  • 6

    tumbuhnya persespi positif terhadap pariwisata dikalangan masyarakat pedesaan (Windia at

    al., 2008; Sumiyati, 2011). Oleh karena itu, model pembangunan pertanian terintegrasi

    dengan pariwisata perlu didorong terus implementasinya melalui pendekatan sinergis-

    komplementaris agar terjadi hubungan saling menguntungkan (simbisosis mutualistik).

    Dengan semakin meningkatnya integrasi pertanian dengan pariwisata, dalam jangka panjang

    diharapkan pariwisata Bali berfungsi sebagai pendorong pertanian untuk meningkatkan

    kuantitas, kualitas dan kontinyuitas produk, sekaligus mendorong pertanian untuk

    melestarikan lingkungan dalam rangka mewujudkan green tourism dan sustainable tourism

    di Bali (Insani, 2012).

    Sumberdaya genetik buah-buahan lokal merupakan salah satu potensi besar yang

    belum digarap dalam rangka mewujudkan integrasi pertanian dengan pariwisata. Bali kaya

    akan sumberdaya genetik buah lokal, namun kekayaan tersebut belum diberdayakan secara

    optimal. Buah-buahan di Bali tidak hanya bernilai ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan

    konsumsi, tetapi juga bernilai sosial budaya untuk kegiatan ritual keagamaan, untuk bahan

    Spa (massage), perdagangan antar pulau, dan ekspor. Namun saat ini pamor buah lokal

    kalah jauh dibandingkan buah impor. baik untuk konsumsi maupun untuk kegiatan ritual.

    Terdesaknya keberadaan buah-buahan lokal mendorong DPRD Provinsi Bali bersama

    eksekutif membuat regulasi dengan menyusun Perda Perlindungan Buah Lokal (DPRD Bali,

    2013), yang saat ini draft perda tersebut sedang dikonsultasikan dengan pemerintah pusat.

    Salah satu hal penting yang tersurat dalam Draft Perda Perlindungan Buah Lokal

    tersebut adalah perlunya Pemerintah Provinsi Bali melakukan penguatan, permberdayaan

    dan perlindungan terhadap sumberdaya genetik dan produk buah lokal melalui kegiatan

    integrasi dengan pariwisata. Penelitian ini merupakan salah satu tindak lanjut melaksanakan

    amanat Draft Perda Perlindungan Buah lokal dengan tujuan untuk mendapatkan rumusan

    strategi pengembangan sumberdaya genetik buah-buahan lokal untuk meningkatkan

    integrasi pertanian dengan pariwisata di Bali.

  • 7

    1.2. Tujuan

    Tujuan utam