PENDAHULUAN - etd. abad ke -9 terdapat terjemahan -terjemahan dalam bahasa Jerman, Slav dan Frank....

download PENDAHULUAN - etd. abad ke -9 terdapat terjemahan -terjemahan dalam bahasa Jerman, Slav dan Frank. Terjemahan

of 84

  • date post

    03-Apr-2019
  • Category

    Documents

  • view

    230
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PENDAHULUAN - etd. abad ke -9 terdapat terjemahan -terjemahan dalam bahasa Jerman, Slav dan Frank....

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Cara seseorang menginterpretasikan sebuah ungkapan berlatar budaya asing

akan sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang sudah dijiwainya sebagai bagian dari

kebudayaannya. Jika seseorang dihadapkan pada budaya yang belum dikenalnya, ia

cenderung menilai kebudayaan itu dengan kaca mata budayanya sendiri. (Ihroni,

1984:57). Pendapat ini tidak berlebihan karena dalam kehidupan masyarakat terdapat

sistem nilai budaya, dalam sistem nilai budaya itu terdapat norma-norma, dan norma-

norma itu mempengaruhi pola pikir, serta pola pikir itulah yang melandasi pola

tindakan (Sayogya, 1982:99).

Di antara banyak sumber tatanilai yang ada di masyarakat, Alkitab adalah

salah satu yang spesifik dan bernilai kualitatif. Alkitab tidak saja merupakan sumber

tatanilai dan tatanorma yang urgensinya sudah jelas di masyarakat, tetapi juga

merupakan karya terjemahan yang sarat dengan muatan nilai sosiokultural, yaitu nilai

budaya religi. Brislin menyatakan bahwa Alkitab bukan buku biasa. Di dalamnya

terdapat begitu banyak karya literer yang variatif seperti legenda, sage, puisi,

rumusan hukum, biografi, dan surat yang ditulis dalam satu rangkaian sejarah yang

panjang (Brislin, 1976:279).

Sebagai sumber acuan tata nilai, Alkitab dipakai masyarakat dari zaman ke

zaman, berjalan menurut garis sejarah. Alkitab adalah buku yang paling banyak

2

diterbitkan dan paling luas dibaca di dunia. Alkitab adalah buku yang paling banyak

diterjemahkan di planet ini (Kennedy & Jerry Newcombe, 1999: 18). Menurut

catatan resmi Perserikatan Lembaga-lembaga Alkitab Sedunia (United Bible

Sicieties), pada tahun 1800 hanya ada 68 bahasa di dunia yang memiliki terjemahan

Alkitab, Perjanjian Baru atau salah satu buku dari Alkitab. Akan tetapi, pada akhir

tahun 1992, telah tersedia terjemahan Alkitab dalam 2012 bahasa di dunia dengan

perincian sebagai berikut. (a) 333 bahasa memiliki terjemahan Alkitab, (b) 769

bahasa memiliki terjemahan Perjanjian Baru, dan (c) 916 bahasa memiliki terjemahan

salah satu buku dari Alkitab, termasuk di dalamnya terjemahan Alkitab dalam 134

bahasa di Indonesia, yang terdiri atas 17 Alkitab, 27 Perjanjian Baru, dan 90 bagian

Alkitab. Ini berarti Alkitab merupakan satu-satunya buku yang paling banyak

diterjemahkan di jagad ini. Bahkan pada saat ini, 110 Lembaga-lembaga Alkitab di

seluruh dunia yang tergabung dalam United Bible Societies, berpartisipasi aktif dalam

usaha penerjemahan Alkitab ke dalam 624 bahasa di dunia, termasuk di dalamnya

426 bahasa yang sebelumnya tidak pernah memiliki terjemahan Alkitab maupun

bagiannya (Latuihamallo, 1994: 11).

Penerjemahan Alkitab sudah dilakukan selama ribuan tahun, Menurut

Latuihamallo (1994: 11-13), secara garis besar perkembangan penerjemahan Alkitab

dapat dibedakan menjadi empat periode sebagai berikut.

3

(1) Periode tahun 200 SM 400 M

Pada periode ini, yang paling berperan dalam penerjemahan Alkitab adalah

kaum Yahudi. Kitab Torah, yaitu kelima kitab pertama (Kejadian, Keluaran, imamat,

Bilangan, dan Ulangan) merupakan bagian Alkitab Ibrani yang pertama-tama

diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani yang merupakan bahasa pengantar pada

zaman Helenisme. Setelah penerjemahan Kitab Torah, menyusul terjemahan bagian-

bagian Alkitab yang lain sehingga lengkaplah seluruhnya, yaitu Perjanjian Lama bagi

orang Kristen. Selanjutnya pada abad ke -2 M, tersedia terjemahan Alkitab dalam

bahasa Latin dan bahasa Siria (sekarang Suria). Pada abad ke -3 M tersedia

terjemahan bahasa Koptik (sekarang Mesir). Pada abad ke-4 M telah terdapat

terjemahan Alkitab dalam bahasa Etiopi (sekarang Etiopia), bahasa Gotik (sekarang

Jerman), dan bahasa Georgia (sekarang Kaukasus).

(2) Periode 400 M 1500 M

Periode ini ditandai oleh kegiatan penerjemahan Alkitab oleh umat Kristiani

(Katolik) dalam bahasa Yunani dan khususnya bahasa Latin. Sekitar tahun 400,

disiapkan terjemahan Alkitab Latin yang disebut Vulgata (artinya untuk semua

orang). Terjemahan itu dikerjakan berdasarkan teks asli Alkitab. Penerjemahnya

adalah Jerome (Hieronymus), seorang imam dan ahli bahasa yang ditugaskan oleh

Paus Damasus I untuk mengerjakan terjemahan itu. Alkitab Vulgata menjadi Alkitab

resmi lebih dari 1000 tahun, dan masih dipergunakan sampai sekarang. Untuk jangka

waktu yang cukup lama, yaitu sampai dengan era Reformasi, teks Vulgata yang

4

diterjemahkan oleh Jerome dipakai sebagai teks dasar terjemahan. Kemudian pada

abad ke-5, 6, dan 7 berturut-turut tersedia terjemahan Alkitab dalam bahasa Armenia,

bahasa Nubia (sekarang Sudan), dan bahasa Arab. Pada abad ke-8 disediakan

terjemahan-terjemahan dalam bahasa Inggris kuno (Anglo-Saxon) oleh Caedmon dan

Bede. Pada abad ke-9 terdapat terjemahan-terjemahan dalam bahasa Jerman, Slav dan

Frank. Terjemahan dalam bahasa Perancis disiapkan pada abad ke-12 dan

terjemahan-terjemahan dalam bahasa Spanyol, Italia, Belanda, Polandia, dan Islandia

disiapkan pada abad ke13. Pada abad ke-14 tersedia terjemahan-terjemahan dalam

bahasa Inggris, bahasa Persia (Iran), bahasa Ceko dan bahasa Denmark. Pada tahun

1384 John Wycliffe selesai menerjemahkan Alkitab dari bahasa Latin Vulgata ke

dalam bahasa Inggris. Inilah terjemahan Alkitab yang pertama dalam bahasa Inggris

sehari-hari pada waktu itu. Karena keberaniannya dan prakarsanya yang tidak lazim

pada zaman itu, ia dikecam sebagai orang sesat.

(3) Periode tahun 1500 M 1960 M

Sejak tahun 1500 sampai dengan tahun 1960, umat Protestanlah yang paling

giat dalam usaha penerjemahan Alkitab, khususnya terjemahan ke dalam bahasa-

bahasa di Eropa. Pada akhir abad ke-15 dan permulaan abad ke-16, Johannes

Reuchlin (untuk Perjanjian Lama) dan Desiderius Erasmus (untuk Perjanjian Baru)

menghidupkan kembali usaha penerjemahan Alkitab berdasarkan naskah dalam

bahasa aslinya. Pada abad ke-16, tokoh-tokoh reformator gereja juga menyadari

bahwa Alkitab hanya dapat dipahami jika diterjemahkan ke dalam bahasa

5

pembaca/pendengarnya. Maka Martin Luther menerjemahkan Alkitab ke dalam

bahasa Jerman sehari-hari bagi penutur bahasa Jerman. Alkitab bahasa Inggris yang

pertama dicetak adalah Coverdale Bible (1535) yang diterjemahkan oleh Miles

Coverdale berdasarkan Vulgata, Luther Bible dan Tyndale Bible. Terjemahan ini

dipersembahkan kepada raja Inggris dan menjadi terjemahan resmi. Selanjutnya pada

tahun 1611 diedarkan satu Alkitab edisi ekumenis dalam bahasa Inggris yang dikenal

sebagai King James Version (Authorized Version) yang penerjemahannya dilakukan

oleh 50 orang atas perintah Raja James dari Inggris. King James Bible hingga

sekarang telah direvisi untuk kelima kalinya. Pada periode ini disiapkan terjemahan-

terjemahan ke dalam bahasa Melayu/Indonesia, antara lain Matius oleh A.C.Ruyl

(1629), Perjanjian Baru oleh D.Brouwerius (1668), Alkitab oleh M.Leijdecker

(1733), Perjanjian Baru oleh J.Emde (1835),dan Alkitab oleh H.C.Klinkert (1879).

Pada hakekatnya selama tiga periode itu metode penerjemahan Alkitab yang dominan

adalah metode penerjemahan harfiah (kata-demi-kata) yang lebih mementingkan

pengalihan bentuk bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran.

(4) Periode tahun 1960 sekarang.

Periode ini merupakan masa kerja sama antara umat Yahudi, Katolik, dan

Protestan dalam usaha penerjemahan Alkitab. Ditandai oleh perubahan metode

penerjemahan Alkitab yang lebih mengarah pada penekanan komunikasi makna teks

dari bahasa asli ke dalam bahasa sasaran yang umum dan wajar, dan tidak lagi terikat

pada bentuk-bentuk bahasa aslinya. Hal ini dibenarkan oleh Prof. Harry Orlinsky dari

6

Hebrew Union College Jewish Institute of Religion, New York. Metode

penerjemahan Alkitab yang paling menonjol pada periode ini adalah metode Dinamis

atau Fungsional yang dipopulerkan oleh Dr. Eugene Nida. Bahkan Prof. Donald

Carson dari Trinity Evangelical Divinity School, Deerfield, Illinois, menilai bahwa

metode Dinamis atau Fungsional telah menjadi teladan yang terkemuka dalam bidang

penerjemahan Alkitab. Dan yang menonjol peranannya dalam usaha penerjemahan

Alkitab pada periode ini adalah penutur asli bahasa sasaran, yaitu penutur bahasa ibu

menjadi penerjemah utama di seluruh dunia. Dan usaha penerjemahan Alkitab ke

dalam berbagai bahasa nasional dan bahasa daerah di seluruh dunia telah menjadi

kerangka acuan untuk mengembangkan teologi setempat yang kontekstual seperti

yang dikembangkan oleh Samuel Escobar, Kosuke Koyama, dan lain-lain. Di

Indonesia juga terdapat terjemahan ekumenis seperti Alkitab Terjemahan Baru

(1974), Alkitab Kabar Baik dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari (1985), dan Alkitab

dalam berbagai bahasa daerah di Nusantara yang dikerjakan oleh Lembaga Alkitab

Indonesia dalam kerja sama dengan Lembaga Biblika Indonesia/Konferensi Wali

gereja Indonesia.

Alkitab digunakan oleh bangsa-bangsa di dunia yang berbeda budaya dan

bahasanya, dengan demikian penerjemahannya pun akhirnya tidak dapat dielakkan.

Di Indonesia, hakikat