MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL

Click here to load reader

  • date post

    25-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL

SISWA KELAS III SD INPRES BUTTATIANANG
SKRIPSI
Sarjana Pendidikan pada Program Pendidikan S.1 Jurusan Pendidikan
Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Makassar
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
2020
vi
ii
vii
iii
viii
iv
ix
v
x
(Reskiati)
xi
ABSTRAK
Melalui Penggunaan Media Sempoa Siswa Kelas III SD Inpres Buttatianang.
Skripsi. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh Andi
Husniati dan Kristiawati.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan
soal berhitung melalui penggunaan media sempoa pada siswa kelas III SD Inpres
Buttatianang. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Penelitian Tindakan Sederhana (PTS). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa
kelas III SD Inpres Buttatianang yang berjumlah 3 siswa. Penelitian ini diadakan
dalam 2 (dua) siklus dan setiap siklusnya dilaksanakan sebanyak empat kali
pertemuan termasuk tes akhir setiap siklus. Data-data mengenai hasil belajar
siswa dan aktivitas siswa dianalisis dengan menggunakan analisis statistik
deskriptif dan analisis kualitatif.
Hasil penelitian setelah pelaksanaan tindakan selama 2 (dua) siklus yaitu;
(a) Meningkatnya hasil belajar matematika materi operasi hitung bilangan
penjumlahan dan pengurangan kelas III SD Inpres Buttatianang setelah
diterapkannya penggunaan media sempoa dimana pada siklus I diperoleh skor
rata-rata sebesar 51,67% berada pada kategori rendah. Pada siklus II diperoleh
skor rata-rata sebesar 83,33 pada siklus II berada pada kategori sedang. (b)
Meningkatnya keaktifan dan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar sesuai
dengan lembar observasi yang dilakukan selama penelitian.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan media
sempoa dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal berhitung siswa
kelas III SD Inpres Buttatianang.
Kata Kunci: Media Sempoa, Berhitung.
xii
Segala puji hanya milik Allah SWT.Shalawat dan salam selalu tercurahkan
kepada Rasulullah SAW.Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu
menyelesaikan skripsi dengan judul “MENINGKATKAN KEMAMPUAN
MENYELESAIKAN SOAL BERHITUNG MELALUI PENGGUNAAN MEDIA
SEMPOA SISWA KELAS III SD INPRES BUTTATIANANG”. Skripsi ini
disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana
pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.
Manusia memang diciptakan paling mulia di antara yang lain, namun
bukan berarti dia juga sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik-Nya, tetapi jika
kita dapat menerima kekurangan menjadi kelebihan, itulah kesempurnaan yang
sesungguhnya. Demikian juga dengan skripsi ini, kehendak hati ingin mencapai
kesempurnaan, tetapi kapasitas penulis dalam keterbatasan. Segala daya dan
upaya telah penulis kerahkan untuk membuat skripsi ini selesai dengan baik dan
bermanfaat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam ruang lingkup Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.
Dalam penyusunan skripsi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan proposal skripsi
ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan dari berbagai pihak.
Karena itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
xiii
1. Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., selaku Rektor Universitas
Muhammadiyah Makassar.
2. Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Aliem Bahri, S.Pd., M.Pd., selaku ketua Program Studi Pendidikan
Guru Sekolah Dasar serta seluruh dosen dan para staf pegawai dalam
lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas
Muhammadiyah Makassar.
5. Kristiawati, S.Pd., M.Pd., selaku Dosen Pembimbing II.
6. Kedua orang tuaku Bapak Ahmad dan Ibunda Mardiana yang tak
hentinya berdoa, berjuang, mengasuh, mendidik, dan membiayai
penulis dalam menggapai pendidikan yang terbaik.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa
mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, demi perbaikan pembuatan
proposal skripsi saya di masayang akan datang. Mudah-mudahan dapat memberi
manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi penulis.
Makassar, Oktober 2020
3. Rumusan Masalah............................................................................. 5
C. Tujuan Penelitian..................................................................................... 6
D. Manfaat Penelitian................................................................................... 6
B. Kerangka Pikir ...................................................................................... 24
C. Faktor yang Diselidiki .......................................................................... 27
D. Prosedur Penelitian ............................................................................... 28
E. Instrumen Penelitian ............................................................................. 30
H. Indikator Keberhasilan .......................................................................... 35
A. Hasil Penelitian ..................................................................................... 36
A. Simpulan ............................................................................................... 54
B. Saran ..................................................................................................... 55
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 57
Tabel 3.1 Standar Ketuntasan Hasil Belajar Matematika .......................................... 33
Tabel 3.2 Kriteria Taraf Keaktifan Siswa .................................................................. 34
Tabel 3.3 Kriteria Taraf Keberhasilan Respon Siswa ................................................ 35
Tabel 4.1 Hasil Belajar Siswa Kelas III SD Inpres Buttatianang Siklus I ................. 40
Tabel 4.2 Hasil Observasi Siklus I ............................................................................. 41
Tabel 4.3 Hasil Belajar Siswa Kelas III SD Inpres Buttatianang Siklus II ................ 47
Tabel 4.4 Hasil Observasi Siklus II............................................................................ 48
Tabel 4.5 Lembar Hasil Angket Siswa ...................................................................... 51
Tabel 4.6 Perbandingan Hasil Belajar Siswa Kelas III SD Inpres Buttatianang
Pada Setiap Siklus .................................................................................... 52
Tabel 4.7 Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Kelas III SD Inpres
Buttatianang Pada Setiap Siklus............................................................... 53
Gambar 2.2 Nilai Tempat ........................................................................................... 16
Gambar 2.3 Membaca Bilangan pada Abacus ........................................................... 17
Gambar 2.4 Kerangka Pikir........................................................................................ 26
xviii
7. Daftar Hadir Siswa ............................................................................................... 78
8. Lembar Observasi ................................................................................................ 79
12. Dokumentasi ........................................................................................................ 83
14. Surat Permohonan Izin Penelitian ........................................................................ 89
15. Surat Izin Penelitian ............................................................................................. 90
16. Kartu Kontrol Penelitian ...................................................................................... 91
17. Surat Telah Melaksanakan Penelitian .................................................................. 92
1
Suatu negara dikatakan maju apabila pendidikan suatu negara tersebut
berkembang pesat dan memadai. Pendidikan menjadi faktor yang sangat
penting dan menentukan dalam upaya menata dan membangun Indonesia ke
arah yang lebih baik, maju, dan berkualitas. Sesuai dengan tujuan dan fungsi
pendidikan dalam UU No. 20 Tahun 2003 yang berbunyi:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Langkah yang dapat dilakukan sebagai upaya meningkatkan dan
memperbaiki kualitas pendidikan yaitu dengan melakukan perbaikan dalam
proses pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan kegiatan utama dalam
proses pendidikan di sekolah yang dapat menjadi penentu keberhasilan dalam
mencapai tujuan pendidikan nasional. Susanto (2019:21) “Pembelajaran
merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar terjadi proses pemerolehan
ilmu dan pengetahuan, penguasaan, kemahiran, dan tabiat, serta pembentukan
sikap dan keyakinan pada peserta didik”. Dengan kata lain, pembelajaran
adalah proses untuk membantu siswa agar dapat belajar dengan baik dan
meningkatkan aktivitas belajar serta penguasaan materi yang baik. Sehingga
2
hasil belajar pun juga akan meningkat. Hasil belajar yang meningkat tentunya
dapat diwujudkan apabila didukung dengan proses pembelajaran yang tepat,
seperti penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar
terutama pada jenjang Sekolah Dasar (SD).
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di
semua jenjang pendidikan yang memiliki peran yang sangat penting dalam
penguasaan ilmu pengetahuan. Pembelajaran matematika di Sekolah Dasar
(SD) merupakan peletak konsep dasar yang dijadikan landasan untuk belajar
pada jenjang berikutnya. Siswa yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD)
adalah siswa yang umurnya masih berkisar antara 6 atau 7 tahun, sampai 12
atau 13 tahun. Menurut Piaget (Heruman, 2014:1) yang menyatakan bahwa
“Siswa yang umurnya berkisaran 6-13 tahun mereka berada pada fase
operasional konkret”. Kemampuan yang tampak pada fase ini adalah
kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah
logika, meskipun masih terikat dengan objek yang bersifat konkret.
Mengembangkan kemampuan berpikir abstrak dalam pembelajaran
matematika dapat dilakukan dengan bantuan suatu alat atau media yang dapat
membantu siswa dalam menerima serta membayangkan ilmu matematika. Hal
ini selaras dengan pendapat Heruman (2014:2) “Dalam pembelajaran
matematika yang abstrak, siswa memerlukan alat bantu berupa media, dan
alat peraga yang dapat memperjelas apa yang akan disampaikan oleh guru
sehingga lebih cepat dipahami dan dimengerti oleh siswa”. Sehingga untuk
dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang duduk di bangku Sekolah Dasar
3
(SD) secara maksimal, maka perlu didukung oleh media bantu. Sehingga
disini peran dari media bantu dalam pembelajaran adalah sebagai perantara
dan penyalur tujuan dari pembelajaran.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada bulan Januari 2020
di SD Inpres Buttatianang, menunjukkan bahwa siswa kelas III SD Inpres
Buttatianang untuk pelajaran matematika konsep operasi hitung bilangan
yang sederhana dalam matematika seperti penjumlahan dan pengurangan
masih kurang menguasai. Walaupun terlihat sepele, akan tetapi jika kurang
menguasai dalam operasi sederhana, seperti halnya saat di Sekolah Dasar
(SD), maka akan kesulitan dalam mempelajari materi selanjutnya. Di Sekolah
Dasar (SD), siswa lebih ditekankan pada pengenalan ilmu dasar matematika.
Dalam mempelajari suatu operasi hitung bilangan, peneliti mendapati banyak
masalah yang dihadapi siswa yang menganggap operasi hitung adalah sesuatu
yang paling sulit dan menghabiskan banyak lembaran coretan untuk
menghitungnya. siswa juga beranggapan bahwa operasi hitung itu
menjenuhkan karena selalu berhubungan dengan angka dan sukar.
Pembelajaran operasi hitung itu kurang menarik apabila tidak ada alat bantu
atau media sebagai penunjang pembelajarannya, dengan begitu pembelajaran
akan serasa monoton. Kebanyakan pada proses pembelajaran di kelas itu
hanya terpusat pada guru, yakni guru yang berbicara dan siswa
mendengarkan. Penyajian pembelajaran yang dilakukan oleh guru kurang
menarik sehingga siswa tidak berminat untuk belajar. Hasil ulangan
4
matematika mununjukkan bahwa dari keseluruhan jumlah siswa di kelas III
hanya 12 dari 26 siswa yang mencapai nilai KKM yaitu 75.
Data tersebut menunjukkan rendahnya hasil belajar matematika di
kelas III SD Inpres Buttatianang yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
keterampilan operasi hitung bilangan yang sederhana dalam matematika
seperti penjumlahan dan pengurangan yang masih rendah. Pernyataan ini
diperoleh dari penjelasan guru kelas III yang mengatakan bahwa kesulitan
anak-anak dalam belajar matematika disebabkan karena kurangnya
keterampilan di dalam menguasai operasi hitung bilangan yang sederhana
dalam matematika seperti penjumlahan dan pengurangan. Dengan demikian
peneliti menawarkan alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan
media sempoa. Selain bisa berhitung cepat, sempoa ini berguna untuk
mengoptimalkan fungsi-fungsi otak, khususnya otak kanan yang meliputi
daya analisis, ingatan, logika, imajinasi, reaksi tinggi, dan masih banyak lagi.
Karena dalam mempelajari sempoa, anak akan dituntut untuk memainkan
tangan, logika serta khayalannya.
sempoa sebagai media dalam belajar secara tepat dan bervariasi dapat
mengatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini sempoa tersebut dapat
berguna untuk menimbulkan kegairahan belajar, memungkinkan interaksi
yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan serta
memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan
minatnya. Karena alasan inilah peneliti ingin melakukan penelitian mengenai
5
Penggunaan Media Sempoa Siswa Kelas III SD Inpres Buttatianang”.
B. Masalah Penelitian
1. Identifikasi Masalah
pembahasan yang sesuai dengan harapan, maka peneliti memaparkan
identifikasi masalah sebagai berikut:
a. Pembelajaran matematika di kelas III SD Inpres Buttatianang masih
berjalan monoton.
b. Pembelajaran matematika di kelas III SD Inpres Buttatianang masih
berpusat pada guru.
c. Siswa kurang berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar.
d. Hasil belajar matematika di kelas III SD Inpres Buttatianang masih
rendah.
2. Alternatif Pemecahan Masalah
alternatif pemecahan masalah yaitu dengan penerapan penggunaan
media sempoa.
permasalahan yang dapat dirumuskan adalah: “Apakah penggunaan
6
C. Tujuan Penelitian
“Untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal berhitung melalui
penggunaan media sempoa pada siswa kelas III SD Inpres Buttatianang”.
D. Manfaat Penelitian
1. Secara Teoritis
penggunaan media sempoa pada siswa kelas III SD Inpres Buttatianang.
2. Secara Praktis
a. Bagi sekolah
konstribusi bagi peningkatan kualitas pembelajaran, kualitas guru dan
meningkatkan hasil belajar siswa yang pada akhirnya dapat
meningkatkan kualitas SD Inpres Buttatianang.
b. Bagi guru
kemampuan bagi guru kelas III di SD Inpres Buttatianang,
sehingga kinerjanya menjadi lebih baik.
7
2) Menjadi pengalaman yang berharga khusunya bagi guru kelas III
SD Inpres Buttatianang, mengenai kegunaan teknik sempoa.
3) Dapat dijadikan referensi untuk memilih metode pembelajaran
yang tepat disesuaikan dengan karakteristik materi pembelajaran.
4) Dapat mengetahui strategi pembelajaran yang relevan yang dapat
memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran di kelas,
sehingga permasalahan-permasalahan yang dihadapi guru maupun
siswa dalam pembelajaran penjumlahan dan pengurangan dapat
terselesaikan.
2) Meningkatkan kemampuan berhitung secara cepat dan tepat
3) Memberikan dasar aritmatika yang kuat
4) Mengembangkan rasa percaya diri
5) Meningkatkan konsentrasi belajar.
d. Bagi peneliti selanjutnya
8
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah
berarti “tengah”, perantara dan pengantar. Media juga pada dasarnya
merupakan alat bantu pengantar pesan dari pengirim kepada penerima
pesan. Hal ini sejalan dengan pendapat Samad dan Maryati (2017:13)
“Media adalah komponen komunikasi yang berfungsi sebagai perantara
atau pembawa pesan dari pengirim ke penerima”. Lebih rinci Heinich,
Molenda, dan Russell (Samad dan Maryati, 2017:6) “Media sebagai alat
saluran komunikasi”.
Richey (Prasetya, 2015:14) “Media (medium) merupakan alat
komunikasi, yakni segala sesuatu yang membawa informasi atau pesan-
pesan dari sumber informasi kepada penerimanya”. Dengan demikian,
dari pendapat beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa media
adalah alat bantu komunikasi yang digunakan untuk mengirim pesan
kepada penerima pesan.
belajar dan mengajar. Di mana aktifitas belajar lebih cenderung merujuk
kepada siswa sedangkan mengajar lebih cenderung kepada guru. Hal ini
sejalan dengan pendapat Susanto (2019:20) “Aktivitas belajar secara
9
metodologis cenderung lebih dominan pada siswa, sementara mengajar
secara instruksional dilakukan oleh guru”. Dalam UU No. 20 Tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa pembelajaran
adalah proses interaksi siswa dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar. Menurut Hamalik (2015:57) “Pembelajaran
adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi,
material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi
mencapai tujuan pendidikan”.
bahwa pembelajaran adalah aktivitas kompleks yang dilakukan guru
untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Berdasarkan
pengertian media dan pembelajaran dapat ditarik kesimpulan bahwa
media pembelajaran adalah alat bantu belajar yang digunakan untuk
mengirim pesan kepada penerima pesan agar tercipta lingkungan belajar
yang kondusif.
membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan
motivasi, dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa
pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Secara umum, manfaat
media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara
guru dengan siswa sehingga pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.
10
manfaat media dalam pembelajaran yaitu:
a. Meletakkan dasar-dasar yang konkrit untuk berpikir, oleh karena itu
mengurangi verbalisme.
oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap
d. Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan
kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa
e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu.
f. Membantu tumbuhnya pemikiran dengan demikian membantu
perkembangan kemampuan berbahasa.
dengan cara lain, serta membantu berkembangnya efisiensi yang
lebih mendalam dalam belajar.
Tabel 2.1 Jenis-Jenis Media
1 Audio Kaset audio, siaran radio, CD, telepon
2 Cetak Buku pelajaran, modul, brosur, gambar
3 Audio cetak Kaset audio yang dilengkapi dengan
bahan tulis
5 Proyeksi audio
11
7 Audio visual gerak Film gerak bersuara, video, VCD, TV
8 Obyek fisik
Benda nyata, model
9 Manusia dan
Komputer)
merupakan alat hitung tradisional seperti yang biasa digunakan di Jepang
dan Cina”. Budiningsih dan M. Syamsul (2007:2) “Sempoa adalah alat
hitung sederhana yang terbuat dari kayu atau plastik”. Penemu sempoa
atau abacus adalah Charles Babbage.Sempoa dapat digunakan untuk
menghitung, penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan akar
kuadrat dengan cara menggeser atau memindahkan manik-manik pada
sebuah batang. Pada saat ini, sempoa berbentuk cukup kecil dengan
bingkai berbentuk segiempat panjang dan dapat digunakan dengan mudah
untuk menggeser manik-manik dengan menggunakan jari tangan.Pada
sempoa terdapat beberapa deret batang dimana manik-manik bergeser ke
atas dan ke bawah. Setiap batang manik-manik mewakili bilangan yaitu
dari bilangan satuan, puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya.
Menurut Harmoni (2009:24) “Sempoa atau abacus yang berasal
dari kata yunani kuno abax yang berarti debu”. Dari cerita sempoa atau
abacus ini pertama kali dimiliki oleh suku babilonia dalam bentuk sebilah
12
papan yang ditaburi pasir. Di atas papan menorehkan berbagai bentuk
huruf ataupun simbol. Maka dari itu, sempoa tersebut dahulu disebut
dengan abacus yang artinya “menghapus debu”. Saat ini abacus tersebut
telah berubah menjadi alat hitung yang mana permukaan yang tadinya
pasir sekarang telah berganti menjadi papan yang berbentuk persegi
panjang yang dibingkai dan di dalamnya terdapat tiang-tiang yang
berisikan manik-manik.
1) Dapat menghitung opersai penjumlahan, pengurangan, perkalian,
pembagian, desimal dan lain-lain dengan bilangan multidigit
2) Dapat menghitung tanpa mencoret-coret diatas kertas pada
hitungan 2, 3 atau 4 digit
3) Dapat mengingat deret 9 digit hanya dalam 3 detik melihat angka
tersebut
5) Dapat menghitung tiga kali lebih cepat dari kalkulator pada
hitungan tertentu
Sedangkan kelemahan sempoa adalah:
1) Siswa akan kesulitan pada hitungan dengan jumlah digit lebih
besar dari 4. Dengan begitu untuk menghitung jumlah digit lebih
besar dari 4 bisa menggunakan hitungan manual atau bisa dengan
kalkulator
13
mengajarkan sempoa kepada anak yang masih lambat berpikirnya
agar anak mudah memahami pelajaran yang disampaikan dan
mempraktekkannya dengan baik
untuk menghitung pecahan bisa menggunakan rumus dalam
pelajaran matematika.
Berhitung dengan menggunakan media sempoa pada awalnya
bertujuan meningkatkan kemampuan berhitung anak secara cepat,
tepat dan akurat serta melatih logika berpikir anak dalam menghadapi
kehidupan. Hal ini sejalan dengan pendapat Khumaidah (Syifa,
2015:2) “Penggunaan sempoa dapat menyeimbangkan otak kiri
dengan otak kanan, meningkatkan konsentrasi dan meningkatkan rasa
percaya diri”. Dengan demikian, orang yang terbiasa berhitung dengan
media sempoa, tidak hanya mampu berhitung dengan sangat cepat,
bahkan lebih jauh dari itu anak pada masanya nanti mampu
mengambil keputusan yang sangat cepat dan tepat dalam setiap
permasalahan kehidupannya. Artinya, manfaat pertama yang akan
didapatkan anak dalam belajar sempoa adalah kemampuan berhitung
yang sangat cepat (bahkan lebih cepat dari kalkulator) dan
pembentukan logika anak dalam mengambil keputusan.
14
hitung seperti:
pembagian
4) Penerapan pada jual beli dan secara tepat menentukan uang
kembali
mengedepankan proses mendapatkan hasil. Jika dipakai secara
terus menerus nantinya tidak akan menggunakan abacus/sempoa
tetapi hanya membayangkannya.
Abacus sempoa yang kita kenal disini adalah abacus yang
berpola empat-satu, yang bagian-bagiannya terdiri atas:
15
Keterangan:
1) Bingkai pada sisi luar yang memegang batang peluncur
2) Garis nilai yang membagi setiap batang menjadi dua bagian, atas
dan bawah dimana tempat manik-manik akan dibaca berupa
angka
4) Manik-manik mewakili bilangan dimana, setiap batang berisi 5
buah manik. Bagian atas terdapat satu manik yang bernilai 5 dan
bagian bawah terdapat 4 manik yang bernilai 1.
Ketika sedang menggunakan sempoa, semua manik-manik
harus berada pada posisi nol yaitu dimana semua manik-manikberada
pada tepi bingkai atas untuk manik atas dan berada di tepi bingkai
1. Bingkai
2.Garis Nilai
3.Batang Peluncur
4.Manik Atas
5.Manik Bawah
kanan ke kiri yaitu satuan, puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya.
d. Nilai Tempat
manik-manik satuan di bawah dan manik-manik nilai lima berada di
atas. Urutan nilai tempat dari poros yang bertanda titik period (sebagai
titik penentu) adalah satuan, di sebelah kiri secara berurutan puluhan,
ratusan, ribuan dan seterusnya.Sebelah kanan secara berurutan
persepuluhan, perseratusan, perseribuan dan seterusnya.
Letak satuan dapat berubah-ubah dan nilai tempat bilangan
yang lain mengikutinya. Yang penting perubahan itu harus tetap pada
titik period (sebagai titik penentu).
Gambar 2.2 Nilai Tempat
Contoh:
f. Cara Berhitung Sempoa
Dalampenjumlahandanpengurangandengan menggunakan
manik.Dalam berhitung menggunakan sempoa, siswa diajarkan
rumus-rumus antara lain:
a) Rumus sederhana
sempoa. Contoh : 5 + 1 =…..
(1) Buatlah nilai 5 pada sempoa, yakni dengan jari telunjuk
turunkan manik atas yang bernilai 5
(2) Buatlah nilai 1 pada sempoa, dengan ibu jari naikkan manik
bagian bawah sebanyak 1.
(3) Hasilnya, yakni 1 biji manik atas bernilai 5 dan 1 biji manik
bagian bawah, sehingga 5 + 1 = 6
b) Sahabat kecil
(1) Sahabat kecil (+)
+ 1 = + 5 – 4
+ 2 = + 5 – 3
+ 3 = + 5 – 2
+ 4 = + 5 – 1
(2) Sahabat kecil (-)
- 1 = - 5 + 4
- 2 = - 5 + 3
- 3 = - 5 + 2
- 4 = - 5 + 1
c) Sahabat besar
(1) Sahabat kecil (+)
+ 1 = + 10 – 9
+ 2 = + 10 – 8
+ 3 = + 10 – 7
sahabat besar. Sahabat gabungan terdiri dari dua bagian yaitu:
(1) Sahabat gabungan (+)
dalam kehidupan sehari-hari seperti, penambahan, pengurangan,
pembagian ataupun perkalian. Hal ini sejalan dengan pendapat Hasan
Alwi (2014:140) yang mengemukakan bahwa:
Berhitung berasal dari kata hitung yang mempunyai makna
keadaan, setelah mendapat awalan ber- akan berubah menjadi
makna yang menunjukkan suatu keadaan menghitung
(menjumlahkan, mengurangi, membagi, mengalikan, dan
sebagainya).
anak untuk mengembangkan kemampuannya, karakteristik
perkembangannya dimulai dari lingkungan yang terdekat dengan dirinya,
sejalan dengan perkembangan kemampuan anak dapat meningkatkan ke
tahap pengertian mengenai jumlah, yang berhubungan dengan
penjumlahan dan pengurangan.Susanto (2019: 98).
Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan
bahwa berhitung merupakan kemampuan yang dimiliki oleh setiap anak
dalam hal matematika seperti kegiatan pengurutkan, menjumlahkan,
mengurangkan, mengalikan, dan membagikan suatu bilangan.
21
Tujuan pembelajaran berhitung sebagai pengembangan
berpikir matematis-logic sehingga anak mampu berpikir logis
dan matematis dengan cara yang menyenangkan atau tidak
rumit. Dengan cara ini maka akan lebih mudah dipahami
anak sesuai dengan tahapan perkembangannya, yaitu melalui
benda-benda konkret.
berhitung yaitu untuk melatih anak…