Obsesive Compulsive

download Obsesive Compulsive

of 26

  • date post

    11-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    23
  • download

    8

Embed Size (px)

Transcript of Obsesive Compulsive

Referat

Referat

GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF

Oleh:

Annisa Nanda Putri, S.Ked04101401029Arzi Larga Guphta, S.Ked04101401039

Pembimbing :dr. Puji

BAGIAN ILMU PSIKIATRIFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA2015

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Laporan Kasus:GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF

Oleh:Annisa Nanda Putri, S.Ked04101401029Arzi Larga Guphta, S.Ked04101401039

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti ujian kepaniteraan klinik senior di Bagian Ilmu Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Periode 22 Juli 2015 24 Agustus 2015

Palembang, Agustus 2015Pembimbing,

dr. Puji

BAB IPENDAHULUANGangguan Obsesif-kompulsif (Obsessive Compulsive Disorder OCD) adalah gangguan kecemasan yang ditandai oleh pikiran-pikiran obsesif yang persisten dan disertai tindakan kompulsif. Kondisi dimana individu tidak mampu mengontrol dari pikiran-pikirannya yang menjadi obsesi yang sebenarnya tidak diharapkannya dan mengulang beberapa kali perbuatan tertentu untuk dapat mengontrol pikirannya tersebut untuk menurunkan tingkat kecemasannya.1 Penderita mengetahui bahwa perbuatan dan pikirannya itu tidak masuk akal, tidak pada tempatnya atau tidak sesuai dengan keadaan, tetapi ia tidak apat menghilangkannya dan juga ia juga tidak mengerti mengapa ia mempunyai dorongan yang begitu kuat untuk berbuat dan berpikir demikian. Bila tidak menurutinya, maka akan timbul kecemasan yang hebat.2Gangguan Obsesif-kompulsif membutuhkan adanya obsesi atau kompulsi yang merupakan sumber gangguan atau kerusakan yang signifikan dan bukan karena gangguan mental lainnya.3 Gannguan Obsesif-kompulsif diklasifikasikan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision (DSM-IV-TR) sebagai gangguan kecemasan.3Gangguan obsesif kompulsif menduduki peringkat keempat dari gangguan jiwa setelah fobia, gangguan penyalahgunaan zat dan gangguan depresi berat.4 Kebanyakan pasien dengan gangguan obsesif kompulsif datang ke beberapa dokter sebelum mereka ke psikiater dan umumnya 9 tahun mendapat terapi, baru kemudian mendapat diagnosis yang benar.5 Hal ini menunjukkan bahwa dokter selain psikiater penting untuk mendapat diagnosis yang benar. Referat ini disusun untuk menambah pengetahuan mengenai definisi, epidemiologi, etiologi, cara mendiagnosis, gambaran klinis, pemeriksaan status mental, diagnosis banding, penatalaksanaan dan prognosis gangguan obsesif kompulsif, agar membantu dokter menentukan diagnosis dan memberikan tatalaksana yang baik kepada pasien.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi6Menurut Davison dan Neale, gangguan obsesif kompulsif adalah gangguan cemas, dimana pikiran seseorang dipenuhi oleh gagasan-gagasan yang menetap dan tidak terkontrol, dan ia dipaksa untuk melakukan tindakan tertentu berulang-ulang, sehingga menimbulkan stress dan mengganggu fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.Dalam DSM-IV TR obsesi didefinisikan sebagai berikut :1. Pikiran, impuls, atau bayangan yang berulang-ulang dan menetap yang dialami, pada suatu saat selama gangguan, dirasakan mengganggu dan tidak sesuai, dan menyebabkan kecemasan dan penderitaan yang jelas.2. Pikiran, impuls, atau bayangan tidak hanya kekhawatiran berlebihan tentang masalah kehidupan yang nyata3. Orang berusaha untuk mengabaikan atau menekan pikiran, impuls, atau bayangan tersebut untuk menetralkannya dengan pikiran atau tindakan lain.4. Orang menyadari bahwa pikiran, impuls, atau bayangan obsesional adalah hasil dari pikirannya sendiri (tidak disebabkan dari luar seperti penyisipan pikiran)Pengertian obsesi menurut Kaplan, et all., adalah pikiran, ide atau sensasi yang muncul secara berulang-ulang. Menurut Davison & Neale, hal-hal tersebut muncul tanpa dapat dicegah, dan individu merasakannya sebagai hal yang tidak rasional dan tidak dapat dikontrol.Sedangkan kompulsi menurut Davison & Neale adalah perilaku atau tindakan mental yang berulang, dimana individu merasa didorong untuk menampilkannya agar mengurangi stres. Dalam DSM-IV TR mendefinisikan kompulsi sebagai berikut :a. Perilaku berulang (misalnya, mencuci tangan, mengurutkan, memeriksa) atau tindakan mental (misalnya berdoa, menghitung, mengulangi kata-kata dalam hati) yang dirasakannya mendorong untuk melakukan sebagai respon terhadap suatu obsesi, atau menurut dengan aturan yang harus dipenuhi secara kaku. b. Perilaku atau tindakan mental ditujukan untuk mencegah atau mengurangi penderitaan atau mencegah suatu kejadian atau situasi yang menakutkan, akan tetapi, perilaku atau tindakan mental tersebut tidak dihubungkan dengan cara yang realistik dengan apa yang mereka maksudkan untuk menetralkan atau mencegah, atau secara jelas berlebihan.Sejalan dengan Fa, dkk; Steketee & Barlow (Durand & Barlow, 2006), kompulsi dapat berbentuk perilaku (misalnya mencuci tangan, memeriksa keadaan) atau mental (memikirkan tentang kata-kata tertentu dengan urutan tertentu, menghitung, berdoa dan seterusnya).Dari berbagai definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa gangguan obsesif kompulsif adalah gangguan cemas, dimana pikiran seseorang dipenuhi oleh gagasan-gagasan yang menetap dan tidak terkontrol, dan ia dipaksa untuk melakukan tindakan tertentu berulang-ulang, sehingga menimbulkan stress dan mengganggu fungsinya dalam kehidupan sehari-hari (Fausiah & Widury, 2007).

2.2 EpidemiologiSetelah diyakini langka, gangguan Obsesif-kompulsif memiliki prevalensi seumur hidup sebesar 2,5% dalam studi ECA (Epidemiological Catchment Area). Perkiraan terbaru tentang prevalensi seumur hidup umumnya berada pada kisaran 1,7-4%.4 Penelitian ECA menemukan bahwa gangguan Obsesif-kompulsif adalah gangguan kejiwaan yang tersering keempat (setelah fobia, gangguan penggunaan narkoba dan gangguan depresif mayor).4Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2 sampai 3 persen. Beberapa peneliti memperkirakan bahwa gangguan obsesif-kompulsif ditemukan pada sebanyak 10 persen pasien rawat jalan di klinik psikiatrik. Angka tersebut menyebabkan gangguan obsesif-kompulsif sebagai diagnosis psikiatrik tersering keempat setelah fobia, gangguan yang berhubungan dengan zat, dan gangguan depresif berat. 4Untuk orang dewasa, laki-laki dan perempuan sama mungkin terkena, tetapi untuk remaja, laki-laki lebih sering terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan perempuan. Usia onset rata-rata adalah kira-kira 20 tahun. Secara keseluruhan, kira-kira dua pertiga dari pasien memiliki onset gejala sebelum usia 25 tahun, dan kurang dari 15 persen pasien memiliki onset gejala setelah usia 35 tahun. Orang yang hidup sendirian lebih banyak terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan orang yang menikah. Gangguan obsesif-kompulsif ditemukan lebih jarang diantara golongan kulit hitam dibandingkan kulit putih. 4Pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif umumnya dipengaruhi oleh gangguan mental lain. Prevalensi seumur hidup untuk gangguan depresif berat pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah kira-kira 67 persen dan untuk fobia sosial adalah kira-kira 25 persen. Diagnosis psikiatrik komorbid lainnya pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan penggunaan alkohol, fobia spesifik, gangguan panik, dan gangguan makan. 4Pada beberapa pasien, gangguan ini dimulai pada masa pubertas atau sebelumnya, timbulnya gangguan obsesif-kompulsif saat remaja umumnya terjadi pada laki-laki. Pasien lain dapat memiliki onset dikemudian hari, misalnya, setelah kehamilan, keguguran, atau selama proses melahirkan. Biasanya pasien dengan gangguan Obsesif-kompulsif mengunjungi 3 sampai 4 dokter dan menghabiskan waktu lebih dari 9 tahun untuk mencari pengobatan sebelum akhirnya didiagnosis dengan benar. Pasien juga mungkin merasa malu untuk mengunjungi dokter, atau mungkin tidak menyadari bahwa bantuan tersedia, dalam satu survei, sehingga jeda waktu dari onset gejala menuju ke diagnosis yang benar adalah 17 tahun.4

2. 3. Etiologia. Faktor BiologisNeurotransmiter. Davison & Neale menjelaskan bahwa salah satu penjelasan yang mungkin tentang gangguan obsesif-kompulsif adalah keterlibatan neurotransmitter di otak, khususnya kurangnya jumlah serotonin.7Data menunjukkan bahwa obat serotonergik lebih efektif dibandingkan obat lain yang mempengaruhi sistem neurotransmiter lain. Tetapi apakah serotonin terlibat di dalam penyebab gangguan obsesif-kompulsif belum jelas4 Penelitian pencitraan otak. Berbagai penelitian pencitraan otak fungsional, sebagai contoh PET ( positron emission tomography), telah menemukan peningkatan aktifitas (sebagai contoh, metabolisme dan aliran darah) di lobus frontalis, ganglia basalis (khususnya kaudata), dan singulum pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Baik tomografi komputer (CT scan) dan pencitraan resonansi magnetik (MRI) telah menemukan adanya penurunan ukuran kaudata secara biateral pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. Baik penelitian pencitraan otak fungsional maupun struktural konsisten dengan pengamatan bahwa prosedur neurologis yang melibatkan singulum kadang-kadang efektif dalam pengobatan pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. Suatu penelitian MRI baru-baru ini melaporkan peningkatan waktu relaksasi T1 di korteks frontalis. 4

Genetika. Penelitian kesesuaiaan pada anak kembar untuk gangguan obsesif-kompulsif telah secara konsisten menemukan adanya angka kesesuaian yang lebih tinggi secara bermakna pada kembar monozigotik dibandingkan kembar dizigotik. Penelitian keluarga pada pasien gangguan obsesif kompulsif telah menemukan bahwa 35 persen sanak saudara derajat pertama pasien gangguan obsesif-kompulsif juga menderita gangguan. 4

Data biologis lainnya. Penelitian elektrofisiologis, penelitian elektroensefalogram (EEG) tidur, dan penelitian neuroendokrin telah menyumbang data yang menyatakan adanya kesamaan antara gangguan depresif dan gangguan obsesif-kompulsi