Makalah Maqashid Syariah _ Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

10
14/6/2014 makalah Maqashid Syariah | Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan ) http://habyb-mudzakir-08.blogspot.com/2013/10/maqashid-syariah.html 1/10 Beranda Man Jadda Wa Jada makalah Maqashid Syariah Diposkan oleh Habyb Vasco di 03.11 Label: Filsafat Hukum Islam BAB I PEMBAHASAN 1. Pengertian Maqashid Syariah a. Secara Bahasa Kata syariat berasal darai “syara’a as-syai” dengan arti; menjelaskan sesuatu. Atau ia diambil dari “asy-syir’ah” dan “asy-syariah” dengan arti tempat sumber air yang tidak pernah terputus dan orang yang datang kesana tidak memerlukan adanya alat. Dalam “mufrodat Al-Qur’an.” Ar-Raghib Al-Asfahani menulis bahwa “Asy-syar adalah jalan yang jelas. Sedangkan maqashid secara bahasa adalah jamak dari maqshad, dan maqsad mashdar mimi dari fi’il qashada, dapat dikatakan : qashada-yaqshidu-qashdan- wamaksadan, al qashdu dan al maqshadu artinya sama, beberapa arti alqashdu adalah: Blog Translate Pilih Bahasa Diberdayakan oleh Terjemahan اﻟﺻورةJumlah Penikmat blog 08 Labels 08+20 = 1 LCD Text Generator at TextSpace.net Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan ) terus membaca dan belajar lah dalam segala hal, karna Allah memerintahkan kita untuk senantiasa berfikir .... Dan Allah akan meninggikan derajat terhadap orang yang berilmu,. (Bertindak lah ) " Habyb Mudzakir " Home Posts RSS Log In 5 4 5 2

Transcript of Makalah Maqashid Syariah _ Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

Page 1: Makalah Maqashid Syariah _ Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

14/6/2014 makalah Maqashid Syariah | Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

http://habyb-mudzakir-08.blogspot.com/2013/10/maqashid-syariah.html 1/10

Beranda Man Jadda Wa Jada

makalah Maqashid Syariah

Diposkan oleh Habyb Vasco di 03.11 Label: Filsafat Hukum Islam

BAB I

PEMBAHASAN

1. Pengertian Maqashid Syariah

a. Secara Bahasa

Kata syariat berasal darai “syara’a as-syai” dengan arti; menjelaskan sesuatu. Atau ia

diambil dari “asy-syir’ah” dan “asy-syariah” dengan arti tempat sumber air yang tidak pernah

terputus dan orang yang datang kesana tidak memerlukan adanya alat.

Dalam “mufrodat Al-Qur’an.” Ar-Raghib Al-Asfahani menulis bahwa “Asy-syar adalah

jalan yang jelas. Sedangkan maqashid secara bahasa adalah jamak dari maqshad, dan maqsad

mashdar mimi dari fi’il qashada, dapat dikatakan: qashada-yaqshidu-qashdan-

wamaksadan, al qashdu dan al maqshadu artinya sama, beberapa arti alqashdu adalah:

Blog Translate

Pilih Bahasa

Diberdayakan oleh Terjemahan

الصورة

Jumlah Penikmat blog 08

Labels

08+20 = 1

LCD Text Generator at TextSpace.net

Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu

Kehidupan )terus membaca dan belajar lah dalam segala hal, karna Allah memerintahkan kita untuk senantiasa berfikir .... Dan Allah akan

meninggikan derajat terhadap orang yang berilmu,. (Bertindak lah ) " Habyb Mudzakir "

Home Posts RSS Log In

5 4 5 2

Page 2: Makalah Maqashid Syariah _ Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

14/6/2014 makalah Maqashid Syariah | Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

http://habyb-mudzakir-08.blogspot.com/2013/10/maqashid-syariah.html 2/10

ali’timad: berpegang teguh, al amma: condong, mendatangi sesuatu dan menuju.

b. Secara Istilah

Ibnu al-Qayyim Al Jauziyah “Menegaskan bahawa syariah itu berdasarkan kepada

hikmah-hikmah dan maslahah-maslahah untuk manusia baik di dunia maupun di akhirat.

Perubahan hukum yang berlaku berdasarkan perubahan zaman dan tempat adalah untuk

menjamin syariah dapat mendatangkan kemaslahatan kepada manusia”.[1]

Al Khadimi “Berpendapat maqashid sebagai prinsip islam yang lima yaitu menjaga

agama, jiwa, akal, keturunan dan harta”.

Dr. Wahbah Zuhaily menyebutkan Maqashid syariah adalah sejumlah makna atau

sasaran yang hendak dicapai oleh syara’ dalam semua atau sebagian besar kasus hukumnya.

Atau ia adalah tujuan dari syari’at, atau rahasia di balik pencanangan tiap-tiap hukum oleh Syar’i

(pemegang otoritas syari’at, Allah dan Rasul-Nya).[2]

Syariat adalah[3]: hukum yang ditetapkan oleh Allah bagi hamba-Nya tentang urusan agama.

Atau hukum agama yang ditetapakan dan diperintahkan oleh Allah. Maqashid syariah” adalah tujuan

yang menjadi target teks dan hukum-hukum partikular untuk direalisasikan dalam kehidupan manusia.

Baik berupa perintah,larangan, dan mubah. Untuk individu, keluarga, jamaah, dan umat.

Maksud-maksud juga bisa disebut dengan hikmah-hikmah yang menjadi tujuan ditetapkannya

hukum.

Maqashid al-syari’ah dalam arti Maqashid al-Syari’, mengandung empat aspek. Keempat aspek

itu adalah :

a. Tujuan awal dari syariat yakni kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.

b. Syariat sebagai sesuatu yang harus dipahami.

c. Syariat sebagai suatu hukum taklif yang harus dilakukan, dan

d. Tujuan syariat adalah membawa ke bawah naungan hukum.

Kepentingan hidup manusia yang bersifat primer yang disebut dengan istilah daruriyat tersebut di

atas merupakan tujuan utama yang harus dipelihara oleh hukum islam. Kepentingan-kepentingan yang

harus dipelihara itu adalah :

A. Perlindungan Terhadap Agama

Perlindungan agama ini merupakan tujuan pertama hukum Islam. Sebabnya adalah

karena agam merupakan pedoman hidup manusia, dan di dalam agama Islam selain komponen-

komponen akidah yang merupakan pegangan hidup setiap Muslin serta akhlak yang merupakan

sikap hidup seorang Muslim. Dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari yang

diambil dari jalur Masruq dari Abdullah, bahwasanya Rosullah bersabda:

باالّنس الّنفس ثال ث بإحدى إّال وأّني رسول هللا إّال هللا إلھ أن ال یشھد مسلم امرئ دم یحّل ال

والّثّیب الّزاني والمارق من الّدین التّارك للجماعة

Tidaklah halal darah seorang muslim yang bersksi bahwa tiada Tuhan

selain Allah dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali karena salah satu dari

tiga hal; jiwa dengan jiwa(membunuh dihukum mati), orang yang telah menikah berzina,

dan orang yang murtad dari agama (islam) karena meninggalkan sholat jamaah.

Berdasarkkan hadits diatas sudah sangat jelas sekali bahwasanya Allah

melindungi orang-orang yang berada dalam agamaNya. Jadi orang-orang yang berada dalam

agama islam haram baginya darahnya atau haram baginya untuk membunuhnya.

Dan dilain pihak juga islam menjaga hak dan kebebasan, dan kebebasan yang pertama

adalah kebebasan berkeyakinan dan beribadah; setiap pemeluk agama berhak atas agama dan

madzhabnya, ia tidak boleh dipaksa untuk meninggalkannya manuju agama atau madzhab lain,

juga tidak boleh ditekan untuk berpindah keyakinannya untuk masuk islam.

Dasar hak ini sesuai firman Allah

ال اكراه فى الدین قد تبّین الّرشد من الغي

Filsafat Hukum Islam (1)

Filsafat Ilmu (1)

Filsafat Pancasila (1)

Fiqih Muamalah (2)

Fiqih Munakahah (1)

hiburan (1)

Hukum Agraria (5)

Hukum Perdata (2)

Ilmu Fiqih (4)

kehidupan islamic (3)

Motivasi Diri (2)

Qawa'id Fiqhiyyah (6)

Sejarah Peradaban Islam (1)

tasawuf (1)

Tata Hukum Indonesia (1)

Tips Mencapai Hidup YG di Inginkan (4)

Blog Archive

► 2014 (8)

▼ 2013 (30)

► November (6)

▼ Oktober (10)

cara keberhasilan dalam belajar

Kata'' Inspirasi dan Motivasi (

Mario Teguh )

Rahasia kesuksesan orang"

Jepang dalam berbisnis

rahasia kesuksesan orang Cina

dalam berbisnis

proses menjadi pengusaha sukses

Makalah Biografi Imam Malik

makalah Mahar dalam pernikahan

makalah Maqashid Syariah

menilai kepantasan diri kita antara

masuk Surga at...

Makalah tentang Qiyas

► September (14)

Video Bar

didukung oleh

Mudzakir

sahabat 08

Page 3: Makalah Maqashid Syariah _ Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

14/6/2014 makalah Maqashid Syariah | Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

http://habyb-mudzakir-08.blogspot.com/2013/10/maqashid-syariah.html 3/10

Tidak ada paksaan untuk (mamasuki) agama (islam), sesunguhnya telah jelas yang benar

daripada jalan yang sesat.(QS.Al-Baqarah(2): 256).

Mengenai tafsir ayat ini Ibnu katsir mengungkapkan,” Janganlah kalian memaksa

seseorang untuk memasuki agama islam. Sesungguhnya dalil dan bukti akan hal itu sangat jelas

dan gamblang, bahwa seseorang tidak boleh dipaksa untuk masuk agama islam.”

Asbabun nuzul ayat ini(sebagimana dikatakan para ulama ahli tafsir) menjelaskan kepada

kita suatu sisi mengagumkan agama ini( islam). Mereka meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang

menceritakan ada seorang perempuan yang sedikit keturunannya, dia bersumpah kepada dirinya,

bahwa bila dikarunia seorang anak, dia akan menjadikannya seorang yahudi ( hal seperti ini

dilakukan oleh wanita dari kaum ashar pada masa jahiliah), lalu ketika ,umcul Bani Nadhir,

diantara mereka terdapat keturunan dari kaum ashar. Maka bapak-bapak mereka berkata,”

kami tidak akan menbiarkan anak-anak kami; memeluk agama yahudi, lalu Allah menurunkan

ayat ini.

Atas peristiwa yang terjadi ini, Al-qur’an tetap menolak segala bentuk pemaksaan,

karena orang yang diberi petunjuk oleh Allah, maka Dia akan membukakan dan menerangi mata

hatinya, lalau orang itu akan masuk islam dengan bukti dan hujjah. Barangsiapa yang hatinya

dibutakan, pendengaran, dan penglihatannya ditutup oleh Allah, maka tidak ada gunanya mareka

masuk islam dalam keadaan dipaksa.

2. Perlindungan Terhadap Nyawa

Pemeliharaan ini merupakan tujuan kedua hukum Islam, karena itu hukum Islam wajib

memelihara hak manusia untuk hidup dan mempertahankan kehidupannya. Untuk itu hukum islam

melarang pembunuhan sebagai uoaya menghilangkan jiwa manusia dan melindungi berbagai sarana yang

dipergunakan oleh manusia dan mempertahankan kemaslahatan hidupnya. [4]

Pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10H, Nabi SAW menuju kepadang arafah, di sana beliau

berkhutbah, yang intinya bahwa islam adalah risalah langit yang terakhir, sejak empat belas abad yang

lalu telah mensyariatkan (mengatur) hak-hak asasi manusia secara komprehensif dan mendalam. Islm

mengaturnya dengan segala macam jaminan yang cukup untuk menjaga hak-hak tersebut. Islam

membentuk masyarakatnya di atas fondasi dan dasar yag menguatkan dan memperkokoh hak-hak asasi

manusia.

Hak pertama dan paling utama yang diperhatikan Islam adalah hak hidup. Maka tidak

mengherankan bila jiwa manusia dalam syariat Allah sangatlah dimuliakan, harus dipelihara, dijaga,

dipertahankan, tidak menghadapkannya dengan sumber-sumber kerusakan/ kehancuran. Alllah

berfirman,

وال تقتلوا أنفسكم إّن هللا كان بكم رحیما

Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu

(QS.An-Nisa;29)

Al-Bukhori dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari jalur Abu Hurairah, bahwasanya Rasullah

bersabda:

سما فسمھ في یده أبدا ومن تحسى فیھا فیھ خالدا مخّلدا نار جھنم یترّد نفسھ فھو في من جبل فقتل من ترّد

أبدا ومن قتل نفسھ بحدیدة فحدیدتھ في یده یجأ بھا في بطنھ في نار جھنم خا یتحساه في نار جھنم خالدا مخّلدا فیھا

لدا مخلدا فیھا أبدا

Artinya : barang siapa yang menjatuhkan diri dari gunung, lalu dia mati maka di neraka

jahannam dia akan mejatuhkan diri dia kekal dan dikekalkan di dalamnya. Dan barang

siapa yang minum racun, lalu dia mati maka dia akan menghirup racun tersebut di neraka

jahannam dia kekakl dan dikekalkan didalamnya. Dan barang siapa yang bunuh diri

dengan menggunakan potongan besi maka di neraka jahannam besi itu akan berada di

tangannya lalu dia akan memukul sendiri perutnya dengan besi tersebut dia kekal dan

dikekalkan di dalamnya selamanya.

Hal ini disebabkan karena membunuh berarti menghancurkan sifat (keadaan) dan

mencanut ruh manusia. Padahal Allah sajalah sang pemberi kehidupan, dan dia sajalah yang

Habyb Vasco

5 memiliki saya dilingkaran

Lihatsemua

+ ke lingkaran

About Me

HA B Y B VA SC O

L IHAT PROF IL L ENGKAPKU

Share It

Share this on Facebook

Tweet this

View stats

(NEW) Appointment gadget >>

Popular Posts

makalah Maqashid Syariah

BAB I PEMBAHASAN 1. Pengertian

Maqashid Syariah a. Secara

Bahasa Kata syariat berasal darai

“syara’a as-sya...

Makalah Biografi Imam Malik

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Masalah Al- Muwatta’ merupakan salah

satu kitab yang sering di gunakan

untuk merujuk huku...

Makalah Konsep Perikatan B.W

dan Study Kasusnya

KONSEP PERIKATAN MENURUT

B.W. ( Makalah ini dibuat

untuk memenuhi tugas UAS

Hukum Perdata ) Dosen Pembimbing :

Dr. H. Saifullah, ...

Makalah Ijma' dan

kehujjahannya

IJMA’ DAN KEHUJJAHANNYA

Disusun Guna Memenuhi

Tugas Mata Kuliah : Ushul

Fiqih Dosen Pengampu : Dr. H.M. Sa’ad

Ibrahim, MA. ...

Pluralisme dan Multikulturalisme

Makalah Filsafat Pancasila BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Bangsa Indonesia adalah bangsa

yang besar, bangsa yang majemuk ...

Makalah tentang Qiyas

Latar belakang Syari’ah merupakan

penjelmaan kongkrit kehendak Allah

(al-Syari’) ditengah masyarakat.

Meskipun demikian, ...

Macam-macam Hak Dalam Hukum Agraria

Macam” hak pada masa Masyarakat Adat,

adanya hak ulayat yang menimbulkan :

1. Hak Pakai, cara memperolehnya

: dgn izin kpda ketua A...

Page 4: Makalah Maqashid Syariah _ Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

14/6/2014 makalah Maqashid Syariah | Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

http://habyb-mudzakir-08.blogspot.com/2013/10/maqashid-syariah.html 4/10

mematikannya. Dialah sang pencipta kehidupan dan kematian.

Syekh Muhammad Mutawali Asy-Sya’rawi mengatakan :

Kita tidak menyaksiakan penciptaan makhluk, namun setiap hari kita menyaksikan kematian, dan

hal ini merupakan hal yang sudah kita ketahui bersama. Merusak segala sesuatu berarti kebalikan

dari menciptakannya. Maka bagaimana manusia diperkenankan merusak sesuatu yang dibangun

(diciptakan) Allah? Dalam penjelasannya firman Allah pada surat Q.S Asy-syura 77-82 :

۩ الذي خلقني فھو یھدین ۩ والذي ھو یطعمني و یسقین۩ واذا مرضت فھو یشفین انھم عدو لي اال رب العالمین فا

۩ والذي یمیتني ثم یحیین ۩ والذي اطمع أن یغفر لي خطئتي یوم الدین

Artinya : karena sesunggunya apa yang kamu sembah itu adalah musuh ku kecuali dan

semesta alam ( Tuhan) yang telah mencipatkan aku, maka dialah yang menunjuk aku dan

Tuhan ku, yang dia memberi makan dan minum kepadaku dan apabila aku sakit dialah

yang menyembuhkan aku dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan

aku (kembali) dan yang amat aku inginkan akan mengampuni kesalahan ku pada hari

kiamat (asyura)

Ada perbedaan anatra pembunuhan dan kematian (biasa.wajar). pembunuhan tidaklah

sama dengan kematian, karena oembunuhan berarti merusak struktur tubuh yang menyebabkan

keluarnya ruh-ruh hanya akan berada dalam tubuh yang sehat dengan spesifikasi-spesifiaksi

khusus, karena itulah Allah berfirman mengenai Rasulullah dalam Al-Qur;an terda[at pada surat

Al-Imran :144

وما محمد اال قد خمت من قبلھ الرسول أفاءین مات أو قتل انقلبتم علي أعقبكم ومن ینقلب علي عقیبیھ فلن یضر هللا

شیئا وسیجزي هللا الشكرین

Muhahammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguhtelah berlalu sebelumnya

bebarapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang

(murtad), barang siapa yang berbalik ke belakangm maka ia tidak dapat

mendatangkanmudarat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan

kepada orang-orang yang bersyukur.

adapun kematian adalah keluarnya ruh dari tubuh, dengan struktur tubuh dalam keadaan

sehat, dan hanya Allah-lah yang mematikan. Sedang pembunuhan dapat dilakukan manusia

dengan menggunakan alat tajam atau dengan tembakau peluru.

3. Perlindungan terhadap Akal

Akal merupakan sumber hikmah (pengetahuan), sinar hidayah, cahay matahari, dan media

kebahagian manusia di dunia dan akhirat. Dengan akal, surat perintah dari Allah disampaikan,

dengannya pula manusia berhak pemimpin di muka bumi, dan dengannya manusia menjadi sempurna,

mulia, dan berbeda dengan makhluk lainnya. Allah swt berfirman dalam surat al- Isra’ :70 :

خلقنا ممن كثیر علي وفضلنھم الطیبت من ورزقھم البحر و البر في وحملنھم أدم بني كرمنا ولقد

تفضیال

dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di

daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kmai lebihkan

mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami

ciptakan.

Andai tanpa akal, manusia tidak berhak mendaptkan pemuliaan yang bisa mengangkatnya

menuju barisan para malaikat. Dengan akal, manusia naik menuju alam para malaikat yang luhur. Karena

itulah, akal poros pembenahan pada diri manusia. Dengannya, manusia akan mendapatkan pahala

dan berhak mendapat siksa. Balasan di dunia dan di akhirat berdasarkan akal dan kekuatan

pengetahuan. Nikmat dalam diri manusia ini membukakannya cakrawala kehiduoan, dia bisa menapaki

penjuru bumi dan menyelam di bawah kedalamannya, serta menungganga udara. Sebagaiman yang telah

disabdkana oleh sabda Nabi Nabi Muhammad SAW : wahai manusia, sesungguhnya setiap sesuatu

memiliki anugerah, dan anugerah seseorag adalah akalnya. Dan orang yang paling baik petunjuk

dan pengetahuannya mengani hujjah di antara kalian adalah orang yang paling mulia amalnya.

Melalui akalnya manusia, manusia mendapatkan petunjuk menuju malrifat kepada Tuhan dan

Penciptanya. Dengan akalnya, dia menyembah dan menaati-Nya, menetapkan kesempurnaan dan

Giro syariah dan Tabungan Bank Ssyariah

PRODUK-PRODUK PENGHIMPUN DANA

PADA BANK SYARI’AH A. GIRO

SYARI’AH 1. Pengertian Giro adalah

simpanan yang penarikannya dap...

Pengertian Qawaid Fiqhiyyah

Qawaid merupakan bentuk jamak dari

qaidah, yang kemudian dalam bahasa

indonesia disebut dengan istilah

kaidah yang berarti aturan atau ...

Mudharabah dan syirkah

Produk Penyaluran Dana Bank Syariah 1.

Mudharabah Mudharabah berasal dari

kata dharb, yang berarti memukul atau

berjalan. Pengertia...

Social Icons

Habyb Mudzakir 08. Diberdayakan oleh

Blogger.

0

Followers

Join this sitew ith Google Friend Connect

Members (1)

Already a member? Sign in

Pages - Menu

Beranda

KNN

Habyb Vasco

,

Page 5: Makalah Maqashid Syariah _ Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

14/6/2014 makalah Maqashid Syariah | Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

http://habyb-mudzakir-08.blogspot.com/2013/10/maqashid-syariah.html 5/10

keagungan untuk-Nya, mensucikan-Nya dari segala kekurangan dan cacat, membenarkan para rasul dan

para nabi, dan mempercayai bahwa mereka mereka adalah perantara yang akan memindahkan kepada

manusia apa yang diperintahkan Allah kepada mereja, membawa kabar gembira untuk mereka dengan

jani, dan membawa peringatan dengan ancaman. Maka manusia mengopersikan akal mereka,

mempelajari yang hala dan yang haram, yang berbahaya dan bermanfaat, serta yang baik dan buruk.

Setiap kali manusia mengoperasikan pikiran dan aklanya, menggunakan mata hati dan

perhatiannya, maka dia akan memperoleh rasa mana, merasakan kedamaian dan ketenagan, dan

masyarakat tempat dia hidup pun akan di dominasi oleh suasana yang penuh dengan rasa sayang, cinta,

dan ketengangan. Manusia pun merasakan aman aras harta, jiwa, kehormatan, dan kemerdekaan

mereka.

Akal dinamakan عقل (ikatan) karena ia bisa mengikat dan mencegah pemilinya untuk melakukan

hal-hal buruk dan mengerjakan kemungkaran. Dinamakan demikian, karen akal pun menyerupai ikatan

unta; sebuah ikatan akan mencegah manusia menuruti hawa nafsu yang sudah tidak terjendali,

sebagaimana ikatan akan mencegah unta agar tidak melarikan diri saat berlari.karena itulah Amir bin

Abdul Qais berkata :

اذا عقلك عقلك عما ال ینیغي فأنت عاقل

Jika akal mengikat mengikatmu dari sesuatu yang tidak sempurnam amka anda adalah orang

yang berakal.

Diriwayatkan juga dari Nsbi SAW :

العقل نوؤ غي قلب یفرق بھ بین الحق و البطل

Akal adalah cahaya dalam hati yang membedakan antara perkara yang haq dan perkara yang

bathil.

Orang yang memerhatikan dengan mata hati dan cahaya iman, serta merenungkan dunia saat ini,

juga peristiwa dan perubahan yang terjadi, maka dia akan mrndapati bahwa mayoritas umat yang maju

dan berperadaban adalah mereka yang membuka medan kehidupan di depan akal, lalu melepaskannya

dari semua ikatanm membuka tutup dan penghalangnya, menyingkarkan semua rintangan dan tembok,

memcahkan dan melepaskan tali serta batasan di depan kekuatan yang sangat besar, yakni dengan

perhatian, pikran, pembahasan, dan ilmu.

4. Perlindungan terhadap harta benda

harta merupakan salah satu kebutuhan inti dalam kehidupan, di aman manusia tidak akan bisa

terpisah darinya.

المال و البنون زینة الحیوة الدنیا

harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. (QS. Al-Kahfi : 46)

manusia termotivasi untk mencari harta demi menjaga eksistensinya dan demi menambah

kenikmatan materi dan religi, dia todak boleh berdiri sebagai pengahalang antar dirinya dengan harta.

Namun, semua motivasi ini dibatasi dengan tiga syarat, yaitu harta yang dikumpulkannya dengan cara

yang halal, diprgunakan untuk hal-hal yang halal, dan dari harta ini harus dikeluarkan hak Allah dan

masyarakat tempat dia hidup.

Cara menghasilkan harta tersebut adalah dengan cara bekerja dan mewaris, maka seseorang

tidak boleh memakan harta orang lain dengan cara yang bathil, karena Allah berfirman dalam surat An-

Nisa’ : 29

یا أیھا الذین أمنوا ال تأكلوا أمولكم بینكم با البطل اال أن تكون تجارة عن ترض منكم

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamu dengan jalan

bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.

Apabila seseorang meminjamkan hartanya kepada orang lain dalam bentuk utang, maka ia bisa

memilih salah satu di antara tiga kemungkinan berikut :

· Meminta kembali hartanya tanpa tambahan.

· Apabila tidak bisa mendapatkannya maka dia harus bersabar dan tidak membebaninya dengan

melakukan tagihan.

· Apabila orang yang memberikan pinjaman adalah orang kaya, dia dapat menyedahkan pinjaman tersebut

Page 6: Makalah Maqashid Syariah _ Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

14/6/2014 makalah Maqashid Syariah | Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

http://habyb-mudzakir-08.blogspot.com/2013/10/maqashid-syariah.html 6/10

kepada peminjam yang dalam keadaan miskin atau payah, karena nikmat harta harus menjadi motivator

untuk saling mengasihi, tidak untuk bersikap antipati.

Perlindungan untuk harta yang baik ini tampak dalam dua hal berikut :

Pertama, memliki hak untuk di jaga dari para musuhnya, baik dari tindak pencurian, perampasan,

atau tindakan lain memakan harta orang lain (baik dilakukan kaum muslimin atau nonmuslim ) dengan

cara yang batil, seperti merampok, menipu, atau memonopoli.

Kedua, harta tersebut dipergunakan untuk hal-hal yang mubah, tanpa ada unsur mubazir atau menipu

untuk hal-hal yang dihalalkan Allah. Maka harta ini tidak dinafkahkan untuk kefasikan, minuman

keras, atau berjudi.

Dalam islam, harta adalah harta Allah yang dititipkan-Nya pada alam sebagai anugerah ilahi, yang

diawasi dan ditundukkan-Nya untuk manusia seluruhnya. Dan pada kenyataannya, dengan harta,

jalan dapat disatukan, dan kedudukan yang manusia raih, serta pangkat yang mereka dapatkan dari

harta, yakni harta dan hak Allah seperti yang telah ditetapkan islam adalh hak masyarakat, bukan hak

kelompok, golongan, atau starata tertentu. Ia adalah harta Allah yang yang ditunjuk-Nya sebagai

khalifah adalah manusia.

Melindungi dan tidak menganiaya harta serta mengambilnya dengan cara yang batil :[5]

1. Hukum Risywah (suap) dalam islam

Risywah adalah memperdagangkan dan mengeksploitasi tugas atau sebuah pekerjaan

untuk mrnghasilkan harta secara batil. Perbuatan ini adalah haram dan dilarang oleh

islam, karena hal ini termasuk perkara yang dilarang.

2. Mencuri

Mencuri adalah mengambil harta orang lain tanpa hak dan tanpa sepengetahuan atau

persetujuan pemiliknya.

3. Riba

Riba adalah kelebihan harta tanpa imbalan atau ganti yang disyariatkan, yang terjadi

dalam sebuah transaksi (akad) dan hal tersebut hukumnya haram.

5. Perlindungan terhadap Keturunan

Maksud ini Islam mensyariatkan larangan perzinaan, munuduh zina, terhadap perempuan

muhsonat, dan menjatuhkan pidana bagi setiap orang yang melakukannya.[6]

Agar kemurnian darah dapat dijaga dan kelanjutan umat manusia dapat diteruskan. Hal

ini tercermin dalam hubungan darah yang menjadi syarat untuk dapat saling mewarisi, dan

larangan berzina yang terdapat dalam surat al-isra’ : 32

وال تقربو الزني انھ كان فحسة وساء سبیال

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan

yang keji dan suatu jalan yang buruk.

Hukum kekeluargaan dan kewarisan Islam adalah hukum-hukum yang secara khusus

diciptakan Allah untuk memlihara kemurnian darah dan kemaslahatan keturunan. Dalam

hubungan ini perlu dicatat bahwa dalam hukum Islam ini di atur lebih rinci dan pasti dibandingkan

dengan ayat-ayat hukum lainnya. Maksudnya adalah agar pemeliharaan dan kelanjutan dapat

berlangsung dengan sebaik-baiknya.[7]

B. Maqashid Syari'ah Modern Ibnu 'Asyur (pakar Maqashid dari

Tunis,Tunisia)

Kebangkitan maqashid modern ini ditandai dengan dicetaknya kitab al-Muwâfaqât untuk

pertama kali di Tunisia tahun 1884 M. serta perkenalan Muhammad Abduh denganya ketika beliau ke

Tunisia tepat pada tahun ia dicetak (1884 M.). Pada tahun 1909 M. kembali dicetak di Kazan, salah

satu kota terbesar di Rusia, kemudian di Mesir pada tahun 1922 M. dengan ta’lîq (komentar) juz 1 dan

2 oleh Syekh Khudlari Husain Ali dan juz 3 dan 4 oleh Syekh Hasanain Makhluf. Dari Mesir kitab

kemudian menyebar ke penjuru Jazirah Arabia. Kemudian, sederhananya, terjadilah dialektika intens

antara ulama modern di berbagai penjuru dunia dengan al-Syathibi melalui al-Muwâfaqt-nya. Dari

Page 7: Makalah Maqashid Syariah _ Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

14/6/2014 makalah Maqashid Syariah | Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

http://habyb-mudzakir-08.blogspot.com/2013/10/maqashid-syariah.html 7/10

rentetan dialektis ini lahirlah fase baru, fase kebangkitan ilmu maqâshid al-syarî’ah di era moden.

Di Tunisia sendiri, tempat al-Muâfaqât pertama kali dicetak, sebagaimana menurut Ahmad

Raisuni (tokoh maqashid kontemporer asal Maroko) pengaruh kitab ini cenderung lebih besar dan cepat

hingga mampu menciptalah iklim yang penuh dengan perbincangan maqashid. Iklim yang sangat

terpengaruhi oleh al-Muwâfaqât dan penuh perbincangan maqashid ini yang kemudian melahirkan tokoh

maqashid modern Tunisia, Muhammad Thahir bin Asyur (w. 1973 M.) dengan masterpiece-nya

maqashid al-syariah al-islamiyah.

Awal perhatian Ibnu Asyur terhadap maqashid muncul melalui kitab kecilnya yang cantik: Alaisa

al-Shubh bi Qarîb. Dimana dalam kitab ini, dengan pemikiran maqashid, ia mengkritik sistem pendidikan

dalam Dunia Islam yang tetap mempertahankan gaya tradisionalnya yang cenderung mengajarkan hukum

Islam (fikih) secara tekstualis-literalistik, tanpa menjelaskan alasan-alasan dan tujuan-tujuan Tuhan

(maqashid) dibaliknya. Kurang-lebih kitab ini dikarang pada tahun 20-an abad ke-20 M.

Berikiutnya ia kembali mengarang kitab kecil lain dengan perhatian terhadap maqashid lebih

kuat daripada kitab yang pertama. Dianatara fasal dalam kitab tersebut adalah: Maqâshi al-Syarî’ah fî

Tashrîf al-Anwâl dan Hal al-Waqfu Mashlahah aw Mafsadah. Kitab ini lahir sebagai respon sekaligus

defensi dari serangan-serangan pihak kolonial di berbagai belahan Dunia Islam terhadap sistem ekonomi

Islam, khususnya sistem wakaf. Dalam kitab ini muncul untuk pertama kali pemikiran maqashid khâshah

(khusus) yang merupakan salah satu bentuk inovasi beliau. Maqashid khusus ini—perspektifnya--

tingkatanya diatas maqashid juz’iyyah (parsial) dan lebih luas dimensinnya, namun dibawah maqashid

kulliyah (universal) dan lebih sempit dimensinya.

Kematangan pemikiran maqashid beliau adalah dalam masterpiece-nya yakni Maqashid al-

Syarî’ah al-Islâmiyyah yang dikarang di akhir tahun 30-an dan muncul kepermukaan (red: dicetak)

pada awal tahun 40-an. Dalam kitab inilah banyak ditemukan pembaharuan maqashid Ibnu Asyur

semisal seperti maqashid ‘âmah (umum), dsb.

Sebagaimana dikatakan sdr. Andre bahwa kitab ini lebih sebagai basis teoritisnya sedang

aplikasinya lebih banyak beliau tuangkan dalam semisal tafsir al-Tahrîr wa al-Tanwîr-nya. Diantara

faktor kematangan pemikiran maqashid beliau adalah faktor kemesraannya dengan al-Muwâfaqât yakni

karena kitab Maqashid al-Syarî’ah al-Islâmiyyah ini dikarang disela-sela beliau sedang mengajarkan

al-Muwåfaqât di Universitas Az-Zaituna Tunisia—ia merupakan ulama pertama yang mengajarkan al-

Muwafaqât dan yang pertama mengajar maqashid jenjang Universitas. Dari proses mengajar inilah

beliau banyak memberikan tambahan (red: pembaharuan) pemikiran maqashid.

C. Definisi maqashid syariah menurut Ibnu Asyur

Sebelum masuk lebih jauh ke dalam makalah rekan Andre memaparkan seputar pendefinisian

maqashid. Menurutnya, mayoritas ssarjana maqashid modern sepakat bahwa pendefinisiannya secara

jelas dan komprehensif-protektif (jâmi’-mâni’) baru dilakukan di tangan sarjana maqashid modern, dan

Ibnu Asyur adalah yang pertama mendefinisikannya. Ibnu Asyur membagi maqshid syari’ah menjadi dua:

‘âmah (umum) dan khâshah (khusus). Dan masing-masing memiliki definisinya.

Maqashid syariah amah:

مالحظتھا بالكون في معظمھا بحیث ال تختص او التشریع احوال الجمیع الملحوظة للشارع في والحكم المعا ني نوع خاص من احكام الشریعة

“Makna-makna dan hikmah-hikmah yang diperhatikan Tuhan dalam semua ketentuansyariat, atau sebagian besarnya sekira tak terkhusus dalam satu macam hukum syariat.”Maqashid al-syariah al-khasah

الكیفیات المقصودة للشارع لتحقیق مقاصد الناس النافعة, او لحفظ مصالحھم العامة في تصرفاتھم الخاصة“Hal-hal yang dikehendaki Tuhan untuk merealisasikan tujuan-tujuan manusia yangbermanfaat, atau untuk memelihara kemaslahatan umum mereka dalam tindakan-

My Widget

80rika

zduMby b a H

Page 8: Makalah Maqashid Syariah _ Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

14/6/2014 makalah Maqashid Syariah | Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

http://habyb-mudzakir-08.blogspot.com/2013/10/maqashid-syariah.html 8/10

tindakan mereka yang khusus”

D. Sekilas pemikiran Maqashid Ibnu Asyur

Menurut pemakalah, dengan porsi peninjauan lebih banyak terhadap kitab Maqâshid al-

Syari’ah al-Islâmiyyah Ibnu Asyur, bahwa metode penulisan Ibnu Asyur dalam kitab

Maqâshid al-Syarî‘ah al-Islâmiyah adalah dengan mssssembagi pembahasan dalam tiga

kerangka besar.

Pertama, pembahasan mengenai penetapan tujuan syariat (itsbât al-maqâshid al-syarî’ah),

kebutuhan seorang faqîh (pakar hukum fikih) untuk mengetahui maqashid, metode-metode

penetapannya dan tingkatan-tingkatannya (thurûqu itsbâtihâ wa marâtibihâ); Kedua,

membahas maqashid syari’ah ‘âmah (umum); ketiga, membahas maqashid syari’ah khâshah

(khusus) dengan segala macam kontekstualisasinya dalam ranah fiqih muamalat (yurisprudensi

transaksi ).

Sebelum masuk pembahasan inti Ibnu Asyur menjelaskan bahwa seorang mujtahid sebelum

merumuskan maqasid harus menguasai beberapa hal diantaranya: dapat memahami teks dengan

baik menggunakan perangkat linguistik; meneliti dan melacak dalil-dalil lain yang sekiranya

berpotensi terjadi pertentangan (ta‘arudl); mampu melakukan qiyas; sanggup berijtihad untuk

menentukan hukum permasalahan khusus yang sama sekali belum ditemui sebelumnya

(kontemporer), baik dikarenakan ketiadaan dalil maupun karena sulitnya melakukan qiyas;

terakhir, barulah diperkenankan menerima teks apa adanya bilamana segala upaya untuk

mengetahui ratio-legis dari permasalahan tersebut dirasa mentok, maupun oleh sebab sulitnya

menyingkap maqashid (tujuan) dibalik pensyariatannya. Inilah yang disebut dengan “amrun

ta‘abbudi”.Dr. Ismail Hasani dalam buku Nadhariyyah al-Maqâshid ‘inda al-Imâm al-

Tahâhir bin ‘Âsyur mengemukakan konsep-konsep dasar yang menjadi basis atau titik tolak

teori maqashid Ibnu Asyur. Ada tiga konsep yang membasisi teori maqashidnya: Pertama, al-

fithrah yang beliau sebut sebagai al-khilqah, yakni “sistem yang diciptakan oleh Allah dalam

setiap makhluk”, yang dengannya ia mampu melaksanakan titah syariat. Relasi al-fithrah

nantinya dengan al-samahah (toleransi), al-musâwah (egaliter) dll. Kedua, al-Mashlahah

(kemaslahatan), tercermin dalam jalbu al-mashâlih wa dar’u al-mafâsid. Ketiga, al-ta’lîl

atau konsep tentang ‘illah atau alasan suatu hukum, yang darinya bisa tersingkap tujuan syari’at.

Pemikiran maqashid Ibnu Asyru terbangun diatas prinsip ini, bahwa merupakan keharusan

menerima konsep ta’lil. Sederhananya, teori maqashid Ibnu Asyur “bertolak-pijak” dari ketiga

konsep dasar tersebut.

Masih berdasar penelitian Dr. Ismail Hasani bahwa ada tiga perangkat prosedural yang menjadi

basis konstruk pemikiran maqashid Ibnu Asyur kaitannya dengan penetapan maqashid, baik

yang ‘âmah maupun yang khâshah.Tiga perangkat prosedural ini yang berikutnya menjadi

tumpuan teorinnya yang diantaranya: maqashid adakalanya bersifat qath’i (definitif), dlanniy

(asumtif) dan dlanniy tapi mendekati qath’iy; maqashid ‘âmah dan khâshah, dll. Ketiga

perangkat tersebut adalah: al-maqâm, al-istiqrâ’ dan membedakan antara wasilah dan tujuan

dalam aplikasi hukum fikih.

Yang dimaksud maqam sendiri adalah makna konteks. Ketika teks dipahami secara tekstual

maka makna yang dipahami tersebut adalah makna teks, sedang makna konteks adalah makna

yang dipahami dari makna teks tersebut dengan berbagai pertimbangan seperti lingustik, sosio-

kultur, dll. Maqâm terbagi menjadi dua: maqâm al-maqâl (konteks bahasa) dan maqâm al-hâl

(konteks sosio-kultur). Dalam upaya memahami maqashid syari’ah seseorang tak boleh terlepas

dari kedua konteks tersebut. Artinya, penetapan maqashid yang terkandung dalam teks harus

melalui pertimbangan sosial politik dan budaya dimana teks itu muncul dan kekinian serta

mempertimbangkan konteks bahasanya dengan melibatkan ilmu ushul fiqih, balaghah (sastra),

dan lingustik.

Page 9: Makalah Maqashid Syariah _ Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

14/6/2014 makalah Maqashid Syariah | Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

http://habyb-mudzakir-08.blogspot.com/2013/10/maqashid-syariah.html 9/10

Kedua adalah istiqrâ’ al-ushliy atau penelitian ikduftif perpektif ulama ushul fikih, bukan

perpektif mantik Aristo. Yakni penelitian terhadap sebagian untuk digeneralisir hukumnya secara

umum. Maksudnya, penetapan maqashid harus melalu peneletian induktif tersebut terhadap teks-

teks syari’at. Tidak harus keseluruhan namun cukup meneliti sebagian. Dari sinilah pemikiran

Ibnu Asyur tentang maqashid “definitif”, “asumtif” dan “mendekati definitif” itu lahir. Yakni,

“definitif”, “asumtif”, “mendekati defitif” dan tidaknya tergantung komprehensif/kuat dan tidaknya

penelitian tersebut. Semakin komprehensif penelitiannya maka semakin definitif pula maqashid

yang dihasilkan. Begitu pun sebaliknya.

Berdasar istirâ’ inilah kemudian Ibnu Asyur mampu menelurkan maqashi umum al-Qur’an yang

ada delapan dan maqashid khusus (kedelapan maqashid umum al-Qur’an dan maqashid khusus

ini telah dihimpun oleh Dr. Ismail Hasani dalam kitabnya di atas).

E. Maqashid syariah menurut Jamaludin Athiyyah

1. Menjaga jiwa

Dalam menjaga jiwa disini Islam melarang untuk membunuh jiwa manusia dan

melenyapkan nyawa mereka serta merusak mereka, merusak dan menghancurkannya.

Dari perkara tersebut terdapat konsekuensi yang harus ditanggung karena tindakan

melukai seseorang. Diantaranya yang kita ketahui pembunuhan diketegorikn dalam tiga

hal:

a. Pembunuhan tersalah atau Khoto’

Hal ini adalah penganiayayan dengan sebuah tindakan tanpa ada kesengajaan atau

niat.

b. Pembunuhan semi sengaja(syibhul amdi)

Pembunuhan semi sengaja dalam fikih islam sama dengan pemukulan yang

menyebabkan kematian dalam fikih barat.

c. Pembunuhan secara sengaja

Tindakan menganiayaya yang dilakukan orang lain sehingga nyawanya hilang.

BAB II

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah diuraikan konsep maqashid al-syariah menurut al-syatibi adalah tujuan-tujuan

disyariatkannya hukum oleh Allah SWT. Yang berintikan kemaslahatan umat manusia di dunia

dan kebahagiaan di akhirat. Setiap persyariatan hukum oleh Allah mengandung maqashid

(tujuan-tujuan) yakni kemaslahatan bagi umat manusia. Yakni tujuan persyariatan hukum dalam

rangka mewujudkan lima unsur pokok dalam kehidupan manusia, yaitu agama, jiwa, keturunan,

akal dan harta. Maqashid syariah persyariatan hukum dalam upaya memberi kemudahan kepada

manusia mewujudkan lima unsur pokok tersebut.

Perhatian Ibnu Asyur terhadap maqashid muncul melalui kitab kecilnya yang cantik: Alaisa al-

Shubh bi Qarîb. Dimana dalam kitab ini, dengan pemikiran maqashid, ia mengkritik sistem pendidikan

dalam Dunia Islam yang tetap mempertahankan gaya tradisionalnya yang cenderung mengajarkan hukum

Islam (fikih) secara tekstualis-literalistik, tanpa menjelaskan alasan-alasan dan tujuan-tujuan Tuhan

(maqashid) dibaliknya. Kurang-lebih kitab ini dikarang pada tahun 20-an abad ke-20 M.

Page 10: Makalah Maqashid Syariah _ Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

14/6/2014 makalah Maqashid Syariah | Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan )

http://habyb-mudzakir-08.blogspot.com/2013/10/maqashid-syariah.html 10/10

Copyright © Karya Habyb Mudzakir ( Pusat Ilmu Kehidupan ) Blogger Theme by BloggerThemes

Posting Lebih Baru Posting Lama

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qardawi, Yusuf. Fiqih Maqashid Syariah. Jakarta : Pustka Al-Kaustar. 2007

Zuhri, Saifudin. Ushul fiqih akal sebagai sumber hukum Islam.. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2009

Ali, Mohammad Daud. Hukum Islam. Jakarta : Rajagrafindo Persada. 2005

Jauhar, Ahmad Al-mursi Husain. Maqashid Syariah. Jakarta : Amzah. 2009

Bakri, Asafri Jaya. Konsep Maqashid Syariah. Jakarta : Rajagrafindo Persada. 1996

[1] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, I'lam al-Muwaqqi'in, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tahun 1996 jilid 3 hal

37

[2] Wahbah al-Zuhaylî, Ushûl al-Fiqh al-Islâmî, Damaskus: Dâr al-Fikr, 1998., juz II hlm. 1045.

[3] Yusuf al-qordhowi,” fiqih Maqasid Syariah”,( jakarta timur: Pustaka al-Kautsar,2006) hal.13.

[4] Muhammad Daud Ali, Hukum Islam ( Jakarta : PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2005) hal 63

[5] Ahmad Al-mursi Husain jauhar, maqashid syariah ( Jakarta : AMZAH, 2009) hal 191

[6] Saifudin Zuhri, ushul fiqih akal sebagai sumber hukum islam ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009) hal 105-106

[7] Ibid hal 64

0 K O ME N T A R:

P O S K A N K O ME N T A R

Masukkan komentar Anda...

Beri komentar sebagai: Google Account

Publikasikan

Pratinjau

L IN K K E P O S T IN G IN I

Buat sebuah Link

Beranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)