Makalah Struma

Click here to load reader

  • date post

    29-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    608
  • download

    13

Embed Size (px)

description

pengertian patofis struma serta penatalaksanaan medis struma.. anatomi fisiologi sistem endokrin

Transcript of Makalah Struma

MAKALA SISTEM ENDOKRINSTRUMA

Disusun Oleh Kelompok 1A :1. Khristina Damayanti(201111065)2. Maria Valenzya(201111073)3. Marieta(201111075)4. Monica Sukmaningtyas(201111080)5. Petrus Ganggu (201111085)6. Tiyastutik(201111108)7. Yolanda Dias(201111118)

S1 ILMU KEPERAWATANSEKOLAH TINGGI KESEHATAN SANTA ELISABETHSEMARANG2012/2013

KATA PENGANTARPuji dan Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas berkat dan campur tangan-Nyalah, maka kami dapat menyelesaikan makalahsistem endokrin Asuhan Keperawatan pada pasien dengan penyakit struma ini dengan baik. Semoga apa yang kami tulis dan kami paparkan dalam makalah ini dapat dimengerti dan di pahami dengan baik oleh pembaca sehingga dapat bermanfaat bagi pembaca dalam menjaga dan meningkatkan status kesehatan dalam kehidupan sehari hari.Penulis menyadari bahwa makalah asuhan keperawatan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Semarang, 4 Mei 2013

Penyusun

DAFTAR ISIHALAMAN JUDULKATA PENGANTARDAFTAR ISIBAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Masalah1.2 Tujuan BAB II PENYAKIT STRUMA2.1 Anatomi dan fisiologi tiroid2.2 Mekanisme umpan balik hormone dari kelenjar tiroid2.3 Metabolisme basal2.4 Biosintesis dan metabolisme hormon-hormon tiroid2.5 Pengaruh hormone tiroid terhadap metabolisme2.6 Patofisiologi/Pathway Struma2.7 Diit untuk pasien struma2.8 Farmakologi untuk pasien struma : PTU, anti tiroid, tiroksin, garam yodium dan implikasi keperawatannya2.9 Pemeriksaan diagnostic (tes fungsi tiroid) dan penatalaksanaan struma : tiroidectomi, strumektomi, RAI2.10 Asuhan keperawatan pada pasien dengan Struma2.11 Keterampilan pemeriksaan fisik tiroid2.12 Keterampilan persiapan pre operasistrumektomi, tiroidektomi2.13 Perawatan post operasistrumektomi, tiroidektomiBAB III PENUTUP3.1 Kesimpulan3.2 Saran DAFTAR PUSTAKA

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang MasalahIlmu kesehatan sangatlah fleksibel dengan mengikuti perkembangan zaman. Hal itu dapat dilihat dengan perkembangan penyakit dan cara mengatasinya. Penyakit sangatlah berbahaya bagi tubuh manusia, apalagi yang dapat mengganggu jiwa manusia. Karena itu ketika penyakit dapat membahayakan maka secepat mungkin harus dicari cara mengatasinya atau pengobatan terhadap penyakit yang diderita, demikian pula penyakit struma yang menyebabkan pembengkakan pada leher.Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) mencatat sekitar 20 persen pasien endokrin menderita gangguan fungsi tiroid. "Gangguan tiroid menempati urutan kedua daftar penyakit endokrin setelah diabetes," kata Ketua Perkeni Prof Dr Achmad Rudijanto di sela-sela Asia And Ocenia Thyroid Association Congress (AOTA) di Kuta, Bali, Minggu (21/10).Tingginya jumlah penderita gangguan hormon yang mengatur metabolisme tubuh disebabkan minimnya pengetahuan masyarakat akan gejala dan kelainan tiroid. Gangguan fungsi tiroid ada dua yaitu kekurangan hormon tiroid (hipotiroid) dan kelebihan (hipertiroid). Gejala umum dari keduanya secara umum adalah pembesaran kelenjarnya atau dikenal gondok atau struma. Kelainan hipotiroid pada perempuan risikonya lebih besar dibandingkan dengan pria. Diperkirakan sekitar 2,5 persen ibu hamil mengalami gangguan hormon tersebut.Maka dari itu pada kesempatan ini penulis akan memaparkan sebuahmakalah mengenai struma nodosa serta hal-hal yang menyangkut penyakit ini.

1.2 Manfaaat 1.2.1 Mahasiswa dapat mengetahui Anatomi dan fisiologi tiroid1.2.2 Mahasiswa dapat mengetahui mekanisme umpan balik hormone dari kelenjar tiroid dan Metabolisme basal1.2.3 Mahasiswa dapat mengetahui Biosintesis dan metabolisme hormon-hormon tiroid; Pengaruh hormone tiroid terhadap metabolism1.2.4 Mahasiswa dapat mengetahui Patofisiologi/Pathway Struma dan Diit untuk pasien struma1.2.5 Mahasiswa dapat mengetahui Farmakologi untuk pasien struma : PTU, anti tiroid, tiroksin, garam yodium dan implikasi keperawatannya dan Pemeriksaan diagnostic (tes fungsi tiroid) dan penatalaksanaan struma : tiroidectomi, strumektomi, RAI1.2.6 Mahasiswa dapat menganalisa Asuhan keperawatan pada pasien dengan Struma1.2.7 Mahasiswa mengetahui Keterampilan pemeriksaan fisik tiroid, Keterampilan persiapan pre operasistrumektomi, tiroidektomi, Perawatan post operasistrumektomi, tiroidektomi

1.3 Tujuan 1.3.1 Agar mahasiswa dapat mengetahui Anatomi dan fisiologi tiroid1.3.2 Agar mahasiswa dapat mengetahui mekanisme umpan balik hormone dari kelenjar tiroid dan Metabolisme basal1.3.3 Agar mahasiswa dapat mengetahui Biosintesis dan metabolisme hormon-hormon tiroid; Pengaruh hormone tiroid terhadap metabolism1.3.4 Agar mahasiswa dapat mengetahui Patofisiologi/Pathway Struma dan Diit untuk pasien struma1.3.5 Agar mahasiswa dapat mengetahui Farmakologi untuk pasien struma : PTU, anti tiroid, tiroksin, garam yodium dan implikasi keperawatannya dan Pemeriksaan diagnostic (tes fungsi tiroid) dan penatalaksanaan struma : tiroidectomi, strumektomi, RAI1.3.6 Agar mahasiswa dapat menganalisa Asuhan keperawatan pada pasien dengan Struma1.3.7 Agar mahasiswa mengetahui Keterampilan pemeriksaan fisik tiroid, Keterampilan persiapan pre operasistrumektomi, tiroidektomi, Perawatan post operasistrumektomi, tiroidekto

BAB IIISI2.1 Anatomi dan fisiologi tiroidKelenjar tiroid berkembang dari endoderm yang berasal dari sulcus pharyngeus pertama dan kedua pada garis tengah atau lekukan faring antara branchial pouch pertama dan kedua. Mulai terbentuk pada janin berukuran 3,4-4 cm pada akhir bulan pertama kehamilan. Dari bagian tersebut timbul divertikulum yang kemudian membesar, jaringan endodermal ini turun ke leher sampai setinggi cincin trakea kedua dan ketiga yang kemudian membentuk 2 lobus, yang akhirnya melepaskan diri dari faring. Penurunan ini terjadi pada garis tengah. Sebelum lepas, ia berbentuk sebagai duktus tiroglossus, yang berawal dari foramen sekum di basis lidah. Pada umumnya duktus ini akan menghilang pada usia dewasa. Sisa ujung kaudal duktus tiroglossus lebih sering mengalami obliterasi menjadi lobus piramidalis kelenjar tiroid. Tetapi ada beberapa keadaan yang masih menetap, sehingga dapat terjadi kelenjar di sepanjang jalan tersebut, yaitu antara kartilago tiroid dengan basis lidah. Dengan demikian, kegagalan menutupnya duktus akan mengakibatkan terbentuknya kelenjar tiroid yang letakya abnormal, dinamakan persisten duktus tiroglossus, dapat berupa kista duktus tiroglossus, tiroid lingual atau tiroid servikal. Sedangkan desensus yang terlalu jauh akan menghasilkan tiroid substernal. Branchial pouch keempatpun akan ikut membentuk bagian kelenjar tiroid, dan merupakan asal mula sel-sel parafolikular atau sel C yang memproduksi kalsitonin. Kelenjar tiroid janin secara fungsional mulai mandiri pada minggu ke-12 masa kehidupan intrauterin.

Anatomi Kelenjar TiroidKelenjar tiroid terletak di bagian bawah leher, terdiri dari 2 lobus yang dihubungkan oleh ismus yang menutupi cincin trakea 2 dan 3. Setiap lobus tiroid berukuran panjang 2,5-4 cm, lebar 1,5-2 cm dan tebal 1-1,5 cm. Berat kelenjar tiroid dipengaruhi oleh berat badan dan asupan yodium. Pada orang dewasa berat normalnya antara 10-20 gram.Pada sisi posterior melekat erat pada fasia pratrakea dan laring melalui kapsul fibrosa, sehingga akan ikut bergerak kea rah cranial sewaktu menelan.Pada sebelah anterior kelenjar tiroid menempel otot pretrakealis (m. sternotiroid dan m. sternohioid) kanan dan kiri yang bertemu pada midline. Pada sebelah yang lebih superficial dan sedikit lateral ditutupi oleh fasia kolli profunda dan superfisialis yang membungkus m. sternokleidomastoideus dan vena jugularis eksterna. Sisi lateral berbatasan dengan a. karotis komunis, v. jugularis interna, trunkus simpatikus dan arteri tiroidea inferior. Posterior dari sisi medialnya terdapat kelenjar paratiroid, n. laringeus rekuren dan esophagus. Esofagus terletak di belakang trakea dan laring, sedangkan n.laringeus rekuren terletak pada sulkus trakeoesofagikus.Vaskularisasi kelenjar tiroid termasuk amat baik. A.tiroidea superior berasal dari a.karotis kommunis atau a.karotis eksterna, a.tiroidea inferior dari a.subklavia, dan a.tiroidea ima berasala dari a.brakhiosefalik salah sau cabang arkus aortaAliran darah dalam kelenjar tiroid berkisar 4-6 ml/gram/menit, kira-kira 50 kali lebih banyak dibanding aliran darah di bagian tubuh lainnya. Pada keadaan hipertiroidisme, aliran darah ini akan meningkat sehingga dengan stetoskop terdengar bising aliran darah dengan jelas di ujung bawah kelenjar.Setiap folikel tiroid diselubungi oleh jala-jala kapiler dan limfatik, sedangkan system venanya berasal dari pleksus parafolikuler yang menyatu di permukaan membentuk vena tiroidea superior, lateral dan inferior.Secara anatomis dari dua pasang kelenjar paratiroid, sepasang kelenjar paratiroid menempel di belakang lobus superior tiroid dan sepasang lagi di lobus medius.Pembuluh getah bening kelenjar tiroid berhubungan secara bebas dengan pleksus trakealis. Selanjutnya dari pleksus ini ke arah nodus pralaring yang tepat berada di atas ismus menuju ke kelenjar getah bening brakiosefalik dan sebagian ada yang langsung ke duktus torasikus. Hubungan getah bening ini penting untuk menduga penyebaran keganasan yang berasal dari kelenjar tiroid.

Gambar 1. Anatomi Tiroid

Gambar 2. Anatomi Tiroid Potongan Melintang

Histologi Kelenjar TiroidSecara histologi, parenkim kelenjar ini terdiri atas:1. Folikel-folikel dengan epithetlium simplex kuboideum yang mengelilingi suatu massa koloid. Sel epitel tersebut akan berkembang menjadi bentuk kolumner katika folikel lebih aktif (seperti perkembangan otot yang terus dilatih).2. Cellula perifolliculares (sel C) yang terletak di antara beberapa folikel yang berjauhan.

Gambar 3. Histologi Kelenjar Tiroid

Fisiologi Hormon TiroidKelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid utama, yaitu tiroksin (T4). Bentuk aktif ini adalah triyod